Share

Bab 29: Batas Dua Jiwa

Penulis: Deschya.77
last update Tanggal publikasi: 2026-08-12 00:05:37

Keheningan yang pekat kembali membungkus kamar di Sayap Mawar Hitam, namun atmosfer di antara mereka telah berubah sepenuhnya. Suara gemertak kayu bakar di dalam perapian kini menjadi satu-satunya latar belakang saat Maya menatap Lucien yang masih berlutut di samping kursinya. Posisi sang Raja yang rendah hati—membuang segala keagungan mahkotanya di hadapan seorang gadis fana—menciptakan kontras yang teramat tajam dengan bayangan penguasa dingin yang ditakuti oleh seluruh Dewan Bangsawan.

Maya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kontrak Dengan Raja Kegelapan   Bab 49: Murka Sang Penguasa

    Melihat darah kemerahan berbinar keemasan itu membasahi tanah berlumpur Kota Bawah, dunia seakan-akan berhenti berputar bagi Lucien. Suara teriakan histeris warga yang berlarian, derak kobaran api yang membakar reruntuhan kayu, hingga dentang benturan senjata tajam yang saling beradu di sekitarnya mendadak lenyap begitu saja dari pendengarannya. Segala hal yang ada di dalam bidang pandangannya memudar drastis, menyisakan bayangan Maya yang terkulai lemas di atas tanah dingin dengan punggung yang bersimbah darah.Manik mata perak Lucien yang semula memancarkan ketenangan mendadak berkilat merah menyala—sebuah pertanda mengerikan bahwa naluri pemusnah terliar sang Penguasa Bayangan telah bangkit sepenuhnya dari kedalaman jiwanya. Aura membunuh (killing intent) yang teramat pekat, dingin, dan murni meledak seketika dari tubuh tegap Lucien, menghentak udara malam dengan gelombang kejut magis yang tak kasat mata. Fondasi bangunan batu di seluruh Kota Bawah bergetar hebat, sementara obor-ob

  • Kontrak Dengan Raja Kegelapan   Bab 48: Darah di Kota Bawah

    Malam yang tadinya diliputi kehangatan dan keheningan manis di antara Maya dan Lucien mendadak sirna dalam sekejap mata. Baru saja langkah kaki mereka mengayun sejauh puluhan meter meninggalkan kedai kayu sederhana tadi, gema teriakan histeris ratusan warga dan dentang benturan senjata tajam melengking keras memecah kegelapan Kota Bawah. Bau jelaga obor dan aroma tanah lembap yang tenang seketika tergantikan oleh hawa panas yang menyengat serta aroma amis belerang membakar hidung.Dari balik tikungan lorong sempit di depan mereka, kepulan asap hitam berbau busuk menyembur membubung tinggi ke udara malam. Sekelompok pria berpenutup muka kain hitam dengan senjata tajam yang ternoda racun dan obor menyala menerobos keluar secara brutal dari pemukiman warga. Mereka adalah para pemberontak radikal—kelompok bayangan korup yang kerap memanfaatkan kelengahan penjaga untuk menjarah batu energi, membakar tempat tinggal, serta membantai rakyat sipil tak berdaya. Warga Kota Bawah berlarian panik,

  • Kontrak Dengan Raja Kegelapan   Bab 47: Semakin Dekat

    Malam semakin melarut dan pekat di wilayah Kota Bawah. Bau tanah basah yang dingin, kepulan asap jelaga dari obor kayu yang berderak, serta keharuman rempah-rempah murah membaur tajam di udara yang kian menusuk hingga ke dalam tulang. Namun, bagi Maya, rasa dingin yang biasanya merayap gampang menembus kain jubah kasarnya kini seolah-olah tak lagi berdaya melumpuhkan fisiknya. Di sampingnya, Lucien melangkah dengan tenang, stabil, dan penuh kepastian. Kehadiran pria itu—tanpa mahkota obsidian yang berkilau dingin, tanpa zirah kebesaran yang kaku dan menindas, serta tanpa barikade formalitas istana yang membentang lebar—menciptakan sebuah gelembung ketenangan yang aneh namun teramat menentramkan di tengah keremangan lorong-lorong rahasia Kerajaan Astralia.Dinding tebal dan kokoh yang selama berbulan-bulan dibangun oleh perbedaan gelar, beban kewajiban, serta rasa curiga di antara mereka mendadak perlahan mencair tanpa sisa. Di bawah pendaran temaram obor jalanan yang sesekali berjelag

  • Kontrak Dengan Raja Kegelapan   Bab 46: Sang Penguasa Yang Menyamar

    Maya seketika menegang di tempatnya berdiri. Secara refleks yang amat cepat, naluri bertahannya bergejolak hebat, mengalirkan energi sihir ganda yang memancarkan rasa hangat sekaligus dingin secara bersamaan menuju ujung-ujung jemari tangannya. Di lorong sempit yang kotor dan gelap ini, terpojok oleh sosok asing adalah sebuah situasi yang amat berbahaya bagi siapa pun. Namun, tepat saat sosok tinggi tegap yang berdiri di mulut lorong itu perlahan melangkah keluar menembus kegelapan menuju pendaran obor pasar, napas Maya mendadak tertahan di tenggorokan dan jantungnya berdegup kencang.Pria itu mengenakan mantel kain tebal berwarna hitam polos tanpa ornamen emas, tanpa sulaman benang perak, maupun lambang kebesaran kerajaan. Pakaian itu tampak biasa dan sangat membaur dengan suasana Kota Bawah yang kumuh. Namun, postur tubuhnya yang tegap sempurna, aroma minyak kayu cendana khas yang menyeruak pelan menembus udara lembap, serta pendaran sepasang mata perak yang amat tajam di balik kege

  • Kontrak Dengan Raja Kegelapan   Bab 45: Realita di Balik Bayangan

    Kota Bawah bukan sekadar pemukiman padat biasa, melainkan sebuah labirin raksasa tanpa akhir yang dibangun secara sembarangan dari susunan batu bata kasar yang mulai retak, kayu rapuh berlapis jamur, serta lempengan besi berkarat. Di tempat yang terisolasi dari kejayaan istana ini, tidak ada lampion kristal magis bermuatan sihir murni yang memancarkan cahaya hangat, tidak pula ada lorong-lorong pualam bersih yang disapu setiap jam oleh para pelayan. Cahaya di lorong-lorong sempit Kota Bawah hanya bersumber dari obor api mentah bertengger kusam di sudut-sudut dinding batu yang lembap, memancarkan pendaran jingga redup dan kepulan asap pekat yang menyengat hidung.Maya berjalan perlahan menelusuri lorong pasar yang bising dan berdesakan, merapatkan lipatan jubah abu-abu kasarnya agar wajah serta warna matanya tetap tersembunyi rapat di balik bayangan tudung. Di sekelilingnya, pemandangan kehidupan nyata yang tak pernah sekali pun tertuang dalam kitab-kitab sejarah istana membentang seca

  • Kontrak Dengan Raja Kegelapan   Bab 44: Melangkah ke Dunia Bawah

    Lampu-lampu lampion Festival Bulan Merah masih tersisa dalam bentuk getaran pendaran redup di balik megahnya dinding obsidian Istana Bayangan. Sisa-sisa kemeriahan perayaan sakral lima ratus tahunan itu perlahan memudar, meninggalkan atmosfer malam yang kembali hening dan menusuk tulang. Bagi seluruh penghuni istana, perayaan spektakuler semalam adalah bukti mutlak dari kejayaan dan dominasi penyatuan kekuatan. Kilauan mahkota Kegelapan Keemasan yang tercipta dari leburan sihir ganda milik Maya di atas langit Astralia telah membungkam keraguan para bangsawan klan utama dan membakar semangat para prajurit perbatasan.Namun, bagi Maya, kilauan cahaya spektakuler itu justru tidak memberikan kedamaian di dalam hatinya. Saat berdiri sendirian di kamar utama Sayap Mawar Hitam yang teramat luas dan mewah, gaung pertanyaan mendalam justru menari-nari tanpa henti di dalam batinnya.Pagi itu, saat gumpalan awan kelabu menutupi langit Astralia dan membawa hembusan angin dingin yang merayap masuk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status