Share

Bab 99. Zidan?

last update publish date: 2026-04-18 14:47:48

Khalisa masih berdiri di ambang pintu, tubuhnya terasa kaku seolah tak mampu bergerak. Pandangannya terpaku pada sosok Zidan yang kini berdiri tepat di hadapannya. Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, langkah kaki terdengar dari dalam rumah.

“Zidan? Sudah datang, Nak?” suara Yono terdengar hangat.

Khalisa langsung menoleh. Keningnya berkerut.

Yono berjalan mendekat, lalu menepuk bahu Zidan dengan akrab. “Masuk dulu. Jangan di luar saja.”

“Baik, Om,” jawab Zidan sopan.

Tanpa ragu, Zidan mela
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 134. Arlina?

    Keesokan harinya, suasana rumah sudah ramai sejak pagi.Tami dan Om Yono tampak sibuk merapikan tas-tas mereka. Beberapa oleh-oleh yang dibawakan Zidan juga sudah tersusun rapi di dekat pintu.Hari itu mereka akan kembali ke kampung.Ladang dan para pekerja sudah menunggu untuk diperhatikan.Di halaman rumah, mobil Zidan telah siap mengantar mereka ke terminal."Semuanya sudah, Om?" tanya Zidan sambil mengangkat satu tas ke bagasi."Sudah, Nak. Nggak banyak barang," jawab Om Yono sambil tersenyum.Khalisa berdiri di samping Tami.Entah kenapa dadanya kembali terasa sesak.Baru beberapa hari bersama, kini Tante dan Om sudah harus pulang.Tami yang menyadari perubahan wajah keponakannya langsung membuka kedua tangannya."Sini."Tanpa berpikir panjang, Khalisa langsung memeluk Tami erat.Pelukan itu berlangsung cukup lama.Tami mengusap punggung Khalisa dengan lembut seperti seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya."Jaga diri baik-baik ya, Nak.""Iya, Tante."Suara Khalisa mulai berg

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 131. Kepergian

    Mobil terus melaju membelah jalanan kota yang mulai ramai. Khalisa menyandarkan tubuhnya dengan nyaman di kursi penumpang. Senyum kecil masih menghiasi wajahnya setelah percakapan tentang ibu Zidan. Beberapa menit kemudian, mobil memasuki halaman rumah. "Sudah sampai," ucap Zidan. Khalisa mengangguk pelan. Di teras rumah, terlihat Tami dan suaminya, Om Yono, sedang duduk santai sambil menikmati teh hangat. Begitu melihat mobil mereka masuk, Tami langsung berdiri. "Nah, akhirnya pengantin baru datang juga." Wajah Khalisa langsung memerah. "Tante..." Om Yono tertawa kecil. "Baru sehari nikah sudah susah dicari." Khalisa semakin malu. Sementara Zidan hanya tersenyum santai. "Kami cuma mampir sebentar ke rumah lama Khalisa, Om." Om Yono mengangguk mengerti. "Bagus. Rumah itu memang penuh kenangan." Mereka kemudian masuk ke dalam rumah bersama-sama. Begitu masuk, Tami langsung menggandeng tangan Khalisa. "Gimana? Senang lihat rumah orang tuamu lagi?"

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 130. Kebahagiaan Khalisa dan Zidan

    Senyum di wajah Khalisa belum juga hilang ketika ponselnya yang berada di dalam tas tiba-tiba berdering. Khalisa segera mengambil ponselnya lalu melihat nama yang tertera di layar. "Tante Tami." Ia langsung menerima panggilan itu. "Assalamualaikum, Tante." "Waalaikumsalam, Nak." Suara Tami terdengar hangat dari seberang telepon. "Kamu sekarang di mana?" Khalisa melirik Zidan yang berdiri di sampingnya. "Aku lagi di rumah lama, Tante. Sama Mas Zidan." "Oh, jadi kalian ke sana?" "Iya, Tante." Di seberang sana terdengar suara seorang pria yang dikenali Khalisa sebagai suami Tami. "Katakan saja kita sudah sampai." Tami tertawa kecil. "Nak, Tante sama Om sudah di rumah kalian." Khalisa sedikit terkejut. "Sudah sampai?" "Iya. Kami baru saja pulang dari hotel dan mampir ke rumah. Tapi rumah kosong." Khalisa tersenyum. "Maaf, Tante. Aku nggak bilang dulu." "Nggak apa-apa. Justru Tante senang kalian mampir ke rumah orang tua kamu." Khalisa menatap hal

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 129. Ceraikan!

    "Kamu tambah kurang ajar ya, Nayla!"Fahri membentak keras.Wajahnya memerah karena emosi.Seumur hidupnya, tidak banyak orang yang berani mengusirnya secara terang-terangan seperti itu.Nayla yang masih menggendong bayinya langsung menatap tajam."Kurang ajar?""Iya!"Fahri melangkah mendekat."Kamu berani mengusir suamimu sendiri?""Suami?"Nayla tertawa pahit."Kamu masih ingat kalau kamu suamiku?"Fahri mengepalkan tangannya."Nayla!""Aku capek, Mas!"Air mata kembali mengalir di pipi Nayla."Aku capek selalu disalahkan!"Suasana semakin memanas.Namun sebelum Fahri sempat membalas, ibu Nayla tiba-tiba berdiri di depan putrinya.Wanita paruh baya itu menatap Fahri dengan wajah dingin."Cukup."Fahri langsung menoleh."Bu, lihat sendiri bagaimana anak Ibu bicara sama saya!""Saya lihat.""Dia kurang ajar!"Ibu Nayla menggeleng pelan."Bukan Nayla yang kurang ajar."Fahri membelalakkan mata."Apa?""Yang keterlaluan itu kamu."Ruangan langsung hening.Fahri tidak menyangka wanita y

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 128. Rasa haru.

    Setelah sarapan bersama di hotel, Zidan mengajak Khalisa pergi.Mereka meninggalkan hotel menjelang pagi yang semakin terang.Khalisa duduk di samping suaminya sambil sesekali melihat pemandangan di luar jendela mobil."Mas, kita mau ke mana?" tanyanya penasaran."Nanti juga tahu.""Kok dirahasiakan?""Biar jadi kejutan."Khalisa menghela napas pasrah.Beberapa puluh menit kemudian, mobil perlahan memasuki sebuah kawasan yang terasa sangat familiar.Khalisa yang sejak tadi santai mendadak menegang.Matanya membesar."Itu..."Mobil akhirnya berhenti tepat di depan sebuah rumah.Rumah yang sangat ia kenal.Rumah peninggalan kedua orang tuanya.Rumah yang dulu pernah ia jual karena keadaan.Dan rumah yang kemudian dibeli oleh Zidan."Kita ke rumah ini lagi?" tanya Khalisa pelan.Zidan mematikan mesin mobil lalu menoleh kepadanya.Tatapannya lembut."Apa kamu membenci rumah ini karena masa lalumu dengan Fahri?"Pertanyaan itu membuat senyum Khalisa perlahan memudar.Ia menatap rumah terse

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 127. Siapa Zidan?

    Matahari pagi mulai menghangatkan ruangan melalui celah tirai kamar hotel. Setelah salat Subuh dan berdoa bersama, Khalisa dan Zidan masih duduk berdampingan di atas sajadah. Suasana terasa damai. Tidak ada suara selain pendingin ruangan yang berdengung pelan. Zidan memandangi wajah istrinya yang terlihat jauh lebih tenang dibandingkan kemarin. Perlahan ia mengangkat tangannya lalu mengusap kepala Khalisa dengan lembut. "Sayang." "Hm?" "Kamu nggak keberatan kan kalau aku ingin punya anak secepatnya?" Pertanyaan itu membuat Khalisa sedikit tertegun. Senyumnya tidak langsung hilang, tetapi hatinya mendadak dipenuhi kegelisahan yang sudah lama ia simpan. Ia teringat masa lalunya. Pernikahannya dengan Fahri. Bertahun-tahun bersama tanpa kehadiran seorang anak. Meski pada akhirnya hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa masalah itu bukan berasal darinya, luka dan keraguan itu masih tersisa di hatinya. Bagaimana kalau ternyata hasil pemeriksaan itu salah? Bagaiman

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 124. Cemburu

    Setelah seluruh rangkaian acara selesai, Zidan membawa Khalisa menuju hotel mewah yang telah ia siapkan. Bukan hanya untuk mereka berdua, Zidan juga telah menyewakan beberapa kamar terbaik untuk Tante Tami, Om Yono, Tante Rina, Nadia, Dinda, dan keluarga Khalisa lainnya sebagai bentuk penghormatan

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 120. Haru

    Khalisa berusaha mengabaikan bisikan-bisikan yang masih terdengar di sekitarnya. Ia menarik napas panjang dan menenangkan dirinya. Hari ini bukan tentang penilaian orang lain. Hari ini adalah hari yang akan mengubah hidupnya. Seorang wanita berpakaian rapi yang sejak tadi berdiri di dekat pelamina

  • Ku Miskinkan Suamiku   2. Pengkhianatan yang di dukung

    Fahri terdiam. Wajahnya tegang. Ia tahu, Khalisa bukan tipe wanita yang mudah dikalahkan. Dengan langkah gemetar tapi tegas, Khalisa keluar dari rumah itu. Air matanya belum berhenti jatuh, tapi ada api baru menyala di hatinya. Api amarah yang perlahan mengusir kesedihan. “Jangan angkuh, Khalisa!

  • Ku Miskinkan Suamiku   1. Luka di balik rumah mertua

    "Apa yang terjadi denganmu mas?" batin khalisa dengan khawatir, ia mondar-mandir menunggu kabar dari suaminya. Genap satu bulan Fahri tidak memberi kabar. Khalisa duduk di ruang tamu rumah besarnya, menatap ponsel yang sunyi. Pesan-pesannya hanya berstatus centang satu. Teleponnya tak pernah dijaw

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status