LOGINBegitu setetes darah Maya menyentuh permukaan perkamen itu, dunia di sekitar Maya seolah meledak dalam keheningan yang memekakkan telinga. Ruangan kontrakan yang sempit dan kumuh—dengan dinding yang mengelupas dan aroma debu yang akrab—seketika kehilangan realitasnya. Tidak ada lagi suara detak jam dinding, tidak ada lagi deru angin pagi yang menerobos celah jendela, bahkan suara napas Maya sendiri seolah tersedot ke dalam ruang hampa yang tak berujung.
Perkamen kuno itu tidak sekadar menyerap darahnya; ia meminumnya dengan rakus. Tinta darah yang berwarna merah segar itu bergeser di atas permukaan kulit perkamen, membentuk tulisan-tulisan dalam bahasa yang tidak dipahami Maya—bahasa yang terlihat seperti aliran bayangan yang membeku. Cahaya ungu yang tadinya berpendar lembut kini meledak menjadi kobaran api dingin yang menyambar-nyambar ke langit-langit ruangan. Maya tersentak, refleks ingin menarik tangannya, namun jemarinya terasa terkunci oleh kekuatan tak kasatmata yang menempel pada pena kristal itu. Pena itu tidak lagi terasa seperti benda mati, melainkan seperti saluran yang menghubungkan aliran darahnya langsung dengan energi pria di hadapannya.
"Jangan lepaskan!" suara Lucien menggema. Itu bukan suara fisik yang keluar dari tenggorokannya, melainkan suara yang beresonansi di dalam relung jiwanya, sebuah perintah yang menghancurkan semua pertahanan mental Maya. Suaranya terdengar otoriter, penuh dengan urgensi yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng ketenangannya yang dingin.
Maya memejamkan mata erat-erat saat sensasi panas yang hebat mulai menjalar dari telapak tangannya. Itu bukan panas yang menyengat kulit, melainkan panas yang meresap ke dalam sumsum tulang. Aliran energi tersebut merambat cepat melalui pembuluh darah di lengan, melintasi bahu, hingga menghantam pusat dadanya dengan kekuatan badai. Rasanya seperti ribuan jarum es yang terbakar, mengukir aksara-aksara kuno ke dalam setiap lapisan kulitnya, setiap serat ototnya, dan setiap ingatan yang dimilikinya. Ia tidak mampu lagi menahan suaranya; sebuah jeritan tertahan keluar dari tenggorokannya, namun suaranya seolah diredam oleh dinding-dinding dimensi yang kini sedang terbelah. Ruangan itu mulai berguncang; barang-barang di meja kerjanya melayang sejenak sebelum hancur menjadi debu hitam.
Di hadapannya, Lucien tampak berdiri tegap, meski jubahnya berkibar oleh hembusan energi yang tidak kasatmata. Matanya yang keabu-abuan kini berpendar perak terang, menatap proses itu dengan intensitas yang mengerikan. Ia tidak tampak menderita, namun rahangnya mengeras, dan tangan kanannya terkepal erat seolah sedang menahan beban yang luar biasa besar. Dia adalah jangkar bagi sihir ini; dia memastikan bahwa proses pengikatan jiwa ini tidak menghancurkan raga Maya yang fana.
"Terima dia, Maya!" perintah Lucien sekali lagi, kali ini dengan nada yang lebih dalam dan berat. "Jangan melawan arus sihir ini. Biarkan dia menjadi bagian dari nadimu, atau kau akan hancur oleh keangkuhanmu sendiri!"
Maya merasa dadanya sesak, seolah jiwanya sedang dipaksa keluar dari raga hanya untuk dijahit kembali dengan kekuatan sihir yang gelap. Ia melihat garis-garis cahaya ungu menari di udara, membentuk pola duri yang rumit dan elegan—sebuah karya seni sihir yang berbahaya. Garis-garis itu meluncur dari perkamen, melilit pergelangan tangan kanannya seperti ular berbisa yang jinak, dan dengan satu hentakan final yang menggetarkan seluruh isi rumah, garis-garis itu menembus kulitnya dan terkunci di sana.
Cring!
Sebuah dentuman suara logam beradu bergema di ruangan itu, memecahkan kesunyian yang mencekam. Cahaya ungu itu meredup seketika, menyisakan keheningan yang begitu pekat hingga Maya bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri yang kini berdetak dalam irama yang tidak biasa—irama yang lebih lambat, lebih dalam, dan memiliki resonansi magis.
Maya jatuh terduduk. Lututnya menghantam lantai kayu yang terasa dingin, namun ia tidak merasakan sakitnya. Napasnya tersengal-sengal, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya hingga pakaiannya terasa lembap dan berat. Ia merasa tubuhnya begitu ringan, namun di saat yang sama, ia merasakan beban berat dari kehadiran sihir yang kini mengalir deras di bawah kulitnya. Dengan tangan kiri yang gemetar hebat, ia menyibak lengan baju kanannya perlahan, takut dengan apa yang akan ia temukan di sana.
Di sana, di atas urat nadinya, sebuah rajah hitam permanen berbentuk duri melingkar dengan pola yang sangat rumit. Di tengah duri-duri itu, terdapat simbol mata yang tertutup—simbol yang seolah sedang berkedip pelan setiap kali ia menarik napas. Rajah itu terasa hangat, berdenyut selaras dengan ritme jantungnya. Itu bukan lagi kulitnya; itu adalah tanda kepemilikan, sebuah segel yang menyatakan bahwa ia tidak lagi berada di bawah hukum manusia.
Lucien mendekat. Kali ini, ia tidak lagi menjaga jarak. Ia berlutut di hadapan Maya, jemarinya yang dingin menyentuh rajah di pergelangan tangan Maya dengan kelembutan yang sangat kontras dengan situasi mengerikan tadi. Maya tersentak hebat; sentuhan itu tidak lagi terasa seperti kulit biasa. Ada sensasi listrik yang menjalar ke seluruh sarafnya, sebuah koneksi instan yang membuatnya bisa merasakan sekilas emosi Lucien—rasa lelah yang amat sangat, kesepian yang dalam, dan secercah rasa puas yang gelap. Itu adalah perasaan yang belum pernah ia rasakan, sebuah kedekatan yang menakutkan karena ia bisa mendengar "suara" emosi pria itu di dalam kepalanya sendiri.
"Kontrak telah terbentuk," bisik Lucien. Suaranya kini terdengar lebih dekat, lebih nyata, dan memiliki getaran yang membuat Maya gemetar bukan karena takut, melainkan karena resonansi sihir yang kini menyatukan mereka berdua. "Mulai detik ini, setiap napas yang kau hirup adalah milik Negeri Bayangan. Setiap detak jantungmu terikat dengan takdirku. Kau telah menukar satu tahun waktumu dengan keabadian dalam ingatan sejarahku."
Maya menatap Lucien, terengah-engah, mencoba mencari ketenangan di antara badai emosi yang baru saja menghantamnya. "Apa yang... apa yang baru saja kau lakukan padaku? Kenapa aku merasa seolah-olah sebagian dari diriku telah hilang?"
Lucien menundukkan wajahnya, hingga jarak wajah mereka hanya beberapa inci. Maya bisa melihat pantulan dirinya di mata perak pria itu—wajah seorang gadis yang kini telah kehilangan kebebasannya demi sebuah janji. "Itu bukan bagian yang hilang, Maya. Itu adalah bagian yang kau lepaskan untuk memberi ruang bagi kekuatan yang lebih besar. Aku telah memberimu perlindungan yang tidak bisa dihancurkan oleh musuh mana pun. Namun, jangan pernah lupa, harga dari perlindungan seorang Raja Kegelapan adalah kesetiaan mutlak. Kau bukan lagi pelayan, kau bukan lagi sekadar manusia dengan hutang. Kau adalah bagian dari diriku sekarang."
Lucien berdiri, tangannya terulur untuk membantu Maya bangkit. Saat tangan mereka bersentuhan, Maya merasakan sebuah tarikan sihir yang memaksa tubuh mereka untuk berada dalam jarak yang tidak wajar. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa melepaskan diri begitu saja; ada magnet tak kasatmata yang membuat tubuhnya ingin terus berada di dekat Lucien, sebuah efek dari ikatan jiwa yang baru saja disahkan.
"Bersiaplah," kata Lucien sambil menatap sekeliling ruangan yang perlahan mulai memudar warnanya, dinding rumah kontrakan itu meluruh seperti cat yang terhapus air, memperlihatkan kehampaan di baliknya. "Dunia lamamu sudah tidak lagi mengenali siapa dirimu. Kau telah menandatangani kontrak, dan sekarang, kau adalah milikku. Kita akan pergi ke tempat di mana takdirmu sebenarnya menunggu, tempat di mana cahaya hanyalah legenda dan bayangan adalah raja."
Maya menatap sekeliling. Dinding kamarnya, meja kerja ayahnya, dan segala kenangan di rumah itu mulai meluruh seperti debu yang tertiup angin. Ia sadar, ia tidak hanya menandatangani kontrak; ia baru saja menandatangani surat kematian bagi kehidupan lamanya. Ia tidak lagi memiliki rumah, tidak lagi memiliki masa depan di dunia manusia, dan satu-satunya hal yang ia miliki sekarang hanyalah pria misterius yang berdiri di hadapannya, serta rajah duri di pergelangan tangannya yang terus berdenyut, memanggilnya untuk segera melangkah ke dalam kegelapan yang tak terelakkan.
Bersambung…
Malam yang dinantikan oleh seluruh kalangan bangsawan Istana Atas akhirnya tiba. Balairung Kristal—aula megah berlantai marmer hitam berkilau yang dikelilingi oleh pilar-pilar kristal raksasa—telah dipenuhi oleh ratusan tamu undangan dari klan-klan darah murni Astralia. Lampu-lampu gantung berbahan batu energi membiaskan cahaya perak yang menyilaukan, memantul di atas gaun-gaun sutra mewah dan perhiasan berkilau milik para wanita bangsawan. Gelak tawa yang dibuat-buat, denting gelas kristal, serta alunan musik harpa yang lembut melayang di udara, membungkus atmosfer balairung dalam kepalsuan yang amat sempurna.Di balik kemewahan tersebut, bisik-bisik intrik berkobar tanpa henti. Lord Valerius, pria tua berambut perak dengan mantel kebesaran berwarna merah tua yang melapisi zirahnya, berdiri di tengah lingkar tetua klan. Matanya yang licik bergerak mengawasi pintu gerbang utama balairung seraya menyesap anggur merah dari cangkirnya."Gadis fana yang membawa sihir liar itu berani menam
Tiga hari telah berlalu sejak peristiwa berdarah dan menegangkan yang mengguncang lorong-lorong kusam Kota Bawah. Berkat kekuatan sihir penyembuh perak murni milik Lucien yang disalurkan secara konstan tanpa kenal lelah, luka robek mengerikan yang sempat membedah punggung Maya telah pulih sepenuhnya. Tidak ada lagi rasa nyeri yang membakar atau hawa dingin racun yang menggerogoti jiwanya—hanya menyisakan sebaris garis merah tipis yang kian memudar di atas kulit halusnya. Suasana di dalam kediaman pribadi Sayap Mawar Hitam pun perlahan-lahan kembali tenang dan hangat. Akan tetapi, ketegangan politik di luar benteng kediaman sang Raja justru kian memuncak hingga mencapai titik didih.Tindakan nekat Maya yang melempar tubuhnya demi menyelamatkan seorang anak fana, ditambah dengan amarah meledak-ledak dari Lucien yang menghancurkan seluruh kelompok pemberontak dalam sekedip mata, telah menjadi buah bibir yang amat panas di setiap sudut Istana Atas. Para bangsawan klan utama yang bermukim
Langkah kaki Lucien bergema cepat membelah lorong-lorong sunyi Sayap Mawar Hitam. Pintu kayu ek berat berkilau obsidian terhempas terbuka lebar saat sang Raja melangkah masuk membawa tubuh Maya yang terkulai lemah. Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia menempatkan tubuh gadis itu dengan amat berhati-hati di atas ranjang berkanopi kain sutra hitam.Aroma amis darah segar yang berbinar keemasan membaur tajam dengan bau menyengat racun kotor berwarna kehitaman. Kain jubah abu-abu kasar di punggung Maya telah hancur terkoyak, memperlihatkan luka robek memanjang yang tampak mengerikan dan meradang hebat. Kulit halus di sekitar luka itu memar kebiruan, dengan urat-urat hitam tipis yang merayap perlahan bagaikan jaring laba-laba—menandakan bahwa racun kotor pemberontak itu tengah berusaha keras menembus dan merusak sistem saraf serta aliran sihir Primordial Maya."Maya... tetaplah sadar. Dengarkan suaraku," bisik Lucien. Suara bass sang Raja yang biasanya dipenuhi wibawa mutlak kini terdengar
Melihat darah kemerahan berbinar keemasan itu membasahi tanah berlumpur Kota Bawah, dunia seakan-akan berhenti berputar bagi Lucien. Suara teriakan histeris warga yang berlarian, derak kobaran api yang membakar reruntuhan kayu, hingga dentang benturan senjata tajam yang saling beradu di sekitarnya mendadak lenyap begitu saja dari pendengarannya. Segala hal yang ada di dalam bidang pandangannya memudar drastis, menyisakan bayangan Maya yang terkulai lemas di atas tanah dingin dengan punggung yang bersimbah darah.Manik mata perak Lucien yang semula memancarkan ketenangan mendadak berkilat merah menyala—sebuah pertanda mengerikan bahwa naluri pemusnah terliar sang Penguasa Bayangan telah bangkit sepenuhnya dari kedalaman jiwanya. Aura membunuh (killing intent) yang teramat pekat, dingin, dan murni meledak seketika dari tubuh tegap Lucien, menghentak udara malam dengan gelombang kejut magis yang tak kasat mata. Fondasi bangunan batu di seluruh Kota Bawah bergetar hebat, sementara obor-ob
Malam yang tadinya diliputi kehangatan dan keheningan manis di antara Maya dan Lucien mendadak sirna dalam sekejap mata. Baru saja langkah kaki mereka mengayun sejauh puluhan meter meninggalkan kedai kayu sederhana tadi, gema teriakan histeris ratusan warga dan dentang benturan senjata tajam melengking keras memecah kegelapan Kota Bawah. Bau jelaga obor dan aroma tanah lembap yang tenang seketika tergantikan oleh hawa panas yang menyengat serta aroma amis belerang membakar hidung.Dari balik tikungan lorong sempit di depan mereka, kepulan asap hitam berbau busuk menyembur membubung tinggi ke udara malam. Sekelompok pria berpenutup muka kain hitam dengan senjata tajam yang ternoda racun dan obor menyala menerobos keluar secara brutal dari pemukiman warga. Mereka adalah para pemberontak radikal—kelompok bayangan korup yang kerap memanfaatkan kelengahan penjaga untuk menjarah batu energi, membakar tempat tinggal, serta membantai rakyat sipil tak berdaya. Warga Kota Bawah berlarian panik,
Malam semakin melarut dan pekat di wilayah Kota Bawah. Bau tanah basah yang dingin, kepulan asap jelaga dari obor kayu yang berderak, serta keharuman rempah-rempah murah membaur tajam di udara yang kian menusuk hingga ke dalam tulang. Namun, bagi Maya, rasa dingin yang biasanya merayap gampang menembus kain jubah kasarnya kini seolah-olah tak lagi berdaya melumpuhkan fisiknya. Di sampingnya, Lucien melangkah dengan tenang, stabil, dan penuh kepastian. Kehadiran pria itu—tanpa mahkota obsidian yang berkilau dingin, tanpa zirah kebesaran yang kaku dan menindas, serta tanpa barikade formalitas istana yang membentang lebar—menciptakan sebuah gelembung ketenangan yang aneh namun teramat menentramkan di tengah keremangan lorong-lorong rahasia Kerajaan Astralia.Dinding tebal dan kokoh yang selama berbulan-bulan dibangun oleh perbedaan gelar, beban kewajiban, serta rasa curiga di antara mereka mendadak perlahan mencair tanpa sisa. Di bawah pendaran temaram obor jalanan yang sesekali berjelag







