Share

Bab 100. Lamaran

last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-18 16:21:50

Zidan terdiam sejenak.

Ruang tamu itu kembali hening, seolah semua menunggu jawaban darinya. Namun seperti biasa, ia tidak terburu-buru. Ia bukan tipe pria yang menjawab cepat hanya untuk mengisi kekosongan. Setiap kata yang keluar darinya selalu dipilih dengan hati-hati.

Perlahan, ia menarik napas.

“Aku cuma menjaga sesuatu… kalau itu menyangkut orang tua,” ucapnya akhirnya.

Suaranya tenang, datar, tanpa dramatisasi. Namun justru itulah yang membuatnya terasa begitu dalam.

Khalisa terpaku.

Kal
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nisfatul Qhumairo
jangankan khalisa, ini yg baca juga belom siap tbtb dilamar Ya Allah...... adit gimana min? kecelakaan kah? kasian juga loo dia ......
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 134. Arlina?

    Keesokan harinya, suasana rumah sudah ramai sejak pagi.Tami dan Om Yono tampak sibuk merapikan tas-tas mereka. Beberapa oleh-oleh yang dibawakan Zidan juga sudah tersusun rapi di dekat pintu.Hari itu mereka akan kembali ke kampung.Ladang dan para pekerja sudah menunggu untuk diperhatikan.Di halaman rumah, mobil Zidan telah siap mengantar mereka ke terminal."Semuanya sudah, Om?" tanya Zidan sambil mengangkat satu tas ke bagasi."Sudah, Nak. Nggak banyak barang," jawab Om Yono sambil tersenyum.Khalisa berdiri di samping Tami.Entah kenapa dadanya kembali terasa sesak.Baru beberapa hari bersama, kini Tante dan Om sudah harus pulang.Tami yang menyadari perubahan wajah keponakannya langsung membuka kedua tangannya."Sini."Tanpa berpikir panjang, Khalisa langsung memeluk Tami erat.Pelukan itu berlangsung cukup lama.Tami mengusap punggung Khalisa dengan lembut seperti seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya."Jaga diri baik-baik ya, Nak.""Iya, Tante."Suara Khalisa mulai berg

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 131. Kepergian

    Mobil terus melaju membelah jalanan kota yang mulai ramai. Khalisa menyandarkan tubuhnya dengan nyaman di kursi penumpang. Senyum kecil masih menghiasi wajahnya setelah percakapan tentang ibu Zidan. Beberapa menit kemudian, mobil memasuki halaman rumah. "Sudah sampai," ucap Zidan. Khalisa mengangguk pelan. Di teras rumah, terlihat Tami dan suaminya, Om Yono, sedang duduk santai sambil menikmati teh hangat. Begitu melihat mobil mereka masuk, Tami langsung berdiri. "Nah, akhirnya pengantin baru datang juga." Wajah Khalisa langsung memerah. "Tante..." Om Yono tertawa kecil. "Baru sehari nikah sudah susah dicari." Khalisa semakin malu. Sementara Zidan hanya tersenyum santai. "Kami cuma mampir sebentar ke rumah lama Khalisa, Om." Om Yono mengangguk mengerti. "Bagus. Rumah itu memang penuh kenangan." Mereka kemudian masuk ke dalam rumah bersama-sama. Begitu masuk, Tami langsung menggandeng tangan Khalisa. "Gimana? Senang lihat rumah orang tuamu lagi?"

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 130. Kebahagiaan Khalisa dan Zidan

    Senyum di wajah Khalisa belum juga hilang ketika ponselnya yang berada di dalam tas tiba-tiba berdering. Khalisa segera mengambil ponselnya lalu melihat nama yang tertera di layar. "Tante Tami." Ia langsung menerima panggilan itu. "Assalamualaikum, Tante." "Waalaikumsalam, Nak." Suara Tami terdengar hangat dari seberang telepon. "Kamu sekarang di mana?" Khalisa melirik Zidan yang berdiri di sampingnya. "Aku lagi di rumah lama, Tante. Sama Mas Zidan." "Oh, jadi kalian ke sana?" "Iya, Tante." Di seberang sana terdengar suara seorang pria yang dikenali Khalisa sebagai suami Tami. "Katakan saja kita sudah sampai." Tami tertawa kecil. "Nak, Tante sama Om sudah di rumah kalian." Khalisa sedikit terkejut. "Sudah sampai?" "Iya. Kami baru saja pulang dari hotel dan mampir ke rumah. Tapi rumah kosong." Khalisa tersenyum. "Maaf, Tante. Aku nggak bilang dulu." "Nggak apa-apa. Justru Tante senang kalian mampir ke rumah orang tua kamu." Khalisa menatap hal

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 129. Ceraikan!

    "Kamu tambah kurang ajar ya, Nayla!"Fahri membentak keras.Wajahnya memerah karena emosi.Seumur hidupnya, tidak banyak orang yang berani mengusirnya secara terang-terangan seperti itu.Nayla yang masih menggendong bayinya langsung menatap tajam."Kurang ajar?""Iya!"Fahri melangkah mendekat."Kamu berani mengusir suamimu sendiri?""Suami?"Nayla tertawa pahit."Kamu masih ingat kalau kamu suamiku?"Fahri mengepalkan tangannya."Nayla!""Aku capek, Mas!"Air mata kembali mengalir di pipi Nayla."Aku capek selalu disalahkan!"Suasana semakin memanas.Namun sebelum Fahri sempat membalas, ibu Nayla tiba-tiba berdiri di depan putrinya.Wanita paruh baya itu menatap Fahri dengan wajah dingin."Cukup."Fahri langsung menoleh."Bu, lihat sendiri bagaimana anak Ibu bicara sama saya!""Saya lihat.""Dia kurang ajar!"Ibu Nayla menggeleng pelan."Bukan Nayla yang kurang ajar."Fahri membelalakkan mata."Apa?""Yang keterlaluan itu kamu."Ruangan langsung hening.Fahri tidak menyangka wanita y

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 128. Rasa haru.

    Setelah sarapan bersama di hotel, Zidan mengajak Khalisa pergi.Mereka meninggalkan hotel menjelang pagi yang semakin terang.Khalisa duduk di samping suaminya sambil sesekali melihat pemandangan di luar jendela mobil."Mas, kita mau ke mana?" tanyanya penasaran."Nanti juga tahu.""Kok dirahasiakan?""Biar jadi kejutan."Khalisa menghela napas pasrah.Beberapa puluh menit kemudian, mobil perlahan memasuki sebuah kawasan yang terasa sangat familiar.Khalisa yang sejak tadi santai mendadak menegang.Matanya membesar."Itu..."Mobil akhirnya berhenti tepat di depan sebuah rumah.Rumah yang sangat ia kenal.Rumah peninggalan kedua orang tuanya.Rumah yang dulu pernah ia jual karena keadaan.Dan rumah yang kemudian dibeli oleh Zidan."Kita ke rumah ini lagi?" tanya Khalisa pelan.Zidan mematikan mesin mobil lalu menoleh kepadanya.Tatapannya lembut."Apa kamu membenci rumah ini karena masa lalumu dengan Fahri?"Pertanyaan itu membuat senyum Khalisa perlahan memudar.Ia menatap rumah terse

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 127. Siapa Zidan?

    Matahari pagi mulai menghangatkan ruangan melalui celah tirai kamar hotel. Setelah salat Subuh dan berdoa bersama, Khalisa dan Zidan masih duduk berdampingan di atas sajadah. Suasana terasa damai. Tidak ada suara selain pendingin ruangan yang berdengung pelan. Zidan memandangi wajah istrinya yang terlihat jauh lebih tenang dibandingkan kemarin. Perlahan ia mengangkat tangannya lalu mengusap kepala Khalisa dengan lembut. "Sayang." "Hm?" "Kamu nggak keberatan kan kalau aku ingin punya anak secepatnya?" Pertanyaan itu membuat Khalisa sedikit tertegun. Senyumnya tidak langsung hilang, tetapi hatinya mendadak dipenuhi kegelisahan yang sudah lama ia simpan. Ia teringat masa lalunya. Pernikahannya dengan Fahri. Bertahun-tahun bersama tanpa kehadiran seorang anak. Meski pada akhirnya hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa masalah itu bukan berasal darinya, luka dan keraguan itu masih tersisa di hatinya. Bagaimana kalau ternyata hasil pemeriksaan itu salah? Bagaiman

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 117. MUA untuk khalisa

    Khalisa masih berdiri beberapa saat di halaman rumah. Udara malam terasa semakin sejuk setelah kepergian Laila dan Arini. Jalanan di depan rumah kembali sepi, hanya sesekali terdengar suara kendaraan yang melintas dari kejauhan. Di sampingnya, Zidan menatap lurus ke depan sebelum akhirnya membuka

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 113. Sudah pas

    Khalisa langsung menoleh ke arah Zidan.Tatapannya penuh kecurigaan."Saya akan bereskan sisanya," ucap Zidan tenang seolah itu hal biasa. "Hari ini tugas kamu hanya memilih gaun."Khalisa mengernyit."Tapi aku tetap harus tahu harganya.""Kamu akan tahu pada waktunya.""Kenapa harus nanti?"Zidan

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 109. Ke rumah khalisa

    “Terserah kalian mau ke mana,” ucap Laila akhirnya sambil mengusap air matanya kasar. “Tapi ibu mau ke rumah Khalisa dulu. Ibu yakin Khalisa masih ingat semua kebaikan ibu dan pasti luluh.”Ucapan itu meluncur begitu saja tanpa ia sadari.Padahal, jika dipikir kembali… hampir tidak ada kebaikan yan

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 108. Ingin kembali

    “Maaf, Pak, Bu… dengan terpaksa kami harus meminta semuanya mengosongkan rumah ini paling lambat besok,” ucap Pak Beni pelan sebelum akhirnya menutup map dokumennya.Pria itu memberi anggukan singkat, lalu berjalan menuju mobil bersama petugas lainnya.Suasana langsung terasa hening setelah mereka

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status