LOGIN"Arabella... bangun.... kamu bisa telat ke kantor!" Teriakan melengking yang setiap pagi selalu terdengar menggema di rumah kecil nan sederhana ini.
Si pemilik nama pun tengah menggeliatkan badannya di atas kasur. Karena misinya semalam yang membutuhkan waktu ekstra. "Iya, Bu. Aku sudah bangun," sahutnya dengan suara serak khas bangun tidur. Wanita itu pun bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, lalu bersiap menuju kantor. "Bangun tuh pagi, jangan diteriakin Ibu dulu baru bangun lo." Omel sang adik Azelan. Dia adalah adik laki-laki Arabella, adik laki-lakinya masih bersekolah, duduk di kelas 3 SMA. "Berisik lo!" Sahutnya seraya mendudukkan tubuhnya di atas kursi. Mengambil nasi goreng buatan sang ibu, yang selalu menemani pagi mereka. Nasi goreng buatan ibu mereka ini enak, namun jika hampir setiap pagi selalu sarapan dengan ini terkadang mereka pun bosan. "Kapan, Kakak gajian?" Bisik Azelan. Arabella sudah paham, pasti adik laki-lakinya ini ingin dibelikan roti, sereal, dan susu untuk sarapan mereka. "Masih harus menunggu seminggu lagi," jawabnya dengan berbisik karena takut terdengar oleh sang ibu. "Ibu buat menu baru untuk toko kue kita. Kamu bawa satu ke kantor, dan satu lagi kamu berikan pada Shreya. Dan ini untuk Azelan bawa ke sekolah. Dan ini pesanan kue, Ibu Elliza," ucap sang ibu seraya menyodorkan 4 buah kotak kepada anaknya, satu lagi kotaknya lebih besar karena pesanan dari Elliza cukup banyak. "Waw.. Tiramisu Cake," kata Azelan dengan wajah yang berseri kala melihat isi dari kotak tersebut. Arunika tersenyum. Memang kue buatannya tidaklah pernah gagal. "Sudah siang, aku berangkat dulu," pamit Arabella setelah melihat jam yang tertempel di dinding. Azelan pun mengikuti sang kakak, dia harus bergegas jika tidak ingin berakhir berdiri di lapangan. "Hati-hati kalian," teriak Arunika ketika kedua anaknya pergi. Shreya baru saja tiba di depan rumah Arabella, berbarengan dengan wanita itu yang keluar bersama dengan adik laki-lakinya. "Azelan, ayok. Biar Kak Shreya antar," kata Shreya namun mendapatkan gelengan kepala dari anak laki-laki itu. "Di jam segini, kakiku akan lebih cepat dibandingkan mobilmu, Kak." Sahutnya yang membuat Shreya memicingkan satu matanya. "Ok, baiklah. Memang benar," timpalnya. "Aku berangkat ya, Kak," pamitnya kepada Arabella dan Shreya. "Hati-hati, Aze." Arabella pun masuk mobil setelah kepergian Azelan. "Nih, kue terbaru dari Arunika Cake," Arabella memberikan kotak berisikan kue pada Shreya. Mobil Shreya sudah melaju, mereka tidak ingin telat tiba di kantor. "Waw.. Ibu memang the best!" Pujinya kala melihat kue yang Arabella berikan. "Gue berharap gak akan ketemu sama dia lagi, sungguh menyebalkan sekali pria itu!" Gerutu Arabella, serays menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Shreya tersenyum canggung, dia merasa tidak enak pula pada temannya ini. "Jadi, dia ingin bertemu lagi?" "Hm!" "Lo tolak aja!" "Shreya, gue gak sebodoh itu ya. Gue udah tolak, lo tahu kan dia ngancamnya kaya gimana kemarin?" Kesal Arabella. Tidak, Arabella tidak kesal pada sahabatnya. Dia kesal pada Azael yang masih ingin bertemu lagi dengannya. "Hmm, sebenarnya gak masalah kalau dia mau buat rumor itu. Toh, yang bakal jatuh perusahaannya nanti." "Tapi, perusahaan bokap lo yang bakal lebih jatuh nantinya!" "Gue mau ketika bertemu lagi nanti, itu akan dipastikan pertemuan terakhir sama dia!" Lanjut Arabella. Tak terasa mobil Shreya sudah tiba di depan kantor tempat Arabella bekerja. "By, hati-hati!" Begitu Arabella turun dari mobil. Arabella masuk dengan membawa dua goodie bag yang berisikan kue untuk rekan kerjanya dan ini titipan dari sang ibu. Menunggu dan mengantri di depan lift sudah menjadi hal biasa. Hingga mereka yang berada satu divisi bisa bertemu disini. "Bella!" Panggil seseorang saat Bella menatap ke arahnya, dia pun melambaikan tangan dengan senyum lebar lalu sedikit berlari menghampiri teman satu divisinya ini. "Baru dateng atau masih nunggu giliran?" "Menunggu giliran untuk bisa sampai di lantai kita!" Sahutnya. "Bawa apa tuh?" Tanya Giselle kembali. Arabella tersenyum senang ketika Giselle bertanya. Ini pun adalah marketing baginya, karena jika ada acara atau mungkin mereka ingin camilan, maka solusinya adalah Arunika Cake. "Kue baru dari Arunika Cake." "Waw.. gak sabar gue!" Binarnya kala mendengar apa yang Arabella bawa. Begitu pintu lift kembali terbuka dengan gerakan cepat Giselle menarik lengan Arabella dan membawa masuk, karena jika tidak begitu maka mereka tidak akan tiba dengan cepat di lantai tujuan. Disampingnya masih ada lift, dan disitu baru saja tiba 2 pria dengan stelan jasnya. Baru saja tiba mereka sudah bisa masuk ke lift dan bisa tiba di lantai tujuan dengan cepat. Ada 3 lift, 1 khusus untuk CEO dan 2 lagi khusus para karyawan, namun satu lift sedang diperbaiki jadi mereka menggunakan satu lift bersama yang membuat antrian panjang. "Selamat pagi!" Sapa Arabella dan Giselle kala tiba di ruangan dan mendapati dua rekan mereka sudah berada di ruangan. "Ibu Elliza, aku bawa menu baru dari Arunika Cake. Spesial for my team!" Seru Arabella seraya membuka kotak yang ibunya berikan tadi. Mata mereka berbinar kala melihat Tiramisu Cake yang begitu menggoda, dari aromanya pun sungguh memanjakan hidung dan perut. "Arunika Cake memang best sih!" Puji Altair dengan mengacungkan dua jempol. "Ayok, kita sarapan cake dulu sebelum kita sibuk dengan dokumen-dokumen ini!" Seru Elliza. Dia adalah pemimpin tim Desain. Mereka pun mulai mengambil satu potong dan menikmatinya. Satu gigitan saja sudah membuat lidah mereka meleleh. "Gila sih, rasanya meleleh banget di mulut!" Puji Giselle. "Pesanan saya, sudah siapkan?" kata Elliza. "Siap dong!" Sahutnya seraya menunjuk satu kotak besar di atas mejanya. "Untuk rapat hari inikah?" Tanya Altair. "Iya, rapat bersama CEO baru." "Sudah resmikah?" Tanya Giselle karena belum ada acara resmi di kantor. "Peresmiannya akan di adakan minggu depan." Mereka bertiga pun menganggukkan kepala. Karena info yang Elliza berikan selalu benar, tidak pernah salah. "Dan kali ini rapat untuk membahas pembuatan resort terbaru dari AMZ Resort. CEO baru kita meminta perwakilan divisi Desain untuk ikut survei langsung ke lokasi" "Kenapa harus ikut?" Tanya Arabella. "Agar kita bisa menyesuaikan desain di atas kertas dan realnya secara langsung." "Semangat Ibu Elliza!" Seru mereka bertiga bersamaan dengan mengangkat tangan memberikan semangat dan itu membuat Elliza mengkerutkan keningnya. "Kenapa menyemangati saya?" Bingungnya. "Ibu Elliza yang akan terbang bersama CEO dan timnya kan?" Tanya Giselle. Elliza menggelengkan kepalanya. "Aku belum bisa naik pesawat, Bu," kata Giselle. Ya, dia masih memiliki rasa ketakutan karena banyaknya kecelakaan pesawat dan salah satu keluarganya menjadi korban. "Saya mengerti itu!" "Saya ceroboh, Bu," kali ini Altair yang besuara. "Ya, saya pun tahu, saya tidak akan membuat tim kita minus di mata atasan." Lantas mereka bertiga pun melirik Arabella dengan senyuman penuh harap. "Tatapan horor macam apa ini!" Ucapnya seraya melirik teman temannya bergantian.Sore ini Arabella pulang seorang diri, berjalan menuju halte untuk menunggu bus yang akan mengantarkannya ke rumah. Azael sudah mengabari bahwa dia akan mengantarkannya pulang, tetapi Bella menolaknya. Dia tidak mau membuat Azael harus bertemu dengan sang ayah dalam keadaan ayahnya yang masih belum bisa menerima hubungan dirinya dan juga Azael. Selama perjalanan didalam bus, Bella lebih banyak terdiam memandangi jalanan di luar sana yang seolah bergerak. Tatapan mata yang penuh dengan segala macam pemikiran yang disalurkan dari otaknya. Bagaimana cara agar membuat sang ayah bisa menerima hubungan dirinya dengan Azael, membuat cinta pertamanya itu percaya dan yakin pada Azael. Embusan nafas sudah sekian kali wanita ini embuskan, lelah fisiknya tak ia rasakan. Sungguh kelelahan dalam pikirannya yang amat sangat terasa. Halte pemberhentian Bella pun tiba. Dia turun dan kembali berjalan menyusuri trotoar menuju rumahnya. Langkah pelan dia lewati hingga dirinya tiba di depan rumah. To
"Kenapa aku gak boleh lihat?" Suara itu tiba-tiba saja terdengar dirungu mereka, membuat ketiga orang yang sedang fokus pada layar ponsel itu mengalihkan perhatian mereka menatap pada asal suara. Sungguh ketiganya merasa terkejut. seperti tengah tertangkap basah berselingkuh. "Permisi.." Tiba-tiba saja terdengar suara asing di ruangan mereka ini. "Mba Grace, tumben sekali, apakah ada sesuatu yang mendesak?" Tanya Elliza seraya beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Grace yang berada diambang pintu tepat berdekatan dengan Arabella, karena tidak biasanya sekertaris Direktur Utama turun. Grace tersenyum dengan lembut. "Saya hanya ingin membawa pesan dari Pak Azael." Wanita itu pun memberikan dua paperbag pada Arabella. "Untuk Ibu Arabella," sambungnya. Bella mengkerutkan keningnya, sejak kapan Grace memanggilnya Ibu, formal sekali. "Bapak menitipkan sarapan untuk Ibu dan Tim, awalnya Bapak ingin membawakannya langsung, tetapi beliau harus pergi meeting p
Kini Arunika berada di kamar bersama dengan suaminya, dia akan mencoba berbicara dengan sang suami. Dilihat Andi tengah terduduk di pinggiran kasur, dengan nafasnya yang sudah teratur, nampaknya emosinya sudah mereda. Arunika melangkahkan kakinya perlahan menghampiri sang suami, mendudukkan tubuhnya dipinggiran kasur seraya menatap wajah pria yang berada dihadapannya ini. "Hmm, Arabella sudah tumbuh menjadi wanita dewasa, Azelan pun sudah tumbuh remaja. Tidak terasa ya, Yah kedua putra putri kita sudah tumbuh dengan begitu cepat. Ibu merasa, baru kemarin mereka masih berada dalam dekapan tangan Ibu, kemana-mana selalu ikut bersama Ibu, kemana pun Ibu pergi. Sampai Ibu ke toilet pun, mereka tangisi." Ucapa Arunika bernostalgia mengenai kedua anaknya. "Ayah ingat, saat Arabella masuk Sekolah Dasar dulu. Ayah yang dengan antusiasnya mengantarkan Bella ke sekolah, hingga putri kecil kita itu benar-benar masuk ke dalam kelas, barulah Ayah bisa meninggalkannya." Sambungnya. "Tetapi,
"Lain kali jangan tiba-tiba muncul gitu, kasian kan Giselle, dia pasti kaget banget tadi." Azael hanya melirik sekilas pada Arabella, lalu kembali fokus menyetir."Tapi, apa yang dia katakan ada benarnya. Kamu merasa aku terlalu sibuk dengan pekerjaan?"Pembicaraan mereka mulai serius.Arabella menatap Azael, lalu tersenyum pada pria tampan yang menjadi kekasihnya ini."Hm, kalau dibilang sibuk bukankah memang kamu itu seharusnya sibuk dengan pekerjaan. Akan sangat aneh bukan, jika seorang CEO tidak sibuk dengan pekerjaannya, apakah kamu CEO gadungan." Ucap Arabella dengan tawanya."Asal kamu tahu, aku pun tipe wanita pekerja keras, aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dari pada jalan-jalan. Bukankah kamu seharusnya bangga padaku, hm." Sambungnya membuat pria disampingnya ini tersenyum."Tentu aku harus bangga memiliki kekasih sepertimu," "TIdak, bukan sebagai kekasih, tetapi sebagai karyawan, agar aku bisa mendapatkan kenaikan gaji, karena aku sudah bekerja keras untuk
Kini kedua pria dengan stelan jas yang membuat keduanya tampil gagah dan berwibawa ini, sudah berada disalah satu restoran, dimana client mereka sudah membuat janji. Sebuah ruangan VIP yang dipesan untuk membicarakan bisnis ini."Mereka sudah tiba?""Seharusnya sudah. Karena sesuai janji di jam makan siang." Jawab Naufal seraya melihat jam yang melingkar di peregelangan tangannya.Mereka tetap berjalan menuju ruangan VIP yang sudah clientnya infokan kepada Naufal."Selamat siang, Pak Azael?" Tanya seorang waiters yang berjaga di depan pintu ruangan ini.Azael menganggukkan kepalanya. Si waiters pun membukakan pintu dan mempersilakan Azael serta Naufal untuk masuk.Di dalam sana sudah terduduk seorang pria dengan stelan jas seperti mereka. Pria itu pun bangkit dari duduknya menyambut kedatangan client-nya ini."Selamat siang Pak Azael dan Pak Naufal.""Siang Pak Damar." Jawab Naufal, mereka saling berjabat tangan."Mari, silakan duduk." Kata Damar dengan sopan.Azael meelihat ada tas w
Seperti biasa suasa kantor pagi yang riuh. Banyak karyawan yang baru berdatangan, masuk dan tak lupa men-tap kartu mereka agar bisa masuk ke area kantor.Lift yang setiap pagi selalu penuh dan banyak yang mengantri untuk mendapatkan giliran masuk agar mereka bisa tiba di lantai departemen masing-masing.Seorang pria dengan stelan jas hitam, kemeja biru muda, tak lupa dasi yang bertengger di kerah. Baru saja tiba di ruangannya bersama dengan asistennya, lalu mendudukkan tubuhnya di atas kursi kebesarannya ini"Agenda hari ini apa saja?" Tanya pria yang menjabat sebagai CEO di perusahaan ini."Ada beberapa berkas yang harus anda cek dan segera di tanda tangani. Lalu kita akan survei ke pabrik untuk melihat sudah seberapa jauh proses pembuatan sample, masih ada meeting juga dengan beberapa vendor yang ingin bekerjasama dengan produk terbaru kita ini." Jawab sang asiten pribadi."Kita berangkat ke pabrik dan bawa beberapa berkas yang urgent. Selebihnya setelah kembali dari pabrik gue akan
Menenteng keranjang belanjaan dan menyusuri rak-rak yang menyusun macam-macam ciki, roti, dan camilan lainnya. Mengambil beberapa ciki kentang dengan semua varian dia masukan ke dalam keranjang. Hingga keranjang dipenuhi oleh ciki-ciki. Wanita ini pun beralih ke showcase yang berisi minuman dingi
"Bella, kamu siap-siap, saya sudah serahkan profil kamu pada Tuan Azael. Keberangkatan ke Bali di hari jumat minggu ini, dan penerbangan pagi. Jadi, jangan sampai kamu telat, persiapkan segala kebutuhan kamu selama disana." Ucap Elliza memberikan informasi pada Arabella. "Jumat pagi?" Ulangnya mey
"Jadi, hari ini kita kemana?" Tanya seorang pria yang terduduk di kursi belakang mobil. "Sesuai perintah Tuan Emir, kita akan ke kantor terlebih dahulu." Baru saja tiba di tanah air, pria ini sudah harus disibukkan dengan berbagai keinginan sang papa. "Setelah itu, apalagi rencananya?" Tany
"Bella, please, ya, ya.. Janji deh, ini yang terakhir," ucap Shreya dengan mengatupkan kedua tangannya dan tak lupa memasang puppy eyes. Arabella memicingkan kedua matanya, menatap sahabatnya. Menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi dengan tangan yang menyilang di dada. Shreya Valerry dan







