Jennie menarik napas panjang. "Setelah kontrak kami berakhir, hubunganku dan Gara juga berakhir. Sesuai kesepakatan, kami akan menjalani hidup masing-masing."
Lisa melangkah maju sambil menatap tajam putrinya. "Kamu sadar tidak sudah berapa banyak kebohongan yang kamu ucapkan pada Mama, Jennie?"
"Maafkan aku, Ma. Aku mengaku salah." Jennie menunduk untuk meyakinkan sang mama kalau ia benar-benar menyesal.
"Kamu mengatakan ini, karena ingin membuatku percaya dan membebaskanmu, 'kan? Jangan pernah sekali-kali berniat untuk menipuku lagi!"
Jennie sudah menebak kalau mamanya tidak akan mudah percaya dengan apa yang dia ucapkan, tapi ia tidak akan putus asa mencari cara supaya sang mama tidak mengurungnya lagi.
"Mama boleh percaya atau nggak sama aku, tapi aku udah ngomong yang sejujurnya kalau kontrak pernikahanku hanya enam bulan."
Jennie menggunakan rahasianya untuk bisa bebas dari kurungan sang mama, tapi ia tidak sadar kalau itu hanya akan membuat Lisa semakin mudah memisahkannya dengan Gara.
"Enam bulan itu bukan waktu yang sebentar. Bisa saja setelah enam bulan kemudian, kalian mengingkari perjanjian itu. Bukankah kamu bilang kalau kalian tidak bisa dipisahkan?"
"Ma, biarin aku jalani perjanjian ini sampai akhir. Dia bisa menuntut aku kalau aku nggak melanggar kontrak kami." Jennie berharap dengan berkata jujur, sang mama mau percaya padanya lagi.
"Mama tidak mau tahu, kalian harus bercerai secepatnya!" teriak Lisa.
Di tengah waktu yang terbatas, Jennie harus berpikir bagaimana caranya agar sang mama menuruti permintaannya. Salahnya sendiri setelah bersikeras tidak mau berpisah dengan Gara, kini tiba-tiba ia membicarakan kontrak pernikahan yang ia sepakati dengan suaminya.
'Pikirin cara lain atau sesuatu yang akan membuat mama luluh, Jennie!' kata Jennie dalam hati sambil terus menatap ibunya.
Sikap keras seorang ibu seperti Lisa hanya bisa dikalahkan dengan kelembutan. Jennie akan berusaha meyakinkan ibunya kalau ia akan menjadi anak yang penurut lagi.
"Kalau aku berpisah sama Gara sebelum kontrakku selesai, aku harus mengganti rugi sesuai dengan yang telah disepakati oleh kami, Ma." Jennie berusaha mencari alasan agar ibunya mau menuruti permintaannya agar tetap menjalani kontraknya dengan Gara.
"Berapa yang dia mau? Mama akan menggantinya karena bagi Mama kebahagiaan kamu jauh lebih penting." Lisa berusaha mengambil hati anaknya lagi supaya Jennie menurut padanya seperti dulu.
"Itu bukan jumlah yang sedikit. Aku tau suami Mama seorang pengusaha, tapi Mama tau sejak dulu aku nggak pernah mau berhutang Budi sama siapa pun, karena itulah aku melakukan pernikahan kontrak demi mendapatkan apa yang aku mau."
"Jangan jadikan itu sebuah alasan untuk menentang Mama." Lisa tidak akan membiarkan Jennie membodohinya.
"Aku nggak bohong, Ma. Aku nggak bisa putus kontrak begitu aja."
"Sepertinya memang kamu yang tidak mau berpisah dari laki-laki itu."
"Mama nggak tahu siapa dia. Gara bakal curiga kalau aku tiba-tiba memutuskan kontrak pernikahan ini, apalagi kalau sampai aku sanggup membayar ganti rugi yang nggak sedikit."
"Kamu yang tidak tahu siapa suamimu, Jennie. Sebelum kamu menyesal, turuti semua apa yang Mama perintahkan."
"Ma, selain harus ganti rugi yang jumlahnya nggak sedikit, aku juga harus kembali jadi office girl di perusahaannya dengan waktu yang lebih lama lagi, yaitu sepuluh tahun. Bukannya itu malah membuatku susah untuk lepas dari jeratannya?"
"Kamu bisa membuktikan ucapanmu ini, anakku?" Lisa mencondongkan wajahnya pada Jennie sambil tersenyum miring.
"Aku akan membuktikannya," jawab Jennie dengan yakin.
"Bagaimana kamu bisa membuktikannya?" Lisa menyilangkan tangannya di bawah dada.
"Ada kertas perjanjian yang kami tanda tangani, Mama akan percaya kalau ngeliat itu."
"Tunjukan!" Lisa berusaha untuk memercayai Jennie karena ia tahu Jennie bukan wanita yang gampang jatuh cinta. Dan sebelumnya Jennie sangat penurut, apa pun yang dia mau, putrinya itu pasti akan memberikannya.
"Gara yang menyimpannya." Jennie tidak akan menyia-nyiakan kesempatan, seharusnya Lisa menyuruhnya untuk mengambil surat perjanjian itu. "Kalau Mama ngizinin, aku bakal ambil dan tunjukin surat perjanjian itu."
Jennie menunduk, dengan cemas menunggu jawaban dari wanita paruh baya itu. Sudah beberapa menit berlalu, wanita itu belum juga bersuara.
"Baiklah. Mama akan mengizinkanmu pulang ke rumah suamimu, tapi ingat! Hanya untuk mengambil surat perjanjian itu saja."
Akhirnya Lisa luluh juga, dan itu membuat Jennie mengembangkan senyumnya di balik rambutnya yang terurai menutupi wajah.
Jennie menegakkan duduknya, lalu mengangguk. "Aku janji. Setelah berhasil ngambil surat perjanjian itu, aku bakal balik ke sini lagi."
Jennie tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk berbicara dengan sang suami supaya bersabar sedikit. Ia yakin mamanya akan merestui hubungan mereka jika tahu kalau Gara adalah laki-laki yang baik, tidak seperti yang mamanya tuduhkan.
Jennie bangun dari duduknya sambil mengusap sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya. "Aku harus pergi sekarang supaya Gara nggak khawatir dan curiga sama aku karena sebenarnya pernikahan kontrak ini harus dirahasiain sampai kontrak itu selesai."
Jennie hendak meraih gagang pintu, tapi Lisa mencegatnya untuk memberikan persyaratan. "Kamu jangan lupa bahwa Mama akan terus mengawasimu!"
"Aku ngerti, Ma."
"Jika sampai terbukti bahwa apa yang kamu katakan ini hanyalah sebuah alasan agar bisa bebas dari kurungan, Mama tidak akan segan-segan untuk memberikan hukuman yang lebih dari ini ke depannya!" Ancaman Lisa tidak main-main.
Sayangnya, semua kalimat gertakan yang disuguhkan Lisa sudah tak mempan lagi untuk Jennie. "Jangan khawatir, Ma. Aku nggak akan bohongi Mama."
Baru selangkah lagi Jennie meninggalkan tempat itu, Lisa sudah kembali berteriak. "Tunggu!"
"Ada apalagi, Ma?" Jennie berbalik dan berusaha tetap tenang.
"Kamu juga harus membahas soal perceraian setelah kontrak berakhir," terang wanita paruh baya tersebut dengan buru-buru.
Jennie tidak menjawab sepatah kata pun. Wanita muda itu hanya mengangguk sekali sambil terus melangkah ke luar rumah.
Lisa menangkap hal tersebut sebagai waktu untuk putrinya mempersiapkan diri demi kemungkinan terburuk—berpisah selamanya dengan sang suami.Saat mendatangi kediamannya dan Gara, Jennie benar-benar merasa bahagia juga sekaligus sedih. Pikirannya campur aduk, antara senang atau sedih.
"Sayang, kamu di mana?" teriak Jennie saat masuk ke ruang tamu.Gara langsung keluar kamar ketika mendengar suara istrinya. "Bagaimana kamu bisa keluar dari sana, Biggie?" Gara curiga ada sesuatu yang disembunyikan Jennie.
Jennie tidak menjawab pertanyaan sang suami, ia hanya memeluk erat tubuh jangkung itu untuk melepaskan kerinduannya.Setelah melepas pelukannya, Gara menatap istrinya dengan lekat. "Katakan padaku, bagaimana ini bisa terjadi?" Melihat Jennie bisa keluar dari cengkeraman ibunya, ia yakin kalau ada sesuatu yang terjadi di antara ibu dan anak itu.
'Tidak mungkin wanita selicik Lisa bisa dengan mudah dibodohi oleh Jennie,' gumam Gara.
Di ruang interogasi, Sasha terduduk lesu. Tatapan matanya kosong, ia seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Rencana yang ia susun dengan matang hancur dalam sekejap. Seakan semua sudah direncanakan dengan sempurna, tanpa cacat, tanpa celah. Ia tidak menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil telah dipantau dan dianalisis oleh Gara. Telepon genggamnya, percakapannya dengan orang suruhan, bahkan jejak digital yang ia tinggalkan di media sosial, semuanya telah menjadi bukti tak terbantahkan.Ketika Gara, Bara, dan Jennie keluar dari kantor polisi, sorotan kamera langsung menyambut mereka. Gara melangkah tegap, Bara mengekor di belakangnya, dan Jennie berdiri dengan kepala tegak. Malam itu, berita tentang skandal Mannaf Group berganti menjadi berita penangkapan Sasha. Namun, pertanyaan besar masih menggantung di udara. Konferensi pers yang diadakan keesokan harinya di kantor Mannaf Group terasa mencekam. Puluhan kamera dan wartawan memadati ruangan, menunggu penjelasa
Di kantor Gara, suasana mendadak dicekam ketegangan. Ponsel Yas bergetar tanpa henti, layarnya terus menyala menampilkan notifikasi yang masuk bertubi-tubi. Kerutan di dahi Yas semakin dalam saat ia melihat sebuah video dengan judul provokatif, "Skandal Sang Penguasa Mannaf Group, Gara: Pesta Liar dengan Wanita di Klub Malam." Video yang menunjukkan sosok pria mabuk dengan tawa lepas itu langsung mendominasi seluruh lini masa."Bos, coba lihat video ini," ujar Yas, suaranya tercekat. Ia menyodorkan ponselnya, "Sepertinya ini perbuatan Sasha. Dia pikir laki-laki di video ini adalah Anda."Namun, alih-alih panik, tawa Gara justru meledak. Ia menatap Yas dengan geli, seolah tak percaya adiknya kembali menjadi sasaran fitnah. Yas yang tadinya tegang, kini ikut terkekeh melihat reaksi santai bosnya."Dasar bodoh!" Gara menggelengkan kepala. "Lihatlah, dia bahkan tidak bisa membedakan mana aku, mana Bara. Sejak kapan aku suka ke klub malam?""Mungkin dia terlalu terobsesi sampai matanya rab
Pagi itu, sinar mentari yang hangat menembus celah gorden, membangunkan Gara dan Jennie dari tidur mereka yang nyenyak. Keduanya masih berbaring, berpelukan erat seolah tak rela melepaskan kehangatan satu sama lain. Setelah mandi dan bersiap, mereka keluar dari kamar rahasia. Jennie berjalan gontai menuju sofa, wajahnya masih terlihat mengantuk, sementara Gara sudah terlihat segar dan siap untuk memulai hari."Sini, duduk di sini," pinta Gara sambil menepuk pahanya."Aku masih lemas, badanku rasanya remuk," jawab Jennie, merebahkan tubuhnya di sofa.Gara merengek manja, "Ayolah, sini dulu. Aku mau peluk-peluk sebelum kerja. Nanti aku pijit, deh."Jennie terkekeh. "Sejak kapan bos besar ini jadi manja?" Meski begitu, ia akhirnya bangkit dan duduk di pangkuan Gara. Gara tersenyum puas dan memeluknya erat. Tiba-tiba, pintu terbuka."Bang! Kamu sama Kakak ipar nggak apa-apa, 'kan?" Suara Bara yang panik memecah keheningan. Ia melangkah masuk, napasnya terengah-engah, dengan wajah cemas ya
"Gini." Bara memulai dengan nada serius. "Ayah kandung Anisa, Pak Indra Gunawan, nikah lagi dan punya anak namanya Sasha.""Langsung ke intinya saja. Kakak iparmu ini kapasitas otaknya terbatas," sindir Gara."Enak aja!" seru Jennie memelototi suaminya. "Lanjut, Bar."Bara mengangguk. "Waktu itu, aku dengar Pak Indra mau jodohin Abang sama Sasha. Aku langsung lapor ke Abang, dan dia bilang udah punya calon. Nggak pakai lama, besoknya dia langsung nikah dan bawa istrinya ke rumah Anisa buat ketemu Daddy dan Pak Indra.""Istrinya? Siapa?" tanya Jennie penasaran.Bara dan Gara saling pandang, lalu tawa mereka meledak."Ya kamu lah!" Gara terbahak. "Tadi tidak mau dibilang lemot, tapi malah lebih parah.""Garangan!" Jennie memukul Gara dengan kesal. "Kakak ipar tuh satu-satunya istri Abang. Masih aja nanya." Bara terkekeh."Maksudku, siapa tahu ada istri lain sebelum aku," jawab Jennie, lalu membekap mulut Gara yang masih terus tersenyum geli."Dia itu nggak punya bakat godain cewek. Bis
"Sayang! Kamu mau ke mana?!"Jantung Gara serasa berhenti berdetak. Sebuah jeritan melengking membelah keheningan jalanan. Suara itu. Jennie. Jernih dan familier, jauh berbeda dari bayangan Gara yang panik. Bayangan tentang istrinya yang disekap. Gara menoleh, dan dunianya yang gelap kembali terang. Jennie berdiri di sisi jalan, memegang kantong makanan, matanya penuh kebingungan. Foto yang dikirim orang tak dikenal itu, foto Jennie yang tampak diikat, hanyalah sebuah editan sempurna yang berhasil mempermainkan emosinya.Senyum tipis, dipenuhi amarah, terukir di bibir Gara. Pria di hadapannya menyadari ada sesuatu yang salah. Sebelum sempat pria itu melarikan diri, Gara menjentikkan jarinya, sebuah isyarat yang hanya ia dan anak buahnya mengerti.Tiba-tiba, seperti badai yang datang dalam keheningan, empat orang berjas hitam muncul dari balik bayangan. Mereka mengepung pria itu, mengunci setiap jalan keluar. Pria itu baru menyadari. Ia tidak sedang mengancam Gara, ia baru saja melang
"Uang? Seberapa banyak?" tanya Gara, suaranya meninggi. Ia tak percaya Riko, bisa terlibat dalam hal sebesar ini."Cukup untuk biaya hidup dan... misi itu," jawab Riko, suaranya nyaris berbisik. "Aku... aku kalut, Ga. Tidak ada pekerjaan. Saat itu, tawaran Sasha terasa seperti satu-satunya jalan keluar."Gara menghela napas panjang. Kekesalannya luntur, berganti rasa iba. Ia menepuk pundak Riko. "Aku mengerti. Aku tahu kamu tidak bermaksud jahat. Aku tidak menyalahkanmu.""Tapi... Gara..." Riko menatap Gara. "Aku yang membuat Nienie dan kamu berada dalam bahaya.""Bukan kamu, Riko," jawab Gara tegas. "Sasha yang jahat. Kamu hanya dimanfaatkan untuk dijadikan tersangka."Riko mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?""Sasha yang mengatur kecelakaan itu. Mungkin mereka pikir itu Jennie karena aku memakai motor istriku waktu itu," kata Gara. Ia menelan ludah. "Daddy sudah menyelidiki semuanya dan menjaga keselamatan kita.""Mereka?" Riko mengerutkan kening. "Maksudmu Sasha tidak sendirian?""Dia