Accueil / Romansa / Kontrak Panas dengan CEO / Bab 44-Permintaan Emir

Partager

Bab 44-Permintaan Emir

Auteur: Cinta94
last update Date de publication: 2026-02-04 23:24:25

Hari ini Azael dan Naufal diminta untuk makan malam bersama di kediaman Emir. Rasanya sudah lama sekali kedua putranya itu tidak mengunjungi dirinya. Di rumah yang sebesar ini dia hidup seorang diri, pria tua ini pun tidak bisa memaksakan para anak muda itu untuk terus bersama dengannya.

Hidangan makan malam sudah tersedia di atas meja. Berbagai masakan yang menjadi kesukaan dari Azael dan Naufal pun menjadi menu utama malam ini.

"Malam, Pa." Sapa Azael begitu dirinya tiba di ruang keluarga
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 58

    "Kenapa aku gak boleh lihat?" Suara itu tiba-tiba saja terdengar dirungu mereka, membuat ketiga orang yang sedang fokus pada layar ponsel itu mengalihkan perhatian mereka menatap pada asal suara. Sungguh ketiganya merasa terkejut. seperti tengah tertangkap basah berselingkuh. "Permisi.." Tiba-tiba saja terdengar suara asing di ruangan mereka ini. "Mba Grace, tumben sekali, apakah ada sesuatu yang mendesak?" Tanya Elliza seraya beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Grace yang berada diambang pintu tepat berdekatan dengan Arabella, karena tidak biasanya sekertaris Direktur Utama turun. Grace tersenyum dengan lembut. "Saya hanya ingin membawa pesan dari Pak Azael." Wanita itu pun memberikan dua paperbag pada Arabella. "Untuk Ibu Arabella," sambungnya. Bella mengkerutkan keningnya, sejak kapan Grace memanggilnya Ibu, formal sekali. "Bapak menitipkan sarapan untuk Ibu dan Tim, awalnya Bapak ingin membawakannya langsung, tetapi beliau harus pergi meeting p

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 57 - Arunika

    Kini Arunika berada di kamar bersama dengan suaminya, dia akan mencoba berbicara dengan sang suami. Dilihat Andi tengah terduduk di pinggiran kasur, dengan nafasnya yang sudah teratur, nampaknya emosinya sudah mereda. Arunika melangkahkan kakinya perlahan menghampiri sang suami, mendudukkan tubuhnya dipinggiran kasur seraya menatap wajah pria yang berada dihadapannya ini. "Hmm, Arabella sudah tumbuh menjadi wanita dewasa, Azelan pun sudah tumbuh remaja. Tidak terasa ya, Yah kedua putra putri kita sudah tumbuh dengan begitu cepat. Ibu merasa, baru kemarin mereka masih berada dalam dekapan tangan Ibu, kemana-mana selalu ikut bersama Ibu, kemana pun Ibu pergi. Sampai Ibu ke toilet pun, mereka tangisi." Ucapa Arunika bernostalgia mengenai kedua anaknya. "Ayah ingat, saat Arabella masuk Sekolah Dasar dulu. Ayah yang dengan antusiasnya mengantarkan Bella ke sekolah, hingga putri kecil kita itu benar-benar masuk ke dalam kelas, barulah Ayah bisa meninggalkannya." Sambungnya. "Tetapi,

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 56-Azelan

    "Lain kali jangan tiba-tiba muncul gitu, kasian kan Giselle, dia pasti kaget banget tadi." Azael hanya melirik sekilas pada Arabella, lalu kembali fokus menyetir."Tapi, apa yang dia katakan ada benarnya. Kamu merasa aku terlalu sibuk dengan pekerjaan?"Pembicaraan mereka mulai serius.Arabella menatap Azael, lalu tersenyum pada pria tampan yang menjadi kekasihnya ini."Hm, kalau dibilang sibuk bukankah memang kamu itu seharusnya sibuk dengan pekerjaan. Akan sangat aneh bukan, jika seorang CEO tidak sibuk dengan pekerjaannya, apakah kamu CEO gadungan." Ucap Arabella dengan tawanya."Asal kamu tahu, aku pun tipe wanita pekerja keras, aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dari pada jalan-jalan. Bukankah kamu seharusnya bangga padaku, hm." Sambungnya membuat pria disampingnya ini tersenyum."Tentu aku harus bangga memiliki kekasih sepertimu," "TIdak, bukan sebagai kekasih, tetapi sebagai karyawan, agar aku bisa mendapatkan kenaikan gaji, karena aku sudah bekerja keras untuk

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 55-Malu

    Kini kedua pria dengan stelan jas yang membuat keduanya tampil gagah dan berwibawa ini, sudah berada disalah satu restoran, dimana client mereka sudah membuat janji. Sebuah ruangan VIP yang dipesan untuk membicarakan bisnis ini."Mereka sudah tiba?""Seharusnya sudah. Karena sesuai janji di jam makan siang." Jawab Naufal seraya melihat jam yang melingkar di peregelangan tangannya.Mereka tetap berjalan menuju ruangan VIP yang sudah clientnya infokan kepada Naufal."Selamat siang, Pak Azael?" Tanya seorang waiters yang berjaga di depan pintu ruangan ini.Azael menganggukkan kepalanya. Si waiters pun membukakan pintu dan mempersilakan Azael serta Naufal untuk masuk.Di dalam sana sudah terduduk seorang pria dengan stelan jas seperti mereka. Pria itu pun bangkit dari duduknya menyambut kedatangan client-nya ini."Selamat siang Pak Azael dan Pak Naufal.""Siang Pak Damar." Jawab Naufal, mereka saling berjabat tangan."Mari, silakan duduk." Kata Damar dengan sopan.Azael meelihat ada tas w

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 54-Prabrik

    Seperti biasa suasa kantor pagi yang riuh. Banyak karyawan yang baru berdatangan, masuk dan tak lupa men-tap kartu mereka agar bisa masuk ke area kantor.Lift yang setiap pagi selalu penuh dan banyak yang mengantri untuk mendapatkan giliran masuk agar mereka bisa tiba di lantai departemen masing-masing.Seorang pria dengan stelan jas hitam, kemeja biru muda, tak lupa dasi yang bertengger di kerah. Baru saja tiba di ruangannya bersama dengan asistennya, lalu mendudukkan tubuhnya di atas kursi kebesarannya ini"Agenda hari ini apa saja?" Tanya pria yang menjabat sebagai CEO di perusahaan ini."Ada beberapa berkas yang harus anda cek dan segera di tanda tangani. Lalu kita akan survei ke pabrik untuk melihat sudah seberapa jauh proses pembuatan sample, masih ada meeting juga dengan beberapa vendor yang ingin bekerjasama dengan produk terbaru kita ini." Jawab sang asiten pribadi."Kita berangkat ke pabrik dan bawa beberapa berkas yang urgent. Selebihnya setelah kembali dari pabrik gue akan

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 53-Kekhawatiran Sang Ayah

    Mobil hitam itu berhenti di samping sebuah toko kue yang sepertinya sudah akan tutup."Terimakasih." Ucapnya malu-malu, karena ini kali pertama dirinya diantar pulang oleh pria yang kini menjabat sebagai kekasihnya."Bisakah aku menerima ucapan terimakasih dalam bentuk lain?" Godanya.Nampak Arabella seolah berfikir, maksud dari kata-kata Azael ini. "Bentuk lain?" Satu alisnya terangkat.Azael menahan senyumannya, lalu mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan sang kekasih. Menunjukkan pipi kirinya pada sang kekasih hati.Arabella tersenyum malu, bagaimana bisa dengan terang-terangannya pria ini menunjukkan hal seperti ini. Dia sangat paham sekali, tetapi tetap saja rasanya malu jika harus diminta seperti ini.Azael masih setia dengan posisinya menunggu Arabella melakukan apa yang seharusnya dia berikan pada dirinya.Melirik ke kana da kiri, menghlangkan rasa gugup dalam hatinya. Dengan cepat Bella pun mencium pipi sang kekasih. Dengan tak tahu malunya, Azael menunjukkan pipi seb

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 4 - Tim Desain

    "Arabella... bangun.... kamu bisa telat ke kantor!" Teriakan melengking yang setiap pagi selalu terdengar menggema di rumah kecil nan sederhana ini. Si pemilik nama pun tengah menggeliatkan badannya di atas kasur. Karena misinya semalam yang membutuhkan waktu ekstra. "Iya, Bu. Aku sudah bangun,

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 3 - Blind Date

    "Lama banget sih!" Gerutu Arabella. Sudah hampir 30 menit dirinya terduduk di kursi seorang diri. Tapi, pria yang dia tunggu-tunggu tak kunjung datang. Arabella mengambil ponselnya yang berada di dalam tas kecilnya, membuka room chatnya dengan Shreya. "Udah dimana Bapak CEO yang super sibuk i

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 2 - Two Man

    "Jadi, hari ini kita kemana?" Tanya seorang pria yang terduduk di kursi belakang mobil. "Sesuai perintah Tuan Emir, kita akan ke kantor terlebih dahulu." Baru saja tiba di tanah air, pria ini sudah harus disibukkan dengan berbagai keinginan sang papa. "Setelah itu, apalagi rencananya?" Tany

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 1 - Ladies

    "Bella, please, ya, ya.. Janji deh, ini yang terakhir," ucap Shreya dengan mengatupkan kedua tangannya dan tak lupa memasang puppy eyes. Arabella memicingkan kedua matanya, menatap sahabatnya. Menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi dengan tangan yang menyilang di dada. Shreya Valerry dan

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status