MasukMaya tidak tidur sepanjang malam. Ia meringkuk di kursi, memeluk lututnya, sementara kartu nama hitam bertuliskan Lucien Noctis tergeletak di atas meja kerja, memantulkan cahaya lampu meja yang berkedip-kedip tidak stabil. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat bayangan pria itu—tatapan mata birunya yang sedingin es dan janji tentang "kebebasan" yang terasa seperti jeratan tali. Siapa pria ini sebenarnya? Dan apa hubungannya dengan ayahnya? Pertanyaan itu berputar di kepalanya seperti pusaran air yang menyesakkan.
Fajar menyingsing dengan warna jingga yang pucat, menembus celah gorden yang tipis. Cahaya pagi itu tidak membawa kehangatan; justru terasa dingin dan hampa. Saat Maya baru saja akan memejamkan mata karena kelelahan yang luar biasa, suara dobrakan pintu kembali terdengar. Kali ini lebih keras, lebih brutal, seolah-olah pintu kayu tipis itu akan hancur dalam sekali tendangan.
"MAYA! KELUAR KAU, BRENGSEK!"
Maya terlonjak, jantungnya serasa ingin melompat keluar dari dadanya. Ia berlari ke arah pintu dan membukanya dengan tangan yang gemetar hebat. Di depannya berdiri dua pria besar—penagih hutang yang sama, namun kali ini wajah mereka tampak lebih geram, seolah-olah kesabaran mereka telah habis sepenuhnya.
"Waktu habis, nona manis," ucap pria bertubuh gempal sambil meludah ke lantai. "Kalau kau tidak punya uangnya, kami akan mengambil isi rumah ini. Dan sebagai tambahan... kami akan membawa apa pun yang berharga untuk menutupi sisa bunganya."
"Tolong," pinta Maya, suaranya parau dan bergetar. "Berikan aku waktu sedikit lagi. Aku sedang menunggu pembayaran dari klienku! Aku janji, tidak sampai dua hari—"
"Cukup omong kosongnya!" pria itu mendorong Maya dengan kasar hingga ia terjatuh ke lantai kayu yang keras. Ia meringis saat punggungnya menghantam sudut meja.
Dua pria itu mulai bergerak dengan brutal. Mereka menjatuhkan rak buku, melemparkan foto-foto masa kecil Maya ke lantai hingga kacanya pecah, dan mulai memasukkan barang-barang elektronik milik Maya ke dalam karung goni yang kotor. Maya merangkak, mencoba mempertahankan kotak kayu tua berisi dokumen-dokumen berharga peninggalan ayahnya.
"Jangan sentuh itu!" teriak Maya, mencoba merebut kotak tersebut dari tangan salah satu penagih hutang.
"Lepaskan, sialan!" pria itu menendang tangan Maya, membuatnya melepaskan kotak itu dengan rintihan nyeri.
Tepat saat pria itu hendak mengacungkan tinjunya—seolah bersiap memberikan pelajaran terakhir sebelum menyeret Maya keluar—ponselnya berdering nyaring. Nada deringnya yang cempreng memecah ketegangan yang menyesakkan di ruangan itu. Pria yang memegang dokumen ayahnya mengangkatnya dengan kasar, napasnya masih terengah-engah karena amarah.
"APA?! Apa maksudmu?! Kami sedang di tengah-tengah—"
Wajah pria itu tiba-tiba berubah warna. Warna merah karena marah di wajahnya memudar, digantikan oleh kepucatan yang mengerikan, seolah-olah ia baru saja melihat hantu. Ia mematikan ponselnya dengan tangan yang tiba-tiba gemetar hebat. Ia menatap layar ponselnya sekali lagi, lalu menatap dokumen di tangannya dengan ketakutan yang nyata. Ia menatap Maya, namun bukan lagi dengan tatapan mengancam, melainkan tatapan bingung dan sedikit gemetar.
"Ini... ini tidak mungkin terjadi," gumam pria itu. Suaranya pecah.
"Ada apa?" tanya rekannya yang sedang menggeledah lemari pakaian Maya. "Cepat selesaikan, kita harus pergi sebelum hujan turun lagi."
"Hutang ini..." pria itu menunjuk ke arah dokumen yang ia pegang dengan jari yang gemetar. "Hutang ini sudah dilunasi. Lunas! Barusan, ada notifikasi transfer masuk ke rekening pusat. Seseorang... seseorang telah membayar seluruh sisa hutang keluarga Ardelia, termasuk denda, bunga, dan biaya eksekusi lainnya!"
Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Rekannya berhenti mengacak-acak lemari, menoleh dengan mata terbelalak. "Kau bercanda? Hutang itu nilainya ribuan koin emas! Siapa yang mau membayar untuk gadis miskin ini?!"
Pria pertama tidak menjawab. Ia menjatuhkan dokumen itu ke lantai di dekat kaki Maya, lalu menatap Maya dengan ketakutan yang bercampur dengan kebingungan. Mereka berdua terdiam sejenak, menatap Maya seolah-olah mereka baru saja melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia ini. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, mereka berdua lari keluar dari rumah itu dengan langkah tergesa-gesa, meninggalkan pintu yang terbuka lebar, membiarkan angin pagi yang dingin masuk ke dalam rumah.
Maya terdiam di lantai, napasnya memburu. Ia merangkak meraih ponselnya yang tergeletak di dekat meja. Dengan jemari yang masih gemetar, ia membuka aplikasi perbankan. Saldo nol yang selama ini menjadi momok mimpi buruknya kini berubah. Angka hutang yang selama ini berwarna merah, kini lenyap, berganti dengan saldo yang bersih.
Maya jatuh terduduk di lantai, air mata akhirnya mengalir di pipinya. Namun, itu bukan air mata kelegaan. Itu adalah air mata ketakutan. Siapa yang sanggup membayar hutang sebanyak itu dalam waktu semalam? Hanya satu nama yang terlintas di pikirannya: Lucien Noctis.
Pria itu benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Dan sekarang, Maya tahu satu hal yang lebih menakutkan dari hutang: ia kini berhutang nyawa pada seorang Raja Kegelapan. Ia telah menjadi milik sesuatu yang tidak bisa ia lawan, sesuatu yang baru saja menunjukkan kekuatannya yang tak masuk akal di hadapannya.
Maya menatap pintu yang terbuka. Angin pagi meniup tirai yang robek, menciptakan bayangan-bayangan yang menari-nari di dinding. Ia merasa seolah-olah rumahnya bukan lagi tempat perlindungan, melainkan sebuah sarang yang telah ditandai oleh predator yang sangat kuat. Dan Lucien, entah di mana ia berada saat ini, pasti sedang mengawasinya.
Bersambung…
Malam yang dinantikan oleh seluruh kalangan bangsawan Istana Atas akhirnya tiba. Balairung Kristal—aula megah berlantai marmer hitam berkilau yang dikelilingi oleh pilar-pilar kristal raksasa—telah dipenuhi oleh ratusan tamu undangan dari klan-klan darah murni Astralia. Lampu-lampu gantung berbahan batu energi membiaskan cahaya perak yang menyilaukan, memantul di atas gaun-gaun sutra mewah dan perhiasan berkilau milik para wanita bangsawan. Gelak tawa yang dibuat-buat, denting gelas kristal, serta alunan musik harpa yang lembut melayang di udara, membungkus atmosfer balairung dalam kepalsuan yang amat sempurna.Di balik kemewahan tersebut, bisik-bisik intrik berkobar tanpa henti. Lord Valerius, pria tua berambut perak dengan mantel kebesaran berwarna merah tua yang melapisi zirahnya, berdiri di tengah lingkar tetua klan. Matanya yang licik bergerak mengawasi pintu gerbang utama balairung seraya menyesap anggur merah dari cangkirnya."Gadis fana yang membawa sihir liar itu berani menam
Tiga hari telah berlalu sejak peristiwa berdarah dan menegangkan yang mengguncang lorong-lorong kusam Kota Bawah. Berkat kekuatan sihir penyembuh perak murni milik Lucien yang disalurkan secara konstan tanpa kenal lelah, luka robek mengerikan yang sempat membedah punggung Maya telah pulih sepenuhnya. Tidak ada lagi rasa nyeri yang membakar atau hawa dingin racun yang menggerogoti jiwanya—hanya menyisakan sebaris garis merah tipis yang kian memudar di atas kulit halusnya. Suasana di dalam kediaman pribadi Sayap Mawar Hitam pun perlahan-lahan kembali tenang dan hangat. Akan tetapi, ketegangan politik di luar benteng kediaman sang Raja justru kian memuncak hingga mencapai titik didih.Tindakan nekat Maya yang melempar tubuhnya demi menyelamatkan seorang anak fana, ditambah dengan amarah meledak-ledak dari Lucien yang menghancurkan seluruh kelompok pemberontak dalam sekedip mata, telah menjadi buah bibir yang amat panas di setiap sudut Istana Atas. Para bangsawan klan utama yang bermukim
Langkah kaki Lucien bergema cepat membelah lorong-lorong sunyi Sayap Mawar Hitam. Pintu kayu ek berat berkilau obsidian terhempas terbuka lebar saat sang Raja melangkah masuk membawa tubuh Maya yang terkulai lemah. Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia menempatkan tubuh gadis itu dengan amat berhati-hati di atas ranjang berkanopi kain sutra hitam.Aroma amis darah segar yang berbinar keemasan membaur tajam dengan bau menyengat racun kotor berwarna kehitaman. Kain jubah abu-abu kasar di punggung Maya telah hancur terkoyak, memperlihatkan luka robek memanjang yang tampak mengerikan dan meradang hebat. Kulit halus di sekitar luka itu memar kebiruan, dengan urat-urat hitam tipis yang merayap perlahan bagaikan jaring laba-laba—menandakan bahwa racun kotor pemberontak itu tengah berusaha keras menembus dan merusak sistem saraf serta aliran sihir Primordial Maya."Maya... tetaplah sadar. Dengarkan suaraku," bisik Lucien. Suara bass sang Raja yang biasanya dipenuhi wibawa mutlak kini terdengar
Melihat darah kemerahan berbinar keemasan itu membasahi tanah berlumpur Kota Bawah, dunia seakan-akan berhenti berputar bagi Lucien. Suara teriakan histeris warga yang berlarian, derak kobaran api yang membakar reruntuhan kayu, hingga dentang benturan senjata tajam yang saling beradu di sekitarnya mendadak lenyap begitu saja dari pendengarannya. Segala hal yang ada di dalam bidang pandangannya memudar drastis, menyisakan bayangan Maya yang terkulai lemas di atas tanah dingin dengan punggung yang bersimbah darah.Manik mata perak Lucien yang semula memancarkan ketenangan mendadak berkilat merah menyala—sebuah pertanda mengerikan bahwa naluri pemusnah terliar sang Penguasa Bayangan telah bangkit sepenuhnya dari kedalaman jiwanya. Aura membunuh (killing intent) yang teramat pekat, dingin, dan murni meledak seketika dari tubuh tegap Lucien, menghentak udara malam dengan gelombang kejut magis yang tak kasat mata. Fondasi bangunan batu di seluruh Kota Bawah bergetar hebat, sementara obor-ob
Malam yang tadinya diliputi kehangatan dan keheningan manis di antara Maya dan Lucien mendadak sirna dalam sekejap mata. Baru saja langkah kaki mereka mengayun sejauh puluhan meter meninggalkan kedai kayu sederhana tadi, gema teriakan histeris ratusan warga dan dentang benturan senjata tajam melengking keras memecah kegelapan Kota Bawah. Bau jelaga obor dan aroma tanah lembap yang tenang seketika tergantikan oleh hawa panas yang menyengat serta aroma amis belerang membakar hidung.Dari balik tikungan lorong sempit di depan mereka, kepulan asap hitam berbau busuk menyembur membubung tinggi ke udara malam. Sekelompok pria berpenutup muka kain hitam dengan senjata tajam yang ternoda racun dan obor menyala menerobos keluar secara brutal dari pemukiman warga. Mereka adalah para pemberontak radikal—kelompok bayangan korup yang kerap memanfaatkan kelengahan penjaga untuk menjarah batu energi, membakar tempat tinggal, serta membantai rakyat sipil tak berdaya. Warga Kota Bawah berlarian panik,
Malam semakin melarut dan pekat di wilayah Kota Bawah. Bau tanah basah yang dingin, kepulan asap jelaga dari obor kayu yang berderak, serta keharuman rempah-rempah murah membaur tajam di udara yang kian menusuk hingga ke dalam tulang. Namun, bagi Maya, rasa dingin yang biasanya merayap gampang menembus kain jubah kasarnya kini seolah-olah tak lagi berdaya melumpuhkan fisiknya. Di sampingnya, Lucien melangkah dengan tenang, stabil, dan penuh kepastian. Kehadiran pria itu—tanpa mahkota obsidian yang berkilau dingin, tanpa zirah kebesaran yang kaku dan menindas, serta tanpa barikade formalitas istana yang membentang lebar—menciptakan sebuah gelembung ketenangan yang aneh namun teramat menentramkan di tengah keremangan lorong-lorong rahasia Kerajaan Astralia.Dinding tebal dan kokoh yang selama berbulan-bulan dibangun oleh perbedaan gelar, beban kewajiban, serta rasa curiga di antara mereka mendadak perlahan mencair tanpa sisa. Di bawah pendaran temaram obor jalanan yang sesekali berjelag







