Share

05. Tatapan Selidik

last update Terakhir Diperbarui: 2024-09-05 02:00:19

Sementara kegaduhan itu terjadi, di tempat lain, Derana dan Arash tengah merayakan kehancuran Haka dan Ilona dari kejauhan. Mereka duduk di balkon apartemen, bersama dinginnya angin malam yang menyapu wajah mereka. Derana mengangkat gelas sampanye, tak terelak jika kini senyum tipis juga menghiasi wajahnya.

Sementara Arash, dengan tatapan penuh kemenangan, mengamati setiap gerakan di bawah sana, seolah-olah menikmati setiap detik kehancuran yang mereka ciptakan, sembari mencari kepastian bahwa rencana mereka selanjutnya berjalan sesuai harapan.

“Ini adalah momen yang kita tunggu-tunggu, bukan?” kata Arash dengan suara penuh kepuasan, matanya berkilat dengan kegembiraan.

Wanita yang duduk di sampingnya itu mengangguk, “Ya! Itu sedikit membuatku lega.”

Sekali lagi mereka bersulang, suara gelas yang beradu menggema di malam yang sunyi, menandai awal dari babak baru dalam hidup mereka.

“Ini baru permulaan,” kata Arash lagi dengan nada dingin. “Kita akan memastikan mereka merasakan penderitaan yang sama seperti yang mereka berikan padamu.”

Sembari menyesap wine di tangannya, Derana diam-diam melirik Arash yang tengah menyunggingkan senyum samar di satu sudut bibirnya. Lelaki itu menatap kegelapan malam tanpa menyadari Derana yang kini tengah merasakan kebimbangan.

Angin malam yang sejuk menyapu rambutnya, membawa serta aroma anggur yang pekat. Derana merasa terombang-ambing antara kepuasan dan ketakutan. Dirinya tahu bahwa ini baru awal dari perjalanan panjang yang penuh dengan intrik dan manipulasi. Namun, ia juga tahu bahwa ia tidak sendirian dalam perjuangan ini.

Satu sisi, Derana merasakan keganjalan yang tak bisa diabaikan dalam diri Arash. Sikap Arash itu terlihat menyimpan dendam yang mendalam pada Haka. Melalui sikap puas yang terpancar dari wajah Arash begitu terang-terangan, seolah-olah lelaki itu telah mencapai sesuatu yang besar. Namun, Derana berusaha mencoba menepis pikiran buruk yang mulai merayapi benaknya, berusaha meyakinkan dirinya bahwa mungkin ada alasan lain di balik senyum puas Arash. Wanita itu berusaha untuk tetap tenang dan tidak terbawa oleh emosinya sendiri, meskipun hatinya terus berdebar tak menentu dengan bayangan keraguan yang tetap menghantui.

Hari-hari berikutnya, Haka dan Ilona hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan rasa malu. Setiap langkah mereka diawasi, setiap gerakan mereka menjadi bahan pembicaraan. Mereka tidak bisa lagi menikmati kehidupan mewah yang dulu mereka banggakan.

Meskipun Ilona sendiri sudah mencoba untuk mempertahankan penampilannya di hadapan para sosialita dengan menghadiri sebuah arisan. Namun, setiap kali ia melangkah masuk ke ruangan, tatapan tajam dan bisikan-bisikan tak nyaman itu yang menyambutnya.

“Itu dia, Ilona,” bisik seorang wanita dengan nada mengejek.

“Bagaimana bisa dia masih berani muncul di sini?”

Pada saat itu, Ilona merasakan pipinya memerah, namun ia tetap berusaha tersenyum dan menyapa dengan anggun, meski hatinya terasa hancur.

Sementara itu, Haka juga menghadiri rapat dengan para kolega besar di kantornya. Biasanya, ia akan menjadi pusat perhatian, dihormati dan disegani. Namun kini, lelaki itu merasa terkucilkan. Setiap kali ia mencoba berbicara, rekan-rekannya tampak enggan mendengarkan. “Apakah dia masih punya kredibilitas?” gumam salah satu kolega dengan nada sinis. Haka merasakan beban berat di pundaknya, menyadari bahwa posisinya yang dulu kuat kini mulai goyah.

Haka tidak bisa mengendalikan diri. Kini rasa frustasinya memuncak. Bahkan, di balik dinding kamar, Haka dan Ilona terus bertengkar hebat sepulangnya mereka dari luar. Keduanya saling menyalahkan atas situasi yang mereka hadapi.

“Ini semua salah kamu!” teriak Ilona dengan mata berapi-api.

“Kalau saja kamu lebih berhati-hati mungkin semua ini tidak akan terjadi!” Haka membalas dengan suara keras, “Dan kamu pikir aku yang harus disalahkan? Kamu juga punya andil dalam semua ini!”

Namun, di tengah pertengkaran itu, mereka tiba-tiba terdiam. Kesadaran akan situasi mereka yang genting membuat mereka cepat bergerak.

“Kita tidak bisa terus seperti ini,” kata Haka dengan suara lebih tenang. Amarahnya pun sedikit meredam.

“Kita harus segera mencari solusi!” ucapnya lagi yang membuat Ilona mengangguk, lalu menyeka air mata di pipinya.

“Kita harus bersatu, bukan saling menyalahkan,” tambahnya dengan suara bergetar.

Haka menghela napas dalam-dalam. Setelah merasakan sedikit ketenangan, justru terlintas kecurigaan yang kini mulai merayapi pikirannya.

Rasanya ada yang sangat janggal. Saat Haka tiba-tiba menerima kabar mengejutkan. Arash dan Derana, dua orang yang yang ia anggap penting tiba-tiba mengumumkan pernikahan mendadak. Tidak hanya itu, Arash juga tiba-tiba menerima kerjasama besar dengan perusahaan dirinya, meskipun sebelumnya selalu sulit untuk bekerja sama karena kesibukan Arash.

“Kenapa, Haka? Apa yang kamu pikirkan?” Garis-garis yang terlihat muncul di dahi Haka kini membuat Ilona bertanya. Lelaki yang sudah duduk di tepi ranjang itu terlihat sedang memikirkan sesuatu hal penting.

“Kenapa mereka menikah begitu mendadak?” gumam Haka. Pada saat itu, dia belum menjawab pertanyaan Ilona.

“Menikah? Mendadak? Siapa yang menikah mendadak?” tanya Ilona.

“Dan kenapa Arash tiba-tiba setuju bekerja sama denganku?” Lelaki itu justru bergumam lagi. Ia mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.

“Ilona, aku rasa kita harus lebih berhati-hati dengan Arash dan Derana,” katanya dengan nada serius. Membuat Ilona menatapnya dengan mata penuh pertanyaan.

“Apa maksudmu?” tanya Ilona.

“Aku tidak tahu pasti, tapi ada sesuatu yang aneh dengan mereka. Kita harus mencari tahu lebih banyak dulu,” jawab Haka.

Sementara itu, di sebuah kafe yang tersembunyi di sudut kota, Arash dan Derana terus merencanakan langkah-langkah berikutnya. Mereka tahu bahwa menghancurkan reputasi Haka dan Ilona hanyalah permulaan. Arash memiliki rencana yang lebih besar, dan Derana siap untuk memainkan perannya.

“Langkah pertama sudah berhasil,” kata Arash sambil menyesap kopinya. “Sekarang, kita harus memastikan mereka tidak punya kesempatan untuk bangkit kembali.”

Derana mengangguk, matanya bersinar penuh semangat. “Aku sudah menyiapkan semua yang kita butuhkan. Tinggal menunggu waktu yang tepat.”

“Langkah selanjutnya adalah memastikan mereka kehilangan semua yang mereka miliki,” ucap Arash dengan tegas. “Kita akan mengambil alih perusahaan Haka dan memastikan Ilona tidak punya tempat untuk kembali.”

Derana kembali mengangguk, meskipun hatinya masih dipenuhi keraguan. “Bagaimana kita bisa melakukannya?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   49. SIMFONI ABU DAN KEBEBASAN

    Dunia seolah melambat di bawah raungan alarm yang memekakkan telinga. Cahaya lampu kristal di langit-langit aula mansion Adhitama berkedip liar, memantulkan bayangan-bayangan panjang yang menari di atas karpet merah. Derana berdiri diam, kakinya berpijak kokoh di atas lantai yang mulai bergetar hebat akibat sistem penghancur diri yang diaktifkan oleh ibunya sendiri.Di hadapannya, Elena Adhitama tidak lagi tampak seperti ratu bisnis yang tak terkalahkan. Dengan pemantik api perak di tangannya, wajah Elena memancarkan kegilaan yang murni—sebuah kehampaan jiwa yang telah menelan segalanya demi angka-angka di atas kertas dan kekuasaan yang fana. Bagi Elena, kehancuran adalah pelukan yang lebih baik daripada kekalahan.“Kenapa, Ibu?” suara Derana mengalun tenang di tengah kekacauan, sebuah kontras yang tajam dengan kepanikan para direktur yang kini berebut lari menuju pintu keluar. “Apakah singgasana ini begitu berarti bagimu hingga kau lebih memilih menjadi abu bersamanya daripada melih

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   48. KEDALAMAN YANG MEMBISU

    Dingin adalah sensasi pertama yang menyapa kesadaran Derana—dingin yang tidak hanya menggigit kulit, tetapi merasuk ke dalam sumsum tulang dan membekukan aliran darahnya. Di bawah permukaan laut yang hitam pekat, suara ledakan kapal nelayan tadi terdengar seperti dentuman tumpul yang jauh, sebuah gema dari dunia atas yang baru saja ia tinggalkan. Cahaya api yang berkobar di permukaan air tampak seperti gumpalan emas yang perlahan memudar, berganti dengan kegelapan abadi yang menawarkan ketenangan sekaligus kematian.Paru-paru Derana mulai berontak. Gelembung udara terakhir yang ia miliki meluncur keluar dari bibirnya, menari-nari menuju permukaan sebelum akhirnya pecah. Ia merasa tubuhnya semakin berat, ditarik oleh gravitasi laut yang tak kenal ampun. Namun, tepat saat pandangannya mulai mengabur dan kesadarannya nyaris terputus, sebuah cengkeraman kuat melingkari pinggangnya.Seseorang dengan perlengkapan selam lengkap sedang membawanya bergerak menjauh dari zona ledakan, menyelinap

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   47. TOPENG YANG RETAK

    Cahaya fajar di ufuk timur merayap lambat, mewarnai langit dengan semburat jingga yang tampak seperti luka yang baru mengering. Di atas dek kapal nelayan yang berguncang pelan mengikuti ritme ombak, Derana merasa waktu seolah membeku. Bisikan terakhir Arash yang sekarat masih terngiang di telinganya, berputar-putar seperti gema di dalam gua yang gelap. “Jangan percayai dia... dia bukan saudara kembarku.”Derana menatap punggung pria yang berdiri kokoh di kemudi kapal. Pria yang selama beberapa jam terakhir ia anggap sebagai Julian sesungguhnya, sang penyelamat sekaligus aliansi terakhirnya. Namun sekarang, setiap detail pada pria itu tampak mencurigakan. Bagaimana cara ia bergerak, bagaimana ia tidak memiliki luka sedikit pun setelah ledakan gudang, dan yang paling mematikan—tato kecil di belakang lehernya yang menyerupai simbol ular yang menggigit ekornya sendiri. Simbol yang pernah ia lihat dalam dokumen hitam milik Haka sebagai tanda pengenal organisasi tentara bayaran elit, The Si

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   46. PERMAINAN DI BALIK TIRAI

    Dinding lorong fasilitas medis yang putih bersih itu kini tampak seperti jeruji penjara yang dingin dan steril di mata Derana. Setiap langkah kakinya yang pelan di atas lantai vinil terdengar seperti lonceng kematian yang berdentang di telinganya. Di balik pintu kayu yang baru saja ia lewati, ia mendengar suara Guntur—pria yang ia anggap sebagai pelindung terakhirnya—sedang menyerahkan nyawanya kepada sang ibu, Elena, lewat seuntai kabel telepon satelit.Darah Derana seolah mendidih, namun ia tidak membiarkan amarah itu meledak di permukaan. Ia menarik napas panjang, memaksa paru-parunya untuk menghirup aroma antiseptik yang menyesakkan, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang seperti genderang perang. Selama ini ia berpikir bahwa Julian Asli dan Julian Bayangan adalah pemain utama, namun kenyataannya, mereka semua hanyalah karakter dalam naskah horor yang ditulis oleh ibunya sendiri.Satu tahun. 365 hari.Derana menyadari bahwa seluruh pernikahannya, kontraknya, ledakan

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   45. PERMATA DI BALIK RERUNTUHAN

    Dunia tidak berakhir dengan dentuman yang megah, bagi Derana, akhir dunia terasa seperti kesunyian yang mencekik, sebuah kekosongan absolut di mana suara napasnya sendiri pun terdengar seperti teriakan yang asing. Ledakan granat Haka di dalam gudang tua itu tidak hanya meruntuhkan struktur kayu yang melapuk, tetapi juga merobek sisa-sisa kemanusiaan yang masih mencoba bertahan di sudut hati Derana.Debu tebal, panas yang menyengat, dan aroma sulfur yang menyumbat tenggorokan adalah hal pertama yang ia sadari saat kesadarannya kembali perlahan. Derana merasa tubuhnya tertimbun sesuatu yang berat namun hangat. Saat ia membuka mata, yang pertama kali ia lihat bukanlah langit malam, melainkan punggung lebar Julian yang melindungi tubuhnya. Pria itu meringkuk di atasnya, menjadikan dirinya sendiri sebagai tameng hidup dari runtuhan beton dan serpihan kayu yang berterbangan.“Julian...” suara Derana hanya berupa bisikan parau yang hilang ditelan debu.Pria itu bergerak sedikit, mengerang te

  • Kontrak Pernikahan 365 Hari   44. PERJAMUAN DI AMBANG KEGELAPAN

    Malam di dermaga lama tidak pernah benar-benar sunyi—ada simfoni kematian yang dimainkan oleh deru ombak yang menghantam tiang-tiang pancang beton yang mulai keropos, serta siulan angin laut yang membawa aroma garam bercampur karat logam dan minyak solar yang tumpah. Derana berdiri di ujung dermaga, siluetnya tampak tajam di bawah siraman cahaya yang tampak pucat. Jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak teratur, sebuah genderang perang yang berdenyut di balik dadanya yang sesak. Di tangan kanannya, ia mencengkeram tas kecil yang berisi dokumen-dokumen yang ia ambil dari brankas rahasia ayahnya, sementara tangan kirinya tak lepas dari saku coat wol panjangnya, menyentuh permukaan dingin pistol yang kini terasa seperti bagian dari anatomi tubuhnya sendiri. Derana bukan lagi wanita yang takut pada kegelapan—ia adalah kegelapan itu sendiri. “Kau datang tepat waktu,” suara itu muncul dari balik tumpukan kontainer karatan di sisi kiri dermaga. Suara yang seharusnya familiar, namun

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status