Share

Membandingkan

Penulis: Stary Dream
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-25 23:08:56

Menunggu Adit kembali ke kamar seperti menunggu bulan jatuh ke bumi. Tadinya, Dya sudah berpikiran positif mungkin suaminya tengah merangkai sebuah kejutan ulang tahun untuknya.

Namun, sampai pagi.. batang hidung suaminya tak muncul juga. Sampai Dya sadari bahwa Adit lebih memilih tidur di kamar tamu. Sepertinya, ia benar-benar kesal karena Dya yang bergelayut manja semalam.

Meninggalkan rasa kecewa, Dya bersikap biasa saja. Tak menunjukkan perasaan apapun kecuali sikap manis kepada suaminya.

"Tidak perlu bawa bekal." Tegur Adit ketika Dya menyiapkan dua kotak bekal. Satu untuknya dan satu untuk suaminya.

"Baiklah kalau begitu."

Dya tak mau membantah. Kalau kata suaminya tidak perlu, ya tidak usah disiapkan.

Hari ini Adit pun pulang terlambat. Ketika bertanya, Adit lansung mencak-mencak.

"Aku cuma bertanya, sayang." Ucap Dya sabar. "Aku takut terjadi sesuatu padamu di luar."

"Aku bukan anak kecil, Dya!" Bentak Adit yang membuat Dya terdiam.

Dya lalu mengambil baju kotor yang baru dilepas oleh suaminya. Namun, ia mencium sesuatu.

"Kenapa bajumu bau rokok ya?"

"Bajuku?" Tanya Adit dengan dahi mengkerut.

"Iya." Ucap Dya saat memperlihatkan baju bekas kerja suaminya sore itu.

"Kamu menuduhku merokok?"

"Bukan begitu.. aku cuma bertanya kenapa bajumu bau rokok, bukan menuduhmu merokok.."

"Kenapa kamu selalu mempermasalahkan hal yang nggak penting sih, Dya? Kekanak-kanakan sekali."

Dya ingin menjawab lagi tapi suaminya main masuk ke kamar. Padahal, bukan maksud hati Dya mencurigai suaminya merokok. Mungkin bau rokok ini dia dapat dari teman sekantornya.

Hal ini sebenarnya dilakukan sebagai cara Dya menjaga suaminya saja. Dulu, Aditya ini perokok aktif hingga menyebabkan sakit paru-paru. Oleh karena itulah pemicunya harus dihindari. Dya hanya takut Adit sakit saja. Tapi, suaminya malah tersinggung.

Terpaksa Dya mengalah lagi dan mendekati suaminya, meminta maaf telah berburuk sangka padanya.

"Bersamamu aku seperti hidup dengan polisi. Selalu diinterogasi! Aku muak, Dya!"

"Maaf, sayang.." Dya sampai tertunduk. Dia lalu mengambil tangan suaminya namun terkesiap. Adit begitu keras menepis tangannya.

"Aku nggak suka tubuhku disentuh-sentuh! Lain kali kamu harus mendapat izinku baru boleh menyentuhku!" Adit memandang tajam.

Dya pun memandang suaminya dengan tatapan berkaca-kaca.

"Maaf.. aku hanya ingin mengatakan kalau aku mencintaimu."

"Cukup katakan saja! Jangan sampai menyentuhku."

Adit langsung bangkit dan keluar dari kamar. Ia tak kembali sampai pagi.

Seperti biasa di tempat kerja, Adit dan Kayra tengah menikmati makan siang bersama di taman belakang.

"Jadi itu alasan wajahmu kecut dari pagi?" Kayra sampai terkikik mendengar cerita Adit yang mengaku jijik disentuh istrinya.

"Aku nggak suka sikapnya yang manja itu. Seperti anak kecil saja!"

"Tapi denganku kamu suka, kan?" Goda Kayra.

"Kalau kamu berbeda.."

Mendengar itu Kayra terkekeh.

"Jangan seperti itu. Walau begitu dia istri yang setia padamu. Buktinya, dia telaten mengurusmu ketika sakit."

"Yaa.. aku merasa seperti memiliki perawat home care."

Lagi-lagi Kayra tertawa.

"Tega banget! Istri sendiri disangka perawat home care. Emang kamu nggak cinta apa sama Dyandra?"

"Entahlah.." bahu Adit sampai merosot. "Aku nggak punya perasaan apapun padanya. Malah aku merasa muak. Oleh karena dia merasa seperti pahlawan karena berhasil merawatku, dia bertindak seperti aku adalah miliknya. Ikut mengatur hidupku. Ingin selalu didekatku. Jujur aku gerah.."

"Ya ampun.. padahal dia istrimu.. masa dekat-dekatan nggak boleh?"

"Risih!" Jawab Adit ketus. Tebersit lagi bayangan istrinya yang tak ia sukai.

"Kalau begitu harusnya nggak usah kamu nikahin!" Gerutu Kayra.

"Aku nggak punya pilihan lain. Lepas darimu, ada dia yang seperti mengharap cintaku. Melampiaskan rasa sakit hatiku, terpaksa aku menikahinya.."

"Kamu masih sakit hati padaku?" Tanya Kayra memandang lekat.

"Tergantung bagaimana kamu bisa mengambil hatiku.."

Kayra berdecak. "Kamu ini!"

Adit tersenyum dan mengambil tangan halus Kayra. Menggenggamnya dengan hangat tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

"Sama istri sendiri nggak mau pegang. Sama wanita lain nyosor aja!"

"Kamu kan berbeda.. lagipula tanganmu lebih halus dari tangannya."

"Benarkah?"

Adit mengangguk.

"Kamu dan Dyandra seperti langit dan bumi. Kamu cantik seperti bidadari dan dia... ah, aku tidak bisa membayangkannya. Kamu tidak bisa dibandingkan."

"Kamu masih pintar merayu rupanya." Jawab Kayra tersenyum manis.

Sementara Adit menjadi heran sendiri. Kenapa dia menjadi blak-blakan seperti ini menghina istrinya di depan orang lain? Apa mungkin karena ini Kayra? Wanita yang tiada duanya.

Sepulangnya bekerja, Dya menyambut seperti biasa. Menyalimi tangan suaminya dengan takzim, mengambil tas dan menaruh sepatu suaminya di dalam rak. Tak lupa segelas air dingin diberikan kepada Adit.

Saat masuk ke kamar, handuk untuk mandi serta baju ganti sudah siap. Bedanya, Dya tak terlalu cerewet seperti kemarin hingga membuat Adit bersyukur. Setidaknya, dia tak perlu mencari alasan karena pulang terlambat.

Makan malam sudah disiapkan, Dya menautkan lauk ke piring suaminya. Namun, setelahnya Dya memilih menyingkir dari meja makan. Tak menemani seperti biasa.

Begitu juga ketika tidur malam, sekitar jam 10 Dya baru masuk ke kamar. Hanya untuk mengambil beberapa helai baju yang tak bisa Adit lihat baju apa itu. Ingin bertanya tapi enggan, jadi dibiarkan saja tingkah istrinya itu. Sampai Adit baru menyadari jika sudah beberapa hari Dya tidak tidur satu kamar lagi dengannya.

Jika beberapa hari yang lalu, Adit yang menyingkir. Maka sekarang Dyandra.

"Tidur dimana kamu semalam?" Adit tak tahan untuk tidak bertanya.

"Di kamar tamu. Semalam aku ngerjain laporan kinerja."

"Oh."

Baguslah, Adit tak perlu khawatir dengan jawaban istrinya. Walaupun sebenarnya untuk apa juga dia khawatir.. malah bagus, kan? Itu artinya dia bisa memonopoli tempat tidur dan tenang tanpa gangguan dari istrinya.

Jam makan siang di tempat kerja tiba, Kayra ingin mencari suasana baru. Ia ingin makan di mall saja. Hari ini sengaja tak membawa bekal untuk Adit. Dia tengah malas masak.

Selesai makan siang bersama, Kayra merengek meminta ditemani ke butik. Berbelanja beberapa pakaian sembari melingkarkan tangannya di lengan Adit. Keduanya tampak mesra bersama.

"Apa aku cantik memakai ini?" Tanya Kayra sambil memegang satu gaun berwarna hitam.

"Kamu cantik dengan warna apapun."

Kayra jadi tersipu. Namun saat ingin membayar, wajahnya berubah murung.

"Kenapa?" Tanya Adit.

"Gaunnya mahal. Uangku nggak cukup."

"Masalah uang ternyata. Pakai uangku saja."

"Eh! Nggak usah repot!"

"Nggak masalah."

Adit membayar dengan beberapa lembar uang ratusan ribu. Kayra yang senang mendapat apa yang ia mau sontak mengecup pipi Adit di depan umum.

"Makasih, ya. Kamu memang pria yang terbaik."

Adit hanya tersenyum sambil mengedarkan pandangannya. Namun matanya terbentur dengan tatapan seseorang yang memperhatikan mereka dari jauh.

"Dyandra.." Adit harap ia salah lihat.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Dita Dita
buat Adit menyesaalll thorrrr...bikin gregetan....
goodnovel comment avatar
Yati Syahira
buang laki bodoh penyakitan cukup dya pergi buang waktu
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Ku Kejar Cintamu, Kau Kejar Cintanya   Hadiah Terindah (Ending)

    Selepas melihat Maria tadi, Dyandra menjadi diam dan membuang pandangannya keluar jendela. Andri yang tahu jika istrinya bersedih, memilih tak banyak bicara. Dia hanya menggenggam tangan istrinya dengan lembut untuk sekedar menguatkan hatinya yang tengah rapuh.Sebagai seorang anak, Andri mengerti jika Dyandra pasti terpukul dengan keadaan ibunya sekarang. Tapi mau bagaimana lagi? Itulah kehidupan yang sudah dipilih oleh Maria."Mas.." panggil Dya lemah tanpa menoleh."Iya, sayang?""Tolong cari tahu keadaan Ari. Aku ingin tahu bagaimana kabarnya.""Baik, akan kulakukan. Kamu masih memikirkan Maria?" Tanya Andri memberanikan diri.Dyandra mengangguk sembari menatapi pemandangan yang ada diluar sana."Lupakanlah. Ingat rasa sakitmu, Dya. Sekarang waktunya kamu bahagia.." Andri meraih tangan Dya dan mengecupnya.Dyandra tersenyum. Jika mengingat masa lalu hanya membangkitkan luka masa kecilnya yang begitu perih. Bentuk penolakan, dibedakan hingga ditipu daya sudah pernah Dya lalui. Memb

  • Ku Kejar Cintamu, Kau Kejar Cintanya   Tuai Perbuatan

    Satu minggu lagi adalah pernikahan Cipta dan kekasihnya. Untuk merayakan hal tersebut, Yasmine mengadakan makan malam bersama keluarga besarnya. Termasuk mengundang keluarga dari calon istri Cipta."Selamat datang mas Andri, Dyandra.." Cipta memberikan pelukan pada sepupunya. Tak lupa Dya juga yang memberikan salam sayang pada Yasmine."Eh.. ada Selina disini!" Seru Dyandra langsung mendekati calon istri dari Cipta.Wanita bernama Selina ini juga ikut mendekat dan mengulurkan tangannya pada Dyandra. Dya pun membalas dengan memberikan satu kotak hadiah."Hadiah pernikahan dari kami." Ucap Dyandra."Aduh kalian ini kenapa sampai repot sekali.." seru Yasmine yang bergabung dengan keduanya."Nggak apa-apa, tante. Kami ikut bahagia karena kak Cipta akhirnya menikah.""Setelah 33 tahun, akhirnya aku mendapatkan pasangan juga." Ucap Cipta yang mengundang gelak tawa semua orang."Aku juga baru mendapatkan pasangan yang tepat di usia 33 tahun, Cipta. Kita sama saja." Sahut Andri.Hadiah yang d

  • Ku Kejar Cintamu, Kau Kejar Cintanya   Waktu Milik Kita

    Satu tahun enam bulan kemudian..Suara tangisan terdengar lagi dengan keras, padahal sebelumnya tempat ini baru saja hening dari suara tangisan bayi.Dyandra mengambil air dengan tangannya untuk berkumur-kumur. Karena telat sarapan, Dyandra sampai muntah begini. Herannya, ia tidak sakit perut seperti gastritis biasanya. Hanya mual diiringi muntah saja.Setelah berkumur, Dyandra menyeka mulutnya dan keluar dari kamar mandi. Suara tangisan bayi itu kembali terdengar hingga membuat Nyonya muda ini menuju ke bagian depan baby spanya.Setidaknya sudah 6 bulan ini, Dyandra mendirikan baby spa. Sebuah cita-cita yang meluncur sekitar satu tahun ke belakang. Dya yang tidak bisa meninggalkan dunia anak-anak, mengambil pelatihan khusus untuk pemijatan bayi.Bersama sahabatnya, Putri, Dya merintis usahanya. Tentu saja impian ini dapat tercapai karena dukungan dari suami tercintanya."Ada pengunjung lagi?" Tanya Dya pada pegawai frontliner."Ada satu, Nyonya."Dyandra masuk ke dalam ruangan spa ya

  • Ku Kejar Cintamu, Kau Kejar Cintanya   Menerima Kebahagiaan

    Andri sampai mengorek telinganya yang gatal. Bagaimana tidak? Nadira mengomel karena anaknya hilang tanpa kabar.Harusnya Andri pulang sejak semalam, tapi setelah ditunggu-tunggu anak kesayangannya itu malah tidak datang. Nadira pikir pesawat Andri jatuh dan hilang kontak. Membuat Nadira sudah berpikir yang macam-macam saja.Semalaman dihubungi Andri tidak menjawab. Sudah cemas setengah mati, rupanya Andri malah sedang bermesraan dengan istrinya di rumah sewa. Lantas saja itu membuat Nadira marah."Cepat pulang sekarang!" Perintah Nadira yang tak bisa diganggu gugat.Andri kembali menaruh ponselnya setelah sambungan dimatikan."Kenapa, mas?""Mama marah karena aku nggak mengabarinya.""Aduh.. pasti mama cemas. Kamu sih!""Iya salahku memang." Andri lalu menatap istrinya. "Bersiaplah. Kita pulang hari ini.""Pu-pulang?" Dyandra terkejut."Iya pulang ke rumah. Kita sudah berbaikan, kan? Aku mau kita tidak tinggal terpisah lagi."Dyandra tertunduk mendengar ucapan suaminya. Sebenarnya Dy

  • Ku Kejar Cintamu, Kau Kejar Cintanya   Syahdu

    "Apa maksud mas ngomong begitu?"Andri melirik sekilas dan berbalik lagi. Namun bahunya kembali tertahan."Apa mas pikir aku mau kembali dengan Aditya?""Salah, ya? Bukannya kamu memang masih mencintai mantan suamimu?" Tanya Andri balik."Oh, Tuhan." Sampai merosot bahu Dyandra, selama ini Andri sudah salah paham padanya. "Walau kita berpisah, aku nggak akan mau kembali kepadanya.""Kenapa? Kamu masih cinta sama dia, kan?""Darimana asumsimu itu?" Dyandra menatap tajam."Buktinya kamu ingin berpisah dariku. Aku yakin alasannya itu." Gumam Andri pelan."Aku kan sudah bilang kalau aku nggak mau menyakitimu terlalu jauh! Aku nggak mau terus-terusan menjadi beban untukmu, memberi kalian rasa malu.. aku nggak mau! Makanya aku memutuskan untuk berpisah!" Dyandra mengerjap menahan tangis."Bukan karena ingin kembali pada Aditya?" Tanya Andri lagi."Bukan!" Dyandra berdecak kesal. "Kamu juga setelah ini akan dijodohkan oleh mama Nadira. Mama sudah menyiapkan seorang wanita untukmu.""Mama bil

  • Ku Kejar Cintamu, Kau Kejar Cintanya   Saling Merindu

    Baru satu minggu tidak bertemu keduanya jadi gelisah. Dyandra sudah terbiasa ada Andri di sisinya, terbiasa mendengar suara lembut itu, terbiasa jika tertidur di pandangi olehnya juga terbiasa melayani suaminya ketika akan pergi dan pulang bekerja.Siapa nanti yang memakaikan dasi untuk suaminya? Menyiapkan air hangat untuk mandi dan juga pakaian gantinya? Lalu bagaimana makannya? Apa Andri masih suka bekerja sampai larut di ruang kerjanya? Duh, Dyandra gusar sendiri.Apalagi kegelisahannya makin menjadi-jadi ketika mendapat pesan dari suaminya barusan. Andri yang sopan dan sungguh menghargai privasinya. Dia bertanya apakah Andri boleh berkunjung atau tidak?Namun, sayang Dya lekas menjawab untuk tidak bertemu dulu. Lalu yang terjadi malah Dya yang gelisah.Mondar mandir tubuh ini dibuatnya, Dya menunggu balasan pesan dari suaminya. Jahatkah diri ini berkata demikian? Dyandra yakin Andri juga tersiksa akan perpisahan ini."Nyonya dari tadi mondar mandir." Ucap Asih yang sejak tadi mem

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status