Home / Romansa / Kontrak Panas dengan CEO / Bab 6-Awal Permainan

Share

Bab 6-Awal Permainan

Author: Cinta94
last update publish date: 2025-12-19 16:36:40

"Bella, kamu siap-siap, saya sudah serahkan profil kamu pada Tuan Azael. Keberangkatan ke Bali di hari jumat minggu ini, dan penerbangan pagi. Jadi, jangan sampai kamu telat, persiapkan segala kebutuhan kamu selama disana." Ucap Elliza memberikan informasi pada Arabella.

"Jumat pagi?" Ulangnya meyakinkan.

Eliza menganggukkan kepalanya. "Ya, Jumat pagi. Apakah ada masalah?"

Arabella sedikit terdiam, "lalu kita akan kembali esok harinya?"

"Ya, hari Sabtunya kamu dan tim CEO sudah kembali terbang. Tetapi, saya tidak tahu jamnya. Apakah kamu ada janji?"

Arabella mencerna jawaban dari Eliza, dia pun hanya tersenyum canggung sebagai jawaban. Si pria itu meminta bertemu kembali di hari Sabtu. Apakah bisa terkejar olehnya nanti.

"Tidak, aman ko."

Eliza mengangguk. "Baiklah."

Tiba-tiba kursi Giselle sudah berada disampingnya. Membuat Arabella menatap rekan kerjanya ini.

"Kalau gue udah siap naik pesawat, gue gak akan nolak proyek ini. Kapan lagi bisa bertemu langsung dengan CEO tampan kita ini" kata Giselle penuh semangat membuat mereka yang berada disana menatap ke arahnya.

"Kalau lo yang berangkat, tim kita bakal tercoreng sih, karena salah satu staffnya kecentilan sama CEO!" Sindir Altair.

Giselle menatap tajam pria yang menjadi rekan satu timnya ini. "Tapi, saya penasaran. Apa CEO kita sudah punya kekasih, Bu?"

Eliza menatap Giselle. "Kamu mau daftar jadi kandidat istri CEO?"

Giselle pun tersenyum lebar. "Kalau ada kesempatan emas seperti itu, harus saya ambil."

"Silakan," kata Eliza dengan santainya.

Sorot mata Giselle pun berbinar. "Jadi, benar dia belum punya kekasih?" Serunya.

Eliza hanya menganggukkan kepalanya. "Tetapi, dia sudah dijodohkan dengan seorang putri dari pengusaha ternama. Jika berminat bersaing dengan orang-orang kaya itu, silakan." Sahut Eliza dengan santainya kembali. membuat Arabella dan Altair tertaqa mendengarnya.

Embusan nafas pasrah pun Giselle keluarkan. "Patah semangat kalau gini," lirihnya dengan lemas.

"Sudah, kembali bekerja. Nanti, kamu lanjutkan mimpi besarmu ini, Giselle!" Canda Eliza namun serius saat mengatakan kembali bekerja.

"Orang-orang kaya itu, untuk menikah pun harus dengan perjodohan" celetuk Arabella, bukan apa-apa, dia hanya teringat akan sahabatnya saja. Shreya pun harus ikut dalam ajang perjodohan.

Celetukan Bella pun terdengar oleh rekan satu timnya ini. Mereka memusatkan perhatian pada Bella.

"Ya, mereka memang ditakdirkan memiliki harta yang berlebih dari pada kita, tetapi asmaranya sudah ditentukan oleh orang tuanya," timpal Altair.

Kini atensi mereka teralihkan pada Altair. Apa yang pria itu katakan benar juga, harta mereka banyak, bisa membeli apapun yang mereka inginkan, tetapi kebebasan mereka menjadi terbatas karena pilihan orang tua.

"Mungkin, tidak semua orang kaya seperti itu." Kali ini Giselle yang membuka suara, "ada beberapa dari mereka yang bisa memilih cintanya sendiri, mungkin."

"Sudah, tidak usah membahas mereka. Kembali bekerja." Titah Eliza dan mereka pun kembali fokus pada layar komputer masing-masing.

Sementara di ruangan CEO. Azael sedang fokus pada beberapa dokumen yang ada di atas mejanya, dengan sesekali dia fokus pada lauar laptopnya. Projek resort ini begitu menyita waktu Azael, pria itu menjadikan ini fokus utamanya, karena ini proyek pertamanya.

Sesekali dia menyeruput kopi yang sudah disediakan di atas mejanya ini.

Hingga waktu terus berjalan, tanpa terasa sebentar lagi waktu pulang jam kantor.

Ketukan pintu mengalihkan fokusnya, seseorang terlihat membuka pintu dan berjalan menghampiri Azael.

"Sudah lo dapetin, info yang gue minta?" Tanya Azael begitu melihat Naufal tengah berjalan menuju mejanya.

Naufal hanya mengangguk dan menyerahkan sebuah berkas pada Azael. "Apa lo salah orang kemarin?"

Azael menggelengkan kepalanya. Dia membuka berkas yang baru saja Naufal berikan, membaca dengan seksama isi dari berkas tersebut.

"Antara Nona Shreya dan Nona Arabella, mereka sudah bersahabat sejak keduanya masih berada di Sekolah Dasar. Nona Shreya sering menginap dikediaman Nona Arabella, hubungan keduanya begitu dekat." Kata Naufal menjelaskan poin penting dari berkas yang Azael minta.

"Mereka berdua berani permainin gue!" Ucap Azael dingin, membuat Naufal mengkerutkan keningnya mendengar perkataan Azael tersebut.

"Maksudnya?" Tanya Naufal yang dia sendiri bingung dengan apa yang Azael katakan.

Azael menatap Naufal. "Orang yang gue temuin kemarin bukan Shreya, tetapi Arabella. Pantas saja kelakuannya aneh!"

Naufal masih belum bisa mencerna ini dengan baik. "Untuk apa Nona Shreya meminta sahabatnya menggantikan kencan kemarin, apakah dia tidak menyukai anda, Tuan Azael?" Pertanyaan Naufal ini seolah menjadi ejekan bagi sahabatnya.

Dia menatap tajam Naufal, namun yang ditatap hanya menunjukkan ekspresi santainya dengan kedua alis yang dia anik turunkan.

"Nggak ada, wanita yang gak terpesona sama ketampanan gue. Dan satu lagi, mereka pun tergila-gila dengan harta yang gue punya," ucapnya dengan penuh percaya diri.

Naufal hanya tersenyum miring. "Percaya diri sekali anda. Lalu, kalau itu benar, kenapa Nona Shreya gak mau ketemu sama lo dia malah nyuruh temennya buat datang?"

"Karena dia memiliki tipe yang standar!" Sarkasnya.

"Gue mau buat perhitungan dengan Arabella!" Ucapnya tajam. Kali ini dia benar-benar dibuat marah oleh seorang wanita.

"Dia ikut survei dengan kita kan?" Tanyanya dan diangguki oleh Naufal.

Tatapan tajam, alis yang terangkat satu, dan senyum yang meremehkan menjadi pandangan di wajah Azael saat ini.

"Permainan baru dimulai!"

Naufal yang melihat aura menyeramkan dari sahabatnya ini pun merasa merinding, jangan sampai dia berbuat jauh karena Arabella adalah seorang wanita.

"Ze, jangan terlalu keterlaluan, dia itu seorang wanita," kata Naufal mengingatkan.

"Gak peduli, dia udah bikin harga diri gue jatoh. Karena perbuatannya kemarin."

Naufal hanya bisa menggelengkan kepalanya, mendengar jawaban dari Azael ini.

"Gue mau mereka berdua minta maaf, karena sudah berani mempermaikan seorang Azael. Waku gue terbuang hanya untuk melayani drama mereka."

"Atur jadwal di hari Sabtu nanti," titahnya pada Naufal.

Ntahlah apa yang akan terjadi pada Arabella nanti, nampak Azael benar-benar dibuat marah olehnya. Semoga Arabella baik-baik saja nanti.

Waktunya jam pulang kantor, sudah banyak karyawan yang keluar dari ruangannya dan bergegas pulang ke rumah masing-masing, termasuk Arabella beserta timnya.

Dia berjalan keluar kantor bersamaan dengan Giselle, Eliza, dan Altair.

"Mau ke kafe dulu gak, di sebrang kantor ada kafe yang baru buka," kata Naufal.

"Lo up to date banget ya, Al. Segala kafe baru pun lo tahu." Ucap Giselle.

Altair memasang muka tengilnya, dengan kedua alis yang dia naik turunkan.

"Jadi, gimana, nongkrong gak nih?"

"Gue gak dulu, Fal. Mau prepare buat hari Jumat, ini udah hari Rabu, mungkin Bu Eliza dan Giselle." Jawab Bella.

"Saya ada urusan, next time saja ya." Tolak Eliza sopan. Meskipun dia seorang penanggung jawab, tetapi dia tidak membatasi jabatannya yang lebih tinggi dari ketiga rekannya ini.

"Ya udah, next time ajalah, gak seru nongkrong berdua doang." Ujar Giselle.

"Padahal, kalau kalian berdua nongkrong udah kaya pasangan bahagia tau," ejek Eliza.

"Bu Eliza!" Protes keduanya bersamaan.

"Tuh kan, kompak." Timpal Arabella, dia dan Eliza pun tertawa melihat ekspresi yang Giselle dan Altair tunjukkan, seolah merasa jijik antara satu sama lainnya.

"Gak daper CEO, Altair juga bisa kali, Sel." Sambung Eliza kembali.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 56-Azelan

    "Lain kali jangan tiba-tiba muncul gitu, kasian kan Giselle, dia pasti kaget banget tadi." Azael hanya melirik sekilas pada Arabella, lalu kembali fokus menyetir."Tapi, apa yang dia katakan ada benarnya. Kamu merasa aku terlalu sibuk dengan pekerjaan?"Pembicaraan mereka mulai serius.Arabella menatap Azael, lalu tersenyum pada pria tampan yang menjadi kekasihnya ini."Hm, kalau dibilang sibuk bukankah memang kamu itu seharusnya sibuk dengan pekerjaan. Akan sangat aneh bukan, jika seorang CEO tidak sibuk dengan pekerjaannya, apakah kamu CEO gadungan." Ucap Arabella dengan tawanya."Asal kamu tahu, aku pun tipe wanita pekerja keras, aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dari pada jalan-jalan. Bukankah kamu seharusnya bangga padaku, hm." Sambungnya membuat pria disampingnya ini tersenyum."Tentu aku harus bangga memiliki kekasih sepertimu," "TIdak, bukan sebagai kekasih, tetapi sebagai karyawan, agar aku bisa mendapatkan kenaikan gaji, karena aku sudah bekerja keras untuk

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 55-Malu

    Kini kedua pria dengan stelan jas yang membuat keduanya tampil gagah dan berwibawa ini, sudah berada disalah satu restoran, dimana client mereka sudah membuat janji. Sebuah ruangan VIP yang dipesan untuk membicarakan bisnis ini."Mereka sudah tiba?""Seharusnya sudah. Karena sesuai janji di jam makan siang." Jawab Naufal seraya melihat jam yang melingkar di peregelangan tangannya.Mereka tetap berjalan menuju ruangan VIP yang sudah clientnya infokan kepada Naufal."Selamat siang, Pak Azael?" Tanya seorang waiters yang berjaga di depan pintu ruangan ini.Azael menganggukkan kepalanya. Si waiters pun membukakan pintu dan mempersilakan Azael serta Naufal untuk masuk.Di dalam sana sudah terduduk seorang pria dengan stelan jas seperti mereka. Pria itu pun bangkit dari duduknya menyambut kedatangan client-nya ini."Selamat siang Pak Azael dan Pak Naufal.""Siang Pak Damar." Jawab Naufal, mereka saling berjabat tangan."Mari, silakan duduk." Kata Damar dengan sopan.Azael meelihat ada tas w

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 54-Prabrik

    Seperti biasa suasa kantor pagi yang riuh. Banyak karyawan yang baru berdatangan, masuk dan tak lupa men-tap kartu mereka agar bisa masuk ke area kantor.Lift yang setiap pagi selalu penuh dan banyak yang mengantri untuk mendapatkan giliran masuk agar mereka bisa tiba di lantai departemen masing-masing.Seorang pria dengan stelan jas hitam, kemeja biru muda, tak lupa dasi yang bertengger di kerah. Baru saja tiba di ruangannya bersama dengan asistennya, lalu mendudukkan tubuhnya di atas kursi kebesarannya ini"Agenda hari ini apa saja?" Tanya pria yang menjabat sebagai CEO di perusahaan ini."Ada beberapa berkas yang harus anda cek dan segera di tanda tangani. Lalu kita akan survei ke pabrik untuk melihat sudah seberapa jauh proses pembuatan sample, masih ada meeting juga dengan beberapa vendor yang ingin bekerjasama dengan produk terbaru kita ini." Jawab sang asiten pribadi."Kita berangkat ke pabrik dan bawa beberapa berkas yang urgent. Selebihnya setelah kembali dari pabrik gue akan

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 53-Kekhawatiran Sang Ayah

    Mobil hitam itu berhenti di samping sebuah toko kue yang sepertinya sudah akan tutup."Terimakasih." Ucapnya malu-malu, karena ini kali pertama dirinya diantar pulang oleh pria yang kini menjabat sebagai kekasihnya."Bisakah aku menerima ucapan terimakasih dalam bentuk lain?" Godanya.Nampak Arabella seolah berfikir, maksud dari kata-kata Azael ini. "Bentuk lain?" Satu alisnya terangkat.Azael menahan senyumannya, lalu mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan sang kekasih. Menunjukkan pipi kirinya pada sang kekasih hati.Arabella tersenyum malu, bagaimana bisa dengan terang-terangannya pria ini menunjukkan hal seperti ini. Dia sangat paham sekali, tetapi tetap saja rasanya malu jika harus diminta seperti ini.Azael masih setia dengan posisinya menunggu Arabella melakukan apa yang seharusnya dia berikan pada dirinya.Melirik ke kana da kiri, menghlangkan rasa gugup dalam hatinya. Dengan cepat Bella pun mencium pipi sang kekasih. Dengan tak tahu malunya, Azael menunjukkan pipi seb

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 52-Giselle

    Hari ini mereka kembali bekerja seperti biasa di kantor, setelah kemarin sibuk dengan urusan resort, kali ini mereka akan kembali sibuk dengan produk terbaru yang akan diproduksi oleh Zayn Holding, yaitu food product. "Selamat pagi gais.." seru Arabella menyapa rekan satu divisinya ini. Ketiga rekan kerjanya pun menolehkan kepala mereka menatap Arabella yang masih berdiri di ambang pintu. Bella pun berjalan menuju mejanya, lalu menyimpan makanan yang dia bawa dari Bali kemarin. "Gue bawain makanan. Ceritanya sih oleh-oleh," ucapnya lagi. Altair bangkit dari kursinya menghampiri Arabella. "Kenapa repot-repot sih, kan jadi enak." Sahutnya. "Ehem..." Eliza berdehem, lalu menatap Arabella. Seketika suasana menjadi sedikit canggung, Bella pun tidak paham dengan kondisi ini. Dia menatap ketiga rekannya bergantian. "Ada apa, Bu? Ada sesuatu yang urgent?" "Arabella, jangan sembunyikan ini lagi dari kita, katakan yang sejujur jujurnya, gosip ini sudah tersebar diseluruh kanto

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 51-Shreya Cegil

    Lyana mencari tahu latar belakang Azael. Dia membuka internet untuk memastikan siapa Azael sebenarnya. Kenapa bisa dia tidak mencurigai Azael dari awal. Lyana mengira jika Azael hanyalah seorang karyawan biasa di perusahaan itu, tanpa mengetahui nama belakang pria itu. Matanya terfokus pada layar laptopnya, disana terdapat biodata Azael yang merupakan seorang putra tunggal dari seorang pengusaha ternama di negeri ini. "Azael Malik Zayn," tersenyum sinis kala menyebutkan nama Azael. "Bagaimana bisa lo ketemu dengan pria seperti Azael, Arabella Zayana." Sambungnya. Nampak jelas sekali kekesalan di raut wajah Lyana, kala dia memikirkan bagaimana jalan hidup dan kisah cinta Arabella. Dia terus menggulir informasi di internet mengenai Azael, hingga saat masuk ke artikel selanjutnya, ide liciknya pun bekerja. Tersenyum dengan lebar kala dia memikirkan hal ini. ** Di dalam kamar, dua orang wanita sedang merapihkan barang-barangnya, karena esok hari mereka akan check out dan kembali te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status