Share

6. Tipuan

Delicia masuk ke ruangan interview tersebut dengan perasaan yang tak menentu. Meski Khaleed menyambutnya dengan senyuman manis, tapi hal itu tak lantas membuat hati Delicia jadi tenang.

Ia pun duduk di kursi yang berada di tengah. Menatap kursi yang tengah memunggunginya.

Dalam hati Delicia, jika ia tahu kalau Lucio yang akan mewawancarainya mungkin dia tidak akan berangkat ke perusahaan itu.

“Apa apaan sikapnya itu, kekanak-kanakan sekali,” bisik Delicia dalam hati.

Kemudian kursi itu berputar dan munculah sosok Lucio. Ia menatap Delicia dengan senyum miring yang mengesalkan.

“Bawa ke sini barangnya,” kata Lucio menyuruh Khaleed.

Khaleed pun mengambil sebuah plastik yang dimaksud oleh Lucio. Sementara Delicia bingung dengan keadaan saat ini.

Jadi dia ke sana bukan untuk diwawancara? Atau dia akan diinterogasi oleh Lucio?

“Silakan ambil ini.” Khaleed menyerahkan plastik itu pada Delicia. “Anda bisa membukanya sekarang.”

Mendengar hal itu sebenarnya sudah membuat perasaan Delicia tak enak. Dan benar saja, ketika dia membuka plastik itu bau tak sedap langsung menyeruak masuk ke dalam hidungnya.

“Kamu tahu kan aroma itu? Itu adalah pakaian yang kamu berikan muntahan beberapa hari kemarin,” ujar Lucio.

Delicia menatap Lucio dan Khaleed bergantian tak mengerti.

“Anda—Anda ingin saya mencucinya?” tanya Delicia.

“Memangnya dengan dicuci kemeja itu bisa kembali seperti semula? Kamu tahu, kemeja itu dijahit langsung oleh desainernya sendiri. Lalu sepatu itu, sol itu dijahit oleh desainernya sendiri. Jadi—kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?” tanya Lucio.

“Anda menyuruh saya untuk menjahit pakaian dan sepatu ini?”

Lucio terperangah memandang Delicia. Ia menahan kegeramannya sendiri dengan mengepalkan kedua tangannya di atas meja.

“Harga pakaian dan sepatu itu hampir mencapai lima ratus juta. Jadi aku mau kamu mengganti rugi.”

Rahang Delicia menganga lebar. Lima ratus juta katanya? Bisa mendapatkan uang sebanyak itu dari mana? Sementara sewa apartemen 65 juta saja dia tidak mampu membayarnya.

“Maaf. Saya tahu jika saya salah. Tapi—saya datang ke sini untuk diwawancarai. Jika Anda ingin saya mengganti rugi, Anda bisa menyuruh saya menemui saya di waktu yang lain.”

Lucio mendecih. “Aku tidak punya waktu banyak seperti kamu.”

“Jadi? Saya diminta ke sini hanya karena urusan pakaian ini?”

Lucio mengangguk.

Delicia mendecih. “Saya baru tau kalau Anda ternyata tidak professional. Mencampuradukan masalah pekerjaan dan pribadi.”

Lucio tak dapat berkata-kata. Hingga kemudian dia berkata, “jika tidak berkata seperti itu, aku yakin kamu tidak akan berani datang menemuiku.”

Kali ini Delicia yang terdiam. Memang benar. Dia mungkin akan berpikir puluhan ribu kali jika Lucio memintanya untuk bertemu. Hanya saja—untuk sekarang bukankah dia sangat kekanak-kanakkan?

“Baiklah.” Delicia berdiri. “Saya mengerti. Saya akan mengganti rugi pakaian dan sepatu ini.”

“Kamu yakin?” tanya Lucio.

“Ten—tentu saja! Lagi pula saya harus bertanggungjawab, kan?”

“Aku akan menunggumu sampai akhir pekan. Kalau kamu tidak bisa mengganti rugi maka aku akan melaporkanmu dan menuntut mengganggu pekerjaan orang lain dan merusak fasilitas perusahaan.”

Delicia menelan ludah keringnya. Mendadak ia ingin pindah saja ke Mars jika begini jadinya.

“Baiklah,” sahut Delicia dengan percaya diri. Ia lantas keluar dari sana dan menutup pintu itu hingga menimbulkan suara berdebam.

Setelah pintu itu ditutup. Delicia bersandar di dinding dan punggungnya merosot jatuh.

“Gila, lima ratus juta dari mana? Dasar mulut tidak berguna!” Delicia menampar mulutnya sendiri. Tepat pada saat itu Andres meneleponnya.

“Bagaimana? Kamu lolos?” tanya Andres tak sabar.

“Andres—kira kira aku harus menjual apa agar mendapatkan uang lima ratus juta?” tanya Delicia frustrasi.

“Hah? Kamu kenapa? Apa ada hal lain terjadi?”

“Nanti aku akan menceritakannya kepadamu.”

**

Lucio tersenyum puas usai melihat kepergian Delicia dari ruangan itu. Sementara Khaleed menggelengkan kepalanya tak percaya jika bosnya itu tega melakukan hal seperti itu pada Delicia.

“Bukankah Anda sudah keterlaluan? Setidaknya beri dia pekerjaan.”

“Pekerjaan? Aku kan memanggilnya karena ingin menyelesaikan masalah kemeja dan sepatuku.”

“Padahal di perusahaan sebelumnya dia bekerja sangat baik. Tapi karena perusahaan itu bangkrut terpaksa dia diberhentikan sebelum waktunya.

“Ayahnya baru saja operasi jantung. Dan uang yang seharusnya untuk menyewa apartemen digunakan untuk membiayai operasi tersebut. Ia masih memiliki adik. Tapi tidak berguna, selalu membuat masalah di kampung halamannya.”

Kening Lucio mengernyit—ia menatap Khaleed dengan tatapan mengejek.

“Kamu sengaja ingin membuatku merasa bersalah ya?”

“Tidak. Saya hanya ingin memberitahu saja jika jika sebenarnya hidupnya malang. Apalagi setelah bertemu dengan An—”

“Kamu menuduhku membuat malang hidupnya?”

Khaleed menaikkan kedua bahunya.

“Lima ratus juta. Bagaimana jika dia nanti mengakhiri hidup karena tekanan yang ia dapatkan dari Anda. Orangtua sakit, tidak dapat menyewa apartemen kemudian Anda menekannya.”

Mata Lucio mendelik. Diam diam dia memikirkan ucapan asisten sekaligus sahabatnya tersebut.

“Setidaknya—Anda tidak perlu—”

“Cukup.” Lucio berdiri. “Lama lama kamu mirip sekali dengan nenekku. Aku akan pulang, aku sudah lelah hari ini. Kita pikirkan itu besok.”

“Baiklah,” sahut Khaleed.

Lucio berjalan ke arah pintu. Ketika dia hendak memegang handle pintu tersebut, Khaleed tiba tiba bicara lagi.

“Ketika Anda dapat tidur dengan nyenyak. Wanita itu pasti tak dapat hidup dengan tenang selama berhari-hari.”

Lucio memutar tubuhnya. “Ada apa denganmu? Kenapa kamu peduli padanya?” tanya Lucio menyelidik.

Lucio mengamati wajah Khaleed. Ekspresi wajahnya berubah. Dan dia tahu kapan sahabatnya itu bercanda dan berkata serius. Kemudian Lucio baru teringat jika ayah Khaleed meninggal di rumah sakit ketika dia sibuk bekerja di perusahaan itu.

Ayah Khaleed yang menderita penyakit jantung menyembunyikan dari anaknya. Ia tak ingin membebani anaknya. Namun ayahnya berakhir seperti itu.

Memahami apa yang dirasakan oleh Khaleed, membuat Lucio hatinya sedikit luluh.

“Baiklah baiklah. Aku hanya bercanda. Besok aku akan bilang padanya untuk tidak mengganti pakaian itu.”

Khaleed pun tersenyum.

“Sudah puas?”

Khaleed mengangguk.

**

“Ada yang ingin bertemu denganmu.” Nenek Lucio berkata ketika cucunya itu baru saja selesai mandi.

“Siapa? Khaleed?” tanya Lucio sambil menyisir rambutnya dengan tangan.

“Kamu temui saja. Dia ada di bawah.”

Lucio tan banyak bertanya. Lagi pula neneknya sejak awal tak akan mengatakan padanya siapa yang ingin menemuinya saat ini.

Ia pun menuruni tangga dan melihat bayangan wanita seksi dengan rambut panjang cokelat sedang menunggunya di ruang tamu.

“Dia siapa? Aku tak mengenal wanita itu,” kata Lucio pada neneknya.

“Kamu akan kenal setelah ini.”

Setelah Lucio melangkah mendekat. Ia pun menelengkan kepalanya mengingat wajah yang cukup familier itu.

“Kamu siapa?” tanya Lucio heran.

Wanita itu terkejut karena Lucio telah melupakan dirinya begitu saja. Padahal tadi siang dia sudah bertemu dengannya.

“Aku Bellinda. Kamu lupa?” tanya Bellinda. Ia langsung mencium pipi kiri dan kanan Lucio tanpa izin. “Aku Bellinda, calon istrimu,” kata Bellinda dengan percaya diri.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status