LOGINMaya seketika menegang di tempatnya berdiri. Secara refleks yang amat cepat, naluri bertahannya bergejolak hebat, mengalirkan energi sihir ganda yang memancarkan rasa hangat sekaligus dingin secara bersamaan menuju ujung-ujung jemari tangannya. Di lorong sempit yang kotor dan gelap ini, terpojok oleh sosok asing adalah sebuah situasi yang amat berbahaya bagi siapa pun. Namun, tepat saat sosok tinggi tegap yang berdiri di mulut lorong itu perlahan melangkah keluar menembus kegelapan menuju pendaran obor pasar, napas Maya mendadak tertahan di tenggorokan dan jantungnya berdegup kencang.Pria itu mengenakan mantel kain tebal berwarna hitam polos tanpa ornamen emas, tanpa sulaman benang perak, maupun lambang kebesaran kerajaan. Pakaian itu tampak biasa dan sangat membaur dengan suasana Kota Bawah yang kumuh. Namun, postur tubuhnya yang tegap sempurna, aroma minyak kayu cendana khas yang menyeruak pelan menembus udara lembap, serta pendaran sepasang mata perak yang amat tajam di balik kege
Kota Bawah bukan sekadar pemukiman padat biasa, melainkan sebuah labirin raksasa tanpa akhir yang dibangun secara sembarangan dari susunan batu bata kasar yang mulai retak, kayu rapuh berlapis jamur, serta lempengan besi berkarat. Di tempat yang terisolasi dari kejayaan istana ini, tidak ada lampion kristal magis bermuatan sihir murni yang memancarkan cahaya hangat, tidak pula ada lorong-lorong pualam bersih yang disapu setiap jam oleh para pelayan. Cahaya di lorong-lorong sempit Kota Bawah hanya bersumber dari obor api mentah bertengger kusam di sudut-sudut dinding batu yang lembap, memancarkan pendaran jingga redup dan kepulan asap pekat yang menyengat hidung.Maya berjalan perlahan menelusuri lorong pasar yang bising dan berdesakan, merapatkan lipatan jubah abu-abu kasarnya agar wajah serta warna matanya tetap tersembunyi rapat di balik bayangan tudung. Di sekelilingnya, pemandangan kehidupan nyata yang tak pernah sekali pun tertuang dalam kitab-kitab sejarah istana membentang seca
Lampu-lampu lampion Festival Bulan Merah masih tersisa dalam bentuk getaran pendaran redup di balik megahnya dinding obsidian Istana Bayangan. Sisa-sisa kemeriahan perayaan sakral lima ratus tahunan itu perlahan memudar, meninggalkan atmosfer malam yang kembali hening dan menusuk tulang. Bagi seluruh penghuni istana, perayaan spektakuler semalam adalah bukti mutlak dari kejayaan dan dominasi penyatuan kekuatan. Kilauan mahkota Kegelapan Keemasan yang tercipta dari leburan sihir ganda milik Maya di atas langit Astralia telah membungkam keraguan para bangsawan klan utama dan membakar semangat para prajurit perbatasan.Namun, bagi Maya, kilauan cahaya spektakuler itu justru tidak memberikan kedamaian di dalam hatinya. Saat berdiri sendirian di kamar utama Sayap Mawar Hitam yang teramat luas dan mewah, gaung pertanyaan mendalam justru menari-nari tanpa henti di dalam batinnya.Pagi itu, saat gumpalan awan kelabu menutupi langit Astralia dan membawa hembusan angin dingin yang merayap masuk
Suasana di seluruh penjuru Kota Astralia malam itu mendadak berubah secara drastis dan spektakuler. Jalan-jalan utama yang biasanya sepi, dingin, dan dibungkus hawa beku membahayakan kini berdenyut penuh dengan riak kehidupan yang luar biasa meriah. Ratusan lampion kristal gantung bernuansa merah keemasan memancarkan pendaran cahaya magis yang hangat di sepanjang koridor batu obsidian, sementara tirai-tirai kain sutra hitam berhiaskan benang perak terpasang anggun menyambut perayaan paling sakral di seluruh penjuru Kerajaan Bayangan: Festival Bulan Merah.Perayaan monumental ini hanya diadakan setiap lima ratus tahun sekali, tepat saat ketiga bulan di langit Astralia menggantung sejajar sempurna dan memancarkan pendaran cahaya merah saga yang memukau di atas kubah langit malam. Bagi rakyat jelata maupun klan-klan bangsawan Kuno Negeri Bayangan, festival ini bukan sekadar ajang pesta pora biasa, melainkan momentum spiritual yang sangat vital untuk merayakan kebangkitan kembali pasokan
Berita tentang kebangkitan fenomena aneh yang terjadi pada tubuh sang Tunangan Kerajaan belum sepenuhnya bocor ke telinga publik istana. Namun, perubahan aura yang menyelimuti tubuh Maya tidak bisa disembunyikan secara total dari pengamatan para tetua berdarah murni yang memiliki kepekaan sihir tinggi. Kehangatan sihir Primordial yang biasanya memancar jernih kini dipenuhi bayangan dingin yang samar namun menekan—sebuah tanda bahwa gadis fana itu telah melangkah jauh melampaui batas kodrat manusia biasa.Pagi itu, di bawah langit Astralia yang diselimuti awan kelabu tipis, Lady Lysandra melangkah menyusuri lorong berkanopi di Sayap Mawar Hitam. Langkah kakinya yang diiringi gema halus tumit sepatu kristalnya terdengar kaku dan dipenuhi amarah terpendam. Kekalahan bertubi-tubi yang dialami klannya—mulai dari hancurnya batu cincin sihir kepakannya, Lord Brandon, hingga kegagalan para tetua perpustakaan untuk memenjarakan Maya—telah merusak reputasi klan Es Utara di mata dewan kerajaan.
Sejak insiden ledakan kecil di ruang latihan bawah tanah, sesi latihan sihir Maya bersama Lucien ditingkatkan menjadi agenda harian. Di bawah bimbingan langsung sang Penguasa Bayangan, Maya mulai belajar mengatur ritme napas dan mengalirkan energi Primordial Ardelia tanpa memicu ledakan spontan. Namun, memasuki minggu kedua, sebuah anomali yang belum pernah tercatat dalam sejarah sihir istana mulai memanifestasikan dirinya.Sore itu, suasana di ruang latihan rahasia terasa amat hening. Cahaya keemasan dari lampu-lampu kristal membias lembut di atas permukaan pualam. Maya berdiri mematung di tengah lingkaran sihir, memejamkan mata untuk memanggil pendaran sihir emas dari dalam jiwanya. Di seberang ruangan, Lucien mengamati dengan cermat, bersiap menahan jika energi tersebut kembali meluap.Maya menghembuskan napas perlahan, meraup aliran hangat di dadanya dan menyalurkannya menuju jemari tangan kanannya. Seperti biasa, pendaran cahaya emas yang menyilaukan mulai memancar dari pergelang







