LOGIN"Menikah dengan Saya! Atau Saya sebar video kita semalam! Silahkan tentukan pilihanmu, Ivanna!" Perkataan Areez terdengar tenang, namun penuh ancaman. Sementara di hadapannya, berdiri seorang wanita sexy bernama Ivanna, yang merupakan sekretarisnya sendiri. Ivanna benar-benar sangat frustasi saat dihadapkan oleh dua pilihan sulit, yang harus segera ia tentukan. Tidak mungkin ia menikah dengan pria yang selama ini ia hindari, meskipun pria itu merupakan bossnya sendiri. Namun di sisi lain, Ivanna juga tak mau jika video aibnya tersebar, jika sampai ia menolak pilihan pertama. Lantas apa yang harus Ivanna lakukan sekarang? Haruskah ia menikah dengan bossnya, atau malah membiarkan video aibnya tersebar?
View More"Ivanna, ke ruangan Saya sekarang juga!"
Lagi. Padahal belum ada satu jam Ivanna kembali ke ruangannya sendiri, dan kini sudah di panggil lagi oleh pria yang merupakan bos di perusahaan tempat ia bekerja sekarang. "Areez ini kenapa, sih, suka banget manggil-manggil Aku? Kenapa tidak panggil yang lain saja? Padahal di sana juga ada Ale." Ivanna menggeruru kesal. Sebab pimpinnnya itu, memang sengaja menyulitkan dirinya, dengan selalu menambah pekerjaan, atau pun menyuruhnya bolak balik ke ruangannya, dan ke ruangan Ivanna sendirian. Kenapa Ivanna tidak melawan atau berprotes saja? Tentu saja jawabannya takut. Akan tetapi Ivanna bukan takut pada bos-nya. Melainkan, ia takut jika sampai dirinya dipecat dari perusahaan. Bagaimana caranya ia melanjutkan hidup jika seandainya ia di pecat dari sana? Sementara ia adalah wanita yang hidup sebatang kara, yang harus berjuang sendiri untuk kehidupan dan masa depannya. Mungkin saja ia bisa bekerja di perusahaan lain. Akan tetapi, ia tak yakin memiliki gaji sebesar sekarang. Awalnya saja ia tak menyangka, jika dirinya akan diterima di perusahaan ini dan di angkat sebagai sekretaris. Pasalnya dari daftar riwayat hidup saja, ia tak memiliki pengalaman sama sekali, dan otaknya juga pas-pasan, tidak bodoh dan juga tidak pintar. Menurutnya, gajinya yang sekarang sudah sangat lumayan untuk memenuhi kebutuhannya, dan juga melunasi hutang orang tuanya yang sudah meninggal. Yah, wanita muda bernama lengkap Ivanna Ayudia itu, adalah anak tunggal yang ditinggal mati oleh ke dua orang tuanya. Alih-Alih ke dua orang tuanya mati meninggalkan harta. Orang tua Ivanna justru meninggalkan hutang, dengan jumlah di luar dugaan Ivanna. Hal itu menjadikan Ivanna, selama ini harus berusaha keras untuk melunasi hutang ayahnya. Jika tidak, maka ia akan di paksa untuk menjadi istri ke tujuh dari seorang pria tua, yang memberi hutang pada ayahnya dulu. Sudah lima bulan Ivanna bekerja di perusahaan Lorenz Company, dan menerima gaji yang besar. Akan tetapi, selama lima bulan itu ia tetap menjalani hidup sederhana, bahkan penuh pengiritan. Hal itu di sebabkan karena Ivanna selalu menyetorkan uang itu untuk melunasi hutang ayahnya walaupun sedikit demi sedikit. Ia sangat bersyukur karena saat ini hutang ayahnya sudah tersisa seperempatnya saja. Setidaknya sebentar lagi hidupnya akan terbebas dari hutang. Drrtt ... Drrtt ... Ponsel Ivanna berdering kembali. Seketika lamunan Ivanna terbuyarkan. Ia memilir layar ponselnya, yang menampilkan nama sang pimpinan. Astaga, dari saking asiknya melamun, Ivanna sampai lupa dengan perintah bos-nya. Dengan perasaan malas Ivanna menggeser ikon hijau berbentuk telepon, di layar ponselnya. "Kamu dengar tidak, apa yang Saya katakan tadi?" tanya sebuah suara di seberang sana. "Iya, Tuan, maaf! Saya ke sana sekarang juga." Tanpa menunggu jawaban dari sang lawan bicara. Ivanna langsung mengakhiri panggilannya. Tak peduli jika saat ini bos-nya itu sedang kesal atau bahkan marah. Ivanna justru lebih kesal padanya. Benar-Benar karyawan yang baik. Hanya Ivanna yang berani bersikap seperti itu pada bos-nya selama ini. Mengapa bisa? Tentu saja karena ada alasan tertentu. Dengan langkah gontai, Ivanna menuju ruangan CEO. Di depan pintu, terdapat seorang pria yang sedang berjaga. "Pak Ale kenapa di sini? Biasanya juga di dalam menemani Pak bos tersayang." Perkataan Ivanna mengandung sebuah sindiran. Pasalnya selama ini, pria bernama Ale itu, selalu berada di samping Areez di mana pun pria itu berada. "Saya diperintah untuk menunggu Bu Ivanna di sini," ujar pria bernama Alessio itu. Perkataan dan wajahnya, masih seperti biasanya, datar seperti tembok perusahaan. "Silahkan masuk!" Ale membukakan pintu untuk Ivanna. Sementara Ivanna, wanita itu mengerutkan keningnya. "Tumben di perlakukan bak Tuan putri?" batinnya. "Ke mana saja Kamu?" Suara bariton dari seorang pria yang sangat membuat Ivanna kesal, kembali terdengar. "Saya bekerja di ruangan Saya," balas Ivanna tanpa menatap sang lawan bicara. "Kalau bicara tatap orangnya, Ivanna!" Dengan geram Areez memutar tubuh Ivanna, hingga wanita itu berhadapan dengannya. "Gak usah modus buat sentu-sentuh Saya, Tuan Areez yang terhormat!" ucap Ivanna penuh penekanan, seraya menatap pria tampan di depannya. Yah, Ivanna akui pria di hadapannya ini memanglah tampan, meskipun terlihat garang. Alis tebal, bola mata berwarna coklat, dengan tatapan tajam, hidung mancung, dan juga bibir seksi, dengan bibir atasnya yang tipis, sementara bibir bawahnya tebal. Satu lagi, jangan lupakan rahang tegasnya di tumbuhi oleh bulu-bulu tipis yang terlihat menawan. Tak hanya memiliki wajah yang rupawan. Pria bernama lengkap Fareeza Lorenzo itu juga memiliki tubuh yang indah nan seksi, incaran para wanita, tapi tidak dengan Ivanna. Sungguh sempurna tuhan menciptakan fisik seorang Areez. "Ivanna, Kamu dengar Saya bicara tidak?" Areez melambaikan tangannya di depan wajah Ivanna. Pasalnya sudah cukup lama wanita itu melamun. Ivanna sedikit tersentak ketika lamunannya buyar. "A-Ah iya, ada apa, Tuan?" tanya Ivanna, terdengar gelagapan. Astaga, bisa-bisanya ia terhanyut dalam khalayannya yang berisi pendeskripsian fisik Areez. "Jangan sampe Aku tertarik sama si mesum satu ini! Ih, amit-amit, deh." Ivanna bergidik ngeri. Ia menganggap Areez pria mesum, sebab selama ini pria itu selalu menatap dengan tatapan menelanjangi. Tak hanya itu, ia juga sering mendapat rumor, bahwasannya selama ini Areez adalah pria yang gemar melakukan on night stand. Ivanna tak heran lagi. Mana mungkin pria tampan dan mapan, baik dari segi fisik maupun harta seperti Areez, tak melakukan hal seperti itu? Sangat mustahil. "Ternyata Kamu benar-benar tidak mendengarkan dengan baik saat Saya bicara, Ivanna." Areez semakin geram, dan menarik Ivanna dengan kasar, sehingga wanita itu langsung terduduk di pangkuannya. "Kyaa ... Lepaskan Saya, Tuan mesum!" Ivanna memberontak. Berusaha untuk menjauhkan tangan Areez yang melingkar di pinggangnya. "Apa katamu tadi? Tuan mesum? Sejak kapan Kamu memiliki panggilan kesayangan untuk Saya, Ivanna?" Bukannya tersinggung, Areez malah tersenyum miring. "Lepaskan Saya, Areez sialan!" Ivanna memukul-mukul dada bidang Areez. "Wo hoho, Kamu terlihat lebih cantik saat sedang marah seperti ini, Sayang." Areez membelai pipi Ivanna dengan gerakan sensual. "Jangan kurang ajar, Areez!" Tatapan mata Ivanna menyalang. Sangat murka dengan perlakuan Areez, yang seakan ingin melec*hkannya. Ivanna berhasil terlepas dari pelukan Areez, dan turun dari pangkuannya. "Selama ini Saya hanya diam saat Anda menatap Saya dengan tatapan mesum, tanpa rasa sopan ... Tapi kali ini tidak lagi. Sikap Anda seperti seorang pedofil, yang sangat menjijikkan!" Ucapan Ivanna penuh penekanan, dan begitu menohok. "Satu hal yang perlu Anda ketahui, Tuan Areez yang terhormat! Saya tidak pernah menyesali perkataan Saya saat ini, dan Saya tidak akan pernah menarik ucapan Saya kembali! Tidak masalah meskipun Anda harus memecat Saya. Saya rela kehilangan pekerjaan Saya, demi menjaga kehormatan Saya sebagai wanita." Setelah mengucapkan hal itu, Ivanna memutar tubuhnya, kemudian pergi tanpa berpamitan pada atasannya. "IVANNA! IVANNA! TUNGGU, IVANNA! SAYA TIDAK BERMAKSUD SEPERTI ITU!" "AARGH, SIAL!" (◍•ᴗ•◍) Alessio dengan sabar berdiri untuk berjaga-jaga di luar ruangan Areez. Meskipun kakinya terasa pegal, tapi ia tetap menahannya, sebab di balik rasa pegalnya, ada uang yang sedang menanti. "Berhenti!" perintah Alessio, saat seseorang hendak mengetuk pintu ruangan CEO. "Ada apa, Pak Ale?" tanya seorang karyawan perusahaan, yang berniat untuk menemui Areez. "Tuan Areez melarang siapa pun untuk mengganggunya saat ini," ujar Ale. "Tapi Saya-" "Kamu tau arti larangan?" tanya Alessio, memotong perkataan karyawan tersebut. Karyawan itu mengangguk. "Iya, Saya minta maaf! Kalau begitu Saya pergi dulu!" pamitnya lalu pergi dari sana. Tak sampai setengah jam, pintu ruangan CEO terbuka. Terlihat Ivanna keluar dengan langkah terburu-buru dari sana. Melihat hal itu, Ale masuk dengan langkah tergesa-gesa, dan kembali menutup pintu ruangannya. "Gimana, Tuan, apa rencananya berhasil?" tanyanya, seraya menghampiri Areez, yang kini penampilannya terlihat acak-acakan. Ia berfikir bahwa tuannya sudah melakukan sesuatu dengan Ivanna. "Berhasil apanya? Belum mulai aja udah gagal, sial!" Areez kembali mengumpat dengan kesal. "Kenapa bisa?" tanya Ale bingung. "Tanya saja pada dirimu sendiri! 'Kan Kamu sendiri yang menyusun semua rencananya," ucap Areez dengan sarkas. "Begini, Tuan, sebaiknya Tuan ceritakan, kenapa semuanya bisa gagal!" suruh Ale, meminta Areez untuk bercerita. Meskipun kesal, namun Areez tetap menceritakan semuanya dengan jujur, tanpa ada yang ditambah atau pun di kurangi. Ale menepuk jidatnya pelan. "Ya Tuhan ... Pantas saja kalau Ivanna marah, Tuan." "Memangnya kenapa? Apa perlakuan Saya salah?" tanya Areez, saat melihat ekspresi asisten pribadinya. "Bukan salah, Tuan. Tapi kurang benar," sahut Areez dengan sopan. Areez mengerutkan keningnya. "Bukannya tadi Kamu sendiri yang menyarankan, agar Saya bersikap lembut pada Ivanna? Lantas di mana letak kesalahannya?" tanya Areez lagi. "Sikap Tuan Areez pada Ivanna bukan termasuk sikap lembut, Tuan, tapi sensual. Wanita mana pun yang diperlakukan seperti itu, pasti akan marah, kecuali wanita itu memang murahan." "Jadi Saya harus apa sekarang?" tanya Areez bingung, serta uring-uringan, sebab saat ini Ivanna tengah marah padanya. Sebelumya Ivanna tak pernah marah meskipun ia selalu bersikap seenaknya. Tapi kali ini, sekalinya marah, wanita itu seperti sulit sekali untuk dibujuk. "Minta maaf, Tuan," saran Ale, tanpa harus berfikir panjang. "Yang benar saja, Kamu. Seumur hidup seorang Fareeza Lorenzo tidak pernah meminta maaf pada siapa pun. Tapi kali ini Kamu malah menyuruh Saya meminta maaf pada wanita, yang notabene-nya adalah sekretaris Saya? Yang benar saja Kamu, Ale!" Seumur hidup Areez tak pernah membayangkan, bahwasanya ia harus meminta maaf terlebih dahulu, terlebih itu pada bawahannya sendiri. "Turunkan dulu rasa gengsi Anda, Tuan! Toh, ini juga demi wanita yang Anda cintai," ujar Ale. Yah, selama ini Areez memang tengah mengincar Ivanna karena ia mencintai wanita itu. Semua berawal dari rasa ketertarikannya, karena Ivanna merupakan wanita berwajah cantik dan imut, namun memiliki tubuh yang seksi. Menurutnya, Ivanna adalah wanita yang unik dan langka. Sebab selain memiliki paras dan tubuh yang indah, Ivanna juga tidak gampang bergaul dengan lawan jenis. Wanita itu selalu menjaga jarak, sekali pun dalam acara-acara tertentu. Tidak seperti wanita-wanita lainnya, yang kebanyakan memang sengaja memberikan tubuhnya, untuk dijamah oleh pria. "Apa tidak ada cara lain, Al?" tanya Areez, penuh harap. Sayangnya Ale menggeleng. "Tidak ada, Tuan. Itu jalan satu-satunya. Kalau perlu, Anda minta maaf sambil bawa hadiah untuk Ivanna!" saran Ale. "Hadiah? Boleh juga." Areez bergumam pelan. "Tapi menurut Kamu, hadiah apa yang biasanya wanita suka?" lanjutnya bertanya. Sepertinya saran Ale bagus juga. Ale menggidikkan bahunya spontan. "Mana Saya tau, Tuan. Saya tidak pernah memiliki kekasih selama ini. Coba saja searching di internet!" suruh Ale. "Kamu aja yang searching! Saya males," ucap Areez dengan santainya. Seketika Ale mendengus kasar, namun tetap mengambil ponselnya. "Tidak masalah, Ale. Uang sedang menantimu!" batin Ale, menyemangati dirinya sendiri. "Ini Tuan, di sini ada sepuluh pilihan. Pilihan pertama dan ke dua simple tapi, di jamin berhasil," ujar Ale, tanpa mengalihkan tatapannya dari ponsel. "Apa? Langsung sebutin aja!" perintah Areez, seraya melepaskan jasnya. Ia kegerahan, bukan hanya tubuhnya, tapi juga hatinya. "Pertama kasih bunga, ke dua coklat. Simple, bukan?" tanya Ale meminta pendapat bos-nya. Satu tangan Arees terlipat di depan dada, sementara tangan yang lainnya, memegang dagunya, seraya berfikir. "Simple, simple sekali. Tapi yang gak simple itu, cara minta maafnya. Astaga, Alee ... Saya masih belum bisa membayangkan kalau Saya harus benar-benar minta maaf sama Ivanna." Masalah ini benar-benar mampu membuat Areez frustasi. Bagaimana tidak? Areez adalah manusia yang paling anti meminta maaf. Tapi jika tidak meminta maaf, maka bisa-bisa Ivanna akan seterusnya membencinya. Ale mengangkat ke dua bahu serta tangannya. "Yaah, mau bagaimana lagi, Tuan? Hanya ini cara satu-satunya, untuk meluluhkan hati Ivanna. Toh, ini juga salah Tuan sendiri. Coba saja tadi Tuan tidak seperti itu. Mungkin sekarang Ivanna tidak akan marah seperti itu." "Kenapa Kamu jadi nyalahin Saya?" tanya Areez. "'Kan emang salah Tuan sendiri. Emangnya mau nyalahin Saya? Kalau emang mau nyalahin Saya, biar Saya aja, yang minta maaf sama Ivanna, Tuan," ujar Ale. "Ya udah sana kalau emang Kamu yang mau minta maaf!" suruh Areez. "Sekalian kasih bunga sama coklatnya!" imbuhnya. "Tapi Ivanna-nya buat Saya, ya, Tuan!" seloroh Ale dengan santai. "Saya potong leher Kamu lama-lama, Al!" Areez berdesis kesal. Ale terkekeh. "Saya hanya membuat keputusan yang tepat, Tuan." "Tepat kepalamu! Sudah sana, Kamu belikan bunga sama coklat. Beli yang bagus dan paling mahal!" perintah Areez. "Loh, bukannya Tuan Areez sendiri yang mau beli? Nanti Tuan, 'kan bisa pilih sendiri sesuai sel-" Belum selesai Ale berbicara, tapi Areez sudah mendorongnya keluar. "Udah Kamu jangan banyak bicara! Cepetan pergi, Saya sudah transfer uangnya ke Kamu! Jangan lupa nanti kirim foto bunganya, biar Saya pilih!" peringatnya. "Uang buat Saya gimana, Tuan?" tanya Ale. "Astaga, mata duitan sekali Kamu. Udah Saya kirim tadi, tiga kali lipat!" Areez menekan tiga kata terakhirnya. "Tuan memang baik sekali. Semoga Tuhan selalu memberkati Anda, Tuan! Supaya keuangan Saya semakin lancar, hehe." Ale memang selalu seperti itu. Selalu mendo'akan Areez ketika tuannya itu sudah mengirimkan uang. Namun setelahnya, masih ada tambahan kalimat, yang membuat Areez kesal sendiri. "Cepat pergi, atau Saya potong gaji Kamu!" perintah Areez, sembari mengancam. "Iya, Tuan, iya. Ck, tidak sabaran sekali." Dengan santainya Ale berdecak kesal, seraya menggerutu di hadapan Areez. "Saya katapel mulut Kamu, lama-lama, Ale!" (◍•ᴗ•◍) Di ruangan yang berbeda, Ivanna tengah menggerutu kesal, seraya mengerjakan perkerjaannya yang menumpuk. Bagaimana tak menumpuk, sementara selama satu hari ini, ia selalu di panggil ke ruangan Areez sampai lebih tujuh kali. Areez memberikan kerjaan lain, yang mengharuskan Ivanna bekerja di ruangan pria itu. Sementara pekerjaan Ivanna sendiri, menjadi terbengkalai. Mau tak mau, malam ini Ivanna harus lembur. Karena berkas yang menumpuk di mejanya saat ini, adalah berkas penting yang harus ia selesaikan sebelum besok pagi. "Gara-Gara Areez sialan, Aku jadi harus lembur malam ini. Dasar Om-Om mesum!" makinya entah sudah berapa kali. "Kenapa gak menikah saja, sih, dia? Atau cari wanita jalang di luar sana. Ini malah gangguin karyawannya. Benar-Benar gila." Ivanna masih sangat kesal jika mengingat perlakuan Areez padanya tadi. Satu hal yang juga sangat ia ingat, dan selalu terbayang di fikirannya. Saat duduk di pangkuan Areez tadi. Ivanna merasakan ada sesuatu keras, yang menusuk-nusuk pantatnya. Sebagai wanita dewasa, Ivanna tahu apa benda kerasa yang menusuk-nusuk pantatnya itu. Bukannya bergairah, Ivanna malah merasa jijik saat tak sengaja mengingatnya. "Astaga, si mesum Areez benar-benar mencemari otak polosku," gumamnya. "Eh, by the way, Areez akan benar-benar pecat Aku, apa enggak, ya? Kok Aku malah jadi kepikiran, ya? Mau dapat uang dari mana nanti buat bayar hutang, kalau Aku sampai di pecat beneran?" tanyanya bingung sendiri. "Enggak-Enggak, Kamu harus yakin, Ivanna. Tidak masalah kehilangan pekerjaan, demi menjaga sebuah kehormatan!" ucapnya, untuk meyakinkan dirinya sendiri. Ivanna kembali melanjutkan pekerjaannya. Akan tetapi tak lama kemudian ponselnya berdenting, menandakan ada seseorang yang mengirim pesan padanya. Tanpa membuka aplikasi chatt tersebut, Ivanna dapat melihatnya dari layar ponsel bagian atas. "Si mesum lagi. Apa sih, maunya dia?" tanya Ivanna kesal. [Bos Mesum: Saya punya hadiah untukmu, cantik!] "Dih, apa'an, sih? Gak jelas banget!" Ivanna kembali meletakkan ponselnya dengan kasar di atas meja kerjanya. Tok Tok Tok "Masuk!" seru Ivanna, setengah berteriak. Kebetulan pintunya ruangannya selama ini tidak pernah ia kunci. Ceklek! Suara pintu terbuka, namun Ivanna tak langsung menoleh. Matanya tetap fokus menatap layar komputer di depannya, sampai pintu ruangannya tertutup kembali. "Ada apa?" tanyanya, tanpa menoleh, dan tanpa melihat siapa yang datang. "Ivanna, tolong maafkan Saya! Saya tidak bermaksud seperti itu tadi." "Tuan Areez, apa yang Anda lalukan?" ~see you next chapter!"Arrghh."Ivanna mengerang kesakitan seraya memegangi kepalanya. Dengan susah payah ia berusaha membuka matanya yang sangat berat, seperti rekat oleh lem."Sshh, kepalaku sakit sekali." Ivanna meringis kesakitan. Ia masih belum menyadari, jika di sampingnya terdapat seorang pria, yang kini tengah melingkarkan tangannya di perutnya.Mata Ivanna masih tertuju pada langit-langit kamar yang tampak asing baginya. "Di mana ini?" gumamnya bertanya-tanya. Matanya berlanjut menatapi seluruh penjuru ruangan. "Kamar siapa ini?" gumamnya lagi."Apa yang terjadi? Kenapa kepalaku rasanya ingin pecah?"Ivanna memejamkan matanya, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Berharap rasa pusingnya bisa segera menghilang.Ivanna berusaha mengingat kejadian, sebelum dirinya terbaring di tempat ini. Namun yang dapat diingat olehnya, hanyalah saat ia makan, mengerjakan pekerjaan, dan meminum kopi yang di bawakan oleh Ardi. Selain itu, Ivanna juga mengingat, jika semalam ia merasa sangat pusing. Namu
"Ivanna, apa yang Kamu rasakan?" Areez menepuk-nepuk pipi Ivanna, setelah ia menidurkan gadis itu di atas ranjangnya."Akh, Tuan, tubuh Saya terasa sangat panas sekali. Saya gerah, Tuan, tapi Saya pusing."Ivanna bergerak tak karuan. Tubuhnya merasakan hal aneh, yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan sama sekali."Tuan, tolong bantu, Saya! Tubuh Saya gerah sekali. Tolong bawakan es sebanyak mungkin untuk Saya, Tuan!" pinta Ivanna memohon.Areez menjadi bingung di buatnya. Entah apa yang harus ia lakukan. Pasalnya, rasa panas yang di rasakan oleh Ivanna disebabkan oleh efek obat perangsang. Sementara solusinya hanyalah bercinta.Areez ragu untuk melakukannya, karena ia takut Ivanna membencinya. Areez menatap tubuhnya dengan tatapan memuja saja, wanita itu sudah sangat marah. Lantas, bagaimana jika dirinya sampai meniduri wanita itu?Akan tetapi, jika tidak di lakukan, maka akan terjadi hal-hal-hal fatal yang tidak di inginkan. Bisa saja Ivanna mati karena obat perangsang tersebut. Dan
"Euumm, enak sekali."Ivanna menyantap makanannya dengan sangat lahap. Entah siapa orang baik yang telah mengirimkannya makanan. Hingga sangat kebetulan sekali, pada waktu dirinya yang memang sedang kelaparan."Siapa pun itu, Aku sangat berterimakasih," ucapnya, lalu kembali menyantap makanannya. Dua porsi makanan langsung bersih tak tersisa saat itu juga. Sementara minumannya yang juga berjumlah dua. Hanya ia minum satu saja. Sedangkan yang satunya lagi, ia masih menyimpannya dengan rapi di dalam paper bag.Tok Tok TokIvanna menoleh, seraya mengerutkan keningnya. "Siapa, ya?" tanyanya, sedikit mengeraskan suaranya."Permisi, Bu Ivanna! Saya datang untuk mengantarkan kopi," ujar seseorang dari luar."Oh ya, silahkan masuk!" suruh Ivanna.Pintu ruangan Ivanna, dan masuklah seorang pria berpakaian office boy. "Selamat malam, Bu Ivanna!" sapanya dengan ramah, setaya meletakkan kopi hitam, yang masih mengepulkan asap, di meja Ivanna."Malam, Ardi!" balas Ivanna tak kalah ramah.Mereka te
"Tuan Areez, bangun! Apa yang Anda lalukan? Anda atasan Saya, kenapa Anda malah berlutut pada Saya?" Ivanna bangkit dari kursi kerjanya, berpindah dari sana, sebab di hadapannya terdapat Areez yang tengah berlutut, seraya menyodorkan buket bungan, sera coklat.Ivanna benar-benar tak habis fikir. Apa yang sebenarnya terjadi pada atasannya ini, hingga ia berlutut padanya. Padahal yang ia tahu, Areez adalah pria arogan, yang sangat mustahil mengucapkan dua kata berbunyi 'maaf' dan 'terimakasih'. Lantas, apa yang mendorong Areez untuk meminta maaf dan bahkan berlutut padanya? Mungkinkah pria itu kerasukan arwah berhati putih?"Saya akan berdiri kalau Kamu mau memaafkan Saya," ujar Areez, seraya tetap menyodorkan buket bunga dan coklat itu pada Ivanna."Astaga, apa yang terjadi pada si mesum ini?" batin Ivanna bertanya-tanya. Ia memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa berdenyut."Ivanna, Kamu mau, 'kan memaafkan Saya?" tanya Areez, masih tak menyerah.Tak ada pilihan lain. Ivanna harus me
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.