Share

Bab 5 - Profil

Author: Cinta94
last update publish date: 2025-11-20 22:44:12

Mobil dengan lambang RR dibagian depan itu berhenti di depan lobby. Seorang vallet membukakan pintu belakang. Yang pertama terlihat adalah sepatu fantopel hitam mengkilap, setelahnya barulah penampakan pria tinggi, tampan, dan mempesona.

Mengaitkan kancing jas kemaja, lalu dia pun mulai berjalan dengan seorang pria yang selalu mengekorinya di belakang. Setiap langkahnya membuat mereka yang berada di gedung ini menundukkan kepala memberikan hormat.

"Kenapa mereka menumpuk di depan lift?" Tanyanya kala matanya melihat para karyawan tengah berdiri di depan lift. Tak lama dari itu pintu lift terbuka dan sebagian karyawan masuk, sebagian lagi masih menunggu.

"Lift sebelahnya masih dalam tahap perbaikan, jadi membuat mereka harus mengantri untuk bisa menggunakan lift."

"Tidak bisakah perbaikan lift dipercepat. Mengganggu sekali!"

"Sudah sesuai SOP."

Kedua pria ini pun tiba di depan lift. Si pria yang selalu berdiri di belakang menekan tombol lift agar terbuka. Barulah keduanya masuk.

"Jadwal rapat hari ini pukul 09.00," ucap Naufal.

"Kapan kita terbang untuk survei?"

"Minggu ini, di hari jumat."

Azael menolehkan kepalanya, dengan kedua tangan yang setia tenggelam dalam saku.

"Berapa hari?"

"Sabtu malam, jika mau kita sudah kembali."

"Apa kamu masih mau menemui, Nona Shreya?" Sambung Naufal.

Azael nampak berfikir. "Lihat nanti saja."

"Tidak biasanya kau mau bermain-main dengan seorang wanita."

Pintu lift pun terbuka, mereka sudah sampai, tepat di ruangan CEO. Kini sekertaris Emir pun menjadi sekertarisnya. Gracellyn, dia yang akan mengurus urusan di kantor. Selebihnya akan menjadi urusan Naufal.

Sebenarnya Azael tidak terlalu membutuhkan Gracellyn, tetapi karena dia sudah bekerja dengan sang ayah cukup lama, maka Azael memutuskan untuk membiarkan dia tetap menjabat sebagai sekertaris.

"Selamat pagi, Tuan Azael," sapanya seraya berdiri dari duduknya.

"Pagi, Grace." Jawab Naufal, karena Azael tidak mungkin menjawabnya.

Azael langsung masuk ke ruangannya, terduduk di atas kursi putarnya.

"Mana berkas untuk rapat pagi ini." Pintanya.

Naufal memberikan berkas yang sudah dia siapkan. Azael membaca dan memahaminya. Tidak butuh waktu lama bagi pria ini untuk mempelajari berkas.

Ketukan pintuk terdengar, hingga suara Azael terdengar barulah pintu terbuka dan menampilkan seorang wanita dengan membawa 2 cangkir teh serta dua potong cake.

"Kopi untuk anda, Tuan," kata Grace seraya menyajikan kopi dan cake di atas meja Azael.

Azael menatap cake yang Grace bawakan. "Cake?"

Grace mengangguk. "Untuk sarapan anda, Tuan."

Tak ada lagi kata yang keluar dari mulut Azael, hingga Naufal yang bersuara. "Terimakasih, Grace."

Gracellyn mengangguk dengan senyum terulas di wajahnya. Wanita itu pun kembali ke tempatnya.

"Lo itu bisa gak sih, lebih manis sedikit sama cewek."

Naufal pun mendapatkan tatapan tajam setelah mengatakan hal itu dari pria di hadapannya ini.

"Sepertinya cake itu enak," ucap Naufal melihat 2 potong cake di atas meja.

"Mata lo makanan mulu," cuek Azael.

Naufal memakannya satu gigit, kedua matanya langsung bebinar begitu memakan cake ini.

"Sumpah, ini cake terenak yang pernah gue makan. Begitu masuk mulut cakenya langsung lumer!" Serunya dan memakan lagi cake yang masih tersisa di piringnya.

Azael melihat Naufal yang begitu berbinar kala memakan setiap gigitan cake itu. Awalnya dia ingin acuh, tetapi indra perasa Naufal itu tidak pernah salah.

Dia pun mengambil jatah cakenya, mencoba dalam satu suapan. Dan, ya.. benar apa yang Naufal katakan, cakenya langsung lumer saat masuk ke dalam mulut.

Naufal melihat Azael yang juga dia menyukai cake ini. Meskipun pria itu hanya terdiam, tetapi Naufal tahu jika dia menyukai cake ini.

"Mau gue tanyain gak?" Goda Naufal dan dia sudah tahu apa jawaban Azael.

"Gak.. Lanjut kerja," cueknya. Padahal dia penasaran akan cake ini.

Hingga waktu terus berjalan, kini waktunya mereka menuju ruang rapat.

Ruang rapat sudah terisi oleh para pemimpin setiap divisi, kedua pria ini masuk dan mereka yang berada di dalam pun berdiri dari duduknya, menyambut kedatangan sang CEO.

"Selamat pagi, Tuan Azael."

"Pagi," sahutnya singkat.

Setelah Azael duduk, barulah mereka kembali duduk di atas kursinya kembali.

Azael membuka rapat pagi ini, dia membahas masalah pembangunan AMZ Resort. Karena ini adalah proyek pertamanya ketika dia menjabat sebagai CEO.

Meskipun Emir sudah tak lagi menjabat atau berurusan dengan kantor secara langsung, tapi dia tetap memantaunya dari jauh. Bukan dia tidak percaya pada putranya, dia sedang meninjau kinerja sang putra.

"Apa anda sudah memilih siapa yang akan ikut survei?" Tanya Azael pada Elliza.

"Sudah, Pak. Saya sudah memilih satu orang terbaik dari tim kami yang akan ikut langsung meninjau tempat untuk resort kita."

"Berikan profilnya pada Naufal, nanti akan saya tinjau."

"Baik, Pak."

"Saya mau setelah survei ini, semua dikerjakan dengan cepat, tepat dan akurat. Agar pembangunan ini bisa lancar dan selesai tepat waktu. Saya mohon kerjasamanya, jangan sampai ada kesalahan dari proyek ini."

"Baik, Pak."

Azael melihat cake di atas meja. Apa setiap rapat memang disediakan cake seperti ini.

"Siapa yang menyiapkan ini semua?" Tanya Azael melihat satu-satu wajah karyawannya.

Dengan tanpa ragu Elliza mengangkat tangannya. "Saya yang menyiapkan semuanya."

"Anda bisa membuat cake?" Penasaran Azael.

"Oh, bukan. Tapi, salah satu dari tim kami memiliki toko kue, dan saya sering memesan untuk acara rapat. Apakah anda suka, Tuan Azael?"

Azael mengangguk tanpa ragu, tumben sekali pria ini tidak jual mahal.

Naufal tersenyum meledek, benar apa yang dia pikirkan, Azael penasaran dengan cake itu.

Elliza tersenyum senang mendengarnya.

"Baik, kita akhiri rapat hari ini. Sekian dan terimakasih," ucap Azael. Pria itu pun bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan.

Barulah disusul oleh yang lainnya.

"Katanya gak penasaran, tapi nanyain." Sindir Naufal begitu mereka tiba di ruangan Azael.

"Berisik banget, Fal. Kaya cewek."

"Kalau mau, nanti gue beliin lagi."

Azael meliriknya dengan tajam.

"Mana profil dari tim desain," pintanya.

Naufal pun memberikan berkas yang tadi Elliza berikan padanya.

Azael membuka berkas tersebut, membaca detail profil yang diberikan Elliza.

Azael memfokuskan penglihatannya ketika membuka berkas selanjutnya dan melihat foto yang terpasang disana.

Kerutan dari dahinya pun semakin terlihat. Dia seperti pernah melihat wanita dalam foto ini, tetapi dimana.

Azael terus mengingat akan wanita ini, hingga kedua bola matanya membesar kala mengingat siapa wanita ini.

"Arrabella Zayana," gumamnya dengan satu matanya yang menyipit.

"Shreya Vallery," sambungnya.

"Wah... ternyata," geramnya kala mengingat jika wanita itu adalah Shreya. Tetapi, kenapa di profil ini namanya Arabella Zayana.

Naufal terjengkat kaget. "Apaan sih?" Kesalnya karena dibuat terkejut oleh temannya ini.

Sorot matanya penuh dengan kemarahan. "Cari tahu tentang Shreya Vallery dan juga Arabella Zayana dari tim desain!" Titahnya.

Naufal mengkerutkan keningnya. "Gue mau info yang lengkap tentang mereka dan ada hubungan apa diantara mereka."

Tanpa bertanya lagi, Naufal pun segera menjalankan tugasnya. Sesuai perintah Azael.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 56-Azelan

    "Lain kali jangan tiba-tiba muncul gitu, kasian kan Giselle, dia pasti kaget banget tadi." Azael hanya melirik sekilas pada Arabella, lalu kembali fokus menyetir."Tapi, apa yang dia katakan ada benarnya. Kamu merasa aku terlalu sibuk dengan pekerjaan?"Pembicaraan mereka mulai serius.Arabella menatap Azael, lalu tersenyum pada pria tampan yang menjadi kekasihnya ini."Hm, kalau dibilang sibuk bukankah memang kamu itu seharusnya sibuk dengan pekerjaan. Akan sangat aneh bukan, jika seorang CEO tidak sibuk dengan pekerjaannya, apakah kamu CEO gadungan." Ucap Arabella dengan tawanya."Asal kamu tahu, aku pun tipe wanita pekerja keras, aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dari pada jalan-jalan. Bukankah kamu seharusnya bangga padaku, hm." Sambungnya membuat pria disampingnya ini tersenyum."Tentu aku harus bangga memiliki kekasih sepertimu," "TIdak, bukan sebagai kekasih, tetapi sebagai karyawan, agar aku bisa mendapatkan kenaikan gaji, karena aku sudah bekerja keras untuk

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 55-Malu

    Kini kedua pria dengan stelan jas yang membuat keduanya tampil gagah dan berwibawa ini, sudah berada disalah satu restoran, dimana client mereka sudah membuat janji. Sebuah ruangan VIP yang dipesan untuk membicarakan bisnis ini."Mereka sudah tiba?""Seharusnya sudah. Karena sesuai janji di jam makan siang." Jawab Naufal seraya melihat jam yang melingkar di peregelangan tangannya.Mereka tetap berjalan menuju ruangan VIP yang sudah clientnya infokan kepada Naufal."Selamat siang, Pak Azael?" Tanya seorang waiters yang berjaga di depan pintu ruangan ini.Azael menganggukkan kepalanya. Si waiters pun membukakan pintu dan mempersilakan Azael serta Naufal untuk masuk.Di dalam sana sudah terduduk seorang pria dengan stelan jas seperti mereka. Pria itu pun bangkit dari duduknya menyambut kedatangan client-nya ini."Selamat siang Pak Azael dan Pak Naufal.""Siang Pak Damar." Jawab Naufal, mereka saling berjabat tangan."Mari, silakan duduk." Kata Damar dengan sopan.Azael meelihat ada tas w

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 54-Prabrik

    Seperti biasa suasa kantor pagi yang riuh. Banyak karyawan yang baru berdatangan, masuk dan tak lupa men-tap kartu mereka agar bisa masuk ke area kantor.Lift yang setiap pagi selalu penuh dan banyak yang mengantri untuk mendapatkan giliran masuk agar mereka bisa tiba di lantai departemen masing-masing.Seorang pria dengan stelan jas hitam, kemeja biru muda, tak lupa dasi yang bertengger di kerah. Baru saja tiba di ruangannya bersama dengan asistennya, lalu mendudukkan tubuhnya di atas kursi kebesarannya ini"Agenda hari ini apa saja?" Tanya pria yang menjabat sebagai CEO di perusahaan ini."Ada beberapa berkas yang harus anda cek dan segera di tanda tangani. Lalu kita akan survei ke pabrik untuk melihat sudah seberapa jauh proses pembuatan sample, masih ada meeting juga dengan beberapa vendor yang ingin bekerjasama dengan produk terbaru kita ini." Jawab sang asiten pribadi."Kita berangkat ke pabrik dan bawa beberapa berkas yang urgent. Selebihnya setelah kembali dari pabrik gue akan

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 53-Kekhawatiran Sang Ayah

    Mobil hitam itu berhenti di samping sebuah toko kue yang sepertinya sudah akan tutup."Terimakasih." Ucapnya malu-malu, karena ini kali pertama dirinya diantar pulang oleh pria yang kini menjabat sebagai kekasihnya."Bisakah aku menerima ucapan terimakasih dalam bentuk lain?" Godanya.Nampak Arabella seolah berfikir, maksud dari kata-kata Azael ini. "Bentuk lain?" Satu alisnya terangkat.Azael menahan senyumannya, lalu mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan sang kekasih. Menunjukkan pipi kirinya pada sang kekasih hati.Arabella tersenyum malu, bagaimana bisa dengan terang-terangannya pria ini menunjukkan hal seperti ini. Dia sangat paham sekali, tetapi tetap saja rasanya malu jika harus diminta seperti ini.Azael masih setia dengan posisinya menunggu Arabella melakukan apa yang seharusnya dia berikan pada dirinya.Melirik ke kana da kiri, menghlangkan rasa gugup dalam hatinya. Dengan cepat Bella pun mencium pipi sang kekasih. Dengan tak tahu malunya, Azael menunjukkan pipi seb

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 52-Giselle

    Hari ini mereka kembali bekerja seperti biasa di kantor, setelah kemarin sibuk dengan urusan resort, kali ini mereka akan kembali sibuk dengan produk terbaru yang akan diproduksi oleh Zayn Holding, yaitu food product. "Selamat pagi gais.." seru Arabella menyapa rekan satu divisinya ini. Ketiga rekan kerjanya pun menolehkan kepala mereka menatap Arabella yang masih berdiri di ambang pintu. Bella pun berjalan menuju mejanya, lalu menyimpan makanan yang dia bawa dari Bali kemarin. "Gue bawain makanan. Ceritanya sih oleh-oleh," ucapnya lagi. Altair bangkit dari kursinya menghampiri Arabella. "Kenapa repot-repot sih, kan jadi enak." Sahutnya. "Ehem..." Eliza berdehem, lalu menatap Arabella. Seketika suasana menjadi sedikit canggung, Bella pun tidak paham dengan kondisi ini. Dia menatap ketiga rekannya bergantian. "Ada apa, Bu? Ada sesuatu yang urgent?" "Arabella, jangan sembunyikan ini lagi dari kita, katakan yang sejujur jujurnya, gosip ini sudah tersebar diseluruh kanto

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 51-Shreya Cegil

    Lyana mencari tahu latar belakang Azael. Dia membuka internet untuk memastikan siapa Azael sebenarnya. Kenapa bisa dia tidak mencurigai Azael dari awal. Lyana mengira jika Azael hanyalah seorang karyawan biasa di perusahaan itu, tanpa mengetahui nama belakang pria itu. Matanya terfokus pada layar laptopnya, disana terdapat biodata Azael yang merupakan seorang putra tunggal dari seorang pengusaha ternama di negeri ini. "Azael Malik Zayn," tersenyum sinis kala menyebutkan nama Azael. "Bagaimana bisa lo ketemu dengan pria seperti Azael, Arabella Zayana." Sambungnya. Nampak jelas sekali kekesalan di raut wajah Lyana, kala dia memikirkan bagaimana jalan hidup dan kisah cinta Arabella. Dia terus menggulir informasi di internet mengenai Azael, hingga saat masuk ke artikel selanjutnya, ide liciknya pun bekerja. Tersenyum dengan lebar kala dia memikirkan hal ini. ** Di dalam kamar, dua orang wanita sedang merapihkan barang-barangnya, karena esok hari mereka akan check out dan kembali te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status