Compartir

Bab 7-Pria Dingin

Autor: Cinta94
last update Última actualización: 2025-12-20 22:37:38

Menenteng keranjang belanjaan dan menyusuri rak-rak yang menyusun macam-macam ciki, roti, dan camilan lainnya. Mengambil beberapa ciki kentang dengan semua varian dia masukan ke dalam keranjang. Hingga keranjang dipenuhi oleh ciki-ciki.

Wanita ini pun beralih ke showcase yang berisi minuman dingin, dia mengambil beberapa minuman bersoda, tak lupa dia pun mengambil beberapa bungkus roti tawar tak lupa slai dan juga messes.

Dua keranjang sudah full dengan belanjaannya, dia pun bergegas menuju kasir untuk membayar semua belanjaanya, 2 goodie bag penuh dia bawa sendiri. Berjalan menuju mobilnya terparkir. Namun...

Bugh...

"Aws.." ringisnya, belanjaannya pun terjatuh, karena bebannya berat mambuat tangannya tidak bisa menahan.

"Maaf, sekali. Maaf, saya tidak sengaja." Ucap si pria menyesal, karena sudah membuat belanjaan orang lain terjatuh.

Shreya merasa kesal, tapi bagaimana lagi sudah terjadi. Dia pun mengambil belanjaannya yang terjatuh dibantu oleh si pria yang sudah menabraknya.

Seluruh belanjaannya sudah masuk kembali ke dalam goodie bag.

"Maaf, Nona," ucap si pria seraya menatap Shreya.

Shreya yang baru selesai pun ikut menatap si pria. Kedua matanya tak henti menatap wajah pria dihadapannya ini. Tampan, itulah yang ada dipikiran Shreya saat ini.

"Nona?" Panggil si pria kembali hingga membuat kesadaran Shreya kembali.

"Oh.. em, ya.. it's ok."

Kenapa Shreya jadi gugup seperti ini, oh tidak bisa dibiarkan seorang Shreya gugup dihadapan pria.

"Saya bantu bawakan sampai mobil."

Shreya hanya menganggukkan kepalanya, tapi dia masih diam mematung menatap si pria.

Hingga si pria bingung dengan tingkah wanita di hadapannya ini. "Nona, dimana mobil anda terparkir?"

Shreya pun sadar dengan sepenuhnya, lalu berjalan lebih dulu menuju mobilnya terparkir. Dia membuka bagasi mobil lalu memasukkan semua belanjaanya ke dalam sana.

"Terimakasih, Tuan.." ucapan Shreya menggantung, sebenarnya lebih ke modus agar mengetahui nama si pria.

"Naufal."

"Oh, iya.. Tuan Naufal, terimakasih."

"Sama-sama, sekali lagi saya minta maaf. Kalau begitu saya permisi." Pamitnya dan lagi-lagi Shreya hanya bisa terdiam dengan kepala yang dia anggukkan.

Naufal pun pergi melanjutkan langkahnya meninggalkan Shreya yang masih setia berdiri di tempatnya seraya menatap punggung pria itu hingga tak lagi terlihat oleh netranya.

Embusan nafas dia keluarkan dengan bahu yang menurun. "Bodoh! Kenapa gak minta nomor hpnya sekalian!" Gerutu Shreya pada dirinya sendiri.

Dia pun berjalan dan masuk ke dalam mobilnya, melajukan mobilnya menuju sebuah rumah sederhana yang berada di lingkungan yang nyaman.

"Selamat malam, Ibu, Ayah." Seru Shreya begitu memasuki rumah sederhana yang membuatnya merasa hangat dan nyaman.

"Shreya."

Shreya tersenyum lalu menyimpan bawaannya di atas meja.

"Kamu bawa apa ini, banyak sekali?" Tanya Arunika.

Shreya sudah menyalimi tangan Arunika dan Andi, ayah Arabella dan Azelan.

"Jajanan untuk, Azelan, Ibu dan Ayah." Jawabnya dengan begitu semangat.

"Wah... untuk aku?" Sambar Azelan, ternyata anak laki-laki itu tengah menonton televisi.

"Dengar makanan aja berfungsi kupingnya." Sindiri Andi, pasalnya sedari tadi anak bungsunya itu tidak ada suaranya sama sekali.

Azelan hanya tersenyum polos.

"Bella, dimana, Bu?"

"Di kamarnya, dia sedang packing."

Shreya mengkerutkan, "mau kemana dia." Pikirnya.

Shreya pun pamit untuk menuju kamar Arabella, dengan membawa ciki kentang kesukaan keduanya dan 2 botol kaleng minuman bersoda.

Terlihat Arabella sedang sibuk memasukkan beberapa keperluannya untuk keberangkatannya nanti.

"Lo mau kabur kemana?" Tanya Shreya yang sudah berada di kamar Bella.

Bella hanya menatapnya sekilas lalu kembali melanjutkan aktifitasnya.

"Healing."

Shreya membuka salah satu ciki yang dia bawa tadi. "Serius lo?"

"Gue ada tugas ke luar kota, bareng sama CEO baru."

Shreya hanya ber oh ria saja. "CEO barunya ganteng gak?"

"Gue belum pernah ketemu."

"Astaga, bisa-bisanya lo gak pernah ketemu sama bos lo, gimana kalau gak sengaja ketemu di luar, trus lo songong sama CEO lo, bisa dipecat lo."

Arabella tak menghiraukan ucapan Shreya yang panjang lebar itu. Dia sudah selesai dengan persiapannya. Setelah duduk lesehan dekat Shreya dan mengambil alih ciki yang berada di tangan sahabatnya itu.

"Tumben ke rumah, mau ngungsi ya lo?"

Shreya hanya tersenyum dengan deretan giginya yang terlihat.

"Bee gue di rumah. Hm, apa gue pindah rumah aja ya, tidur di kamar lo."

Bella menggelengkan kepalanya mendengar ocehan sahabatnya ini, karena bukan kali pertama dia mengatakan hal ini.

"Kamar gue gak nerima penghuni baru."

"Pelit lo. Oh iya, lo tau gak, tadi gue ketemu sama cowok, gila... gila... handsome banget, aah.. baru kali ini gue berdebar lihat cowok," ucapnya dengan sorot mata yang berbinar lalu bibir yang tersenyum manis.

Bella menatap sahabatnya ini dengan tatapan geli, lalu melemparkan satu potong cikinya.

"Lo sehat, Shreya?" Bukan kenapa, tetapi ini kali pertana Shreya mengatakan dirinya berdebar dengan melihat seorang pria. Sebelumnya, sulit sekali menaklukan hati wanita satu ini.

"Gue sehat ya, makannya gue bisa ngelihat cowok ganteng. Aah... demi apapun, gue pengen ketemu dia lagi, berharap banget bisa ketemu lagi" harapnya dengan kedua mata yang dia pejamkan lalu dibukanya kembali.

"Siapa namanya?"

"Naufal."

"Ketemu dimana?"

"Di minimarket tadi. Gue yakin sih, dia jodoh gue, karena pertemuan kita yang tanpa sengaja dan sudah bikin hati gue berbunga-bunga."

"Lo tanya nama doang?" Tanya Arabella.

Shreya mengangguk. "Terus, gue harus nanya apalagi?"

"Nomor hp misalnya."

"Itu dia, gue lupa. Tadi, kebanyakan ngelamunnya gue, jadi lupa dengan hal sebesar ini,"

"Kurang pro lo." Ledek Bella.

"Sialan lo, kaya yang udah pro aja"

Mereka kembali menikmati camilan, sesekali meminum minuman bersoda.

Terdengar bunyi notifikasi masuk, keduanya memeriksakan ponsel masing-masing, karena suara notifikasi pesan masuk keduanya sama.

"Hp gue," celetuk Bella kala Shreya akan menyalakan layar ponselnya.

Dia pun membuka pesan masuk dari nomor yang tidak dia kenal, keningnya berkerut, jempolnya pun mengklik pesan masuk di aplikasi room chat.

"Sabtu sore, di restoran bintang."

Seperti itulah pesan yang masuk. "Nomor siapa ini." Gumamnya dan masih terdengar oleh Shreya.

"Siapa?"

Bella menggelengkan kepalanya. "Nomor baru."

Tak lama ponsel Bella kembali berbunyi.

"Si pecinta kopi."

Kedua mata Bella pun langsung membulat sempurna kala membaca pesan masuk selanjutnya.

"Si pria dingin."

Shreya pun menatap Bella dengan mata yang membulat sempurna, lantas Bella menunjukkan isi pesannya pada sahabatnya ini.

"Lo berangkat kapan?"

"Jumat pagi,"

"Balik?"

"Sabtu. Tapi, gue gak tau Sabtu itu jam berapa. Gimana ini, Shrey." Panik Bella.

"Ok, tenang, tenang, relaks. Kita pikirkan gimana biar nanti lo bisa terbang duluan," ucap Shreya menenangkan, padahal dia pun bingung harus bagaimana.

Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing, bagaimana untuk pertemuan Bella dan Azael nanti.

"Arabella... Shreya... ayok, makan malam dulu." Teriak Arunika dari luar kamar.

"Kita makan dulu, isi amunisi biar pikiran kita lebih baik." Ajak Shreya, padahal memang dia ini lapar, dan masakan Arunika adalah masakan terenak untuknya.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 24-Saham

    Para dewan direksi sudah mulai berdatangan, sebagian sudah terduduk di kursi ruang rapat. Mereka saling menyapa satu sama lain. Hingga ruang rapat sudah dipenuhi oleh para dewan direksi dan petinggi Zayn Holding lainnya. Permintaan Tuan Emir untuk mengadakan rapat internal ini, membuat sebagian dari mereka bertanya-tanya. Dua pria muda diantara para pria paruh baya lainnya baru saja tina di ruang rapat ini. Mereka mendudukkan tubuhnya masing-masing di kursi yang saling berhadapan, untuk kursi yang masih kosong tepatnya berada di tengah-tengah, itu akan diisi oleh Tuan Emir, selaku pemilik Zayn Holding. Tak lama terdengar suara derap sepatu, yang mereka yakini itu adalah Tuan Emir. Para peserta rapat pun bangkit dari kursi mereka, menyambut kedatangan Tuan Emir, selaku pemilik perusahaan dan juga saham Zayn Holding. Tuan Emir terdenyum pada para peserta rapat. Pria paruh baya itu berjalan menuju kursinya dan langsung mendudukkan tubuhnya di sana. "Selamat siang, semuanya."

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 23-Approved

    Arabella berjalan dengan senyum yang terus tersungging di wajahnya, membuat rekan satu timnya mengira jika proposal Arabella di acc. "Bella, sukseskah?" Tanya Eliza. Dengan tersenyum manis dia menggelengkan kepalanya, lalu mendudukkan tubuhnya di atas kursi putarnya. Eliza, Giselle, dan Altair saling menatap satu sama lain, melihat ekspresi yang Arabella tunjukkan. "Lalu, kenapa kamu tersenyum seperti itu, Nona?" Tanya Altair dengan ekspresi wajah keheranan. "Karena aku senang," "Hah!" Kompak ketiga rekannya menjawab. "Senang? Kan proposal lo belum acc, Bel?" Kali ini Giselle yang membuka suara. Dia hanya tersenyum seraya melihat wajah rekan-rekannya bergantian. "Kita buat kembali!" Serunya dengan semangat. Tatapan heran dari rekan-rekannya terus dia terima, tetapi Arabelle terus fokus pada layar komputernya. ** Di ruangan Azael, pria itu masih mencerna ekspresi yang Arabella tunjukkan tadi. Bagaimana bisa wanita itu terus tersenyum disaat dirinya terus meminta revisi, da

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 22-Senyuman

    "Jadi, lo ada perjanjian sama Azael?" Teriak Shreya.Arabella hanya mengangguk malas."Lo ingat setelah pertemuan waktu itu, dia gak ada hubungin gue sama sekali. Itu, gue habis tolak perjanjian dia, karena isinya sama sekali tidak menguntungkan buat gue." Ucap Arabella, dengan setia Shreya mendengarkannya."Dan kemarin dia ngasih lagi surat perjanjian sama gue, setelah gue baca, isi perjanjian kali ini sama-sama saling menguntungkan bagi kedua belah pihak," lanjutnya."Apa isi perjanjiannya?" Penasaran Shreya."Pertama, pekerjaan ini dianggap lembur, jadi gue akan dibayar kalau gue jalanin misi. Kedua, pihak kedua harus selalu siap kapan saja jika pihak pertama membutuhkan, tetapi di luar jam kerja. Ketiga, tidak akan ada pishical touch dalam perjanjian ini, jika melanggar maka akan dikenakan denda, baik itu dari pihak pertama atau pun kedua, hukuman ini berlaku." "Waw... perjanjian macam apa ini,"Arabella hanya mengedikkan bahunya acuh."Isi perjanjiannya cuman ada 3?""Keempat, j

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 21-Revisi Lagi

    Jam sudah menunjukkan pukul 15.30, tim desain I masih disibukkan dengan pekerjaan mereka. Proposal Eliza sudah selesai dan approved, tetapi proposal Arabella harus direvisi ulang, membuat rekan-rekan dari tim desain merasa aneh. Altair dan Giselle baru rampung mengerjakan setengah dari desain mereka. Arabella bangkit dari kursinya, dengan map yang dia bawa. "Semangat, semoga kali ini langsung acc." Ucap Eliza menyemangati. Bella pun tersenyum dengan kepala yang dia anggukkan. Dia pun keluar dari ruangan dan berjalan menuju lift, untuk mengantarkannya ke ruangan CEO. "Pertama kalinya dalam sejarah, proposal Arabella Zayana dimintai revisi. Sebelumnya selalu approved. Apa benar gosip yang beredar itu," celetuk Giselle, membuat perhatian Eliza dan Altair tertuju padanya. "Gosip apa?" Penasaran Altair. "Gosip tentang CEO baru kita, pekerjaan apapun harus sempurna, tidak boleh ada noda sedikit pun. Dan satu lagi, jangan pernah menyinggung perasaannya, akibatnya akan fatal."

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 20-Proposal

    "Gaiis.. hari ini kita akan bagi tugas lebh dahulu, agar semuanya bisa selesai lebih cepat dan kita serahkan ke Pak Azael untuk dicek," intruksi Eliza pada rekan rekannya."Untuk desain kita kerjakan bersama. Untuk proposal saya minta Arabella yang pegang, saya mau untuk proposalnya bisa selesai sebelum makan siang, karena harus dicek terlebih dahulu oleh Pak Azael. Saya akan buat proposal lainnya."Mereka pun mulai fokus pada pekerjaannya masing-masing, untuk saat ini desain akan dikerjakan oleh Giselle dan Altair, karena Arabella dan Eliza sedang fokus pada poposal mereka, yang harus segera diserahkan pada Departemen Keuangan dan mereka akan mencari dana dari para pemegang saham.Waktu terus berjalan tanpa mereka sadari, karena terlalu fokus pada pekerjaan mereka. "Bu Eliza, saya sudah kirimkan ke email anda, dua proposal yang sudah selesai, kalau sudah approved akan segera sayas cetak,"Eliza menganggukkan kepalanya seraya membuka email masuk dari Arabella, mulai membaca dan melih

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 19-Terbongkar

    Restoran Bintang...Arabella dan Azael sudah terduduk dengan saling berhadapan. Sudah ada dua gelas minuman di atas meja, keduanya tiba bersamaan tadi, jadi tidak ada drama saling menunggu.Jelas sekali Arabella mrasa gugup saat ini, bagaimana tidak, karena pria yang berada di hadapannya ini adalah CEO di kantornya. Jika pria ini tahu kalau dirinya adalah karyawan di peusahaannya, maka tamat sudah karirnya."Akan menghadiri acara atau baru selesai dengan acara?" Tanya Azael, akhirnya dialah yang membuka suara."Baru selesai dengan acara, kebetulan ada acara di kantor tadi," jawabnya dengan senyum canggung diakhir.Azael pun hanya tersenyum dengan kepala yang dia anggukkan.Terdengar Arabella berdehem, sebelum dia kembali membuka suara. "JAdi, ada keperluan apa anda menghubungi saya, setelah beberapa hari kemarin anda tidak memberikan kabar?" ups.. rasanya Arabella baru menyadari pertanyaan terakhir seharusnya tidak dia ucapkan."Em.. maksud saya, apakah masih ada yang harus kita bicar

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status