MasukMenenteng keranjang belanjaan dan menyusuri rak-rak yang menyusun macam-macam ciki, roti, dan camilan lainnya. Mengambil beberapa ciki kentang dengan semua varian dia masukan ke dalam keranjang. Hingga keranjang dipenuhi oleh ciki-ciki.
Wanita ini pun beralih ke showcase yang berisi minuman dingin, dia mengambil beberapa minuman bersoda, tak lupa dia pun mengambil beberapa bungkus roti tawar tak lupa slai dan juga messes. Dua keranjang sudah full dengan belanjaannya, dia pun bergegas menuju kasir untuk membayar semua belanjaanya, 2 goodie bag penuh dia bawa sendiri. Berjalan menuju mobilnya terparkir. Namun... Bugh... "Aws.." ringisnya, belanjaannya pun terjatuh, karena bebannya berat mambuat tangannya tidak bisa menahan. "Maaf, sekali. Maaf, saya tidak sengaja." Ucap si pria menyesal, karena sudah membuat belanjaan orang lain terjatuh. Shreya merasa kesal, tapi bagaimana lagi sudah terjadi. Dia pun mengambil belanjaannya yang terjatuh dibantu oleh si pria yang sudah menabraknya. Seluruh belanjaannya sudah masuk kembali ke dalam goodie bag. "Maaf, Nona," ucap si pria seraya menatap Shreya. Shreya yang baru selesai pun ikut menatap si pria. Kedua matanya tak henti menatap wajah pria dihadapannya ini. Tampan, itulah yang ada dipikiran Shreya saat ini. "Nona?" Panggil si pria kembali hingga membuat kesadaran Shreya kembali. "Oh.. em, ya.. it's ok." Kenapa Shreya jadi gugup seperti ini, oh tidak bisa dibiarkan seorang Shreya gugup dihadapan pria. "Saya bantu bawakan sampai mobil." Shreya hanya menganggukkan kepalanya, tapi dia masih diam mematung menatap si pria. Hingga si pria bingung dengan tingkah wanita di hadapannya ini. "Nona, dimana mobil anda terparkir?" Shreya pun sadar dengan sepenuhnya, lalu berjalan lebih dulu menuju mobilnya terparkir. Dia membuka bagasi mobil lalu memasukkan semua belanjaanya ke dalam sana. "Terimakasih, Tuan.." ucapan Shreya menggantung, sebenarnya lebih ke modus agar mengetahui nama si pria. "Naufal." "Oh, iya.. Tuan Naufal, terimakasih." "Sama-sama, sekali lagi saya minta maaf. Kalau begitu saya permisi." Pamitnya dan lagi-lagi Shreya hanya bisa terdiam dengan kepala yang dia anggukkan. Naufal pun pergi melanjutkan langkahnya meninggalkan Shreya yang masih setia berdiri di tempatnya seraya menatap punggung pria itu hingga tak lagi terlihat oleh netranya. Embusan nafas dia keluarkan dengan bahu yang menurun. "Bodoh! Kenapa gak minta nomor hpnya sekalian!" Gerutu Shreya pada dirinya sendiri. Dia pun berjalan dan masuk ke dalam mobilnya, melajukan mobilnya menuju sebuah rumah sederhana yang berada di lingkungan yang nyaman. "Selamat malam, Ibu, Ayah." Seru Shreya begitu memasuki rumah sederhana yang membuatnya merasa hangat dan nyaman. "Shreya." Shreya tersenyum lalu menyimpan bawaannya di atas meja. "Kamu bawa apa ini, banyak sekali?" Tanya Arunika. Shreya sudah menyalimi tangan Arunika dan Andi, ayah Arabella dan Azelan. "Jajanan untuk, Azelan, Ibu dan Ayah." Jawabnya dengan begitu semangat. "Wah... untuk aku?" Sambar Azelan, ternyata anak laki-laki itu tengah menonton televisi. "Dengar makanan aja berfungsi kupingnya." Sindiri Andi, pasalnya sedari tadi anak bungsunya itu tidak ada suaranya sama sekali. Azelan hanya tersenyum polos. "Bella, dimana, Bu?" "Di kamarnya, dia sedang packing." Shreya mengkerutkan, "mau kemana dia." Pikirnya. Shreya pun pamit untuk menuju kamar Arabella, dengan membawa ciki kentang kesukaan keduanya dan 2 botol kaleng minuman bersoda. Terlihat Arabella sedang sibuk memasukkan beberapa keperluannya untuk keberangkatannya nanti. "Lo mau kabur kemana?" Tanya Shreya yang sudah berada di kamar Bella. Bella hanya menatapnya sekilas lalu kembali melanjutkan aktifitasnya. "Healing." Shreya membuka salah satu ciki yang dia bawa tadi. "Serius lo?" "Gue ada tugas ke luar kota, bareng sama CEO baru." Shreya hanya ber oh ria saja. "CEO barunya ganteng gak?" "Gue belum pernah ketemu." "Astaga, bisa-bisanya lo gak pernah ketemu sama bos lo, gimana kalau gak sengaja ketemu di luar, trus lo songong sama CEO lo, bisa dipecat lo." Arabella tak menghiraukan ucapan Shreya yang panjang lebar itu. Dia sudah selesai dengan persiapannya. Setelah duduk lesehan dekat Shreya dan mengambil alih ciki yang berada di tangan sahabatnya itu. "Tumben ke rumah, mau ngungsi ya lo?" Shreya hanya tersenyum dengan deretan giginya yang terlihat. "Bee gue di rumah. Hm, apa gue pindah rumah aja ya, tidur di kamar lo." Bella menggelengkan kepalanya mendengar ocehan sahabatnya ini, karena bukan kali pertama dia mengatakan hal ini. "Kamar gue gak nerima penghuni baru." "Pelit lo. Oh iya, lo tau gak, tadi gue ketemu sama cowok, gila... gila... handsome banget, aah.. baru kali ini gue berdebar lihat cowok," ucapnya dengan sorot mata yang berbinar lalu bibir yang tersenyum manis. Bella menatap sahabatnya ini dengan tatapan geli, lalu melemparkan satu potong cikinya. "Lo sehat, Shreya?" Bukan kenapa, tetapi ini kali pertana Shreya mengatakan dirinya berdebar dengan melihat seorang pria. Sebelumnya, sulit sekali menaklukan hati wanita satu ini. "Gue sehat ya, makannya gue bisa ngelihat cowok ganteng. Aah... demi apapun, gue pengen ketemu dia lagi, berharap banget bisa ketemu lagi" harapnya dengan kedua mata yang dia pejamkan lalu dibukanya kembali. "Siapa namanya?" "Naufal." "Ketemu dimana?" "Di minimarket tadi. Gue yakin sih, dia jodoh gue, karena pertemuan kita yang tanpa sengaja dan sudah bikin hati gue berbunga-bunga." "Lo tanya nama doang?" Tanya Arabella. Shreya mengangguk. "Terus, gue harus nanya apalagi?" "Nomor hp misalnya." "Itu dia, gue lupa. Tadi, kebanyakan ngelamunnya gue, jadi lupa dengan hal sebesar ini," "Kurang pro lo." Ledek Bella. "Sialan lo, kaya yang udah pro aja" Mereka kembali menikmati camilan, sesekali meminum minuman bersoda. Terdengar bunyi notifikasi masuk, keduanya memeriksakan ponsel masing-masing, karena suara notifikasi pesan masuk keduanya sama. "Hp gue," celetuk Bella kala Shreya akan menyalakan layar ponselnya. Dia pun membuka pesan masuk dari nomor yang tidak dia kenal, keningnya berkerut, jempolnya pun mengklik pesan masuk di aplikasi room chat. "Sabtu sore, di restoran bintang." Seperti itulah pesan yang masuk. "Nomor siapa ini." Gumamnya dan masih terdengar oleh Shreya. "Siapa?" Bella menggelengkan kepalanya. "Nomor baru." Tak lama ponsel Bella kembali berbunyi. "Si pecinta kopi." Kedua mata Bella pun langsung membulat sempurna kala membaca pesan masuk selanjutnya. "Si pria dingin." Shreya pun menatap Bella dengan mata yang membulat sempurna, lantas Bella menunjukkan isi pesannya pada sahabatnya ini. "Lo berangkat kapan?" "Jumat pagi," "Balik?" "Sabtu. Tapi, gue gak tau Sabtu itu jam berapa. Gimana ini, Shrey." Panik Bella. "Ok, tenang, tenang, relaks. Kita pikirkan gimana biar nanti lo bisa terbang duluan," ucap Shreya menenangkan, padahal dia pun bingung harus bagaimana. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing, bagaimana untuk pertemuan Bella dan Azael nanti. "Arabella... Shreya... ayok, makan malam dulu." Teriak Arunika dari luar kamar. "Kita makan dulu, isi amunisi biar pikiran kita lebih baik." Ajak Shreya, padahal memang dia ini lapar, dan masakan Arunika adalah masakan terenak untuknya."Lain kali jangan tiba-tiba muncul gitu, kasian kan Giselle, dia pasti kaget banget tadi." Azael hanya melirik sekilas pada Arabella, lalu kembali fokus menyetir."Tapi, apa yang dia katakan ada benarnya. Kamu merasa aku terlalu sibuk dengan pekerjaan?"Pembicaraan mereka mulai serius.Arabella menatap Azael, lalu tersenyum pada pria tampan yang menjadi kekasihnya ini."Hm, kalau dibilang sibuk bukankah memang kamu itu seharusnya sibuk dengan pekerjaan. Akan sangat aneh bukan, jika seorang CEO tidak sibuk dengan pekerjaannya, apakah kamu CEO gadungan." Ucap Arabella dengan tawanya."Asal kamu tahu, aku pun tipe wanita pekerja keras, aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dari pada jalan-jalan. Bukankah kamu seharusnya bangga padaku, hm." Sambungnya membuat pria disampingnya ini tersenyum."Tentu aku harus bangga memiliki kekasih sepertimu," "TIdak, bukan sebagai kekasih, tetapi sebagai karyawan, agar aku bisa mendapatkan kenaikan gaji, karena aku sudah bekerja keras untuk
Kini kedua pria dengan stelan jas yang membuat keduanya tampil gagah dan berwibawa ini, sudah berada disalah satu restoran, dimana client mereka sudah membuat janji. Sebuah ruangan VIP yang dipesan untuk membicarakan bisnis ini."Mereka sudah tiba?""Seharusnya sudah. Karena sesuai janji di jam makan siang." Jawab Naufal seraya melihat jam yang melingkar di peregelangan tangannya.Mereka tetap berjalan menuju ruangan VIP yang sudah clientnya infokan kepada Naufal."Selamat siang, Pak Azael?" Tanya seorang waiters yang berjaga di depan pintu ruangan ini.Azael menganggukkan kepalanya. Si waiters pun membukakan pintu dan mempersilakan Azael serta Naufal untuk masuk.Di dalam sana sudah terduduk seorang pria dengan stelan jas seperti mereka. Pria itu pun bangkit dari duduknya menyambut kedatangan client-nya ini."Selamat siang Pak Azael dan Pak Naufal.""Siang Pak Damar." Jawab Naufal, mereka saling berjabat tangan."Mari, silakan duduk." Kata Damar dengan sopan.Azael meelihat ada tas w
Seperti biasa suasa kantor pagi yang riuh. Banyak karyawan yang baru berdatangan, masuk dan tak lupa men-tap kartu mereka agar bisa masuk ke area kantor.Lift yang setiap pagi selalu penuh dan banyak yang mengantri untuk mendapatkan giliran masuk agar mereka bisa tiba di lantai departemen masing-masing.Seorang pria dengan stelan jas hitam, kemeja biru muda, tak lupa dasi yang bertengger di kerah. Baru saja tiba di ruangannya bersama dengan asistennya, lalu mendudukkan tubuhnya di atas kursi kebesarannya ini"Agenda hari ini apa saja?" Tanya pria yang menjabat sebagai CEO di perusahaan ini."Ada beberapa berkas yang harus anda cek dan segera di tanda tangani. Lalu kita akan survei ke pabrik untuk melihat sudah seberapa jauh proses pembuatan sample, masih ada meeting juga dengan beberapa vendor yang ingin bekerjasama dengan produk terbaru kita ini." Jawab sang asiten pribadi."Kita berangkat ke pabrik dan bawa beberapa berkas yang urgent. Selebihnya setelah kembali dari pabrik gue akan
Mobil hitam itu berhenti di samping sebuah toko kue yang sepertinya sudah akan tutup."Terimakasih." Ucapnya malu-malu, karena ini kali pertama dirinya diantar pulang oleh pria yang kini menjabat sebagai kekasihnya."Bisakah aku menerima ucapan terimakasih dalam bentuk lain?" Godanya.Nampak Arabella seolah berfikir, maksud dari kata-kata Azael ini. "Bentuk lain?" Satu alisnya terangkat.Azael menahan senyumannya, lalu mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan sang kekasih. Menunjukkan pipi kirinya pada sang kekasih hati.Arabella tersenyum malu, bagaimana bisa dengan terang-terangannya pria ini menunjukkan hal seperti ini. Dia sangat paham sekali, tetapi tetap saja rasanya malu jika harus diminta seperti ini.Azael masih setia dengan posisinya menunggu Arabella melakukan apa yang seharusnya dia berikan pada dirinya.Melirik ke kana da kiri, menghlangkan rasa gugup dalam hatinya. Dengan cepat Bella pun mencium pipi sang kekasih. Dengan tak tahu malunya, Azael menunjukkan pipi seb
Hari ini mereka kembali bekerja seperti biasa di kantor, setelah kemarin sibuk dengan urusan resort, kali ini mereka akan kembali sibuk dengan produk terbaru yang akan diproduksi oleh Zayn Holding, yaitu food product. "Selamat pagi gais.." seru Arabella menyapa rekan satu divisinya ini. Ketiga rekan kerjanya pun menolehkan kepala mereka menatap Arabella yang masih berdiri di ambang pintu. Bella pun berjalan menuju mejanya, lalu menyimpan makanan yang dia bawa dari Bali kemarin. "Gue bawain makanan. Ceritanya sih oleh-oleh," ucapnya lagi. Altair bangkit dari kursinya menghampiri Arabella. "Kenapa repot-repot sih, kan jadi enak." Sahutnya. "Ehem..." Eliza berdehem, lalu menatap Arabella. Seketika suasana menjadi sedikit canggung, Bella pun tidak paham dengan kondisi ini. Dia menatap ketiga rekannya bergantian. "Ada apa, Bu? Ada sesuatu yang urgent?" "Arabella, jangan sembunyikan ini lagi dari kita, katakan yang sejujur jujurnya, gosip ini sudah tersebar diseluruh kanto
Lyana mencari tahu latar belakang Azael. Dia membuka internet untuk memastikan siapa Azael sebenarnya. Kenapa bisa dia tidak mencurigai Azael dari awal. Lyana mengira jika Azael hanyalah seorang karyawan biasa di perusahaan itu, tanpa mengetahui nama belakang pria itu. Matanya terfokus pada layar laptopnya, disana terdapat biodata Azael yang merupakan seorang putra tunggal dari seorang pengusaha ternama di negeri ini. "Azael Malik Zayn," tersenyum sinis kala menyebutkan nama Azael. "Bagaimana bisa lo ketemu dengan pria seperti Azael, Arabella Zayana." Sambungnya. Nampak jelas sekali kekesalan di raut wajah Lyana, kala dia memikirkan bagaimana jalan hidup dan kisah cinta Arabella. Dia terus menggulir informasi di internet mengenai Azael, hingga saat masuk ke artikel selanjutnya, ide liciknya pun bekerja. Tersenyum dengan lebar kala dia memikirkan hal ini. ** Di dalam kamar, dua orang wanita sedang merapihkan barang-barangnya, karena esok hari mereka akan check out dan kembali te







