Masuk"Halo, Dya.."Dya menatap pria yang tidak asing baginya ini dengan terkejut. Bagaimana nasib mempertemukan mereka di saat yang tidak tepat terus menerus?"Hai, Adit.." balas Dya dengan penuh kecanggungan. "Kamu disini?""Sedang mengecek stok obat. Kamu sendiri? Ada yang sakit?""Iya. Aku baru saja mengajak kontrol suamiku.""Oh!" Adit terperanjat dan menoleh ke arah mata Dya memandang. Ternyata ada Andri yang duduk tak jauh dari sana ikut membalas tatapan.Adit pun langsung menunjukkan ekspresi yang tak enak. "Aku sudah dengar masalah suamimu. Ternyata selama ini dia dijebak, ya?""Begitulah.""Untunglah semuanya sudah terkuak. Soal mama Maria, aku juga sudah mendengarnya."Dyandra mengangguk. "Aku sudah memutuskan hubungan dengannya.""Langkah yang tepat, Dya." Adit tahu betul penderitaan Dya bersama Maria. Dulu saja ketika mereka masih bersama, Maria tega melakukan pinjaman online atas nama Dyandra sampai membuat Dya kehilangan pekerjaan."Kalau begitu, aku permisi dulu. Suamiku sen
"Halo, Dya.."Dya menatap pria yang tidak asing baginya ini dengan terkejut. Bagaimana nasib mempertemukan mereka di saat yang tidak tepat terus menerus?"Hai, Adit.." balas Dya dengan penuh kecanggungan. "Kamu disini?""Sedang mengecek stok obat. Kamu sendiri? Ada yang sakit?""Iya. Aku baru saja mengajak kontrol suamiku.""Oh!" Adit terperanjat dan menoleh ke arah mata Dya memandang. Ternyata ada Andri yang duduk tak jauh dari sana ikut membalas tatapan.Adit pun langsung menunjukkan ekspresi yang tak enak. "Aku sudah dengar masalah suamimu. Ternyata selama ini dia dijebak, ya?""Begitulah.""Untunglah semuanya sudah terkuak. Soal mama Maria, aku juga sudah mendengarnya."Dyandra mengangguk. "Aku sudah memutuskan hubungan dengannya.""Langkah yang tepat, Dya." Adit tahu betul penderitaan Dya bersama Maria. Dulu saja ketika mereka masih bersama, Maria tega melakukan pinjaman online atas nama Dyandra sampai membuat Dya kehilangan pekerjaan."Kalau begitu, aku permisi dulu. Suamiku sen
Setelah 3 hari menjalani perawatan, Andri diperbolehkan pulang ke rumah dan bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Tempat pertama yang didatanginya adalah penjara tempat Heru sekarang mendekam, mau memakai pengacara paling hebat atau paling mahal sekalipun tidak akan bisa melepaskan Heru dari jerat hukum. Itu janji Andri.Begitu juga dengan Maria yang telah menyakitinya, Andri sudah tak segan lagi ketika mendengar Maria mendapatkan hukuman berlapis. Dia memang pantas untuk dihukum.Sesampainya di rumah, Andri sudah disambut oleh keluarga besarnya termasuk Rose dan Jeremy yang tiba dari Padang.Sepertinya tak bisa beristirahat karena Andri langsung mengajak keluarga intinya untuk berdiskusi mengenai kelangsungan perusahaan mereka."Kita makan malam dulu saja.." ajak Rose yang membantu Dyandra di dapur sejak tadi.Ketika semuanya berkumpul untuk makan malam, tak ada satupun yang membahas kejadian kemarin. Semuanya fokus berdiskusi mengenai perombakan perusahaan. Tapi dasar mulut Jerem
Dyandra terbungkam oleh ucapan Nadira barusan. Tak mau memiliki hutang budi katanya, sungguh membuat air mata Dyandra terus beranak pinak.Melihat Dyandra yang menangis, Cipta menegur."Duduklah, Dya. Mau aku ambilkan minum?"Dyandra menggeleng sembari menatap suaminya yang masih memejamkan mata. Hanya ada tiga orang ini di ruangan karena Yasmine menemani Nadira untuk mendonorkan darah.Memberanikan diri, Dya duduk di kursi samping tempat tidur suaminya. Sejak tadi, Dya memilih menepi dan sedikit menjauh.Dya menyentuh tangan suaminya dan tak sengaja membangunkan Andri yang langsung mengaduh."Mas Andri.." Cipta ikut mendekat ketika Andri terbangun.Andri meneguk ludahnya hingga mengerjap beberapa kali untuk mengembalikan kesadarannya."Mas Andri mau minum?" Tawar Dya yang langsung mendapatkan perhatian Andri.Perlahan, Dya membantu suaminya untuk minum."Sudah." Ucap Andri masih serak."Syukurlah.. aku pikir tidak bisa bertemu dengan mas Andri lagi!" Seru Cipta."Aku ini hebat, janga
Heru diringkus secepatnya oleh Polisi atas terbongkarnya kejahatan dirinya selama ini. Begitu juga dengan Effendi dan punggawa perusahaan lainnya yang membelot dan berkhianat kepada perusahaan.Tak tertinggal Laura yang ikut dibawa karena harus dimintai keterangan. Mungkin saja status Laura akan naik satu tingkat karena dia terbukti bekerja sama untuk menjebak Andri. Dari sanalah ada satu nama lagi yang dikantongi oleh Polisi, yaitu Maria.Maria malah menjadi otak penjebakan Andri di hotel. Dengan cara yang sama yaitu mencampurkan sesuatu pada minuman Andri hingga pria itu tak sadarkan diri. Memudahkan Laura untuk melancarkan aksinya.Nadira menatap Maria yang baru saja tiba di kantor polisi dengan tangan yang sudah terikat borgol. Maria yang tak kooperatif di dudukkan secara paksa dan di cecar banyak pertanyaan. Salah satunya adalah kepemilikan senjata api ilegal."Jadi kamu ingin sekali menjadi nyonya, Maria?" Tanya Nadira dingin.Maria menatap tajam mantan majikannya itu lalu terta
Sudah berapa lama Dyandra berkeliling pasar? Oh, Dya sampai lupa tujuan utamanya. Kini di tangannya ada jepitan rambut yang cantik, sebuah jepitan kecil dengan gambar boneka di atasnya.Melihat pasar tradisional ini, kenangan indah Dyandra melintas begitu saja. Kenangan ketika papanya mengajak Dyandra setiap hari libur untuk berkeliling pasar dan membeli jepitan rambut ini untuknya."Andai saja papa masih hidup.." Dyandra sampai berandai-andai. Dengan seperti itu, Dyandra mungkin tidak akan terluka seperti sekarang.Setelah puas berkeliling, Dya kembali ke rumah sewa milik Maria. Tapi kembali dilihatnya tak ada jejak manusia disana. Beberapa kali pintu diketuk tapi tak ada jawaban. Sebenarnya kemana Maria ini?Sebuah mobil taksi akhirnya turun tak jauh dari depan rumah sewa. Dyandra sampai memperhatikan seseorang yang baru saja turun dari sana."Mama?" Mata Dyandra sampai memicing. Maria menggunakan setelan yang berbeda.Hari ini Maria memakai setelan formal dengan jas berwarna ungu.







