Home / Romansa / Kontrak Sang Pengantin / Bab 7. Salam Perpisahan

Share

Bab 7. Salam Perpisahan

Author: Nyi Ratu
last update Last Updated: 2023-01-18 21:51:16

"Aku nggak punya waktu untuk ngejelasin semuanya." Jennie melangkah mundur. Wanita itu mendadak murung.

"Semuanya baik-baik saja, 'kan?" Gara mengangkat dagu sang istri hingga wajah yang dibasahi dengan air mata itu terlihat jelas.

"Ada yang mau aku omongin sama kamu," ujar Jennie sambil mengusap air matanya, tidak ada basa-basi sama sekali di antara mereka, benar-benar pertemuan yang menyedihkan.

Gara mengusap air mata yang membasahi sudut pipi wanitanya. "Katakan, ada apa?"

"Gara, aku ngomong sama Mama kalau terjadi sesuatu di antara kita berdua. Jadi, untuk beberapa hari ini tolong jangan temui aku dulu."

"Kamu datang hanya untuk pergi?" tanya Gara, "kalau aku bertanya alasannya, apa kamu akan menjawabnya, Biggie?"

Jennie menghela napas panjang. "Sayang, semua yang aku lakuin supaya kita bisa terus bersama. Bersabarlah sebentar lagi, aku janji bakal ngelakuin apa pun supaya Mama merestui hubungan kita."

 "Dengan begini kamu membuatku menjadi suami yang tidak berguna. Aku hanya duduk manis di rumah menunggu restu dari ibumu?" Gara merasa menjadi suami yang tidak bertanggung jawab. 

"Aku tau siapa mamaku, aku yakin dia bakal nurutin semua kemauanku. Nggak ada orang tua yang mau merusak kebahagiaan anaknya 'kan? Mungkin saat ini Mama cuma lagi sakit hati karena kita menikah nggak ngasih tau dia."

'Kamu tidak tahu kalau dia bukan ibu kandungmu, Biggie.' Gara hanya bisa berucap dalam hati, ia tidak bisa mengatakan semuanya karena tidak mempunyai bukti yang kuat.

Setelah beberapa saat terdiam, Jennie melanjutkan ucapannya. "Aku tau pasti ada banyak pertanyaan yang terlintas di benakmu saat ini. Kenapa aku tiba-tiba ngomong kayak gini." Jennie kembali menghela napas panjang, lalu tersenyum. "Aku janji bakal berusaha mendapatkan restu dari Mama."

"Biggie, kamu tidak mengatakan apa pun tentang kita kan?" Gara khawatir Jennie mengatakan tentang kontrak pernikahannya.

Jennie menggeleng. "Untuk saat ini, aku cuma butuh kepercayaan kamu, Sayang. Aku bahagia banget ngeliat kamu baik-baik aja, ini cukup untuk aku. Aku bakal berjuang untuk ngeyakinin Mama supaya bisa menerima hubungan kita."

"Kenapa kamu berkata seperti itu, Biggie? Kamu istriku, tentu saja aku akan mempercayaimu." Gara akhirnya mengizinkan. "Aku akan melakukan apa yang kamu katakan. Sebisa mungkin untuk menahan rinduku padamu."

 "Aku harus pulang sekarang. Aku bakal balik lagi setelah Mama benar-benar percaya sama aku."

Gara mengangguk, bibirnya juga ikut menampilkan senyuman.

"Aku pamit. Jaga diri kamu baik-baik, ya?" ucap Jennie, benar-benar mengakhiri pertemuan singkat itu dengan hanya mengatakan kalimat perpisahan seadanya.

Gara mencekal tangannya, menarik wanita itu ke dalam pelukan. "Aku akan merindukanmu," bisik pria itu, tepat di telinga sang istri. "Pastikan kamu tidak sakit ataupun terluka. Jika terjadi sesuatu, cepat hubungi suamimu ini!"

"Bang, bisakah kamu antar aku pulang?" 

"Sandainya bisa memilih, aku tidak ingin kamu pergi," kata Gara, "tapi jika menurutmu ini jalan terbaik untuk masa depan kita, aku akan mengantarmu pulang."

"Kamu tunggu di sini, aku akan ke kamar sebentar. Ada sesuatu yang tertinggal," ucap Jennie.

"Baiklah."

Jennie bergegas masuk ke dalam kamarnya dan Gara, ia menutup pintu perlahan. Wanita itu hendak mengambil selembar kertas berisi perjanjian pernikahan mereka.

"Dimana Gara menaruh surat itu?" gumamnya sambil memeriksa semua laci yang ada di kamar itu. 

Sudah beberapa menit berlalu Jennie belum menemukannya juga. "Gimana ini? Kalau kelamaan, pasti Gara bakal masuk ke sini."

Jennie mencari di bawah pakaian suaminya. "Akhirnya ketemu juga." Jennie tersenyum lega. Ia berharap sang mama bisa memercayainya lagi.

"Biggie, apa yang kamu cari di lemariku?"

    

 'Ya Tuhan ... gimana ini?' gumam Jennie dalam hati. Ia buru-buru melipat asal kertas perjanjian itu, lalu menyelipkannya pada pakaian yang akan ia bawa.

"I-ini aku mau bawa baju kamu," jawab Jennie sedikit gugup, "boleh kan? Aku bisa memeluk ini kalau aku kangen sama kamu, Sayang."

Jennie mengambil pakaian yang biasa di gunakan sang suami sehari-hari sambil menyembunyikan selembar surat perjanjian pernikahannya dengan Gara.

Entah apa yang ada di pikiran wanita itu. Bukannya menyelematkan pernikahannya, tapi perbuatan Jennie bisa mengancam rumah tangganya sendiri.

Jennie hanya ingin membuat Lisa percaya lagi padanya supaya ia dan Gara bisa berbicara baik-baik pada ibunya, tapi Jennie tidak tahu kalau wanita yang dia anggap ibu kandungnya itu sangatlah licik.

Gara menghampiri Jennie, lalu memeluknya dari belakang. Ia melabuhkan ciuman di tengkuk sang istri. 

    

"Maafkan aku, Biggie." Gara merasa tidak berguna.

"Sayang, ini bukan salahmu." Jennie mendongak. "Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kekerasan itu jangan dilawan dengan kekerasan juga. Jadi, aku ingin mengambil hati mama, mungkin dia bisa merestui kita kalau untuk sementara aku mengikuti keinginannya."

Menurut Jennie, seorang Ibu pasti menginginkan anaknya bahagia. Jika ia menjelaskan perlahan, Jennie yakin sang mama akan merestui hubungan mereka.

"Biggie, kamu itu istriku. Aku berhak atas dirimu. Seharusnya aku bisa memilikimu karena kita sudah menjadi pasangan yang sah. Kamu tanggung jawabku, aku bisa merampas dengan paksa dari ibumu jika kamu mengizinkan."

Gara terlihat seperti laki-laki lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa ketika istrinya dalam genggaman sang ibu tiri.

"Jangan! Sekuat apa pun cinta kita, seberapa besar pun usaha kita untuk membangun rumah tangga, nggak bakal bahagia tanpa restu orang tua. Apa lagi dia ibuku, wanita yang melahirkanku, aku nggak mau menjadi anak durhaka."

Jennie begitu mencintai suaminya, tapi ia juga tidak mau menjadi anak durhaka. Walau perlakuan ibunya terkadang sangat kejam, tapi ia tidak bisa membenci wanita itu seratus persen.

'Andai kamu tahu, rahasia ibumu, Biggie. Dan betapa bodohnya aku tidak bisa mengatakan semua itu karena aku tidak punya bukti kuat untuk mengungkap semuanya. Jika aku mengungkap sekarang, ibumu akan dengan mudah memutarbalikkan fakta, hingga akulah yang akan dipersalahkan.' Gara larut dalam lamunannya.

"Sayang, kenapa kamu ngelamun?" Jennie kembali memeluk suaminya. "Kamu doain aku suapaya Mama secepatnya ngerestui kita."

Jennie begitu yakin kalau ibunya akan merestui hubungannya setelah melihat isi surat perjanjian itu.

Gara melepas pelukannya, lalu menangkup wajah sang istri. "Apa yang harus aku lakukan untuk membantumu, Biggie?" 

"Sayang, perusahaanmu lagi ada bermasalah, kamu fokus aja nyari jalan keluar dari masalah di perusahaanmu, aku bisa menangani ini sendiri, percaya sama aku," kata Jennie.

Inilah salah satu alasan, kenapa Jennie tidak melibatkan suaminya. Ia tahu perusahaan mertuanya sedang dalam masalah. Ia ingin sang suami fokus pada pekerjaannya saat ini.

"Kamu adalah kekuatanku." Gara menangkup wajah istriya , lalu mengecup bibir wanita itu dengan mesra. "Semua masih berjalan lancar, aku hanya butuh doa dari istriku." Gara tersenyum walau dalam pikirannya seperti benang kusut.

"Sayang, maafin aku ya, aku selalu bawa masalah dalam hidupmu. Aku memang pembawa masalah besar di kehidupanmu."

"Cintamu adalah masalah terbesar yang kamu bawa untukku, Biggie." Gara mencubit hidung istrinya. "Aku bisa gila jika kamu pergi dari hidupku. Aku sungguh mencintaimu dan tidak mau kehilangan kamu, istriku."

"Tuan muda angkuh ini udah pintar ngegombal sekarang." Jennie memicingkan matanya menatap wajah sang suami dengan teliti.

"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" Gara meraba wajahnya. "Apa ada yang salah dengan wajahku?"

Nyi Ratu

Pembaca Haidar yang sudah hadir, komen dong

| Like
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Husna Amri Jihan A
hadir... aku kumpulin gams lagi ya Unk vote dsn ya nyai....
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kontrak Sang Pengantin    Bab 98. Zayyan Althaf Gara (End)

    Jennie mengusap air mata suaminya yang sedang duduk di kursi samping ranjang sambil menggendong bayinya. "Kamu tua banget," ucapnya sambil terkekeh."Aku tidak bisa hidup tanpamu, Biggie," ucap Gara.Jennie tersenyum, namun ada rasa sedih di hatinya melihat kondisi suaminya yang terlihat tak terurus dan kurus. Gara terlihat sangat menyedihkan."Kenapa kamu tiba-tiba ada di sini?" tanya Jennie. "Apa Anisa memberi tahu kamu?"Gara menggeleng. "Aku sudah ada di kampung ini sejak semalam untuk melihat rumahmu," katanya. "Rumah kita sudah selesai. Rumah impianmu.""Rumah apa?" tanya Jennie bingung."Dulu, waktu kita ke sini, kamu bilang ingin punya rumah di pedesaan seperti ini. Jadi, aku membuat rumah di tengah kebun sebagai hadiah ulang tahunmu.""Kamu masih sempat memberiku hadiah, padahal aku udah ninggalin kamu berbulan-bulan," ucap Jennie, "apa kamu nggak marah sama aku?"Kondisi di dalam ruangan itu terasa begitu sunyi, hanya dipecah oleh isak tangis Gara yang tertahan. Ia merasa ha

  • Kontrak Sang Pengantin    Bab 97. Melahirkan

    Tatapan Bara langsung menancap pada Anisa. Raut wajahnya tak lagi hanya dipenuhi amarah, tapi juga kekecewaan yang mendalam. "Kamu tahu di mana dia? Jadi selama ini kamu tahu, tapi sengaja diam?" Suara Bara bergetar, lebih seperti bisikan yang penuh ancaman.Anisa menelan ludah dengan susah payah. Wajah cerianya kini pucat pasi. Ia membuang pandangan, tidak berani menatap mata Bara. "Mas... aku...""Jawab, Anisa! Di mana Jennie?" desak Bara, suaranya naik satu oktaf. Ia berdiri, bersiap menghampiri Anisa, namun Haidar segera menahannya."Sudah, Bara. Jangan emosi," bisik Haidar sambil menggenggam erat lengan Bara. "Anisa, kamu jujur saja. Ada apa sebenarnya?"Gara tiba-tiba bangkit dari duduknya. "Kenapa kalian malah menyalahkan Anisa?" tanyanya penuh amarah. "Atas dasar apa kalian memarahinya? Kalian tahu? Dia itu penyelamat hubungan aku dan Jennie!"Mendengar kemarahan Gara, Bara dan Haidar terdiam. Mereka bertukar pandang penuh penyesalan. Haidar bergegas meminta maaf pada Anisa. "

  • Kontrak Sang Pengantin    Bab 96. Keanehan Gara

    Pintu terbuka dan sosok dokter Arya berdiri di sana, menatap mereka dengan tatapan menyelidik. Ia adalah dokter muda yang sangat tegas dan disiplin, membuat Andin dan Yas merasa tegang.“Selamat pagi, Ibu Andin,” sapa dokter Arya, matanya beralih ke Yas yang sedang pura-pura menikmati mie ayam. “Dan… Pak Yas?”“Selamat pagi, Dok." Yas nyengir kikuk. "Makan, Dok," tawarnya.Dokter Arya tidak menanggapi, pandangannya beralih ke Gara yang terlihat lebih segar, meski bibirnya masih basah. “Bagaimana kondisi Bapak Gara hari ini? Ada keluhan?”“Sudah lebih baik, Dok. Tadi pagi sempat mual dan muntah, tapi sekarang sudah baikan,” jawab Andin dengan suara setenang mungkin. Jantungnya berdebar kencang.“Mual dan muntah?” Dokter Arya menaikkan alis. Ia kemudian mendekat dan mulai memeriksa Gara. Ia menekan perut Gara dengan hati-hati. “Apakah perutnya terasa sakit, Bapak Gara?”Gara menggeleng pelan. “Tidak, Dok. Hanya mual saja.”Saat dokter Arya memeriksa Gara, matanya yang tajam menangkap se

  • Kontrak Sang Pengantin    Bab 95. Lebih Baik

    Mendengar nama itu, Gara langsung menoleh. Sorot matanya yang tadinya kosong kini berbinar. Ada sepercik harapan yang menyala di sana."Nienie bilang kamu harus baik-baik saja jangan mengkhawatirkannya karena dia juga baik-baik saja," bisik Riko, memastikan suaranya tidak terdengar keluar."Benarkah?" Gara tersenyum lemah. "Kamu tidak sedang membodohi aku, kan?""Mas, yang diucapkan Kak Riko itu benar," timpal Anisa, suaranya juga sangat pelan. "Kami baru pulang habis menemui Kak Jen, tapi sayang Kak Jen belum mengizinkan kami memberitahukan keberadaannya.""Kamu boleh tidak percaya padaku, tapi kamu percaya pada Anisa, kan?" tanya Riko. "Kami hanya diizinkan untuk memberi tahu kamu kalau dia baik-baik saja.""Aku akan menelpon Kak Jen supaya Mas Gara percaya," kata Anisa, tangannya sudah bersiap mengambil ponsel."Benarkah?" tanya Gara, matanya dipenuhi antusias."Tapi setelah mendengar suara Kak Jennie, Mas Gara harus mau makan, ya," bujuk Anisa, senyum manisnya merekah."Iya," jawa

  • Kontrak Sang Pengantin    Bab 94. Gara Semakin Lemah

    "Baguslah!" seru Anisa, mengacungkan kedua jempolnya dengan senyum lebar. Wajahnya berseri-seri, menunjukkan kelegaan yang mendalam."Ayo kita pulang," ajak Riko, suaranya terdengar lembut namun tegas, seolah ia bisa membaca gejolak emosi di antara mereka."Yah..." Luna mengerucutkan bibirnya. Ia memandang berkeliling, matanya menyapu pemandangan kebun sayur yang membentang hijau, "padahal aku masih pengin lama-lama di sini."Anisa tersenyum menenangkan, "Nanti kalau ada waktu kita ke sini lagi. Semoga Mas Bara sering pergi ke luar negeri," ucapnya dengan nada jenaka.Jennie terkekeh pelan, "Nanti kalau ditinggalin terus, kangen, loh."Senyum Anisa memudar. Ia menatap Jennie dengan mata berkaca-kaca. "Kak... aku benar-benar bahagia punya Kakak." Suaranya bergetar menahan tangis. "Sejak ibu meninggal, aku hidup sebatang kara. Kak Jennie nggak aku anggap kakak ipar, tapi kakak kandungku sendiri. Lebih baik aku berpisah sama Bara daripada harus berpisah sama Kakak."Riko menyentil dahi An

  • Kontrak Sang Pengantin    Bab 93. Sembuh

    Jennie menghela napas, "Kakak bilang aja kalau aku baik-baik aja, tapi jangan beritahu aku di mana. Apalagi tentang kehamilanku." Matanya memancarkan keteguhan yang rapuh, seolah ia sedang membangun benteng dari rasa sakit yang tak terucap.Riko menatap Jennie dalam-dalam, "Kamu yakin? Kalau dia tahu aku menyembunyikanmu, dia pasti akan terus memantaumu, dan aku nggak bisa ketemu kamu, Nie." Suaranya terdengar cemas, ada kekhawatiran yang nyata di baliknya.Jennie hanya tersenyum tipis, sorot matanya kosong, "Terserah Kakak aja, gimana baiknya. Aku masih ingin di sini, sendiri, menunggu kelahiran anakku." Kalimat itu diucapkan dengan pelan, penuh ketegasan, seakan tak ada lagi ruang untuk berdebat.Riko mengalihkan pembicaraan, mencoba memecah keheningan yang mulai terasa berat. "Sudahlah, jangan bahas Gara lagi. Kita ke sini karena merindukan kamu. Bagaimana keadaan keponakanku?"Jennie tersenyum, senyumnya kali ini benar-benar nyata, tangannya dengan lembut mengelus perutnya yang mu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status