MasukAndri kembali mendapat panggilan, kali ini Effendi yang mengabarkan jika ada berita yang tersebar luas di media. Foto-foto Andri dan Laura yang tersebar menjadi skandal terbesar yang berimbas pada perusahaan.Berita ini disebarkan ke seluruh penjuru Negeri hingga membuat saham perusahaan menjadi turun."Andri.. bagaimana ini?" Sekarang Nadira begitu cemas. Apalagi keluarga besarnya ikut membuka suara, masalahnya perusahaan ini didirikan oleh orang tua Nadira. Tak mau mereka hancur karena skandal Andri saja."Mama. Tenang saja.""Kamu menyuruh mama tenang terus! Tapi saudara mama dan saudara kakekmu mana bisa tenang! Dengar Andri, mereka bisa merasakan kemewahan juga karena hasil dari perusahaan. Pikirkan kelangsungan keluarga kita yang lain juga.""Aku mengerti, ma.. sekarang kita tidak perlu bersuara atau melakukan klarifikasi. Tidak perlu menentang atau menjawab. Biarkan saja." Ucap Andri tegas.Sama halnya dengan Dyandra yang tengah menyaksikan tayangan di televisi. Suaminya menjad
Dyandra menemui Nadira di ruang keluarga, hendak menceritakan masalah yang terjadi antara dirinya dan Andri. Diri ini sudah mantap ingin berpisah, biarlah dirinya di hina sebagai wanita tak tahu diri tapi Dya tak bisa memaafkan perselingkuhan.Namun yang terjadi malah bibirnya kaku saat berhadapan dengan Nadira. Takut sekali jika tindakannya menyakiti hati wanita ini. Nadira yang begitu lembut dan baik. Wanita yang menjadi panutan Dyandra. Karena memiliki Nadira, Dyandra merasakan arti dari kasih sayang ibu yang sesungguhnya."Kenapa, nak? Katanya tadi mau bicara sama mama?" Tanya Nadira heran karena Dya malah mematung."Itu.. aku hanya mau menanyakan kesehatan mama. Kencing manis mama nggak kumat lagi, kan?" Tanya Dya terbata. Dya jadi tak tega."Kan mama sudah teratur minum obat. Itu semua karena kamu yang mengurus mama dengan baik."Dyandra hanya bisa menelan ludahnya. Selama ini, Dyandra juga berkedok sebagai perawat pribadi mertuanya. Apa jadinya jika Dyandra memutuskan untuk ber
"Sudah, Dyandra!" Andri melepaskan tangan istrinya dan mundur."Kenapa? Bukannya itu alasanmu sampai berselingkuh dengan Laura? Karena kamu tidak mendapat sentuhanku.""Jangan menantangku, Dyandra!""Aku tidak menantang, mas Andri!" Tegas Dya. "Aku hanya ingin membayar hutangku selama 5 bulan ini. Kamu menginginkan tubuhku, kan? Ambil saja!"Tangan Andri sampai mengepal saking kesalnya. Istrinya ini sungguh keras kepala. Dia tak mau mendengarkan orang lain dan hanya mau mempercayai kata hatinya sendiri."Ku harap kamu tidak menyesal, Dya!"Satu tangan Andri meraih pinggang Dyandra dan tangan yang lain meraih tengkuknya. Dyandra mengerjap ketika Andri mendekapnya erat. Ciuman ini bahkan berbeda yang dari sebelumnya, terkesan kasar bahkan menuntut.Dyandra berusaha melepaskan diri tapi Andri malah semakin memperkuat ikatannya."Kenapa, Dya? Mau menolakku lagi?" Tanya Andri setelah melepaskan ciumannya.Dyandra meneliti kedua mata yang tengah terpancing emosi itu."Aku milikmu." Dyandra
Dyandra datang ke restoran setelah beberapa hari ini tak sempat mengunjunginya. Ini akibat dirinya bergelut dengan kepedihan yang dialami Aditya beberapa hari ke belakang dan dua hari ini malah masalah yang menghampirinya.Sudah lima hari tak berkunjung, Dya banyak menerima laporan. Ini baru satu restoran belum lagi yang lainnya. Sambil memijit keningnya, Dya menyelesaikan semuanya sampai tak terasa Dya seharian disini."Nyonya.. ada yang mencari anda." Ucap salah satu pegawai ketika Dya masih berada di ruang kerjanya. Ruang kerja Andri yang kini juga menjadi miliknya."Siapa?" Uh, jangan bilang itu keluhan lagi. Dyandra takut meledak."Pria yang mencari nyonya.""Iya, siapa? Tolong tanyakan.""Adit namanya." Jawab pegawai itu ragu-ragu."Adit?" Dahi Dyandra sampai mengernyit. Aditya, kah yang dimaksud? "Tunggu saja. Nanti saya keluar."Pegawai tersebut keluar dan Dyandra menyelesaikan urusannya sebentar. Sekitar 10 menit baru Dyandra keluar dari ruang kerjanya dan menemui pria bernam
Sambil gemetaran, Dyandra menatap layar ponselnya. Tidak mungkin ini Andri, kan? Ia tahu betul watak suami penyabarnya itu walau umur pernikahan mereka belum lama.Dyandra menyugar rambutnya ke belakang. Memperbesar foto di layar yang memiliki banyak raga. Dari foto Andri yang sendirian tengah tertidur, juga fotonya berdua dengan wanita yang bernama Laura. Dimana Laura juga sama tidak menggunakan pakaian atasnya.Pintu kamar mandi dibuka, Dyandra mendongak melihat suaminya."Mas Andri.." tegur Dya dengan suara bergetar.Andri tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk lalu berdeham."Apa benar ini fotomu?" Tanya Dya tak sabar.Andri mengalihkan perhatiannya pada Dyandra dan mengambil alih ponsel itu."Itu benar kamu, mas?" Dyandra masih berharap bahwa ini bukan suaminya."Itu aku." Jawab Andri datar dan mengembalikan ponsel tersebut."Jangan bercanda, mas!" Pekik Dya."Aku tidak bercanda, Dya. Itu benar diriku. Sebagaimana kamu lihat, aku memang tidur bersama Laura."Plak!Andri meme
Sudah pukul 2 malam tapi Andri belum kembali ke kamar. Dyandra mengerjap beberapa kali supaya diri ini tetap sadar. Tapi sayang, rasa kantuk ini tak bisa terkalahkan. Ketika ia tertidur barulah Andri masuk ke kamar.Suasana dingin nan canggung masih menerpa pasutri ini di pagi harinya, Dyandra bersikap seolah semua baik-baik saja. Namun saat melihat Andri, rasanya ia ingin menangis. Wajah tampan yang selalu hangat itu malah terkesan kaku."Sini, mas. Biar aku bantu." Dya hendak meraih dasi yang melilit di leher suaminya. Tapi Andri malah menarik dan membuangnya begitu saja."Tidak perlu pakai dasi hari ini."Andri mengambil tas kerja dan ke ruang makan tanpa menunggu Dyandra. Di atas meja barulah Dya bisa mendengar nada lunak dari suaminya. Di depan Nadira, Andri bersikap biasa kepada Dyandra. Seperti tak ada masalah di antara keduanya."Mas kotak bekalmu.." Oh, Dyandra sampai berlari ingin menghampiri suaminya yang sudah terlebih dahulu ke pintu depan. Rupanya Andri sudah berangkat.







