แชร์

Bab 3: Teror di Fajar

ผู้เขียน: Deschya.77
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-12 00:56:07

Maya tidak tidur sepanjang malam. Ia meringkuk di kursi, memeluk lututnya, sementara kartu nama hitam bertuliskan Lucien Noctis tergeletak di atas meja kerja, memantulkan cahaya lampu meja yang berkedip-kedip tidak stabil. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat bayangan pria itu—tatapan mata birunya yang sedingin es dan janji tentang "kebebasan" yang terasa seperti jeratan tali. Siapa pria ini sebenarnya? Dan apa hubungannya dengan ayahnya? Pertanyaan itu berputar di kepalanya seperti pusaran air yang menyesakkan.

Fajar menyingsing dengan warna jingga yang pucat, menembus celah gorden yang tipis. Cahaya pagi itu tidak membawa kehangatan; justru terasa dingin dan hampa. Saat Maya baru saja akan memejamkan mata karena kelelahan yang luar biasa, suara dobrakan pintu kembali terdengar. Kali ini lebih keras, lebih brutal, seolah-olah pintu kayu tipis itu akan hancur dalam sekali tendangan.

"MAYA! KELUAR KAU, BRENGSEK!"

Maya terlonjak, jantungnya serasa ingin melompat keluar dari dadanya. Ia berlari ke arah pintu dan membukanya dengan tangan yang gemetar hebat. Di depannya berdiri dua pria besar—penagih hutang yang sama, namun kali ini wajah mereka tampak lebih geram, seolah-olah kesabaran mereka telah habis sepenuhnya.

"Waktu habis, nona manis," ucap pria bertubuh gempal sambil meludah ke lantai. "Kalau kau tidak punya uangnya, kami akan mengambil isi rumah ini. Dan sebagai tambahan... kami akan membawa apa pun yang berharga untuk menutupi sisa bunganya."

"Tolong," pinta Maya, suaranya parau dan bergetar. "Berikan aku waktu sedikit lagi. Aku sedang menunggu pembayaran dari klienku! Aku janji, tidak sampai dua hari—"

"Cukup omong kosongnya!" pria itu mendorong Maya dengan kasar hingga ia terjatuh ke lantai kayu yang keras. Ia meringis saat punggungnya menghantam sudut meja.

Dua pria itu mulai bergerak dengan brutal. Mereka menjatuhkan rak buku, melemparkan foto-foto masa kecil Maya ke lantai hingga kacanya pecah, dan mulai memasukkan barang-barang elektronik milik Maya ke dalam karung goni yang kotor. Maya merangkak, mencoba mempertahankan kotak kayu tua berisi dokumen-dokumen berharga peninggalan ayahnya.

"Jangan sentuh itu!" teriak Maya, mencoba merebut kotak tersebut dari tangan salah satu penagih hutang.

"Lepaskan, sialan!" pria itu menendang tangan Maya, membuatnya melepaskan kotak itu dengan rintihan nyeri.

Tepat saat pria itu hendak mengacungkan tinjunya—seolah bersiap memberikan pelajaran terakhir sebelum menyeret Maya keluar—ponselnya berdering nyaring. Nada deringnya yang cempreng memecah ketegangan yang menyesakkan di ruangan itu. Pria yang memegang dokumen ayahnya mengangkatnya dengan kasar, napasnya masih terengah-engah karena amarah.

"APA?! Apa maksudmu?! Kami sedang di tengah-tengah—"

Wajah pria itu tiba-tiba berubah warna. Warna merah karena marah di wajahnya memudar, digantikan oleh kepucatan yang mengerikan, seolah-olah ia baru saja melihat hantu. Ia mematikan ponselnya dengan tangan yang tiba-tiba gemetar hebat. Ia menatap layar ponselnya sekali lagi, lalu menatap dokumen di tangannya dengan ketakutan yang nyata. Ia menatap Maya, namun bukan lagi dengan tatapan mengancam, melainkan tatapan bingung dan sedikit gemetar.

"Ini... ini tidak mungkin terjadi," gumam pria itu. Suaranya pecah.

"Ada apa?" tanya rekannya yang sedang menggeledah lemari pakaian Maya. "Cepat selesaikan, kita harus pergi sebelum hujan turun lagi."

"Hutang ini..." pria itu menunjuk ke arah dokumen yang ia pegang dengan jari yang gemetar. "Hutang ini sudah dilunasi. Lunas! Barusan, ada notifikasi transfer masuk ke rekening pusat. Seseorang... seseorang telah membayar seluruh sisa hutang keluarga Ardelia, termasuk denda, bunga, dan biaya eksekusi lainnya!"

Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Rekannya berhenti mengacak-acak lemari, menoleh dengan mata terbelalak. "Kau bercanda? Hutang itu nilainya ribuan koin emas! Siapa yang mau membayar untuk gadis miskin ini?!"

Pria pertama tidak menjawab. Ia menjatuhkan dokumen itu ke lantai di dekat kaki Maya, lalu menatap Maya dengan ketakutan yang bercampur dengan kebingungan. Mereka berdua terdiam sejenak, menatap Maya seolah-olah mereka baru saja melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia ini. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, mereka berdua lari keluar dari rumah itu dengan langkah tergesa-gesa, meninggalkan pintu yang terbuka lebar, membiarkan angin pagi yang dingin masuk ke dalam rumah.

Maya terdiam di lantai, napasnya memburu. Ia merangkak meraih ponselnya yang tergeletak di dekat meja. Dengan jemari yang masih gemetar, ia membuka aplikasi perbankan. Saldo nol yang selama ini menjadi momok mimpi buruknya kini berubah. Angka hutang yang selama ini berwarna merah, kini lenyap, berganti dengan saldo yang bersih.

Maya jatuh terduduk di lantai, air mata akhirnya mengalir di pipinya. Namun, itu bukan air mata kelegaan. Itu adalah air mata ketakutan. Siapa yang sanggup membayar hutang sebanyak itu dalam waktu semalam? Hanya satu nama yang terlintas di pikirannya: Lucien Noctis.

Pria itu benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Dan sekarang, Maya tahu satu hal yang lebih menakutkan dari hutang: ia kini berhutang nyawa pada seorang Raja Kegelapan. Ia telah menjadi milik sesuatu yang tidak bisa ia lawan, sesuatu yang baru saja menunjukkan kekuatannya yang tak masuk akal di hadapannya.

Maya menatap pintu yang terbuka. Angin pagi meniup tirai yang robek, menciptakan bayangan-bayangan yang menari-nari di dinding. Ia merasa seolah-olah rumahnya bukan lagi tempat perlindungan, melainkan sebuah sarang yang telah ditandai oleh predator yang sangat kuat. Dan Lucien, entah di mana ia berada saat ini, pasti sedang mengawasinya.

Bersambung…

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kontrak Dengan Raja Kegelapan   Bab 5: Kontrak yang Mengikat

    Malam itu seolah ditarik paksa oleh waktu yang melambat. Bagi Maya, setiap detak jarum jam dinding yang menggantung di ruang tamu adalah seperti dentuman palu godam di atas landasan besi. Ia menghabiskan sisa malamnya dengan duduk di kursi kerja yang kayu penyangganya sudah mulai lapuk, menatap lurus ke arah kartu hitam di atas meja yang kini tampak bersinar samar, mengeluarkan cahaya keunguan yang nyaris tidak terlihat namun cukup untuk membuatnya merasa tidak tenang.Pikirannya adalah sebuah labirin yang menyesakkan. Ia mencoba memutar balik ingatan tentang ayahnya—tentang nasihat-nasihat yang pernah diucapkan, tentang peringatan samar mengenai "dunia di balik bayangan" yang dulu ia anggap hanya sekadar dongeng sebelum tidur. Mengapa ayahnya begitu menjaga kotak kayu itu? Mengapa ayahnya tampak ketakutan setiap kali membicarakan masa lalu? Kini, semua teka-teki itu terasa seperti potongan puzzle yang mulai membentuk gambaran yang menakutkan.Tidak ada air mata yang tersisa; rasa tak

  • Kontrak Dengan Raja Kegelapan   Bab 4: Tamu yang Tak Diundang

    Hari itu terasa seperti berlangsung selama seratus tahun. Bagi Maya, waktu tidak lagi bergerak dalam hitungan detik, melainkan dalam detak jantungnya yang tidak beraturan. Ia merasa seolah-olah udara di dalam rumah kontrakan kecilnya telah berubah menjadi kental dan beracun. Setiap sudut ruangan, setiap retakan di dinding, dan bayangan yang memanjang di lantai kayu akibat sinar lampu yang mulai redup, seolah memiliki mata yang sedang mengawasi setiap gerak-geriknya.​Ia mencoba untuk tetap rasional. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua ini hanyalah akibat dari kurang tidur, guncangan psikologis pasca-kematian ayahnya, atau mungkin sebuah mimpi buruk panjang yang tak kunjung berakhir. Namun, kartu nama hitam bertuliskan Lucien Noctis yang tergeletak di atas meja kerja itu adalah bukti fisik yang tak terbantahkan. Setiap kali ia mencoba membuangnya, kartu itu kembali ke tempatnya seolah-olah ia memiliki semacam daya tarik magnetis yang terhubung langsung dengan jiwa Maya. Maya suda

  • Kontrak Dengan Raja Kegelapan   Bab 3: Teror di Fajar

    Maya tidak tidur sepanjang malam. Ia meringkuk di kursi, memeluk lututnya, sementara kartu nama hitam bertuliskan Lucien Noctis tergeletak di atas meja kerja, memantulkan cahaya lampu meja yang berkedip-kedip tidak stabil. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat bayangan pria itu—tatapan mata birunya yang sedingin es dan janji tentang "kebebasan" yang terasa seperti jeratan tali. Siapa pria ini sebenarnya? Dan apa hubungannya dengan ayahnya? Pertanyaan itu berputar di kepalanya seperti pusaran air yang menyesakkan.Fajar menyingsing dengan warna jingga yang pucat, menembus celah gorden yang tipis. Cahaya pagi itu tidak membawa kehangatan; justru terasa dingin dan hampa. Saat Maya baru saja akan memejamkan mata karena kelelahan yang luar biasa, suara dobrakan pintu kembali terdengar. Kali ini lebih keras, lebih brutal, seolah-olah pintu kayu tipis itu akan hancur dalam sekali tendangan."MAYA! KELUAR KAU, BRENGSEK!"Maya terlonjak, jantungnya serasa ingin melompat keluar dari dadany

  • Kontrak Dengan Raja Kegelapan   Bab 2: Penolakan yang Naif

    Maya menutup pintu dengan kasar, napasnya tersengal-sengal seolah ia baru saja berlari maraton. Ia menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang dingin, menahan berat tubuhnya sendiri agar tidak merosot ke lantai. Apa itu tadi? Halusinasi? Ia mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba menyeka sisa-sisa air hujan yang membasahi pelipisnya. Kematian ayahnya mungkin telah mengacaukan kewarasannya, mungkin duka yang mendalam telah menciptakan bayangan-bayangan di otaknya.Ia kembali ke mejanya, mencoba fokus pada gambar digital yang harus ia selesaikan dalam waktu kurang dari enam jam. Namun, pikirannya terus melayang kembali pada pria misterius itu—Lucien. Matanya yang dingin, suaranya yang tenang, dan fakta bahwa pria itu seolah-olah tidak basah kuyup meski hujan mengguyur begitu keras. Ada sesuatu yang tidak logis, sesuatu yang menentang hukum alam yang selama 22 tahun ini ia kenal."Tidak mungkin," gumamnya pada diri sendiri. Ia mengambil segelas air, namun tangannya justru tidak sengaja

  • Kontrak Dengan Raja Kegelapan   Bab 1: Hutang yang Menjemput

    Hujan di kota kecil Aethelgard tidak sekadar turun; ia menghantam. Air bah yang jatuh dari langit seolah berusaha membasuh setiap dosa dan kesedihan yang melekat di jalanan berbatu. Suara gemuruh guntur yang bersahutan di kejauhan terdengar seperti detak jantung dunia yang sedang sekarat. Di dalam sebuah kontrakan kecil yang hanya terdiri dari dua ruangan, Maya Ardelia meringkuk di kursi kayu tua yang kain pelapisnya sudah mulai terkelupas.Bau lembap bercampur dengan aroma tinta dan kertas lama. Di hadapannya, tumpukan surat peringatan dari bank berbaris seperti tentara yang siap mengeksekusi nasibnya. Total hutang itu... jumlah yang tidak masuk akal bagi seorang gadis yang menghabiskan hari-harinya menggambar ilustrasi pesanan orang asing di internet. Sejak ayahnya meninggal dunia akibat penyakit misterius dua minggu lalu, dunia Maya seolah kehilangan warna. Rumah ini, kenangan yang tersisa dari sosok sang ayah, bahkan haknya untuk merasa aman, kini berada di ujung tanduk.Maya meng

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status