Partager

Bab 68. Jual rumah

last update Date de publication: 2026-02-09 20:08:21

Pintu rumah itu tertutup pelan.

Sunyi langsung jatuh seperti beban. Tidak ada suara ribut, tidak ada bentakan. Hanya napas Khalisa yang terdengar sedikit berat.

“Alhamdulillah,” ucap Khalisa akhirnya, memecah keheningan. “Terima kasih, Zidan. Semoga kamu betah tinggal di rumah ini.”

Zidan berdiri di ruang tamu, menatap sekeliling rumah yang kini resmi menjadi miliknya. Ia tersenyum sopan.

“Aamiin,” jawabnya. “Terima kasih juga sudah dipermudah.”

Khalisa melangkah mendekat, refleks menyodorkan t
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab. 133. Arlina di tuduh

    Khalisa segera mempercepat langkahnya menghampiri Arlina."Arlina!"Mendengar namanya dipanggil, Arlina yang sejak tadi hanya menangis perlahan mengangkat wajah."Kak... Kak Khalisa..."Matanya langsung dipenuhi air mata yang semakin deras.Melihat Khalisa datang, ia seolah menemukan harapan.Namun belum sempat Arlina mengatakan apa pun, wanita paruh baya yang berdiri di depannya langsung menatap Khalisa dengan sinis."Kamu siapa?"Khalisa tetap bersikap sopan."Saya hanya ingin bertanya, Bu. Ada apa sebenarnya?""Ada apa?" bentak wanita itu."Jangan ikut campur urusan saya!"Nada suaranya semakin tinggi hingga beberapa orang yang berada di sekitar mulai memperhatikan.Khalisa tetap berusaha tenang."Kalau memang ada masalah, mungkin bisa dibicarakan baik-baik.""Baik-baik apanya?" hardik wanita itu."Kalau sudah mencuri ya tetap saja pencuri!"Khalisa mengernyit."Mencuri?"Wanita itu menunjuk Arlina dengan kasar."Dia ini mencuri di warung saya!"Arlina langsung menggeleng kuat-kuat

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 134. Arlina?

    Keesokan harinya, suasana rumah sudah ramai sejak pagi.Tami dan Om Yono tampak sibuk merapikan tas-tas mereka. Beberapa oleh-oleh yang dibawakan Zidan juga sudah tersusun rapi di dekat pintu.Hari itu mereka akan kembali ke kampung.Ladang dan para pekerja sudah menunggu untuk diperhatikan.Di halaman rumah, mobil Zidan telah siap mengantar mereka ke terminal."Semuanya sudah, Om?" tanya Zidan sambil mengangkat satu tas ke bagasi."Sudah, Nak. Nggak banyak barang," jawab Om Yono sambil tersenyum.Khalisa berdiri di samping Tami.Entah kenapa dadanya kembali terasa sesak.Baru beberapa hari bersama, kini Tante dan Om sudah harus pulang.Tami yang menyadari perubahan wajah keponakannya langsung membuka kedua tangannya."Sini."Tanpa berpikir panjang, Khalisa langsung memeluk Tami erat.Pelukan itu berlangsung cukup lama.Tami mengusap punggung Khalisa dengan lembut seperti seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya."Jaga diri baik-baik ya, Nak.""Iya, Tante."Suara Khalisa mulai berg

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 131. Kepergian

    Mobil terus melaju membelah jalanan kota yang mulai ramai. Khalisa menyandarkan tubuhnya dengan nyaman di kursi penumpang. Senyum kecil masih menghiasi wajahnya setelah percakapan tentang ibu Zidan. Beberapa menit kemudian, mobil memasuki halaman rumah. "Sudah sampai," ucap Zidan. Khalisa mengangguk pelan. Di teras rumah, terlihat Tami dan suaminya, Om Yono, sedang duduk santai sambil menikmati teh hangat. Begitu melihat mobil mereka masuk, Tami langsung berdiri. "Nah, akhirnya pengantin baru datang juga." Wajah Khalisa langsung memerah. "Tante..." Om Yono tertawa kecil. "Baru sehari nikah sudah susah dicari." Khalisa semakin malu. Sementara Zidan hanya tersenyum santai. "Kami cuma mampir sebentar ke rumah lama Khalisa, Om." Om Yono mengangguk mengerti. "Bagus. Rumah itu memang penuh kenangan." Mereka kemudian masuk ke dalam rumah bersama-sama. Begitu masuk, Tami langsung menggandeng tangan Khalisa. "Gimana? Senang lihat rumah orang tuamu lagi?"

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 130. Kebahagiaan Khalisa dan Zidan

    Senyum di wajah Khalisa belum juga hilang ketika ponselnya yang berada di dalam tas tiba-tiba berdering. Khalisa segera mengambil ponselnya lalu melihat nama yang tertera di layar. "Tante Tami." Ia langsung menerima panggilan itu. "Assalamualaikum, Tante." "Waalaikumsalam, Nak." Suara Tami terdengar hangat dari seberang telepon. "Kamu sekarang di mana?" Khalisa melirik Zidan yang berdiri di sampingnya. "Aku lagi di rumah lama, Tante. Sama Mas Zidan." "Oh, jadi kalian ke sana?" "Iya, Tante." Di seberang sana terdengar suara seorang pria yang dikenali Khalisa sebagai suami Tami. "Katakan saja kita sudah sampai." Tami tertawa kecil. "Nak, Tante sama Om sudah di rumah kalian." Khalisa sedikit terkejut. "Sudah sampai?" "Iya. Kami baru saja pulang dari hotel dan mampir ke rumah. Tapi rumah kosong." Khalisa tersenyum. "Maaf, Tante. Aku nggak bilang dulu." "Nggak apa-apa. Justru Tante senang kalian mampir ke rumah orang tua kamu." Khalisa menatap hal

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 129. Ceraikan!

    "Kamu tambah kurang ajar ya, Nayla!"Fahri membentak keras.Wajahnya memerah karena emosi.Seumur hidupnya, tidak banyak orang yang berani mengusirnya secara terang-terangan seperti itu.Nayla yang masih menggendong bayinya langsung menatap tajam."Kurang ajar?""Iya!"Fahri melangkah mendekat."Kamu berani mengusir suamimu sendiri?""Suami?"Nayla tertawa pahit."Kamu masih ingat kalau kamu suamiku?"Fahri mengepalkan tangannya."Nayla!""Aku capek, Mas!"Air mata kembali mengalir di pipi Nayla."Aku capek selalu disalahkan!"Suasana semakin memanas.Namun sebelum Fahri sempat membalas, ibu Nayla tiba-tiba berdiri di depan putrinya.Wanita paruh baya itu menatap Fahri dengan wajah dingin."Cukup."Fahri langsung menoleh."Bu, lihat sendiri bagaimana anak Ibu bicara sama saya!""Saya lihat.""Dia kurang ajar!"Ibu Nayla menggeleng pelan."Bukan Nayla yang kurang ajar."Fahri membelalakkan mata."Apa?""Yang keterlaluan itu kamu."Ruangan langsung hening.Fahri tidak menyangka wanita y

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 128. Rasa haru.

    Setelah sarapan bersama di hotel, Zidan mengajak Khalisa pergi.Mereka meninggalkan hotel menjelang pagi yang semakin terang.Khalisa duduk di samping suaminya sambil sesekali melihat pemandangan di luar jendela mobil."Mas, kita mau ke mana?" tanyanya penasaran."Nanti juga tahu.""Kok dirahasiakan?""Biar jadi kejutan."Khalisa menghela napas pasrah.Beberapa puluh menit kemudian, mobil perlahan memasuki sebuah kawasan yang terasa sangat familiar.Khalisa yang sejak tadi santai mendadak menegang.Matanya membesar."Itu..."Mobil akhirnya berhenti tepat di depan sebuah rumah.Rumah yang sangat ia kenal.Rumah peninggalan kedua orang tuanya.Rumah yang dulu pernah ia jual karena keadaan.Dan rumah yang kemudian dibeli oleh Zidan."Kita ke rumah ini lagi?" tanya Khalisa pelan.Zidan mematikan mesin mobil lalu menoleh kepadanya.Tatapannya lembut."Apa kamu membenci rumah ini karena masa lalumu dengan Fahri?"Pertanyaan itu membuat senyum Khalisa perlahan memudar.Ia menatap rumah terse

  • Ku Miskinkan Suamiku   43. kedatangan Fahri dan ibunya

    Setelah obrolan itu, suasana ruko kembali cair. Khalisa merasa dadanya lebih ringan. Bukan karena masa lalunya benar-benar pergi, tapi karena ia tidak lagi ingin memikirkannya terus-menerus. Ia capek menyimpan luka. Sekarang ia lebih memilih menyimpan tenaga.Menjelang magrib, mereka mulai beres-be

  • Ku Miskinkan Suamiku   42. Support buat khalisa

    Malam itu Khalisa baru benar-benar berhenti bergerak ketika jam di ponselnya menunjukkan hampir sebelas. Ia duduk di lantai ruko, punggung bersandar ke dinding yang masih dingin. Tangannya pegal. Kakinya terasa berat. Tapi kepalanya justru terasa penuh oleh rencana-rencana yang belum selesai. Lelah

  • Ku Miskinkan Suamiku   40. Ibu tidak rela Fahri

    Nayla berpaling. Wajahnya mengeras, rahangnya menegang. Untuk pertama kalinya sejak tadi, ia merasa malu. Tatapan orang-orang di sekitar pengadilan menusuknya dari berbagai arah. Tidak ada lagi senyum angkuh. Tidak ada lagi rasa bangga.Arini mendengus pelan.“Jangan terlalu naif,” ucapnya ketus sa

  • Ku Miskinkan Suamiku   39. Putusan sidang

    Ruang sidang itu kembali dipenuhi udara tegang.Khalisa Azzahra duduk tegak di kursinya. Hari itu penampilannya berbeda—bukan berlebihan, tapi rapi, anggun, dan tenang. Hijabnya tersampir sederhana, wajahnya terlihat lebih cerah, seolah luka-luka yang kemarin dipaksakan untuk sembuh kini berubah me

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status