LOGINYono memecah keheningan yang sejak tadi memenuhi ruang tamu.“Bagaimana dengan Khalisa?”Suasana kembali hening. Semua mata tertuju pada Khalisa.Perlahan, gadis itu mengangkat wajahnya. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan, berusaha menenangkan gugup yang sejak tadi ia sembunyikan. Tatapannya jatuh pada Zidan.Pria itu juga sedang menatapnya.Tenang.Lurus.Tidak mendesak, tetapi penuh keseriusan.Beberapa detik berlalu tanpa suara. Seolah hanya ada tatapan mereka berdua di tengah ruangan itu.Khalisa mencoba mencari keraguan di wajah Zidan.Namun yang ia temukan justru keteguhan.Tidak ada janji manis.Tidak ada rayuan berlebihan.Tetapi cara Zidan menatapnya membuat Khalisa merasa dihargai dan diperlakukan dengan sungguh-sungguh.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tidak sendirian menghadapi hidupnya.Khalisa menarik napas perlahan.Lalu dengan suara pelan, tetapi jelas, ia berkata,“Aku terima, Om.”Hening sesaat memenuhi ruangan.Tatapan Khalisa belum le
Khalisa masih menggenggam lengan Zidan. Tatapannya tertuju pada wajah pria itu—ada luka tipis di sudut bibirnya, tetapi ekspresinya tetap tenang. Tidak ada amarah, tidak pula emosi yang berlebihan. Justru ketenangan itu membuat Khalisa terdiam lebih lama. Ia menyadari, sikap Zidan bukan sekadar diam, melainkan bentuk kendali diri yang ia pilih.“Ayo masuk,” ucap Khalisa pelan. Suaranya kini terdengar lebih lembut. Ia kemudian menoleh ke arah ibu Zidan. “Tante, silakan.”Ibu Zidan mengangguk kecil. Raut wajahnya tetap tenang, meski jelas ia menyaksikan semua yang terjadi sejak awal. Tanpa banyak bicara, Zidan melangkah masuk. Sebelum itu, ia sempat melirik sekilas ke arah Adit—singkat, datar, lalu berlalu begitu saja.“Cemen lu!”Suara Adit terdengar keras dari belakang, sengaja dilontarkan untuk memancing. Langkah Khalisa sempat terhenti. Ia menoleh.Dan saat itulah, untuk pertama kalinya, Khalisa benar-benar melihat Adit dengan cara yang berbeda. Bukan lagi sosok yang pernah ia tungg
Adit membeku di tempatnya.Wajahnya yang tadi tegang perlahan memucat. Tatapannya berpindah dari meja yang penuh hidangan… ke Khalisa… lalu ke Yono.“Khalisa… aku minta maaf,” ucapnya cepat. “Kemarin keadaannya mendesak.”Tidak ada yang langsung menjawab.Sebelum Khalisa sempat berbicara—“Cukup.”Suara Yono tegas. Tidak keras, tapi langsung menghentikan suasana.“Sekarang kamu pergi dari sini.”Adit menelan ludah, tapi tidak mundur.“Om, saya tahu saya salah. Tapi saya harus jelasin semuanya.”“Tidak perlu penjelasan lagi,” potong Yono, lebih dingin.Adit mengepalkan tangan. Napasnya mulai tidak teratur, tapi ia tetap bertahan.“Khalisa belum dengar dari saya, Om. Dia berhak tahu.”Yono melangkah satu langkah mendekat.“Yang dia butuh itu kehadiran kamu kemarin. Bukan penjelasan hari ini.”Adit terdiam sesaat.Lalu suaranya mulai naik. “Kemarin itu bukan hal sepele. Saya gak mungkin ninggalin semuanya kalau bukan karena penting.”Tami menggeleng kesal. “Semua orang punya masalah. Tap
Setelah pembicaraan tentang lamaran selesai, suasana ruang tamu kembali tenang. Tidak ada lagi yang dibahas, tetapi semua orang memahami satu hal—keputusan sudah ditetapkan.Zidan berdiri dari duduknya.“Om, Tante, Khalisa… aku pamit,” ucapnya sopan. “Insyaallah besok aku datang bersama ibu.”Yono mengangguk. “Iya, Nak. Kami tunggu kedatangan kamu besok dengan niat yang baik.”“Iya, Om, insyaallah,” jawab Zidan singkat.Ia melangkah menuju pintu. Tidak ada tatapan ke arah Khalisa, tidak ada kalimat tambahan. Seperti biasa—tegas, seperlunya, dan langsung.Pintu terbuka, lalu tertutup kembali setelah ia keluar.Khalisa masih duduk di tempatnya. Matanya mengikuti arah pintu, meski sosok itu sudah tidak terlihat. Ia berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.Semua terasa cepat. Terlalu cepat. Seolah semuanya sudah disiapkan tanpa sepengetahuannya.“Om…” suara Khalisa akhirnya terdengar pelan.Yono dan Tami menoleh ke arahnya.“Apa semua ini… rencana Om sama Tante?” tanyanya langsung.Y
Zidan terdiam sejenak.Ruang tamu itu kembali hening, seolah semua menunggu jawaban darinya. Namun seperti biasa, ia tidak terburu-buru. Ia bukan tipe pria yang menjawab cepat hanya untuk mengisi kekosongan. Setiap kata yang keluar darinya selalu dipilih dengan hati-hati.Perlahan, ia menarik napas.“Aku cuma menjaga sesuatu… kalau itu menyangkut orang tua,” ucapnya akhirnya.Suaranya tenang, datar, tanpa dramatisasi. Namun justru itulah yang membuatnya terasa begitu dalam.Khalisa terpaku.Kalimat itu sederhana—sangat sederhana. Namun entah bagaimana, langsung menembus hatinya.Ia menunduk pelan. Air matanya kembali menggenang tanpa bisa ditahan.Selama ini, ia terlalu sibuk dengan luka yang ia rasakan. Dengan kehilangan yang ia tanggung. Namun ia tidak pernah benar-benar berpikir… bagaimana cara menjaga apa yang telah ditinggalkan.Rumah itu.Kenangan itu.Orang tuanya.Dan kini—justru orang lain yang menjaganya.Diam-diam.Tanpa diminta.Tanpa diketahui.Sementara ia sendiri… hany
Khalisa masih berdiri di ambang pintu, tubuhnya terasa kaku seolah tak mampu bergerak. Pandangannya terpaku pada sosok Zidan yang kini berdiri tepat di hadapannya. Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, langkah kaki terdengar dari dalam rumah.“Zidan? Sudah datang, Nak?” suara Yono terdengar hangat.Khalisa langsung menoleh. Keningnya berkerut.Yono berjalan mendekat, lalu menepuk bahu Zidan dengan akrab. “Masuk dulu. Jangan di luar saja.”“Baik, Om,” jawab Zidan sopan.Tanpa ragu, Zidan melangkah masuk, melewati Khalisa yang masih berdiri mematung. Posturnya tegap, langkahnya mantap, seolah ia sudah sangat familiar dengan rumah itu.Khalisa menatap punggungnya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.Heran.Bingung.Dan sedikit… tidak percaya.Ia menutup pintu perlahan, lalu berbalik. Matanya masih mengikuti langkah Zidan yang kini sudah duduk di ruang tamu bersama Yono.“Eh, Nak Zidan sudah datang,” sambut Tante Tami dengan senyum ramah dari arah dapur.Khalisa semakin terdiam.Nama
Ruang sidang itu kembali dipenuhi udara tegang.Khalisa Azzahra duduk tegak di kursinya. Hari itu penampilannya berbeda—bukan berlebihan, tapi rapi, anggun, dan tenang. Hijabnya tersampir sederhana, wajahnya terlihat lebih cerah, seolah luka-luka yang kemarin dipaksakan untuk sembuh kini berubah me
Laila menyeringai tipis, matanya merah oleh amarah yang tidak tertahan.“Kamu pikir kamu menang?” ulangnya, suaranya bergetar.Khalisa melepas pegangan tangannya perlahan. Ia mundur setengah langkah, berdiri tegak. Dadanya naik turun, tapi matanya mantap menatap perempuan yang selama ini ia panggil
Ruang sidang tetap sunyi beberapa detik setelah pengakuan Khalisa.Hakim menatap Khalisa lebih lama. Nada suaranya datar, profesional.“Ibu Khalisa, silakan lanjutkan. Sampaikan secara runtut.”Khalisa menarik napas. Tangannya bergetar, tapi suaranya tetap keluar.“Setelah saya pulang dari rumah me
Senin pagi itu udara terasa lebih berat dari biasanya.Langit mendung menggantung rendah di atas gedung Pengadilan Agama, seolah ikut menahan napas. Khalisa melangkah masuk ke halaman dengan langkah tenang. Hijabnya sederhana, wajahnya pucat tapi tegak. Di sampingnya, Bu Vina berjalan mantap sambil







