Share

06. Keraguan Derana

last update Terakhir Diperbarui: 2024-09-05 02:00:50

Arash tersenyum penuh keyakinan. “Aku sudah menyiapkan segalanya. Kita akan menggunakan bukti-bukti tambahan untuk menekan dewan direksi agar memecat Haka. Setelah itu, kita akan membeli saham-saham perusahaan dengan harga murah.”

Sepulangnya mereka dari tempat tersebut, malam itu Derana tidak bisa tidur. Pikirannya terus berputar, memikirkan semua yang telah terjadi dan apa yang akan datang nantinya. Dirinya tahu bahwa jalan yang mereka pilih memang penuh dengan risiko, tetapi ia juga tahu bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan keadilan.

Lalu pada keesokan harinya, Arash dan Derana mulai melaksanakan rencana mereka. Mereka gegas mengirimkan bukti-bukti tambahan kepada dewan direksi. Bukti-bukti tersebut tidak hanya mengungkapkan kelicikan Haka dalam penggelapan pajak, tetapi juga menunjukkan keterlibatannya dalam skandal yang lebih mengerikan lagi. Haka ternyata telah memanipulasi laporan keuangan perusahaan selama bertahun-tahun, menyembunyikan kerugian besar dan mengalihkan dana perusahaan untuk kepentingan pribadi.

Hal itu nyatanya tidak membuat dewan direksi terkejut. Derana berhasil membuat mereka marah saat menerima bukti-bukti tersebut. Hingga pada saat itu, mereka segera mengadakan rapat darurat untuk membahas tindakan yang harus diambil. Posisi Haka kini benar-benar terancam, dan kemungkinan besar ia akan dipecat dari jabatannya sebagai CEO. Bahkan saham di perusahaannya mulai merosot tajam.

Dalam sekejap, Arash dan Derana melancarkan serangan mereka, membeli saham-saham dengan kecepatan yang memukau. Mereka mengambil alih kendali perusahaan dengan tangan besi. Membuat Haka dan Ilona tidak punya pilihan selain menyaksikan kehancuran mereka sendiri dari kejauhan.

Namun, di tengah kemenangan mereka, Derana mulai merasakan sesuatu yang aneh. Ia merasa ada yang tidak beres, seolah-olah ada kekuatan yang lebih besar yang bermain di balik semua ini. Ia mulai meragukan niat Arash dan bertanya-tanya apakah dia hanya menjadi pion dalam permainan yang lebih besar.

Maka dari itu, Derana mencoba menyusun kembali potongan-potongan informasi yang ia miliki, berharap menemukan jawaban yang bisa meredakan keraguannya. Bahkan sampai membuat Derana diam-diam masuk ke dalam ruang pribadi Arash, saat lelaki itu tidak ada di rumah.

Derana menghela napas dalam-dalam sebelum mulai memeriksa setiap jengkal laci di ruang kerja Arash. Tangannya gemetar sedikit saat ia membuka laci pertama, berharap menemukan sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk. Setiap laci yang dibuka, ia teliti dengan seksama, mengamati setiap kertas, pena, dan benda kecil lainnya yang mungkin menyimpan rahasia. Harapannya semakin memudar seiring dengan laci-laci yang kosong, namun ia tidak menyerah. Di laci terakhir, di bawah tumpukan dokumen lama, ia menemukan sebuah buku catatan kecil yang tampak usang.

Meski sempat ragu, ia mencoba meraihnya. Namun, belum sempat itu terjadi derit pintu ruang kerja Arash terdengar terbuka dengan tiba-tiba. Derana terkejut begitu berbalik badan, ia melihat lelaki itu yang sudah berdiri di ambang pintu dengan menunjukkan tatapan tajam dan penuh tanya.

“Derana? Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Arash dengan nada curiga.

Derana berusaha menenangkan dirinya, mencari alasan yang masuk akal.

“Oh, Arash… Aku, aku hanya ingin membantumu membersihkan ruangan ini. Jadi, aku membereskan mejanya,” jawabnya dengan suara tenang, meskipun hatinya berdebar kencang.

Arash mengangguk perlahan, tampak menerima alasan Derana.

“Baiklah, tapi lain kali beri tahu aku dulu sebelum masuk ke ruang kerjaku,” katanya sambil melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya.

Derana menghela napas lega, menyadari bahwa ia berhasil membuat Arash percaya. Namun, ia juga tahu bahwa ia harus lebih berhati-hati ke depannya.

“Arash, apa sebenarnya tujuanmu?” tanya Derana spontan. Membuat Arash lekas menoleh dan menatapnya dengan mata yang penuh misteri.

“Tujuanku? Hanya memastikan keadilan itu ditegakkan,” jawabnya.

“Tapi ada sesuatu yang lebih besar yang harus kita hadapi. Sesuatu yang belum kamu ketahui.”

Pada saat itu, di depan Derana, raut lelaki itu tiba-tiba berubah. Wajah yang semula tenang, kini justru menunjukan senyum asimetris. Lalu, dia terkekeh.

“Apa ada yang kamu rahasiakan dariku?” Derana merasa jantungnya berdebar lebih kencang saat menanyakan hal itu. Ia tahu, Arash tidak akan berkata jujur.

Arash hanya tersenyum tipis. “Kamu akan tahu pada waktunya, Derana. Kamu akan tahu itu.”

Hari-hari berlalu, dan Derana mulai merasakan ketegangan yang semakin meningkat di antara dirinya dan Arash. Meskipun mereka telah berhasil menghancurkan Haka dan Ilona, ada sesuatu yang masih mengganjal di hati Derana. Ia merasa ada rahasia besar yang belum diungkapkan oleh Arash.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   42. SINGGASANA DI ATAS REKAHAN

    Bau kematian itu unik—ia tidak hanya tercium seperti anyir darah atau kepul asap mesiu, tetapi juga menyerupai aroma tanah basah yang baru digali di bawah rintik hujan. Derana berdiri terpaku di balik dinding kaca ruang medis darurat itu, menyaksikan bagaimana tubuh Julian tersentak hebat akibat kejutan listrik dari alat pacu jantung. Garis hijau di monitor masih mendatar, mengeluarkan bunyi statis panjang yang seolah-olah sedang menghitung mundur sisa-sisa kewarasan Derana.Setiap kali tubuh pria itu melenting di atas ranjang, setiap kali pula jantung Derana terasa diremas oleh tangan-tangan tak kasat mata. Inilah pria yang menghancurkan hidupnya dengan kontrak manipulatif, namun juga pria yang memberikan nyawanya sebagai tameng demi membiarkan Derana bernapas satu detik lebih lama. Kenyataan itu terasa seperti racun yang mengalir lambat di pembuluh darahnya—pahit dan mematikan.Di sudut ruangan yang remang, Guntur masih berdiri dengan ketenangan seorang algojo. Ia tidak menunjukkan

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   41. SISA-SISA ABU DAN AMBISI

    Suara ledakan itu bukan sekadar dentuman—melainkan raungan bumi yang memuntahkan isinya. Gelombang panas yang pekat menghantam punggung Derana, melemparkannya hingga wajahnya mencium dinginnya lantai marmer yang kini tertutup debu dan jelaga. Telinganya berdenging hebat, menyisakan senyap yang menyakitkan.Derana terbatuk, paru-parunya berontak menghirup oksigen yang kini bercampur dengan bau mesiu dan plastik terbakar. Di tengah pandangannya yang mengabur oleh asap hitam, ia melihat sosok itu. Julian. Pria yang baru saja memberikan dadanya untuk peluru yang seharusnya menembus jantung Derana.“Julian!” ucap Derana serak, nyaris hilang di tengah deru api yang mulai melahap dinding-dinding apartemen.Ia merangkak, mengabaikan rasa perih di lututnya yang berdarah karena serpihan kaca. Julian tergeletak tak berdaya, darah merah pekat terus mengalir dari bahunya, merembes ke lantai, menciptakan pemandangan mengerikan di atas debu putih reruntuhan. Derana meraih kepala pria itu, memangku d

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   40. Titik Didih

    Udara di koridor itu seolah membeku, terperangkap dalam ruang hampa di mana hanya suara detak jantung Derana yang terdengar—cepat, berisik, dan memuakkan. Moncong hitam pistol di tangannya tidak lagi bergetar. Logam dingin itu kini terasa hangat, seolah menyerap api amarah yang menjalar dari pembuluh darahnya.Haka terpaku. Senyum menyeringai yang tadinya menghiasi wajahnya kini melorot, digantikan oleh kerutan sanksi yang perlahan berubah menjadi horor. Ia menelan ludah, jakunnya naik-turun dengan susah payah.“Kau tidak akan berani, Derana,” suara Haka pecah, mencoba memungut sisa-sisa keberaniannya. “Kau hanyalah gadis kecil yang menangis saat aku membunuh kecoa. Kau tidak punya nyali untuk menembak manusia.”Derana tidak berkedip. Matanya yang dingin menatap tepat ke dalam pupil mata Haka yang mulai mengecil karena ketakutan. “Kau benar, Haka. Aku tidak akan menembak manusia,” bisik Derana, suaranya halus namun tajam seperti silet. “Aku hanya akan membuang sampah ke tempatnya.”Di

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   39. Retakan di Atas Kaca

    Ujung jemari Derana memutih, mencengkeram tas kulitnya begitu erat hingga buku-buku jarinya menonjol. Napasnya memburu, meninggalkan uap tipis yang segera menghilang di udara dingin lorong apartemen yang remang. Setiap langkah kakinya yang gemetar terasa seperti berjalan di atas hamparan pecahan kaca—tajam, menyakitkan, dan siap menghancurkannya kapan saja.Di ujung koridor, bayangan pria berjaket hitam tampak berdiri diam seperti malaikat maut yang menunggu mangsa. Derana membeku, ia tahu pria itu bukan penjaga keamanan. Tatapan pria itu terkunci pada wajahnya, dingin tanpa emosi, persis seperti foto target yang baru saja Haka lemparkan di meja eksekusi.Derana berbalik, hendak lari menuju lift, namun jantungnya nyaris melompat keluar saat sebuah tangan kekar tiba-tiba menyambar bahunya. Sebelum ia sempat berteriak, tubuhnya ditarik paksa masuk ke dalam sebuah unit apartemen yang pintunya terbuka sedikit.“Diam jika kau masih ingin melihat matahari esok pagi,” bisikan itu rendah, ser

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   38. Rahasia Haka

    “Kamu akan berakhir sama seperti ayahmu.”“Takdirmu ada di tanganku,”Dalam diam, Haka berjanji pada dirinya sendiri. Dendamnya menguar begitu pekat, dengan kegetiran yang tak terucapkan, hingga terasa menguasai setiap helaan napas di sekitarnya.Ia menyeringai, mengingat setiap penghinaan yang pernah diterimanya di masa lalu yang mendorongnya untuk bertindak berani. Ia membayangkan bagaimana hidupnya telah berubah setelah balas dendamnya terwujud—meski begitu, bayangan gelap itu selalu mengikutinya, tak pernah memberinya kedamaian.Pada waktu itu, saat dirinya berdiri di ruang tamu yang megah, Haka memerintahkan pembantu rumah tangganya dengan suara tegas.“Suguhkan teh ini untuk ayah!” Pembantu itu, tanpa curiga, mengambil cangkir teh yang telah disiapkan Haka dengan hati-hati. Teh itu bukan sekadar teh biasa; di dalamnya, Haka telah mencampurkan sesuatu yang mematikan.Haka menyaksikan dengan puas saat ayah Derana menerima cangkir teh itu dengan senyum ramah, tidak menyadari baha

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   37. Kenyataan Dalam Kenyataan

    “Ternyata selama ini...” Sembari membekap mulut, Derana berlari sekuat yang dia bisa. Ketika kenyataan pahit itu menghantamnya. Namun, yang lebih menyakitkan adalah ketika kenyataan itu datang untuk kedua kalinya, menghancurkan sisa-sisa harapan yang masih tersisa. Hatinya yang sudah retak kini hancur berkeping-keping, seolah tak ada lagi yang bisa diselamatkan. “Aku hidup dengan pembohong?” pikirnya, tak percaya dengan kenyataan yang baru saja terungkap. Selama ini, orang yang ia percayai dan cintai ternyata adalah sumber dari semua kesulitan yang ia alami. Bagaimana mungkin ia bisa begitu buta? Bagaimana mungkin ia tidak melihat tanda-tanda pengkhianatan itu? Kini, ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa musuh terbesarnya adalah orang yang paling dekat dengannya.Tidak ada alasan lagi untuk dirinya tinggal bersama pembohong itu. Semua kepercayaan telah hancur, dan setiap kenangan manis kini terasa pahit. Tanpa berpikir panjang, ia memutuskan untuk pergi“Ya! Teror yang selama i

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status