Beranda / Fantasi / Kontrak Dengan Raja Kegelapan / Bab 4: Tamu yang Tak Diundang

Share

Bab 4: Tamu yang Tak Diundang

Penulis: Deschya.77
last update Tanggal publikasi: 2026-06-12 00:59:29

Hari itu terasa seperti berlangsung selama seratus tahun. Bagi Maya, waktu tidak lagi bergerak dalam hitungan detik, melainkan dalam detak jantungnya yang tidak beraturan. Ia merasa seolah-olah udara di dalam rumah kontrakan kecilnya telah berubah menjadi kental dan beracun. Setiap sudut ruangan, setiap retakan di dinding, dan bayangan yang memanjang di lantai kayu akibat sinar lampu yang mulai redup, seolah memiliki mata yang sedang mengawasi setiap gerak-geriknya.

​Ia mencoba untuk tetap rasional. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua ini hanyalah akibat dari kurang tidur, guncangan psikologis pasca-kematian ayahnya, atau mungkin sebuah mimpi buruk panjang yang tak kunjung berakhir. Namun, kartu nama hitam bertuliskan Lucien Noctis yang tergeletak di atas meja kerja itu adalah bukti fisik yang tak terbantahkan. Setiap kali ia mencoba membuangnya, kartu itu kembali ke tempatnya seolah-olah ia memiliki semacam daya tarik magnetis yang terhubung langsung dengan jiwa Maya. Maya sudah mencoba membakarnya, mencoba membuangnya ke sungai, bahkan mencoba menyembunyikannya di dalam kotak terkunci, namun setiap kali ia berbalik, kartu itu sudah berada di sana, dingin dan tak bernyawa, seolah menertawakan ketidakberdayaan Maya.

​Maya menghabiskan waktu dengan mondar-mandir. Rasa lapar yang melilit perutnya sudah lama hilang, digantikan oleh mual yang terus-menerus. Ia duduk di lantai, lalu berdiri kembali, berjalan menuju jendela hanya untuk melihat jalanan yang kini tampak sepi dan mati. Tidak ada orang yang lewat, tidak ada kucing yang mengeong, bahkan suara jangkrik pun seolah bungkam. Dunia luar terasa seperti sebuah panggung teater yang sunyi, tempat di mana takdirnya sedang dipersiapkan.

​Menjelang senja, langit di luar sana tidak lagi menunjukkan warna jingga kemerahan seperti biasa. Langit berubah menjadi ungu pekat yang tidak alami, sebuah warna yang seolah-olah dipinjam dari dimensi lain yang jauh lebih gelap. Matahari tidak tenggelam, melainkan tampak seperti tertelan oleh sesuatu yang sangat besar dan tak terlihat di balik cakrawala. Suhu di dalam ruangan turun drastis secara tiba-tiba. Embun beku mulai menjalar di bingkai jendela, menciptakan pola-pola rumit yang menyerupai cakaran cakar raksasa. Maya memeluk tubuhnya sendiri, mencoba mencari kehangatan di tengah udara yang kini terasa seperti napas es.

​Detak jam dinding di ruang tamu berhenti. Bunyi tik-tok yang biasanya menjadi teman setia kesepiannya kini lenyap, menciptakan keheningan yang begitu pekat hingga Maya bisa mendengar suara aliran darahnya sendiri yang berdesir di telinganya. Ia terdiam, napasnya tertahan. Ia merasakan kehadiran yang sangat kuat di belakangnya, sebuah tekanan udara yang membuat bulu kuduknya meremang.

​Di sudut ruangan yang paling gelap, bayangan yang biasanya diam dan statis mulai memanjang. Bayangan itu mulai menari-nari dengan pola yang tidak logis, seolah-olah sedang diputar oleh tangan tak kasatmata. Maya menelan ludah, dadanya terasa sesak saat melihat siluet manusia perlahan memadat dari kegelapan yang pekat. Proses itu menyakitkan untuk dilihat; seperti melihat tinta yang ditumpahkan ke dalam air dan perlahan membentuk sosok yang terdistorsi sebelum akhirnya menjadi nyata.

​Lucien Noctis muncul. Tidak ada pintu yang terbuka, tidak ada suara langkah kaki. Ia hanya ada di sana, duduk di kursi kayu kecil milik Maya—kursi yang biasanya terlihat rapuh dan tidak berharga, namun di bawah tubuh Lucien, kursi itu tampak seperti singgasana agung yang terbuat dari kayu jati hitam dan perak. Pria itu tampak begitu anggun sekaligus mengerikan.

​"Sudah kubilang, aku punya solusinya," ucap Lucien. Suaranya rendah dan tenang, namun memiliki frekuensi yang membuat perabotan di ruangan itu sedikit bergetar.

​Maya tidak berteriak kali ini. Ia merasa sudah terlalu lelah untuk terkejut. Ia hanya berdiri mematung di dekat meja kerjanya, menatap pria yang baru saja mengubah seluruh arah hidupnya. "Apa yang kau inginkan dariku?" tanyanya, suaranya parau. Ia tahu di dunia ini tidak ada kebaikan tanpa imbalan.

​Lucien menatapnya. Matanya yang keabu-abuan memancarkan ketenangan yang lebih menakutkan daripada kemarahan. Ia tidak menjawab langsung, melainkan berdiri dan mulai berjalan mengelilingi ruangan sempit itu. Jemarinya yang panjang dan kurus menyentuh buku-buku milik ayah Maya dengan kelembutan yang aneh, seolah-olah ia sedang mengenang sesuatu yang sudah lama hilang. Setiap kali ia menyentuh benda, benda tersebut seolah kehilangan cahayanya, menyerap sedikit demi sedikit kegelapan yang dibawa oleh pria itu.

​"Aku tidak butuh uangmu, Maya. Aku tidak butuh hartamu," Lucien mencondongkan tubuhnya ke depan, bayangannya tampak melebar hingga menelan separuh ruangan. "Aku butuh waktu. Satu tahun. Satu tahun waktumu untuk melayaniku di tempat yang... jauh. Di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh manusia biasa, di tempat di mana bayangan memiliki kehidupan sendiri dan rahasia-rahasia kuno tertidur di bawah tanah."

​"Melayanimu? Seperti budak?" Maya bertanya dengan nada sarkasme yang tipis, mencoba menyembunyikan getaran di suaranya.

​"Seperti tamu yang terikat janji," koreksi Lucien. "Satu tahun, dan setelah itu kau akan bebas. Tanpa hutang, tanpa masa lalu yang menghantuimu. Kau bisa memulai hidup baru dengan uang yang akan kuberikan. Kau akan mendapatkan kemewahan yang tidak pernah diimpikan oleh gadis seperti dirimu."

​Maya menatap pria itu. Ada sesuatu yang sangat tua, sangat lelah, dan sangat kesepian di balik tatapannya. Lucien tampak seperti sosok yang telah memikul beban selama berabad-abad, seseorang yang membutuhkan pengalih perhatian dari keabadian yang membosankan. "Kenapa aku? Ada ribuan orang di dunia ini yang juga punya hutang, ribuan orang yang putus asa. Kenapa kau harus memilihku?"

​Lucien menghentikan langkahnya tepat di depan Maya. Jarak mereka begitu dekat hingga Maya bisa merasakan hawa dingin yang menguar dari tubuh Lucien. "Karena hanya darah Ardelia yang bisa menanggung beratnya kontrak ini. Kau tidak tahu siapa dirimu, Maya. Kau hanya melihat dirimu sebagai gadis yatim piatu yang miskin, padahal ada kekuatan besar yang tertidur di dalam nadimu. Kekuatan yang bisa memperbaiki keseimbangan dunia yang kini mulai miring."

​"Apa maksudmu dengan darah Ardelia?" tanya Maya, jantungnya berdebar kencang. Ingatannya kembali ke masa kecilnya, ke sebuah kotak kayu yang selalu dikunci rapat oleh ayahnya sebelum ia meninggal.

​"Tanda tangani kontrak ini secara resmi—bukan hanya sekadar janji lisan—dan aku akan menceritakan segalanya," Lucien mengeluarkan selembar perkamen tua dari balik jubah hitamnya. Perkamen itu bersinar samar dengan aura keunguan, memancarkan bau wangi yang mengingatkan Maya pada aroma perpustakaan tua dan hujan di hutan.

​"Apa yang terjadi jika aku menolak?"

​Lucien tersenyum, sebuah senyum yang kali ini terasa sedikit lebih tajam. "Jika kau menolak, hidupmu akan kembali seperti semula. Penagih hutang itu akan kembali, bukan untuk menagih uang, tapi untuk mengambil nyawamu. Dan aku... aku tidak akan bisa melindungimu lagi karena kontrak kita belum tercipta."

​Maya mematung. Ruangan itu terasa berputar. Ia menatap perkamen di tangan Lucien, lalu kembali menatap mata pria itu yang kelam. Ia merasa seolah-olah waktu melambat. Hening panjang menggantung di antara mereka. Maya berbalik ke arah meja kerjanya, tangannya gemetar hebat saat menyentuh tepi meja. Ia tidak bisa melarikan diri, namun ia juga tidak bisa menerima begitu saja tawaran aneh ini.

​"Kau memintaku memberikan satu tahun hidupku kepada seseorang yang bahkan tidak bisa kupastikan apakah makhluk hidup atau iblis," gumam Maya, matanya berkaca-kaca karena tekanan yang luar biasa.

​Lucien diam. Ia membiarkan keheningan itu terus menyiksa Maya. Ia tahu bahwa ketakutan adalah guru yang baik untuk sebuah kepatuhan. Maya berjalan ke arah jendela, melihat kembali ke langit ungu yang tampak makin tidak masuk akal. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang terasa seolah ingin melompat keluar dari dadanya.

​Ia tahu, jika ia berbalik sekarang, ia akan menatap wajah Lucien dan menyetujui semuanya. Atau ia bisa tetap menatap jendela, berpura-pura bahwa ini hanyalah halusinasi, dan menunggu hingga semuanya menghilang. Namun, kartu hitam di meja itu tetap nyata. Semuanya nyata.

​Maya akhirnya memutar tubuhnya perlahan. Lucien masih di sana, menunggu dengan sabar, seperti predator yang tahu bahwa mangsanya tidak memiliki jalan keluar. Maya berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa sangat berat, seolah lantai kayu itu sedang menarik kakinya ke bawah. Ia berhenti tepat satu langkah di depan Lucien.

​Di titik ini, udara terasa begitu tipis dan bermuatan listrik. Maya menatap perkamen itu lagi, dan dalam hatinya, ia sudah memahami bahwa ini adalah titik tanpa jalan kembali. Ia tidak akan menandatangani kontrak itu malam ini—ia butuh satu malam lagi untuk memproses semuanya—namun ia sudah tahu jawaban apa yang akan ia berikan saat matahari terbit nanti.

​"Aku butuh waktu sampai pagi," bisik Maya, suaranya hampir tak terdengar.

​Lucien tidak marah. Ia justru menundukkan kepalanya sedikit, seolah memberikan penghormatan yang janggal. "Pagi akan tiba lebih cepat dari yang kau kira, Maya Ardelia. Dan saat itulah, takdirmu akan disegel."

​Dengan satu sentakan, Lucien menghilang kembali ke dalam bayangan yang memudar, meninggalkan Maya sendirian di dalam kamar yang kini kembali sunyi, namun terasa jauh lebih dingin dan penuh beban daripada sebelumnya. Ia jatuh terduduk di lantai, memeluk lututnya, dan menatap kartu hitam itu dengan perasaan yang campur aduk antara ketakutan yang mencekam dan rasa penasaran yang mulai tumbuh di dalam dirinya.

​Malam itu, Maya tidak memejamkan mata. Ia hanya duduk menanti fajar, menanti saat di mana ia harus benar-benar menyerahkan hidupnya pada sang Raja Kegelapan.

Bersambung…

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kontrak Dengan Raja Kegelapan   Bab 52: Gaun Mawar Hitam

    Malam yang dinantikan oleh seluruh kalangan bangsawan Istana Atas akhirnya tiba. Balairung Kristal—aula megah berlantai marmer hitam berkilau yang dikelilingi oleh pilar-pilar kristal raksasa—telah dipenuhi oleh ratusan tamu undangan dari klan-klan darah murni Astralia. Lampu-lampu gantung berbahan batu energi membiaskan cahaya perak yang menyilaukan, memantul di atas gaun-gaun sutra mewah dan perhiasan berkilau milik para wanita bangsawan. Gelak tawa yang dibuat-buat, denting gelas kristal, serta alunan musik harpa yang lembut melayang di udara, membungkus atmosfer balairung dalam kepalsuan yang amat sempurna.Di balik kemewahan tersebut, bisik-bisik intrik berkobar tanpa henti. Lord Valerius, pria tua berambut perak dengan mantel kebesaran berwarna merah tua yang melapisi zirahnya, berdiri di tengah lingkar tetua klan. Matanya yang licik bergerak mengawasi pintu gerbang utama balairung seraya menyesap anggur merah dari cangkirnya."Gadis fana yang membawa sihir liar itu berani menam

  • Kontrak Dengan Raja Kegelapan   Bab 51: Undangan Pesta Kerajaan

    Tiga hari telah berlalu sejak peristiwa berdarah dan menegangkan yang mengguncang lorong-lorong kusam Kota Bawah. Berkat kekuatan sihir penyembuh perak murni milik Lucien yang disalurkan secara konstan tanpa kenal lelah, luka robek mengerikan yang sempat membedah punggung Maya telah pulih sepenuhnya. Tidak ada lagi rasa nyeri yang membakar atau hawa dingin racun yang menggerogoti jiwanya—hanya menyisakan sebaris garis merah tipis yang kian memudar di atas kulit halusnya. Suasana di dalam kediaman pribadi Sayap Mawar Hitam pun perlahan-lahan kembali tenang dan hangat. Akan tetapi, ketegangan politik di luar benteng kediaman sang Raja justru kian memuncak hingga mencapai titik didih.Tindakan nekat Maya yang melempar tubuhnya demi menyelamatkan seorang anak fana, ditambah dengan amarah meledak-ledak dari Lucien yang menghancurkan seluruh kelompok pemberontak dalam sekedip mata, telah menjadi buah bibir yang amat panas di setiap sudut Istana Atas. Para bangsawan klan utama yang bermukim

  • Kontrak Dengan Raja Kegelapan   Bab 50: Sisi Lemah Sang Penguasa

    Langkah kaki Lucien bergema cepat membelah lorong-lorong sunyi Sayap Mawar Hitam. Pintu kayu ek berat berkilau obsidian terhempas terbuka lebar saat sang Raja melangkah masuk membawa tubuh Maya yang terkulai lemah. Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia menempatkan tubuh gadis itu dengan amat berhati-hati di atas ranjang berkanopi kain sutra hitam.Aroma amis darah segar yang berbinar keemasan membaur tajam dengan bau menyengat racun kotor berwarna kehitaman. Kain jubah abu-abu kasar di punggung Maya telah hancur terkoyak, memperlihatkan luka robek memanjang yang tampak mengerikan dan meradang hebat. Kulit halus di sekitar luka itu memar kebiruan, dengan urat-urat hitam tipis yang merayap perlahan bagaikan jaring laba-laba—menandakan bahwa racun kotor pemberontak itu tengah berusaha keras menembus dan merusak sistem saraf serta aliran sihir Primordial Maya."Maya... tetaplah sadar. Dengarkan suaraku," bisik Lucien. Suara bass sang Raja yang biasanya dipenuhi wibawa mutlak kini terdengar

  • Kontrak Dengan Raja Kegelapan   Bab 49: Murka Sang Penguasa

    Melihat darah kemerahan berbinar keemasan itu membasahi tanah berlumpur Kota Bawah, dunia seakan-akan berhenti berputar bagi Lucien. Suara teriakan histeris warga yang berlarian, derak kobaran api yang membakar reruntuhan kayu, hingga dentang benturan senjata tajam yang saling beradu di sekitarnya mendadak lenyap begitu saja dari pendengarannya. Segala hal yang ada di dalam bidang pandangannya memudar drastis, menyisakan bayangan Maya yang terkulai lemas di atas tanah dingin dengan punggung yang bersimbah darah.Manik mata perak Lucien yang semula memancarkan ketenangan mendadak berkilat merah menyala—sebuah pertanda mengerikan bahwa naluri pemusnah terliar sang Penguasa Bayangan telah bangkit sepenuhnya dari kedalaman jiwanya. Aura membunuh (killing intent) yang teramat pekat, dingin, dan murni meledak seketika dari tubuh tegap Lucien, menghentak udara malam dengan gelombang kejut magis yang tak kasat mata. Fondasi bangunan batu di seluruh Kota Bawah bergetar hebat, sementara obor-ob

  • Kontrak Dengan Raja Kegelapan   Bab 48: Darah di Kota Bawah

    Malam yang tadinya diliputi kehangatan dan keheningan manis di antara Maya dan Lucien mendadak sirna dalam sekejap mata. Baru saja langkah kaki mereka mengayun sejauh puluhan meter meninggalkan kedai kayu sederhana tadi, gema teriakan histeris ratusan warga dan dentang benturan senjata tajam melengking keras memecah kegelapan Kota Bawah. Bau jelaga obor dan aroma tanah lembap yang tenang seketika tergantikan oleh hawa panas yang menyengat serta aroma amis belerang membakar hidung.Dari balik tikungan lorong sempit di depan mereka, kepulan asap hitam berbau busuk menyembur membubung tinggi ke udara malam. Sekelompok pria berpenutup muka kain hitam dengan senjata tajam yang ternoda racun dan obor menyala menerobos keluar secara brutal dari pemukiman warga. Mereka adalah para pemberontak radikal—kelompok bayangan korup yang kerap memanfaatkan kelengahan penjaga untuk menjarah batu energi, membakar tempat tinggal, serta membantai rakyat sipil tak berdaya. Warga Kota Bawah berlarian panik,

  • Kontrak Dengan Raja Kegelapan   Bab 47: Semakin Dekat

    Malam semakin melarut dan pekat di wilayah Kota Bawah. Bau tanah basah yang dingin, kepulan asap jelaga dari obor kayu yang berderak, serta keharuman rempah-rempah murah membaur tajam di udara yang kian menusuk hingga ke dalam tulang. Namun, bagi Maya, rasa dingin yang biasanya merayap gampang menembus kain jubah kasarnya kini seolah-olah tak lagi berdaya melumpuhkan fisiknya. Di sampingnya, Lucien melangkah dengan tenang, stabil, dan penuh kepastian. Kehadiran pria itu—tanpa mahkota obsidian yang berkilau dingin, tanpa zirah kebesaran yang kaku dan menindas, serta tanpa barikade formalitas istana yang membentang lebar—menciptakan sebuah gelembung ketenangan yang aneh namun teramat menentramkan di tengah keremangan lorong-lorong rahasia Kerajaan Astralia.Dinding tebal dan kokoh yang selama berbulan-bulan dibangun oleh perbedaan gelar, beban kewajiban, serta rasa curiga di antara mereka mendadak perlahan mencair tanpa sisa. Di bawah pendaran temaram obor jalanan yang sesekali berjelag

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status