LOGIN"Bella, kamu siap-siap, saya sudah serahkan profil kamu pada Tuan Azael. Keberangkatan ke Bali di hari jumat minggu ini, dan penerbangan pagi. Jadi, jangan sampai kamu telat, persiapkan segala kebutuhan kamu selama disana." Ucap Elliza memberikan informasi pada Arabella.
"Jumat pagi?" Ulangnya meyakinkan. Eliza menganggukkan kepalanya. "Ya, Jumat pagi. Apakah ada masalah?" Arabella sedikit terdiam, "lalu kita akan kembali esok harinya?" "Ya, hari Sabtunya kamu dan tim CEO sudah kembali terbang. Tetapi, saya tidak tahu jamnya. Apakah kamu ada janji?" Arabella mencerna jawaban dari Eliza, dia pun hanya tersenyum canggung sebagai jawaban. Si pria itu meminta bertemu kembali di hari Sabtu. Apakah bisa terkejar olehnya nanti. "Tidak, aman ko." Eliza mengangguk. "Baiklah." Tiba-tiba kursi Giselle sudah berada disampingnya. Membuat Arabella menatap rekan kerjanya ini. "Kalau gue udah siap naik pesawat, gue gak akan nolak proyek ini. Kapan lagi bisa bertemu langsung dengan CEO tampan kita ini" kata Giselle penuh semangat membuat mereka yang berada disana menatap ke arahnya. "Kalau lo yang berangkat, tim kita bakal tercoreng sih, karena salah satu staffnya kecentilan sama CEO!" Sindir Altair. Giselle menatap tajam pria yang menjadi rekan satu timnya ini. "Tapi, saya penasaran. Apa CEO kita sudah punya kekasih, Bu?" Eliza menatap Giselle. "Kamu mau daftar jadi kandidat istri CEO?" Giselle pun tersenyum lebar. "Kalau ada kesempatan emas seperti itu, harus saya ambil." "Silakan," kata Eliza dengan santainya. Sorot mata Giselle pun berbinar. "Jadi, benar dia belum punya kekasih?" Serunya. Eliza hanya menganggukkan kepalanya. "Tetapi, dia sudah dijodohkan dengan seorang putri dari pengusaha ternama. Jika berminat bersaing dengan orang-orang kaya itu, silakan." Sahut Eliza dengan santainya kembali. membuat Arabella dan Altair tertaqa mendengarnya. Embusan nafas pasrah pun Giselle keluarkan. "Patah semangat kalau gini," lirihnya dengan lemas. "Sudah, kembali bekerja. Nanti, kamu lanjutkan mimpi besarmu ini, Giselle!" Canda Eliza namun serius saat mengatakan kembali bekerja. "Orang-orang kaya itu, untuk menikah pun harus dengan perjodohan" celetuk Arabella, bukan apa-apa, dia hanya teringat akan sahabatnya saja. Shreya pun harus ikut dalam ajang perjodohan. Celetukan Bella pun terdengar oleh rekan satu timnya ini. Mereka memusatkan perhatian pada Bella. "Ya, mereka memang ditakdirkan memiliki harta yang berlebih dari pada kita, tetapi asmaranya sudah ditentukan oleh orang tuanya," timpal Altair. Kini atensi mereka teralihkan pada Altair. Apa yang pria itu katakan benar juga, harta mereka banyak, bisa membeli apapun yang mereka inginkan, tetapi kebebasan mereka menjadi terbatas karena pilihan orang tua. "Mungkin, tidak semua orang kaya seperti itu." Kali ini Giselle yang membuka suara, "ada beberapa dari mereka yang bisa memilih cintanya sendiri, mungkin." "Sudah, tidak usah membahas mereka. Kembali bekerja." Titah Eliza dan mereka pun kembali fokus pada layar komputer masing-masing. Sementara di ruangan CEO. Azael sedang fokus pada beberapa dokumen yang ada di atas mejanya, dengan sesekali dia fokus pada lauar laptopnya. Projek resort ini begitu menyita waktu Azael, pria itu menjadikan ini fokus utamanya, karena ini proyek pertamanya. Sesekali dia menyeruput kopi yang sudah disediakan di atas mejanya ini. Hingga waktu terus berjalan, tanpa terasa sebentar lagi waktu pulang jam kantor. Ketukan pintu mengalihkan fokusnya, seseorang terlihat membuka pintu dan berjalan menghampiri Azael. "Sudah lo dapetin, info yang gue minta?" Tanya Azael begitu melihat Naufal tengah berjalan menuju mejanya. Naufal hanya mengangguk dan menyerahkan sebuah berkas pada Azael. "Apa lo salah orang kemarin?" Azael menggelengkan kepalanya. Dia membuka berkas yang baru saja Naufal berikan, membaca dengan seksama isi dari berkas tersebut. "Antara Nona Shreya dan Nona Arabella, mereka sudah bersahabat sejak keduanya masih berada di Sekolah Dasar. Nona Shreya sering menginap dikediaman Nona Arabella, hubungan keduanya begitu dekat." Kata Naufal menjelaskan poin penting dari berkas yang Azael minta. "Mereka berdua berani permainin gue!" Ucap Azael dingin, membuat Naufal mengkerutkan keningnya mendengar perkataan Azael tersebut. "Maksudnya?" Tanya Naufal yang dia sendiri bingung dengan apa yang Azael katakan. Azael menatap Naufal. "Orang yang gue temuin kemarin bukan Shreya, tetapi Arabella. Pantas saja kelakuannya aneh!" Naufal masih belum bisa mencerna ini dengan baik. "Untuk apa Nona Shreya meminta sahabatnya menggantikan kencan kemarin, apakah dia tidak menyukai anda, Tuan Azael?" Pertanyaan Naufal ini seolah menjadi ejekan bagi sahabatnya. Dia menatap tajam Naufal, namun yang ditatap hanya menunjukkan ekspresi santainya dengan kedua alis yang dia anik turunkan. "Nggak ada, wanita yang gak terpesona sama ketampanan gue. Dan satu lagi, mereka pun tergila-gila dengan harta yang gue punya," ucapnya dengan penuh percaya diri. Naufal hanya tersenyum miring. "Percaya diri sekali anda. Lalu, kalau itu benar, kenapa Nona Shreya gak mau ketemu sama lo dia malah nyuruh temennya buat datang?" "Karena dia memiliki tipe yang standar!" Sarkasnya. "Gue mau buat perhitungan dengan Arabella!" Ucapnya tajam. Kali ini dia benar-benar dibuat marah oleh seorang wanita. "Dia ikut survei dengan kita kan?" Tanyanya dan diangguki oleh Naufal. Tatapan tajam, alis yang terangkat satu, dan senyum yang meremehkan menjadi pandangan di wajah Azael saat ini. "Permainan baru dimulai!" Naufal yang melihat aura menyeramkan dari sahabatnya ini pun merasa merinding, jangan sampai dia berbuat jauh karena Arabella adalah seorang wanita. "Ze, jangan terlalu keterlaluan, dia itu seorang wanita," kata Naufal mengingatkan. "Gak peduli, dia udah bikin harga diri gue jatoh. Karena perbuatannya kemarin." Naufal hanya bisa menggelengkan kepalanya, mendengar jawaban dari Azael ini. "Gue mau mereka berdua minta maaf, karena sudah berani mempermaikan seorang Azael. Waku gue terbuang hanya untuk melayani drama mereka." "Atur jadwal di hari Sabtu nanti," titahnya pada Naufal. Ntahlah apa yang akan terjadi pada Arabella nanti, nampak Azael benar-benar dibuat marah olehnya. Semoga Arabella baik-baik saja nanti. Waktunya jam pulang kantor, sudah banyak karyawan yang keluar dari ruangannya dan bergegas pulang ke rumah masing-masing, termasuk Arabella beserta timnya. Dia berjalan keluar kantor bersamaan dengan Giselle, Eliza, dan Altair. "Mau ke kafe dulu gak, di sebrang kantor ada kafe yang baru buka," kata Naufal. "Lo up to date banget ya, Al. Segala kafe baru pun lo tahu." Ucap Giselle. Altair memasang muka tengilnya, dengan kedua alis yang dia naik turunkan. "Jadi, gimana, nongkrong gak nih?" "Gue gak dulu, Fal. Mau prepare buat hari Jumat, ini udah hari Rabu, mungkin Bu Eliza dan Giselle." Jawab Bella. "Saya ada urusan, next time saja ya." Tolak Eliza sopan. Meskipun dia seorang penanggung jawab, tetapi dia tidak membatasi jabatannya yang lebih tinggi dari ketiga rekannya ini. "Ya udah, next time ajalah, gak seru nongkrong berdua doang." Ujar Giselle. "Padahal, kalau kalian berdua nongkrong udah kaya pasangan bahagia tau," ejek Eliza. "Bu Eliza!" Protes keduanya bersamaan. "Tuh kan, kompak." Timpal Arabella, dia dan Eliza pun tertawa melihat ekspresi yang Giselle dan Altair tunjukkan, seolah merasa jijik antara satu sama lainnya. "Gak daper CEO, Altair juga bisa kali, Sel." Sambung Eliza kembali."Malam minggu nanti, Papa ingin kalian membawa pasangan kalian untuk makan malam di rumah." Perkataan Emir membuat Azael dan Naufal membulatkan matanya, bagimana bisa beliau meminta hal seperti ini. Maksudnya, mereka belum memiliki kekasih. "Tuan, saya belum memiliki kekasih. Azael... sepertinya dia sudah memiliki kekasih." Tembak Naufal pada Azael, tentu saja itu membuat Azael membulatkan kedua matanya tidak percaya atas apa yang diucapkan oleh Naufal. Emir menatap Azael. "Oh seperti itu. Jadi, kamu menyembunyikan calon menantu, Papa!" "Jangan dengarkan omong kosong Naufal, Pa." Belanya. Emir menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. "Tidak usah berbohong, Papa sudah melihatnya." Ya.. kedua orang yang melihat interaksi antara Azael dan Arabella saat di kantor waktu itu adalah Emir dan Naufal. "Melihat? Siapa yang Papa lihat?" Bingung Azael. "Sudah... Papa mau kamu membawa gadis itu saat makan malam nanti." Azael semakin tidak mengerti, "baiklah, kita pulang sekar
Helaan nafas Arabella embuskan, merebahkan tubuhnya di atas kasur. Rasanya cukup melelahkan sekali untuk beberapa hari ini. Baru dia akan memejamkan matanya, ponselnya sudah lebih dulu berbunyi. "Halo, Shre" Shreyalah yang menghubunginya, ntah ada apa wanita itu menghubunginya di sore hari ini. Apakah dia tidak bekerja. "Lo udah balik?" "Baru sampe rumah. Ada apa?" "Cocok.. ok, gue jemput lo. Lo siap-siap," "Mau kemana?" "Temenin gue makan." "Ok, gue siap-siap dulu," Panggilan pun berakhir, Arabella langsung mengambil handuk dan segera membersihkan tubuhnya. Dia akan bersiap-siap dengan cepat. Setelah rapih, tak lama Shreya pun menghubunginya, bahwa dia sudah berada di depan toko. "Mau kemana lagi?" Tanya Arunika. "Keluar sama Shreya, Bu. Kalian makan malam duluan saja, tidak usah tunggu aku. Berangkat ya," pamitnya, kebetulan Arunika baru akan naik ke atas, karena dia harus bersiap memasak untuk makan malam, jadi Arabella tidak harus ke toko untuk berpamita
Para dewan direksi sudah mulai berdatangan, sebagian sudah terduduk di kursi ruang rapat. Mereka saling menyapa satu sama lain. Hingga ruang rapat sudah dipenuhi oleh para dewan direksi dan petinggi Zayn Holding lainnya. Permintaan Tuan Emir untuk mengadakan rapat internal ini, membuat sebagian dari mereka bertanya-tanya. Dua pria muda diantara para pria paruh baya lainnya baru saja tina di ruang rapat ini. Mereka mendudukkan tubuhnya masing-masing di kursi yang saling berhadapan, untuk kursi yang masih kosong tepatnya berada di tengah-tengah, itu akan diisi oleh Tuan Emir, selaku pemilik Zayn Holding. Tak lama terdengar suara derap sepatu, yang mereka yakini itu adalah Tuan Emir. Para peserta rapat pun bangkit dari kursi mereka, menyambut kedatangan Tuan Emir, selaku pemilik perusahaan dan juga saham Zayn Holding. Tuan Emir terdenyum pada para peserta rapat. Pria paruh baya itu berjalan menuju kursinya dan langsung mendudukkan tubuhnya di sana. "Selamat siang, semuanya."
Arabella berjalan dengan senyum yang terus tersungging di wajahnya, membuat rekan satu timnya mengira jika proposal Arabella di acc. "Bella, sukseskah?" Tanya Eliza. Dengan tersenyum manis dia menggelengkan kepalanya, lalu mendudukkan tubuhnya di atas kursi putarnya. Eliza, Giselle, dan Altair saling menatap satu sama lain, melihat ekspresi yang Arabella tunjukkan. "Lalu, kenapa kamu tersenyum seperti itu, Nona?" Tanya Altair dengan ekspresi wajah keheranan. "Karena aku senang," "Hah!" Kompak ketiga rekannya menjawab. "Senang? Kan proposal lo belum acc, Bel?" Kali ini Giselle yang membuka suara. Dia hanya tersenyum seraya melihat wajah rekan-rekannya bergantian. "Kita buat kembali!" Serunya dengan semangat. Tatapan heran dari rekan-rekannya terus dia terima, tetapi Arabelle terus fokus pada layar komputernya. ** Di ruangan Azael, pria itu masih mencerna ekspresi yang Arabella tunjukkan tadi. Bagaimana bisa wanita itu terus tersenyum disaat dirinya terus meminta revisi, da
"Jadi, lo ada perjanjian sama Azael?" Teriak Shreya.Arabella hanya mengangguk malas."Lo ingat setelah pertemuan waktu itu, dia gak ada hubungin gue sama sekali. Itu, gue habis tolak perjanjian dia, karena isinya sama sekali tidak menguntungkan buat gue." Ucap Arabella, dengan setia Shreya mendengarkannya."Dan kemarin dia ngasih lagi surat perjanjian sama gue, setelah gue baca, isi perjanjian kali ini sama-sama saling menguntungkan bagi kedua belah pihak," lanjutnya."Apa isi perjanjiannya?" Penasaran Shreya."Pertama, pekerjaan ini dianggap lembur, jadi gue akan dibayar kalau gue jalanin misi. Kedua, pihak kedua harus selalu siap kapan saja jika pihak pertama membutuhkan, tetapi di luar jam kerja. Ketiga, tidak akan ada pishical touch dalam perjanjian ini, jika melanggar maka akan dikenakan denda, baik itu dari pihak pertama atau pun kedua, hukuman ini berlaku." "Waw... perjanjian macam apa ini,"Arabella hanya mengedikkan bahunya acuh."Isi perjanjiannya cuman ada 3?""Keempat, j
Jam sudah menunjukkan pukul 15.30, tim desain I masih disibukkan dengan pekerjaan mereka. Proposal Eliza sudah selesai dan approved, tetapi proposal Arabella harus direvisi ulang, membuat rekan-rekan dari tim desain merasa aneh. Altair dan Giselle baru rampung mengerjakan setengah dari desain mereka. Arabella bangkit dari kursinya, dengan map yang dia bawa. "Semangat, semoga kali ini langsung acc." Ucap Eliza menyemangati. Bella pun tersenyum dengan kepala yang dia anggukkan. Dia pun keluar dari ruangan dan berjalan menuju lift, untuk mengantarkannya ke ruangan CEO. "Pertama kalinya dalam sejarah, proposal Arabella Zayana dimintai revisi. Sebelumnya selalu approved. Apa benar gosip yang beredar itu," celetuk Giselle, membuat perhatian Eliza dan Altair tertuju padanya. "Gosip apa?" Penasaran Altair. "Gosip tentang CEO baru kita, pekerjaan apapun harus sempurna, tidak boleh ada noda sedikit pun. Dan satu lagi, jangan pernah menyinggung perasaannya, akibatnya akan fatal."







