LOGINMaya menutup pintu dengan kasar, napasnya tersengal-sengal seolah ia baru saja berlari maraton. Ia menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang dingin, menahan berat tubuhnya sendiri agar tidak merosot ke lantai. Apa itu tadi? Halusinasi? Ia mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba menyeka sisa-sisa air hujan yang membasahi pelipisnya. Kematian ayahnya mungkin telah mengacaukan kewarasannya, mungkin duka yang mendalam telah menciptakan bayangan-bayangan di otaknya.
Ia kembali ke mejanya, mencoba fokus pada gambar digital yang harus ia selesaikan dalam waktu kurang dari enam jam. Namun, pikirannya terus melayang kembali pada pria misterius itu—Lucien. Matanya yang dingin, suaranya yang tenang, dan fakta bahwa pria itu seolah-olah tidak basah kuyup meski hujan mengguyur begitu keras. Ada sesuatu yang tidak logis, sesuatu yang menentang hukum alam yang selama 22 tahun ini ia kenal.
"Tidak mungkin," gumamnya pada diri sendiri. Ia mengambil segelas air, namun tangannya justru tidak sengaja menyenggol vas bunga plastik yang berisi bunga kering pemberian ayahnya. Vas itu jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping dengan suara nyaring yang memekakkan telinga di keheningan kamar.
Tiba-tiba, udara di dalam ruangan berubah secara drastis. Suhu udara anjlok, membuat napas Maya membentuk embun tipis di udara. Cahaya lampu meja yang tadinya terang benderang menjadi redup secara aneh, seolah-olah ada sesuatu yang menyedot energi listrik di sekitarnya. Dan di sana, tepat di depan kursi yang baru saja ia tinggalkan, sosok Lucien berdiri lagi. Kali ini ia tidak muncul dari balik lorong atau pintu, melainkan tampak seolah-olah ia baru saja menjahit celah di udara dan melangkah keluar dari kehampaan.
Maya memekik, ia segera meraih pecahan vas yang cukup tajam untuk dijadikan senjata. "Bagaimana kau bisa masuk?! Bagaimana kau bisa ada di dalam kamarku?!"
Lucien tetap tenang. Ia tidak terlihat terancam oleh pecahan vas plastik di tangan Maya. Ia justru mengamati ruangan sempit itu dengan tatapan yang sulit diartikan—ada campuran antara rasa tidak suka dan melankolis yang mendalam. "Pintu, kunci, tembok, dan jendela adalah konsep untuk mereka yang memiliki batasan, Maya," ucapnya, suaranya halus namun memiliki otoritas yang mutlak. "Aku tidak memilikinya. Bagiku, dunia ini hanyalah lembaran kain yang bisa aku singkap kapan saja aku mau."
"Kau penipu! Kau penguntit!" Maya menunjuk dengan pecahan vasnya, tangannya masih gemetar hebat. "Aku akan memanggil polisi! Mereka akan menangkapmu!"
Lucien tertawa kecil, suara tawa yang terdengar seperti gesekan beludru di atas permukaan kasar. Itu bukan tawa meremehkan, melainkan tawa seseorang yang mendengar lelucon yang sangat lucu namun tragis. "Polisi? Manusia-manusia berseragam itu bahkan tidak akan bisa melihat keberadaanku jika aku tidak mengizinkannya. Lagipula, apa gunanya hukum manusia di hadapan sesuatu yang jauh lebih tua daripada konsep hukum itu sendiri?"
Ia berjalan perlahan—sangat perlahan—mengamati foto mendiang ayah Maya di dinding. Jemarinya yang panjang dan kurus menyentuh pigura kayu yang sudah kusam itu. "Ayahmu adalah pria yang baik, Maya. Penuh dengan cita-cita, penuh dengan harapan. Namun, dia terlalu bodoh untuk tidak meminjam uang pada orang yang salah. Dia pikir dunia ini bisa diatur dengan kerja keras dan kejujuran."
"Jangan berani-berani menyebut ayahku!" amarah Maya meledak, menenggelamkan rasa takutnya sesaat. Ia mencoba menyerang, bergerak maju untuk memukul, namun pergerakannya terhenti secara mendadak. Kakinya terasa membeku di tempat, seolah-olah lantai telah berubah menjadi semen yang mengeras. Ia tidak bisa melangkah. Ia hanya bisa berdiri, menatap Lucien dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena frustrasi.
"Aku menawarkan kebebasan," ucap Lucien, kini berdiri tepat di depan Maya. Jarak mereka begitu dekat hingga Maya bisa mencium aroma sandalwood dan sesuatu yang berbau seperti ozon setelah badai. Ia menjangkau wajah Maya, namun jemarinya berhenti tepat satu inci sebelum menyentuh pipinya. Ada ketegangan yang tertahan di sana, sebuah keraguan yang tidak lazim bagi sosok yang tampak begitu dominan. "Kenapa kau begitu keras kepala? Apa kau benar-benar ingin kehilangan semua kenangan yang tersisa di rumah ini—termasuk kenangan tentang ayahmu—hanya karena harga dirimu yang tidak berdasar?"
"Aku bisa menyelesaikannya sendiri," jawab Maya, suaranya tercekat di tenggorokan. "Aku akan bekerja lembur, aku akan menjual apa saja yang kumiliki. Aku tidak akan menjual diriku sendiri pada orang asing yang muncul entah dari mana!"
Lucien menatap Maya cukup lama, tatapan yang seolah-olah sedang menguliti rahasia yang tersembunyi di balik matanya. Ada kilatan kekaguman yang samar di matanya, sebelum akhirnya ia tersenyum tipis—senyum yang tidak pernah mencapai matanya yang kelabu. Senyum itu terasa seperti belati yang dibungkus sutra.
"Keras kepala. Persis seperti yang aku bayangkan," gumam Lucien. Ia memutar tubuhnya, dan dalam sekejap, ruangan kembali normal. Lampu kembali terang benderang, suara hujan di luar terdengar jelas kembali, dan ikatan di kaki Maya terlepas. Sebelum Maya sempat menarik napas atau melontarkan kata-kata makian lainnya, Lucien sudah melangkah menuju bayangan di sudut ruangan.
"Kau punya waktu sampai matahari terbenam esok hari, Maya Ardelia," suara Lucien bergema dari balik bayangan yang mulai menelan tubuhnya. "Jika hutang itu belum dilunasi olehku, penagih hutang itu tidak akan datang dengan kata-kata kasar lagi. Mereka akan datang dengan api. Pikirkan dengan bijak, karena kesempatan untuk memilih tidak akan datang untuk kedua kalinya."
Seketika itu juga, Lucien lenyap. Keheningan kembali merajai ruangan, namun kali ini terasa lebih mencekam. Maya menjatuhkan pecahan vas di tangannya. Ia terdiam, menatap kartu nama hitam yang masih tergeletak di atas mejanya. Nama itu—Lucien Noctis—seolah-olah sedang menunggunya untuk menyerah. Maya merasa dunianya sedang runtuh, dan ia berdiri di tengah-tengah puing-puingnya, dipaksa untuk memilih antara kehancuran yang pasti atau kontrak misterius yang belum tentu menyelamatkannya.
Bersambung…
Malam yang dinantikan oleh seluruh kalangan bangsawan Istana Atas akhirnya tiba. Balairung Kristal—aula megah berlantai marmer hitam berkilau yang dikelilingi oleh pilar-pilar kristal raksasa—telah dipenuhi oleh ratusan tamu undangan dari klan-klan darah murni Astralia. Lampu-lampu gantung berbahan batu energi membiaskan cahaya perak yang menyilaukan, memantul di atas gaun-gaun sutra mewah dan perhiasan berkilau milik para wanita bangsawan. Gelak tawa yang dibuat-buat, denting gelas kristal, serta alunan musik harpa yang lembut melayang di udara, membungkus atmosfer balairung dalam kepalsuan yang amat sempurna.Di balik kemewahan tersebut, bisik-bisik intrik berkobar tanpa henti. Lord Valerius, pria tua berambut perak dengan mantel kebesaran berwarna merah tua yang melapisi zirahnya, berdiri di tengah lingkar tetua klan. Matanya yang licik bergerak mengawasi pintu gerbang utama balairung seraya menyesap anggur merah dari cangkirnya."Gadis fana yang membawa sihir liar itu berani menam
Tiga hari telah berlalu sejak peristiwa berdarah dan menegangkan yang mengguncang lorong-lorong kusam Kota Bawah. Berkat kekuatan sihir penyembuh perak murni milik Lucien yang disalurkan secara konstan tanpa kenal lelah, luka robek mengerikan yang sempat membedah punggung Maya telah pulih sepenuhnya. Tidak ada lagi rasa nyeri yang membakar atau hawa dingin racun yang menggerogoti jiwanya—hanya menyisakan sebaris garis merah tipis yang kian memudar di atas kulit halusnya. Suasana di dalam kediaman pribadi Sayap Mawar Hitam pun perlahan-lahan kembali tenang dan hangat. Akan tetapi, ketegangan politik di luar benteng kediaman sang Raja justru kian memuncak hingga mencapai titik didih.Tindakan nekat Maya yang melempar tubuhnya demi menyelamatkan seorang anak fana, ditambah dengan amarah meledak-ledak dari Lucien yang menghancurkan seluruh kelompok pemberontak dalam sekedip mata, telah menjadi buah bibir yang amat panas di setiap sudut Istana Atas. Para bangsawan klan utama yang bermukim
Langkah kaki Lucien bergema cepat membelah lorong-lorong sunyi Sayap Mawar Hitam. Pintu kayu ek berat berkilau obsidian terhempas terbuka lebar saat sang Raja melangkah masuk membawa tubuh Maya yang terkulai lemah. Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia menempatkan tubuh gadis itu dengan amat berhati-hati di atas ranjang berkanopi kain sutra hitam.Aroma amis darah segar yang berbinar keemasan membaur tajam dengan bau menyengat racun kotor berwarna kehitaman. Kain jubah abu-abu kasar di punggung Maya telah hancur terkoyak, memperlihatkan luka robek memanjang yang tampak mengerikan dan meradang hebat. Kulit halus di sekitar luka itu memar kebiruan, dengan urat-urat hitam tipis yang merayap perlahan bagaikan jaring laba-laba—menandakan bahwa racun kotor pemberontak itu tengah berusaha keras menembus dan merusak sistem saraf serta aliran sihir Primordial Maya."Maya... tetaplah sadar. Dengarkan suaraku," bisik Lucien. Suara bass sang Raja yang biasanya dipenuhi wibawa mutlak kini terdengar
Melihat darah kemerahan berbinar keemasan itu membasahi tanah berlumpur Kota Bawah, dunia seakan-akan berhenti berputar bagi Lucien. Suara teriakan histeris warga yang berlarian, derak kobaran api yang membakar reruntuhan kayu, hingga dentang benturan senjata tajam yang saling beradu di sekitarnya mendadak lenyap begitu saja dari pendengarannya. Segala hal yang ada di dalam bidang pandangannya memudar drastis, menyisakan bayangan Maya yang terkulai lemas di atas tanah dingin dengan punggung yang bersimbah darah.Manik mata perak Lucien yang semula memancarkan ketenangan mendadak berkilat merah menyala—sebuah pertanda mengerikan bahwa naluri pemusnah terliar sang Penguasa Bayangan telah bangkit sepenuhnya dari kedalaman jiwanya. Aura membunuh (killing intent) yang teramat pekat, dingin, dan murni meledak seketika dari tubuh tegap Lucien, menghentak udara malam dengan gelombang kejut magis yang tak kasat mata. Fondasi bangunan batu di seluruh Kota Bawah bergetar hebat, sementara obor-ob
Malam yang tadinya diliputi kehangatan dan keheningan manis di antara Maya dan Lucien mendadak sirna dalam sekejap mata. Baru saja langkah kaki mereka mengayun sejauh puluhan meter meninggalkan kedai kayu sederhana tadi, gema teriakan histeris ratusan warga dan dentang benturan senjata tajam melengking keras memecah kegelapan Kota Bawah. Bau jelaga obor dan aroma tanah lembap yang tenang seketika tergantikan oleh hawa panas yang menyengat serta aroma amis belerang membakar hidung.Dari balik tikungan lorong sempit di depan mereka, kepulan asap hitam berbau busuk menyembur membubung tinggi ke udara malam. Sekelompok pria berpenutup muka kain hitam dengan senjata tajam yang ternoda racun dan obor menyala menerobos keluar secara brutal dari pemukiman warga. Mereka adalah para pemberontak radikal—kelompok bayangan korup yang kerap memanfaatkan kelengahan penjaga untuk menjarah batu energi, membakar tempat tinggal, serta membantai rakyat sipil tak berdaya. Warga Kota Bawah berlarian panik,
Malam semakin melarut dan pekat di wilayah Kota Bawah. Bau tanah basah yang dingin, kepulan asap jelaga dari obor kayu yang berderak, serta keharuman rempah-rempah murah membaur tajam di udara yang kian menusuk hingga ke dalam tulang. Namun, bagi Maya, rasa dingin yang biasanya merayap gampang menembus kain jubah kasarnya kini seolah-olah tak lagi berdaya melumpuhkan fisiknya. Di sampingnya, Lucien melangkah dengan tenang, stabil, dan penuh kepastian. Kehadiran pria itu—tanpa mahkota obsidian yang berkilau dingin, tanpa zirah kebesaran yang kaku dan menindas, serta tanpa barikade formalitas istana yang membentang lebar—menciptakan sebuah gelembung ketenangan yang aneh namun teramat menentramkan di tengah keremangan lorong-lorong rahasia Kerajaan Astralia.Dinding tebal dan kokoh yang selama berbulan-bulan dibangun oleh perbedaan gelar, beban kewajiban, serta rasa curiga di antara mereka mendadak perlahan mencair tanpa sisa. Di bawah pendaran temaram obor jalanan yang sesekali berjelag







