Share

Sadar Diri

Author: Stary Dream
last update Last Updated: 2025-11-25 23:10:14

"Dyandra.."

Adit memandang lagi wanita yang berada di sebrang sana. Rambut yang diikat setengah dan memakai baju putih. Dia hapal betul jika itu istrinya.

Namun kenapa wanita itu melengos saja. Seperti cuek dengan keadaan Adit yang tengah dirangkul Kayra. Lalu.. wanita itu pergi begitu saja.

Jika itu memang Dya, harusnya dia datang dan marah-marah. Mengomel kenapa suaminya mau digandeng orang lain sementara dengan istrinya tidak mau.

"Kenapa, Adit?" Tanya Kayra setelah sadar tak menanggapi ucapannya.

"Oh, tidak apa-apa."

Adit kembali menatap sekeliling. Wanita yang melihatnya tadi rupanya tak ada lagi. Nah, mungkin saja itu hanya halusinasi Adit.

Setelah mengantar Kayra pulang ke rumah, Adit membeli beberapa potong ubi cilembu hangat.

"Untukmu." Adit menyerahkan bungkusan tersebut kepada istrinya.

"Terima kasih."

Dyandra menerima bungkusan itu dan mengambil piring di ruang makan. Sementara Adit langsung mandi. Namun, ketika selesai mandi, Adit keheranan melihat ubi itu sudah ditaruh cantik di atas nakas samping tempat tidur.

Sambil memakai baju yang disiapkan istrinya, Adit kembali keluar dan mencari Dya ke penjuru rumah. Tapi, Dya tak ditemukan. Hanya ada makan malam yang sudah disiapkan.

Selesai makan malam, Adit kembali lagi ke kamar dan tidak menemukan istrinya. Malam ini, Dya tidur terpisah lagi.

Begitu juga hari-hari berikutnya. Adit yang selalu terbiasa ada kehadiran Dya meski risih, kini mulai kehilangan.

Dya tak muncul atau sekalipun menunjukkan wajahnya pada suaminya. Tapi seluruh kebutuhan Adit sudah terpenuhi. Handuk mandi, baju bersih, makanan hingga segelas air dingin ketika ia pulang bekerja sudah disiapkan. Membuat Adit bingung, kemana perginya Dya ini?

"Dari mana kamu?" Tanya Adit dingin setelah Dya baru pulang sore itu.

"Dari kerja."

Adit melirik jam dinding.

"Bukannya kamu harus pulang dari 2 jam yang lalu?"

"Aku pergi bersama ibu kabag medik tadi, ada penambahan alat medis untuk ruangan. Jadi, aku ikut."

Adit mengernyit ketika mendengar nada datar Dyandra, padahal sebelumnya dia akan mengeluarkan suara manja yang dibuat-buat.

"Memang mau beli alat medis dimana?" Tanya Adit acuh.

"Di medica utama."

"Me.. medica utama?" Adit terkejut. "Kenapa kamu nggak kasih tahu aku?"

"Aku cuma nggak mau ganggu kamu bekerja." Dya tersenyum letih. "Apa ada yang kamu butuhkan?"

"Aku tidak butuh apa-apa." Ucap Adit memalingkan wajah.

"Kalau begitu, aku masuk ke kamar dulu."

Dari ekor matanya, Adit melihat. Tenyata Dya masuk ke kamar tamu bukan kamar milik mereka berdua.

"Apa dia sedang mengajakku berperang?" Adit jadi kesal.

Bukan karena Dya yang memilih tidur di kamar tamu. Bukan itu! Adit malah bersyukur bisa pisah ranjang dengan istrinya. Namun yang menjadi masalah adalah sikap cuek istrinya. Apa-apaan itu? Adit jadi tersinggung.

"Kayra, apa ada kunjungan dari rumah sakit internasional tadi?" Tanya Adit di ujung telpon.

"Ada. Tadi ada Dyandra kemari dengan tim rumah sakitnya."

"Kok kamu nggak kasih tahu aku?"

"Loh, memang istrimu nggak ngabarin?"

Nah, Adit mati kutu. Yang dikatakan Kayra benar juga.

"Lupakan soal itu. Istirahatlah."

Adit langsung mematikan ponsel.

Kebetulan ini hari minggu, adalah hari libur bagi keduanya. Adit mulai rajin berolahraga, ia ingin mengimbangi gaya hidupnya yang kembali tak sehat. Tak ingin lagi penyakit lama berhinggap padanya.

Ketika pulang, ia bisa melihat istrinya yang tengah membersihkan rumah. Namun saat Adit masuk, Dya malah tak ada lagi.

"Apa aku tadi melihat hantu?" Adit sampai kebingungan dan langsung masuk ke kamarnya.

Dya yang tadi bersembunyi, kini keluar dan melanjutkan pekerjaan rumahnya.

***

"Jangan terlalu banyak." Kayra mengambil satu batang rokok dari mulut Adit.

Malam ini, keduanya menghabiskan waktu bersama diluar. Seperti tak ada bosan-bosannya, padahal setiap hari mereka bertemu di kantor.

"Satu lagi. Janji!"

Karya mendesah dan memberikan rokok tersebut pada Adit. Sudah menjadi kebiasaan maka sulit ditinggalkan. Hampir satu tahun tak merokok karena penyakit yang di derita, membuat mulutnya masam. Pikirannya sempit dan moodnya tak stabil. Setidaknya, rokok ini bisa mengurangi stressnya.

"Nanti kamu sakit lagi.."

"Cuma sedikit. Nggak banyak kayak dulu." Adit membela diri.

Kayra hanya tersenyum.

"Sudah ini kita jalan-jalan, ya!"

Adit mengangguk. Pokoknya malam ini memang difokuskan untuk Kayra seorang. Keduanya makan malam di sebuah kedai cepat saji, lalu berkeliling ke pasar malam.

Ketika jam 11 malam, Adit baru sampai ke rumah. Ia lalu melihat lampu tengah yang tadinya hidup kini dimatikan.

Adit membuka pintu rumah yang rupanya tak terkunci. Artinya, ada seseorang yang menunggunya di dalam. Namun, Adit tak melihat wanita itu menyambutnya.

"Dasar!" Adit mendengkus.

Senin kembali, keduanya harus berangkat bekerja.

Sengaja, Adit lebih cepat bangun karena mendengar suara berisik dari arah dapur. Ternyata istrinya tengah menyiapkan sarapan.

Adit berdeham.

"Silahkan sarapan." Dya menyerahkan satu piring berisi pancake yang ditaburi topping buah.

"Lain kali jangan lupa mengunci pintu kalau malam. Masih untung aku yang menemukannya, kalau maling yang masuk bagaimana? Mau tanggung jawab kamu kalau barang kita ada yang hilang?!"

"Maaf.. semalam aku memang sengaja membukanya pas kamu pulang."

Adit berdecak. "Jadi kamu menungguku pulang?"

Dya hanya diam sambil menaruh makanannya di dalam kotak makan. Ia tak berniat sarapan pagi bersama suaminya.

"Dya!" Panggil Adit dengan intonasi tinggi. "Aku sedang bicara."

"Aku mendengarkan." Ucap Dya lembut.

"Kamu kenapa sih? Aku merasa kamu berubah. Kenapa? Kamu ngambek gara-gara aku lupa hari ulang tahunmu?"

"Nggak. Aku nggak ngambek."

"Lalu ? Kenapa mukamu itu?" Adit kesal. Dia sudah bisa menebak jika Dya tengah merajuk dan minta Adit untuk merayunya.

"Mukaku nggak apa-apa."

"Dya!" Tegur Adit lagi.

Dya menghela nafas.

"Maaf kalau kamu pikir aku berubah. Aku cuma nggak mau mengganggu kamu aja. Aku tahu kalau kehadiranku membuatmu risih, bahkan sedikit muak. Maafkan aku tidak peka selama ini.."

Adit terkesiap akan ucapan istrinya.

"Aku tahu pernikahan kita cuma kompensasi atas sakit hati kamu di masa lalu.. dan harusnya dari awal, aku sadar kalau aku tidak perlu terlalu mengharapkanmu. Namun, nyatanya.. aku terus mengejar cintamu sampai membuatmu kesal." Dyandra tersenyum pahit. "Maafkan sikapku selama ini padamu. Aku berjanji tidak akan menunjukkan wajah ini terlalu sering padamu."

Dyandra meraih kotak makannya dan pergi dari hadapan Adit.

Selama ini, dia bersabar dan menoleransi seluruh sikap dingin suaminya. Berharap dengan kasih sayang serta kesetiaan bisa merobohkan benteng hati Adit yang membeku.

Namun, setelah Dya mendengarkan percakapan mereka berdua siang itu. Dya sadar diri. Ternyata setelah apa yang sudah Dya lakukan selama ini, masih tak bisa juga mengambil hati suaminya.

Dyandra tak sebanding dengan mantan kekasih suaminya, Kayra.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Yati Syahira
pergi buang laki bodoh
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ku Kejar Cintamu, Kau Kejar Cintanya   Hadiah Terindah (Ending)

    Selepas melihat Maria tadi, Dyandra menjadi diam dan membuang pandangannya keluar jendela. Andri yang tahu jika istrinya bersedih, memilih tak banyak bicara. Dia hanya menggenggam tangan istrinya dengan lembut untuk sekedar menguatkan hatinya yang tengah rapuh.Sebagai seorang anak, Andri mengerti jika Dyandra pasti terpukul dengan keadaan ibunya sekarang. Tapi mau bagaimana lagi? Itulah kehidupan yang sudah dipilih oleh Maria."Mas.." panggil Dya lemah tanpa menoleh."Iya, sayang?""Tolong cari tahu keadaan Ari. Aku ingin tahu bagaimana kabarnya.""Baik, akan kulakukan. Kamu masih memikirkan Maria?" Tanya Andri memberanikan diri.Dyandra mengangguk sembari menatapi pemandangan yang ada diluar sana."Lupakanlah. Ingat rasa sakitmu, Dya. Sekarang waktunya kamu bahagia.." Andri meraih tangan Dya dan mengecupnya.Dyandra tersenyum. Jika mengingat masa lalu hanya membangkitkan luka masa kecilnya yang begitu perih. Bentuk penolakan, dibedakan hingga ditipu daya sudah pernah Dya lalui. Memb

  • Ku Kejar Cintamu, Kau Kejar Cintanya   Tuai Perbuatan

    Satu minggu lagi adalah pernikahan Cipta dan kekasihnya. Untuk merayakan hal tersebut, Yasmine mengadakan makan malam bersama keluarga besarnya. Termasuk mengundang keluarga dari calon istri Cipta."Selamat datang mas Andri, Dyandra.." Cipta memberikan pelukan pada sepupunya. Tak lupa Dya juga yang memberikan salam sayang pada Yasmine."Eh.. ada Selina disini!" Seru Dyandra langsung mendekati calon istri dari Cipta.Wanita bernama Selina ini juga ikut mendekat dan mengulurkan tangannya pada Dyandra. Dya pun membalas dengan memberikan satu kotak hadiah."Hadiah pernikahan dari kami." Ucap Dyandra."Aduh kalian ini kenapa sampai repot sekali.." seru Yasmine yang bergabung dengan keduanya."Nggak apa-apa, tante. Kami ikut bahagia karena kak Cipta akhirnya menikah.""Setelah 33 tahun, akhirnya aku mendapatkan pasangan juga." Ucap Cipta yang mengundang gelak tawa semua orang."Aku juga baru mendapatkan pasangan yang tepat di usia 33 tahun, Cipta. Kita sama saja." Sahut Andri.Hadiah yang d

  • Ku Kejar Cintamu, Kau Kejar Cintanya   Waktu Milik Kita

    Satu tahun enam bulan kemudian..Suara tangisan terdengar lagi dengan keras, padahal sebelumnya tempat ini baru saja hening dari suara tangisan bayi.Dyandra mengambil air dengan tangannya untuk berkumur-kumur. Karena telat sarapan, Dyandra sampai muntah begini. Herannya, ia tidak sakit perut seperti gastritis biasanya. Hanya mual diiringi muntah saja.Setelah berkumur, Dyandra menyeka mulutnya dan keluar dari kamar mandi. Suara tangisan bayi itu kembali terdengar hingga membuat Nyonya muda ini menuju ke bagian depan baby spanya.Setidaknya sudah 6 bulan ini, Dyandra mendirikan baby spa. Sebuah cita-cita yang meluncur sekitar satu tahun ke belakang. Dya yang tidak bisa meninggalkan dunia anak-anak, mengambil pelatihan khusus untuk pemijatan bayi.Bersama sahabatnya, Putri, Dya merintis usahanya. Tentu saja impian ini dapat tercapai karena dukungan dari suami tercintanya."Ada pengunjung lagi?" Tanya Dya pada pegawai frontliner."Ada satu, Nyonya."Dyandra masuk ke dalam ruangan spa ya

  • Ku Kejar Cintamu, Kau Kejar Cintanya   Menerima Kebahagiaan

    Andri sampai mengorek telinganya yang gatal. Bagaimana tidak? Nadira mengomel karena anaknya hilang tanpa kabar.Harusnya Andri pulang sejak semalam, tapi setelah ditunggu-tunggu anak kesayangannya itu malah tidak datang. Nadira pikir pesawat Andri jatuh dan hilang kontak. Membuat Nadira sudah berpikir yang macam-macam saja.Semalaman dihubungi Andri tidak menjawab. Sudah cemas setengah mati, rupanya Andri malah sedang bermesraan dengan istrinya di rumah sewa. Lantas saja itu membuat Nadira marah."Cepat pulang sekarang!" Perintah Nadira yang tak bisa diganggu gugat.Andri kembali menaruh ponselnya setelah sambungan dimatikan."Kenapa, mas?""Mama marah karena aku nggak mengabarinya.""Aduh.. pasti mama cemas. Kamu sih!""Iya salahku memang." Andri lalu menatap istrinya. "Bersiaplah. Kita pulang hari ini.""Pu-pulang?" Dyandra terkejut."Iya pulang ke rumah. Kita sudah berbaikan, kan? Aku mau kita tidak tinggal terpisah lagi."Dyandra tertunduk mendengar ucapan suaminya. Sebenarnya Dy

  • Ku Kejar Cintamu, Kau Kejar Cintanya   Syahdu

    "Apa maksud mas ngomong begitu?"Andri melirik sekilas dan berbalik lagi. Namun bahunya kembali tertahan."Apa mas pikir aku mau kembali dengan Aditya?""Salah, ya? Bukannya kamu memang masih mencintai mantan suamimu?" Tanya Andri balik."Oh, Tuhan." Sampai merosot bahu Dyandra, selama ini Andri sudah salah paham padanya. "Walau kita berpisah, aku nggak akan mau kembali kepadanya.""Kenapa? Kamu masih cinta sama dia, kan?""Darimana asumsimu itu?" Dyandra menatap tajam."Buktinya kamu ingin berpisah dariku. Aku yakin alasannya itu." Gumam Andri pelan."Aku kan sudah bilang kalau aku nggak mau menyakitimu terlalu jauh! Aku nggak mau terus-terusan menjadi beban untukmu, memberi kalian rasa malu.. aku nggak mau! Makanya aku memutuskan untuk berpisah!" Dyandra mengerjap menahan tangis."Bukan karena ingin kembali pada Aditya?" Tanya Andri lagi."Bukan!" Dyandra berdecak kesal. "Kamu juga setelah ini akan dijodohkan oleh mama Nadira. Mama sudah menyiapkan seorang wanita untukmu.""Mama bil

  • Ku Kejar Cintamu, Kau Kejar Cintanya   Saling Merindu

    Baru satu minggu tidak bertemu keduanya jadi gelisah. Dyandra sudah terbiasa ada Andri di sisinya, terbiasa mendengar suara lembut itu, terbiasa jika tertidur di pandangi olehnya juga terbiasa melayani suaminya ketika akan pergi dan pulang bekerja.Siapa nanti yang memakaikan dasi untuk suaminya? Menyiapkan air hangat untuk mandi dan juga pakaian gantinya? Lalu bagaimana makannya? Apa Andri masih suka bekerja sampai larut di ruang kerjanya? Duh, Dyandra gusar sendiri.Apalagi kegelisahannya makin menjadi-jadi ketika mendapat pesan dari suaminya barusan. Andri yang sopan dan sungguh menghargai privasinya. Dia bertanya apakah Andri boleh berkunjung atau tidak?Namun, sayang Dya lekas menjawab untuk tidak bertemu dulu. Lalu yang terjadi malah Dya yang gelisah.Mondar mandir tubuh ini dibuatnya, Dya menunggu balasan pesan dari suaminya. Jahatkah diri ini berkata demikian? Dyandra yakin Andri juga tersiksa akan perpisahan ini."Nyonya dari tadi mondar mandir." Ucap Asih yang sejak tadi mem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status