Home / Fantasi / Kontrak Dengan Raja Kegelapan / Bab 5: Kontrak yang Mengikat

Share

Bab 5: Kontrak yang Mengikat

Author: Deschya.77
last update publish date: 2026-06-12 07:01:46

Malam itu seolah ditarik paksa oleh waktu yang melambat. Bagi Maya, setiap detak jarum jam dinding yang menggantung di ruang tamu adalah seperti dentuman palu godam di atas landasan besi. Ia menghabiskan sisa malamnya dengan duduk di kursi kerja yang kayu penyangganya sudah mulai lapuk, menatap lurus ke arah kartu hitam di atas meja yang kini tampak bersinar samar, mengeluarkan cahaya keunguan yang nyaris tidak terlihat namun cukup untuk membuatnya merasa tidak tenang.

Pikirannya adalah sebuah labirin yang menyesakkan. Ia mencoba memutar balik ingatan tentang ayahnya—tentang nasihat-nasihat yang pernah diucapkan, tentang peringatan samar mengenai "dunia di balik bayangan" yang dulu ia anggap hanya sekadar dongeng sebelum tidur. Mengapa ayahnya begitu menjaga kotak kayu itu? Mengapa ayahnya tampak ketakutan setiap kali membicarakan masa lalu? Kini, semua teka-teki itu terasa seperti potongan puzzle yang mulai membentuk gambaran yang menakutkan.

Tidak ada air mata yang tersisa; rasa takutnya telah mencapai titik jenuh, berubah menjadi semacam mati rasa yang dingin. Ia merasa seperti seorang tawanan yang sedang menunggu eksekusi, namun eksekutornya bukanlah algojo biasa, melainkan seorang Raja dari dimensi yang selama ini dianggap mitos.

Ketika cahaya pucat fajar akhirnya merayap masuk melalui celah gorden yang tipis, Maya merasakan pergeseran atmosfer yang tidak biasa. Udara di kamarnya tidak menjadi hangat sebagaimana mestinya saat matahari terbit. Sebaliknya, udara justru menjadi beku, seolah-olah pagi itu membawa embun dari dunia lain yang tidak mengenal matahari. Embun beku mulai merambat di permukaan kaca jendela, membentuk pola-pola geometris yang rumit dan tajam, mirip dengan cakar binatang buas.

Maya berdiri, merasa tubuhnya kaku seperti patung yang tak bernyawa. Ia melangkah menuju cermin kecil yang menggantung di sudut ruangan. Bayangan di cermin itu tampak asing—wajahnya pucat pasi, matanya bengkak karena kurang tidur, namun ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya. Sesuatu yang lebih tua, lebih waspada, dan penuh dengan keputusasaan yang tertahan.

*Ketukan.*

Bukan ketukan di pintu depan rumahnya yang rapuh. Itu adalah ketukan yang beresonansi langsung di dalam tengkoraknya, sebuah getaran halus yang membuat gigi-giginya bergemeretak. Maya menoleh, dan ruangan itu mulai kehilangan bentuknya. Dinding-dinding kamarnya tampak melunak, memudar ke dalam kegelapan yang pekat. Kabut ungu mulai merayap dari lantai, membungkus kakinya dengan sensasi sedingin es yang mematikan.

Lucien sudah ada di sana.

Dia tidak lagi duduk di kursi kayu yang rapuh. Kali ini, dia berdiri di tengah ruangan, mengenakan jubah hitam dengan detail perak yang tampak menyerap seluruh cahaya di sekitarnya. Dia tampak lebih agung, lebih berbahaya, dan entah mengapa, jauh lebih kesepian. Tatapan matanya yang keabu-abuan terkunci pada Maya, seolah dia sedang menunggu sebuah vonis yang akan menentukan nasibnya sendiri.

"Pagi telah tiba, Maya," ucap Lucien. Suaranya tenang, namun memiliki kedalaman frekuensi yang membuat detak jantung Maya tersinkronisasi dengan ritmenya. "Dunia luar sana akan tetap berjalan seperti biasa, namun bagimu, waktu manusia telah berakhir. Keputusanmu malam ini adalah sebuah pintu. Begitu kau membukanya, tidak akan ada lagi jalan untuk kembali ke kehidupan yang fana dan penuh penderitaan ini."

Maya menatap pria itu dengan napas yang memburu. "Jika aku menandatangani ini, apa yang sebenarnya akan terjadi padaku? Apakah aku akan kehilangan kemanusiaanku? Apakah ingatanku tentang ayahku akan dihapus, atau apakah aku akan menjadi boneka yang bisa kau atur sesukamu?"

Lucien melangkah mendekat. Jarak di antara mereka kini begitu minim hingga Maya bisa mencium aroma hutan pinus yang dingin dan sedikit wangi logam dari tubuh Lucien. Dia mengangkat tangan, jemarinya yang terbalut sarung tangan hitam ragu-ragu di udara sebelum akhirnya menyentuh pipi Maya. Sentuhannya dingin, namun membuat kulit Maya seolah terbakar oleh energi yang murni dan kasar.

"Kau tidak akan mati, Maya. Kau hanya akan berpindah tempat," bisik Lucien, suaranya kini terasa jauh lebih intim, sebuah bisikan yang memikat sekaligus memperingatkan. "Kau akan melihat dunia yang selama ini hanya bisa kau bayangkan dalam mimpi burukmu. Kau akan belajar bahwa realitas hanyalah lapisan tipis yang menutupi kebenaran yang jauh lebih besar. Dan ingat, setiap janji dalam kontrak ini memiliki beban. Kau akan melayaniku, kau akan berada di sisiku, dan kau akan menjadi mata serta telingaku di istana yang penuh dengan duri."

Maya memejamkan mata, membiarkan sentuhan Lucien menenangkan getaran hebat di tubuhnya. Ia menyadari bahwa ia tidak lagi memiliki kemewahan untuk menolak. Hidupnya di sini adalah serangkaian kegagalan, dan tawaran Lucien, meski berbahaya, adalah satu-satunya kesempatan untuk menemukan kebenaran yang selama ini terkubur bersama ayahnya.

"Kau berjanji akan melindungiku," ucap Maya, mencoba menegaskan kembali bagian terpenting dari kesepakatan mereka, sebuah pengakuan akan kelemahannya sendiri di depan sosok yang begitu kuat.

"Sebagai Raja Negeri Bayangan, kata-kataku adalah hukum," jawab Lucien dengan nada yang sangat serius, membuat atmosfer di ruangan itu semakin menegang. "Aku akan menjagamu dari segala ancaman, bahkan dari diriku sendiri jika perlu. Namun, jangan salah paham, Maya. Kontrak ini bukan sekadar perlindungan. Ini adalah pengikatan jiwa. Sekali terikat, kau tidak akan bisa lagi menjauh dari kehadiranku, sama seperti aku tidak bisa lagi membiarkanmu pergi dari jangkauanku."

Lucien kemudian menggeser posisinya, memberi ruang bagi Maya untuk melihat perkamen itu dengan lebih jelas. Di bawah cahaya fajar yang samar, perkamen itu tampak berdenyut—seolah-olah sedang memiliki detak jantungnya sendiri. Tinta di atasnya, yang tampaknya belum tertulis, menunggu kehadiran darah Maya untuk menetapkan syarat-syarat yang akan mengunci masa depan mereka.

"Sekarang," Lucien menggeser pena kristal itu ke arah Maya dengan gerakan yang lamban dan penuh arti. "Berikan keputusanmu. Apakah kau bersedia menyerahkan satu tahun waktumu, seluruh loyalitasmu, dan jiwa yang terikat padaku sebagai ganti dari kebenaran yang selama ini kau cari? Pikirkan baik-baik, karena fajar ini adalah saksi bisu atas pilihan yang akan mengubah keseimbangan dunia."

Maya tidak lagi menjawab dengan kata-kata. Ia telah memikirkan ini sepanjang malam. Ia telah menimbang rasa takutnya dengan rasa ingin tahunya yang memuncak. Tangannya yang gemetar perlahan terulur ke arah pena kristal yang berkilau. Saat ujung pena itu menyentuh telapak tangannya, ia merasakan aliran energi yang luar biasa kuat—sesuatu yang membuatnya merasa seolah-olah ia sedang terhubung dengan pusat kekuatan dunia yang purba.

Ia menatap Lucien sekali lagi, mencari sedikit saja keraguan atau tipu daya di balik tatapannya yang kelam. Namun, ia hanya menemukan kekosongan yang megah dan sebuah kesepian yang abadi.

"Aku siap," bisiknya, suaranya kini mantap meski tubuhnya masih gemetar.

Tanpa membuang waktu, Maya menekan ujung pena kristal itu ke jarinya, membiarkan setetes darah merah segar jatuh ke permukaan perkamen tua tersebut. Saat darah itu menyentuh kertas, sebuah cahaya ungu yang menyilaukan meledak, menelan seluruh ruangan dalam kegelapan dan cahaya yang saling bertabrakan, menandai dimulainya era baru bagi Maya Ardelia.

Bersambung…

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kontrak Dengan Raja Kegelapan   Bab 29: Batas Dua Jiwa

    Keheningan yang pekat kembali membungkus kamar di Sayap Mawar Hitam, namun atmosfer di antara mereka telah berubah sepenuhnya. Suara gemertak kayu bakar di dalam perapian kini menjadi satu-satunya latar belakang saat Maya menatap Lucien yang masih berlutut di samping kursinya. Posisi sang Raja yang rendah hati—membuang segala keagungan mahkotanya di hadapan seorang gadis fana—menciptakan kontras yang teramat tajam dengan bayangan penguasa dingin yang ditakuti oleh seluruh Dewan Bangsawan.Maya memandangi pergelangan tangan kanannya. Di balik selubung renda zamrud yang membungkus kulitnya, rajah duri hitam berukir benang emas itu berdenyut halus. Denyutannya tidak lagi terasa panas atau menyengat bagai ancaman, melainkan bergetar dalam ritme yang amat teratur, selaras sempurna dengan detak jantung pria di hadapannya."Mengikat jiwa kami..." bisik Maya pelan. Suaranya yang parau menyerap seluruh kehampaan di dalam ruangan. "Jadi sejak awal... ini bukan sekadar perjanjian di atas kertas

  • Kontrak Dengan Raja Kegelapan   Bab 28: Terikat oleh Takdir Darah

    Langkah kaki Maya yang tergesa-gesa dan tak menentu akhirnya membawanya kembali ke dalam lingkungan Sayap Mawar Hitam. Dengan napas tersengal-sengal, ia mendorong pintu kayu berukir itu lalu membantingnya hingga tertutup rapat. Ia menyandarkan tubuhnya yang gemetar pada permukaan pintu batu seraya berusaha mengatur napasnya yang memburu. Bella, yang sedang merapikan tirai beludru di dekat perapian, terperanjat kaget melihat kedatangan Maya yang mendadak dalam keadaan menangis sesenggukan dan diselimuti oleh percikan sihir emas yang tak terkendali."Nona Maya! Demi Para Leluhur, apa yang telah terjadi pada Anda?" seru Bella panik, langsung membuang kain di tangannya dan melangkah mendekat dengan wajah penuh kekhawatiran."Tinggalkan aku sendiri, Bella. Aku mohon... tinggalkan aku sendiri," bisik Maya serak, menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang dingin.Bella menatap Maya dengan rasa iba dan simpati yang sangat mendalam. Sebagai peri hutan yang peka, ia bisa meras

  • Kontrak Dengan Raja Kegelapan   Bab 27: Api di Dalam Dada

    Keheningan yang menyelubungi balkon melayang di sayap utara istana terasa kian berat dan membeku seiring berlalunya detik demi detik. Di bawah naungan pendaran cahaya dari tiga bulan yang melayang sejajar di langit malam, Maya memandangi tangan tegap Lucien yang masih terulur padanya. Pengakuan pria itu bahwa ia adalah sang penguasa tertinggi Negeri Bayangan—sosok yang selama ini namanya ia dengar dari mulut Azrael, para pengawal, dan para bangsawan—mendadak menghantam kesadaran Maya bagaikan hantaman gelombang es yang sangat mematikan.Perasaan hangat yang sempat menjalar di dadanya, kehalusan senyuman Lucien beberapa saat lalu, dan kata-kata manismu tentang kepercayaan murni seketika menguap tanpa bekas. Semuanya berganti menjadi sengatan rasa kebas dan dingin yang merayap cepat ke seluruh aliran darahnya. Rasa tertipu yang amat membakar perlahan meluap dari dalam relung jiwanya yang paling dalam.Maya memundurkan fisiknya satu langkah besar ke belakang, menepis uluran tangan Lucien

  • Kontrak Dengan Raja Kegelapan   Bab 26: Kebenaran Mahkota Hitam

    Ketegangan yang membekukan di Aula Pertemuan Agung akhirnya mereda setelah Lucien menggunakan otoritas mutlaknya untuk membubarkan perdebatan Dewan Bangsawan Murni. Tanpa membiarkan para pengawal, pejabat, atau Lord Kael mendekat untuk mengajukan pertanyaan lebih lanjut, Lucien langsung membimbing Maya keluar dari aula utama. Mereka melintasi lorong-lorong rahasia di sayap utara istana yang sangat sunyi dan berudara segar, menaiki tangga batu melingkar yang menanjak tinggi hingga akhirnya sampai di sebuah balkon melayang yang amat luas dan terisolasi sepenuhnya dari hiruk-pikuk kehidupan istana.Di luar sana, tiga bulan melayang sejajar di langit malam yang gelap pekat, memancarkan pendaran cahaya violet dan keemasan yang menerangi hamparan Kota Astralia jauh di bawah sana. Angin malam berembus cukup kencang, menerbangkan jubah hitam Lucien dan gaun hijau zamrud yang dikenakan Maya dengan anggun.Maya menyandarkan tubuhnya pada pembatas batu kristal balkon, menghembuskan napas panjang

  • Kontrak Dengan Raja Kegelapan   Bab 25: Ujian dari Lady Lysandra

    Pintu porselen raksasa Aula Pertemuan Agung terbuka lebar dengan derit anggun yang bergema nyaring menembus seluruh sudut ruangan. Cahaya kristal keemasan menyiram wajah Maya saat ia melangkah masuk tepat di samping Lucien. Di dalam aula yang amat luas dan megah itu, puluhan bangsawan berdarah murni duduk melingkar di atas tribun bertingkat yang terbuat dari batu pualam. Mereka mengenakan jubah-jubah mewah berhiaskan permata langka dan lambang klan masing-masing. Suasana yang tadinya amat bising oleh bisikan-bisikan dingin mendadak senyap seketika begitu langkah sang penguasa menapak di atas karpet beludru merah yang membentang di tengah ruangan.Namun, perhatian Maya sama sekali tidak tertuju pada jajaran dewan tua yang menatapnya penuh curiga. Pandangannya langsung terkunci pada seorang wanita yang berdiri anggun tepat di dekat mimbar utama.Wanita itu mengenakan gaun sutra berwarna biru keperakan yang menjuntai indah bagaikan aliran air raksa. Rambut peraknya disanggul tinggi denga

  • Kontrak Dengan Raja Kegelapan   Bab 24: Senyuman Serigala

    Pintu gerbang kayu jati berukir di Sayap Mawar Hitam terbuka lebar saat Lucien dan Maya melangkah keluar menuju koridor utama yang membimbing langsung ke Aula Pertemuan Agung. Bella berjalan mengekor beberapa langkah di belakang mereka, memegang selendang sutra hijau milik Maya dengan penuh kesiapsiagaan dan sikap hormat. Di sepanjang lorong panjang berlantai marmer hitam yang berkilau bagaikan cermin tersebut, gaung langkah kaki Lucien dan Maya bergema sangat teratur, memutus bisikan-bisikan halus dari puluhan pengawal dan pelayan istana yang berjejer rapat di sepanjang dinding batu.Namun, tepat sebelum mereka sampai di persimpangan koridor utama yang menuju ke arah pintu porselen aula, seorang pria yang mengenakan jubah kebangsawan berwarna ungu tua berhias sulaman benang emas tampak berdiri santai menyandarkan tubuhnya di sebuah pilar batu obsidian. Pria itu berparas sangat tampan dengan kulit pucat porselen yang halus, rambut perak pendek yang tertata sangat rapi, serta sepasang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status