Share

Bab 2

Juan Scherbakov atau akrab dipanggil sebagai Juan, merupakan pria berusia 37 tahun berkebangsaan Rusia. Pebisinis ulung yang bergerak di bidang perhotelan dan pariwisata, sekarang Juan juga mengepakkan sayap bisnisnya ke bidang hiburan dan pertelevisian.

Juan berdiri dengan Jumawa di dalam elevator bersama seorang wanita. pria itu melirik wanita yang pernah ditemuinya saat pesta penyambutan kemarin. Ia tersenyum tipis, Juan selalu tahu maksud dari seseorang yang menginginkan sesuatu darinya. Lewat tatapan mata dan senyuman nya, ia paham jika wanita itu menaruh minat padanya karena sesuatu. 

Seperti saat wanita itu berjalan di depan Juan sambil mempermainkan retina matanya. dan yang paling kentara adalah bibir wanita itu yang bergerak sensual seolah-olah tengah menarik perhatian dirinya. 

Juan kembali menyeringai tipis, bukannya ia terlalu percaya diri meski memang benar. Hanya saja dirinya sudah tidak asing pada kode yang diberikan wanita-wanita seperti itu, dan Aleena adalah aktris kesekian yang mencoba menarik perhatian dirinya. 

Baiklah, apa yang bisa kau lakukan untuk menarik atensiku. 

"Maaf, saya tidak sengaja."

Juan tersenyum tipis penuh arti saat Aleena dengan sengaja menyenggol bahunya. 

"Tidak masalah," balas Juan singkat, Aleena merendahkan kepalanya seolah-olah memberi salam. 

Juan melirik penampilan Aleena lewat ekor matanya, wanita itu mengibaskan rambutnya ke samping hingga memperlihatkan bahu mulusnya tanpa cela. Lagi-lagi pria itu hanya tersenyum kecil, jari telunjuknya ia arahkan untuk menyentuh paha milik Aleena dan mengusapnya pelan. 

Aleena menoleh, kedua matanya menampilkan keterkejutan dan Juan suka melihatnya. 

"Mr. Scherbakov," bisik Aleena sedikit panik. 

Niat hati ingin melancarkan godaan pada pria itu, namun Aleena justru dibuat mati kutu karena nyatanya pria itu merespon dengan tidak terduga. 

Juan menarik pinggang Aleena dan membuat tubuh wanita itu menempel dengannya. Telapak tangannya terangkat dan mengusap pelan sisi wajah wanita itu, ia tersenyum culas.

"Kurasa kau ingin membicarakan sesuatu denganku, benar begitu?" tanyanya tanpa tedeng aling-aling. 

Aleena menelan salivanya dengan kasar, entah kemana larinya keberanian dirinya beberapa jam yang lalu, kini ia malah gugup tak terkira di hadapan Juan. 

Aleena merasa terintimidasi oleh kedua obsidian hitam milik seorang Juan. 

Dentingan lift berbunyi, Juan melepaskan tubuh Aleena namun beralih memegang tangan wanita itu seolah-olah takut jika Aleena melarikan diri darinya. Beberapa karyawan perusahaan memasuki elevator sehingga mengharuskan Aleena semakin terhimpit antara dinding dan tubuh Juan. 

Di lantai empat mereka berhenti, dan Juan masih menarik tangan Aleena agar tetap mengikuti langkah kakinya yang lebar. sedangkan Aleena hanya mampu menundukkan wajahnya pasrah. Aleena malu karena di sepanjang perjalanan mereka berpapasan dengan beberapa orang. 

"Apa yang kau mau?" Tanya Juan saat keduanya telah memasuki ruang kerja milik pria itu. Aleena semakin gugup, jantungnya berdegup kencang, dirinya seperti tengah berada di persidangan untuk mengakui sebuah kejahatan. 

"Apa maksud anda?" Tanya Aleena pura-pura tidak paham. Juan tertawa kecil sehingga membuat Aleena langsung mendongak untuk menatap wajah pria itu. 

"Kau menginginkan sesuatu dariku." Balas Juan cepat. "Tatapan matamu, senyum manismu, aroma tubuhmu,"

Kedua pipi Aleena langsung memerah mendengarnya, kenapa semua jadi seperti ini? 

"Ah, kau bahkan mengganti parfume mu menjadi sandalwood?" Lanjut Juan lagi. 

Juan berjalan melangkah ke depan melewati tubuh Aleena yang berdiri kaku. Hingga kemudian Juan duduk di atas meja kerjanya sambil bersidekap tangan. dagunya naik terangkat dan menatap Aleena dengan angkuh. 

"Katakan! Aku akan mendengarkan dengan seksama. Bagaimana pun kau adalah aktris milikku, aku ikut bertanggung jawab atas setiap keluhan yang mungkin dirasakan oleh salah satu dari kalian." Jelas Juan. 

Aleena masih bungkam, ia menjadi ragu untuk melanjutkan niatannya. Apalagi dirinya tidak bisa menahan setiap serangan pesona milik pria itu. 

Namun jika ia menyerah sebelum mencoba, bukankah itu jauh lebih buruk? Apalagi karir nya sebagai aktris terancam setelah dirinya ketahuan mencoba untuk menggoda owner agensi dimana ia bernaung. 

"Aku ingin dukunganmu." ucap Aleena pasrah. Kedua retina matanya menatap Juan dengan cemas. 

"Tentu aku akan mendukung mu, kau aktris ku bukan?" ucap pria itu namun Aleena menggeleng dengan kuat. 

"Aku ingin lebih!" balasnya cepat, "Aku ingin lebih cepat bersinar."

Pria itu tersenyum sinis, ia sudah menduganya.

"Apa yang aku dapatkan jika aku memberimu dukungan penuh atas karirmu?" tanya Juan. Pria itu kemudian beranjak dari meja yang barusaja ia duduki, dan berjalan dengan pasti menghampiri Aleena yang kembali mematung karenanya. 

"Tentu kita harus sama-sama menguntungkan bukan?" Senyum culas itu kembali terpatri di wajahnya, Aleena harus mengakuinya jika seringai tipis milik Juan sangatlah seksi. 

Aleena memberanikan diri untuk menatap Juan, ada kilatan penuh ketertarikan lewat obsidian hitam milik pria itu. 

Dan dengan ini Aleena memantapkan diri untuk tetap melangkah mencapai tujuannya. 

Aleena tersenyum tipis, Ah! Manis sekali. 

"Aku bisa memberikan tubuhku." jawab wanita itu.

Kedua tangan Juan seketika terkepal dengan kuat, ada banyak emosi yang kini saling berperang dalam dirinya.

Juan mencekal pergelangan tangan Aleena dan membalikkan tubuh wanita itu hingga membelakangi dirinya. Aleena terkesiap, ia hendak melontarkan ungkapan rasa sakitnya namun terhenti saat Juan justru mendorong wanita itu hingga tengkurap di atas meja. 

Pria itu menekan tengkuk Aleena, "Pastikan aku adalah yang pertama, aku benci tidur dengan wanita yang sudah jadi bekas orang lain!" desisnya tajam.

Aleena meringis pelan, ada kemarahan dalam nada ucapan Juan, tapi Aleena tidak mengerti kenapa pria itu begitu kasar secara tiba-tiba. 

Aleena meneteskan air matanya, sejujurnya ia gamang karena merasa harga dirinya bagai terinjak-injak. namun ia tidak punya pilihan lain, dirinya ingin sukses secepat mungkin dan menghasilkan banyak uang. 

"A-aku belum pernah melakukannya dengan siapapun." jawab Aleena. 

Juan menyeringai puas, ia menarik dasinya dengan kasar lalu mengikatkannya pada kedua lengan Aleena dari belakang. Wanita itu terpejam erat, rasa takut mulai menghampirinya. 

"Tenangkan tubuhmu, Aleena Natasha!" bentak Juan, Aleena menarik nafasnya perlahan dan berusaha untuk mengendalikan diri. Pria itu menekan punggung Aleena lalu mengusapnya secara perlahan. 

Juan memeluk tubuh Aleena dari belakang sambil memejamkan kedua matanya, ia gigit cuping wanita itu, "Kita sepakat. Aku akan memberikan apa yang kau minta, dan aku mendapatkan tubuhmu sebagai pemilik tunggal."

"Selama kontrak terjalin, kau hanya bisa berhubungan denganku. Jika berani berpaling, maka hidupmu adalah taruhannya." ucap Juan memberi peringatan, setelah itu dirinya mengecup bibir Aleena sebagai tanda persetujuan. 

"Kulum!" 

Aleena menatap pria itu dengan tatapan sayu, ia menuruti perintah Juan yang menyuruhnya untuk mengulum lembut ibu jari milik pria itu. 

Tubuhnya lemas namun ia masih harus menari di atas pangkuan sang pria. Aleena menangis dalam hati, di pengalaman pertamanya ia justru tidak bisa merasakan apa itu bercinta dengan lembut dan penuh cinta. 

Pria itu menyetubuhinya dengan kasar, Juan seperti ikut menumpahkan amarahnya dalam penyatuan ini. 

Sementara itu Juan masih memandang tajam, mengunci pandangan Aleena dengan obsidian hitamnya. Sebelah tangannya bergerak dan berhenti di pinggul ramping milik wanita itu, ia meremasnya dengan kasar. 

Aleena melenguh tertahan, Juan tersenyum tipis mendengarnya. ia mengeluarkan ibu jarinya yang telah basah oleh air liur milik Aleena. Diusapnya wajah lelah wanita itu, lalu terhenti di bibir basah Aleena yang telah bengkak dan memerah karena ulahnya. 

Wanita itu menatap Juan dalam diam, Aleena terpaku untuk sepersekian detik. Kenapa selalu ada kesedihan dalam mata hitam itu? 

Juan merengkuh tubuh Aleena dengan erat, ia membawa tubuh itu berbaring di atas sofa lalu membiarkan dirinya yang mengambil alih. 

**

Aleena melangkahkan kedua kakinya memasuki apartemen dengan gontai. kakinya masih lemas, namun dengan terpaksa ia menyeretnya untuk kembali ke tempat dimana ia seharusnya. 

Dilemparnya tas selempang miliknya dengan kesal, lalu ia menjatuhkan diri di atas sofa kecil yang ada di ruang tamu. Aleena kembali menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. 

Kenapa dirinya harus berakhir dengan jalan seperti ini? Aleena bukannya tidak sabar tentang karirnya sebagai seorang aktris, jika untuk sekedar menghidupi dirinya sendiri mungkin ia tidak akan masalah menunggu lebih lama lagi. tapi ia juga butuh uang untuk membayar hutang-hutang ibunya yang gila itu. 

Dirinya harus bekerja keras untuk membayar semuanya yang bahkan dirinya tidak pernah mencicipi uang tersebut. 

Dering ponsel miliknya berbunyi, dengan gerakan malas Aleena meraih kembali tas miliknya dan mengambil ponsel. Ia mengumpat saat tahu jika Ibunya lah yang menelpon dirinya. 

"Apa?" tanya Aleena ketus. 

"Aleena, Ibu butuh uang besok pagi." ucap wanita itu tanpa tahu rasa malu.

Aleena kembali menangis, dadanya benar-benar terasa sesak. Bukan sekali dua kali wanita itu meminta uang terhadapnya, tanpa menanyakan terlebih dahulu apakah dirinya ada uang atau tidak. 

"Berhenti meminta uang padaku! Ibu pikir anakmu ini aktris papan atas, Hah?!" Aleena membentak ibunya dengan rasa kesal yang bercokol di hatinya. 

"Dasar anak kurang ajar! tidak tahu diuntung, kau tidak akan lahir ke dunia ini tanpa aku!" balas Ibunya. 

Aleena terisak pelan, "Aku juga tidak pernah meminta untuk dilahirkan ke dunia." balas Aleena berhasil membuat Ibunya bungkam. 

"Setidaknya kalau tidak siap menjadi orang tua, maka jangan pernah melahirkan seorang anak!"

Aleena menutup sambungan teleponnya, dan kembali menangis. Perkataan nya barusan mungkin akan menyakiti perasaan Ibunya, namun ia tidak salah berkata seperti itu. karena orang tuanya tidak pernah menjalankan kewajiban sebagaimana mestinya, mereka bahkan mengalihkan tanggung jawab hidup Aleena pada neneknya. Mereka tidak memikirkan bagaimana pendidikan Aleena, bagaimana hidupnya dan bagaimana kesehariannya. Namun setelah ia beranjak dewasa, Ibunya kembali muncul dan bersikap seolah-olah wanita itu lah yang berhak atas dirinya. 

Aleena muak, entah pada Ibunya atau pada hidupnya. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status