LOGIN"Menikah dengan Saya! Atau Saya sebar video kita semalam! Silahkan tentukan pilihanmu, Ivanna!" Perkataan Areez terdengar tenang, namun penuh ancaman. Sementara di hadapannya, berdiri seorang wanita sexy bernama Ivanna, yang merupakan sekretarisnya sendiri. Ivanna benar-benar sangat frustasi saat dihadapkan oleh dua pilihan sulit, yang harus segera ia tentukan. Tidak mungkin ia menikah dengan pria yang selama ini ia hindari, meskipun pria itu merupakan bossnya sendiri. Namun di sisi lain, Ivanna juga tak mau jika video aibnya tersebar, jika sampai ia menolak pilihan pertama. Lantas apa yang harus Ivanna lakukan sekarang? Haruskah ia menikah dengan bossnya, atau malah membiarkan video aibnya tersebar?
View More"Areez sialan! Brengsek! Demi apapun Aku benar-benar membencinya. Dasar pria brengsek!"Seraya melanjutkan pekerjaannya, Ivanna terus saja memaki dan mengumpati Areez. Meskipun Areez melarangnya bekerja hari ini, tapi ia tetap bekerja. Sebab tidak mungkin ia terus menerus berdiam diri di kamar pribadi Areez, tempat di mana ia kehilangan kehormatannya."Ya tuhan, kenapa Aku harus bertemu dengan pria seperti Areez? Aku sangat benci padanya, Tuhan." Ivanna mengacak-acak rambutnya frustasi.Drrtt ... Drrtt ...Ivanna melirik ponselnya. Melihat siapa penelfon, yang mengganggu dirinya saat sedang kesal seperti ini.Ivanna berdecak kesal. "Panjang umur sekali. Baru juga ku sebut namanya, sekarang malah menelfon."Ivanna menyandarkan punggung serta kepalanya ke belakang, tanpa berniat untuk mengangkat telfon dari Areez. Ia masih kesal, saat mengingat Areez menjebaknya dengan dua pilihn berisi ancaman.Baru saja ia memejamkan matanya, seraya menghela nafas panjang. Pintu ruangannya malah terbu
"Arrghh."Ivanna mengerang kesakitan seraya memegangi kepalanya. Dengan susah payah ia berusaha membuka matanya yang sangat berat, seperti rekat oleh lem."Sshh, kepalaku sakit sekali." Ivanna meringis kesakitan. Ia masih belum menyadari, jika di sampingnya terdapat seorang pria, yang kini tengah melingkarkan tangannya di perutnya.Mata Ivanna masih tertuju pada langit-langit kamar yang tampak asing baginya. "Di mana ini?" gumamnya bertanya-tanya. Matanya berlanjut menatapi seluruh penjuru ruangan. "Kamar siapa ini?" gumamnya lagi."Apa yang terjadi? Kenapa kepalaku rasanya ingin pecah?"Ivanna memejamkan matanya, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Berharap rasa pusingnya bisa segera menghilang.Ivanna berusaha mengingat kejadian, sebelum dirinya terbaring di tempat ini. Namun yang dapat diingat olehnya, hanyalah saat ia makan, mengerjakan pekerjaan, dan meminum kopi yang di bawakan oleh Ardi. Selain itu, Ivanna juga mengingat, jika semalam ia merasa sangat pusing. Namu
"Ivanna, apa yang Kamu rasakan?" Areez menepuk-nepuk pipi Ivanna, setelah ia menidurkan gadis itu di atas ranjangnya."Akh, Tuan, tubuh Saya terasa sangat panas sekali. Saya gerah, Tuan, tapi Saya pusing."Ivanna bergerak tak karuan. Tubuhnya merasakan hal aneh, yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan sama sekali."Tuan, tolong bantu, Saya! Tubuh Saya gerah sekali. Tolong bawakan es sebanyak mungkin untuk Saya, Tuan!" pinta Ivanna memohon.Areez menjadi bingung di buatnya. Entah apa yang harus ia lakukan. Pasalnya, rasa panas yang di rasakan oleh Ivanna disebabkan oleh efek obat perangsang. Sementara solusinya hanyalah bercinta.Areez ragu untuk melakukannya, karena ia takut Ivanna membencinya. Areez menatap tubuhnya dengan tatapan memuja saja, wanita itu sudah sangat marah. Lantas, bagaimana jika dirinya sampai meniduri wanita itu?Akan tetapi, jika tidak di lakukan, maka akan terjadi hal-hal-hal fatal yang tidak di inginkan. Bisa saja Ivanna mati karena obat perangsang tersebut. Dan
"Euumm, enak sekali."Ivanna menyantap makanannya dengan sangat lahap. Entah siapa orang baik yang telah mengirimkannya makanan. Hingga sangat kebetulan sekali, pada waktu dirinya yang memang sedang kelaparan."Siapa pun itu, Aku sangat berterimakasih," ucapnya, lalu kembali menyantap makanannya. Dua porsi makanan langsung bersih tak tersisa saat itu juga. Sementara minumannya yang juga berjumlah dua. Hanya ia minum satu saja. Sedangkan yang satunya lagi, ia masih menyimpannya dengan rapi di dalam paper bag.Tok Tok TokIvanna menoleh, seraya mengerutkan keningnya. "Siapa, ya?" tanyanya, sedikit mengeraskan suaranya."Permisi, Bu Ivanna! Saya datang untuk mengantarkan kopi," ujar seseorang dari luar."Oh ya, silahkan masuk!" suruh Ivanna.Pintu ruangan Ivanna, dan masuklah seorang pria berpakaian office boy. "Selamat malam, Bu Ivanna!" sapanya dengan ramah, setaya meletakkan kopi hitam, yang masih mengepulkan asap, di meja Ivanna."Malam, Ardi!" balas Ivanna tak kalah ramah.Mereka te
"Tuan Areez, bangun! Apa yang Anda lalukan? Anda atasan Saya, kenapa Anda malah berlutut pada Saya?" Ivanna bangkit dari kursi kerjanya, berpindah dari sana, sebab di hadapannya terdapat Areez yang tengah berlutut, seraya menyodorkan buket bungan, sera coklat.Ivanna benar-benar tak habis fikir. Ap
"Ivanna, ke ruangan Saya sekarang juga!"Lagi. Padahal belum ada satu jam Ivanna kembali ke ruangannya sendiri, dan kini sudah di panggil lagi oleh pria yang merupakan bos di perusahaan tempat ia bekerja sekarang."Areez ini kenapa, sih, suka banget manggil-manggil Aku? Kenapa tidak panggil yang la






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.