Mag-log inKupandangi pesan itu berkali-kali.
“Kamu mulai terlalu dekat ke inti. Jangan sampai anakmu yang jadi gantinya.” Setiap kata terasa seperti pisau yang menancap di kulitku. Ancaman itu jelas. Tapi yang membuatku lebih takut adalah… orang ini tahu caraku berpikir. Tahu bahwa aku tidak akan berhenti. Dan tahu di mana titik terlemahku. Lita. Aku segera menelpon Nindya. Suaraku bergetar meski kutahan sekuat mungkin. “Kita harus bicarakan ini lebih serius. Ada orang lain. Seseorang yang lebih tinggi dari Bayu.” Nindya tidak langsung menjawab. Tapi aku mendengar helaan napas beratnya. “Aku tahu,” katanya akhirnya. “Aku pernah ketemu dia sekali. Tapi dia bukan tipe yang bisa kamu cari lewat G****e. Dia semacam pengatur lalu lintas uang haram di balik jaringan warisan Pak Hartono.” “Jadi Bayu cuma pion?” “Pion yang terlalu percaya diri. Dia pikir bisa kendalikan semuanya. Tapi begitu kamu mulai menyentuh dokumen asli, pihak atas pasti tahu.” Kutarik napas panjang, berusaha tetap waras. “Apa kita bisa buktiin semua ini ke polisi?” “Belum. Kita butuh pemicu. Satu aksi nekat yang bisa jebak semuanya sekaligus.” Aku menatap kalender. Hari ini tanggal 13. Besok… tanggal 14. Hari yang dilingkari spidol merah. Dan aku mulai yakin, itu bukan tanggal ‘bebas’ bagi Bayu. Itu tanggal pemusnahan. Sepulang dari kantor notaris, aku menjemput Lita dari sekolah. Tak biasanya dia langsung memelukku erat begitu masuk ke mobil. “Ada apa, Sayang?” “Ada orang asing nungguin aku di depan gerbang sekolah tadi,” bisiknya ketakutan. “Dia bilang dia temennya Ayah.” Nafasku tercekat. “Apa dia bilang nama?” Lita menggeleng. “Tapi dia ngasih aku permen. Aku nggak mau, aku lari ke dalam lagi. Ibu guru yang nemanin aku sampai Ayah jemput.” “Ayah?” “Iya. Tapi Ayah nggak dateng. Ibu guru nelepon ke rumah, katanya ibu aja yang jemput akhirnya.” Tubuhku dingin. Aku tidak mengabari siapa pun kalau aku akan jemput Lita hari ini. Bayu pun tidak. Berarti ada orang lain yang tahu pergerakanku. Seseorang yang bahkan sudah menyentuh keamanan anakku. Aku membawa Lita langsung ke rumah. Lalu kukunci semua pintu dan jendela. Kutarik tirai. Mengaktifkan semua CCTV cadangan yang pernah kupasang saat renovasi rumah. Malam ini aku tidak tidur. Besok adalah tanggal 14. Dan aku akan memastikan… akulah yang mulai lebih dulu. Jam menunjukkan pukul 02.43 dini hari. Aku duduk sendirian di ruang kerja, dikelilingi tumpukan berkas, ponsel dengan aplikasi rekam aktif, dan dua cangkir kopi dingin yang tak tersentuh. Pintu kamar Lita kukunci dari dalam, dan kunci cadangan sudah kusembunyikan di tempat yang hanya aku tahu. Malam terlalu sunyi. Dan kesunyian begini biasanya bukan pertanda baik. Dari laptop, aku membuka satu folder yang semula tak pernah kupedulikan. Folder dengan nama aneh: ARKA_REVISI_FINAL. Di dalamnya, ada satu file dengan judul panjang: “Surat Penunjukan Aset Darurat – Internal Only (RAH-14)” Kubuka file itu. Dan di sanalah nama itu muncul lagi. Bukan Bayu. Bukan aku. Tapi seseorang bernama Arka Satyawira. Aku belum pernah mendengar nama ini sebelumnya. Tapi dia disebut sebagai penerima kuasa apabila pemegang utama aset—yaitu aku—meninggal atau dianggap tidak cakap hukum. Arka memiliki hak mengambil alih semua aset, termasuk rumah, saham, dan surat-surat perusahaan Hartono Group. Dan yang lebih mengejutkan… tanda tangan Bayu dan Om Hartono ada di sana. Tapi tanda tanganku? Tidak ada. Aku tidak pernah ikut menyetujui dokumen ini. Kupindai metadata dokumen: dibuat pada tanggal 14 bulan lalu, dicetak dari printer kantor cabang timur. Jam 02:14 pagi. Siapa yang bekerja di kantor cabang timur sepagi itu? Kutelepon Nindya. “Aku nemu nama lain. Arka Satyawira. Dia yang akan ambil alih semuanya kalau aku mati.” Hening di seberang. “Kamu yakin?” “Ada di dalam file legal resmi. Siapa dia?” Nindya terdengar tegang. “Dia bukan sekadar nama. Dia investor lama yang pernah berseteru dengan Pak Hartono. Dulu dia ditendang keluar dari direksi, tapi tetap punya saham bayangan.” “Saham bayangan?” “Ya. Saham yang dipinjamkan atas nama proxy. Termasuk... atas nama Bayu.” Deg. “Jadi Bayu bukan pelaku utama... Dia cuma jalan masuk?” “Dan kalau kamu mati, Arka langsung ambil alih semuanya. Tanpa perlu sidang. Tanpa perlu pembuktian. Karena kamu sudah dianggap menyetujui saat menikah dengan Bayu.” Aku menggigit bibir. “Besok tanggal 14. Arti RAH-14 mungkin bukan tanggal acak.” “Kalau kamu benar... maka besok kamu bukan cuma target.” Aku menarik napas dalam. Menatap kamar Lita dari kejauhan. “Aku akan akhiri semua ini besok. Dengan caraku.” Pagi harinya, aku berdiri di depan cermin, mengenakan blazer hitam dan celana panjang. Rambut kutata rapi. Wajahku kututupi dengan makeup tipis, menyamarkan bekas kurang tidur. Kali ini aku tidak akan diam. Tidak akan sembunyi. Kubawa Lita ke rumah Nindya lebih awal. Kukatakan pada Lita bahwa bunda harus bekerja, tapi akan menjemputnya malam nanti. Dia hanya mengangguk pelan, matanya berat, tapi percaya padaku. Sebelum pergi, dia berbisik: “Bunda hati-hati, ya. Aku mimpi Ayah jatuh dari tangga.” Kualihkan senyum. “Doakan Bunda lebih kuat dari tangga, ya?” Tujuanku hari ini hanya satu: kantor pusat Hartono Group. Di sana semua file asli, CCTV lama, dan laporan keuangan tersimpan. Termasuk akses ruang kerja Om Hartono yang kini konon dikunci mati. Tapi aku punya kunci cadangan yang pernah diberikan Om saat ulang tahunku. Tak pernah kupakai. Sampai hari ini. Aku akan cari tahu semua. Dan kalau perlu—aku akan buka aib semuanya ke publik. Termasuk siapa Arka sebenarnya. Karena sebelum mereka sempat menjatuhkanku... Aku akan lebih dulu menyalakan peluru terakhirku.Malam itu aku tidak langsung tidur. Ada sesuatu yang menggangguku—sesuatu yang belum selesai.Setelah Lita tertidur, aku keluar dari kamar dengan hati-hati. Di ruang tamu, Bayu masih terjaga—duduk di kursi roda sambil menatap televisi yang tidak menyala. Hanya menatap layar hitam dengan pandangan kosong."Bayu," panggilku pelan.Dia tersentak, lalu menoleh. "Rani. Aku pikir kamu sudah tidur.""Belum bisa tidur." Aku duduk di sofa di seberangnya. "Kamu juga?""Aku... banyak pikiran." Dia mengusap wajahnya dengan tangan. "Besok kan giliran Lukman bersaksi. Giliran dia bicara.""Kamu takut dia akan bilang sesuatu yang... memberatkanmu?"Bayu terdiam lama. Lalu mengangguk pelan. "Lukman bukan orang bodoh. Dia pasti tahu kalau dia sudah kalah. Dan orang yang sudah kalah... kadang akan coba seret orang lain ikut jatuh bersamanya.""Tapi kamu sudah kooperatif. Kamu sudah bersaksi melawan dia. Jaksa pasti akan pertimbangkan itu.""Aku tahu. Tapi tetap saja..." Bayu menatap tangannya sendiri.
Hari keempat persidangan dimulai dengan suasana yang lebih tegang dari hari-hari sebelumnya. Mungkin karena semua orang tahu hari ini adalah hari terakhir presentasi bukti keuangan—hari di mana Bu Ratna akan "menutup" kasus korupsi dengan bukti-bukti final yang paling menghancurkan.Atau mungkin karena di luar gedung, massa demonstran sudah berkumpul sejak subuh—ribuan orang dengan poster, spanduk, dan megafon. Mereka tidak hanya dari Jakarta, tapi dari berbagai kota—Bandung, Surabaya, Yogyakarta, bahkan Papua. Semua datang untuk menuntut satu hal: keadilan."TANGKAP SEMUA KORUPTOR!""KEMBALIKAN UANG RAKYAT!""HUKUMAN MATI UNTUK LUKMAN!"Teriakan itu terdengar sampai ke dalam gedung pengadilan, menciptakan pressure yang luar biasa besar—bukan hanya untuk Lukman dan Hotman, tapi juga untuk hakim yang akan memutuskan vonis nanti.Kami masuk lewat pintu samping seperti biasa, tapi kali ini dengan pengawalan ekstra ketat. Polisi bersenjata lengkap berjaga di setiap sudut. Sepertinya pihak
Pagi itu aku terbangun dengan kepala berdenyut. Mimpi buruk lagi—tapi kali ini bukan tentang pembakaran gudang atau penculikan Lita. Kali ini tentang angka-angka yang mengejarku, tentang 47 triliun rupiah yang berubah jadi monster raksasa yang menelanku hidup-hidup.Aku duduk di pinggir tempat tidur, menarik napas panjang. Lita masih tertidur di sampingku, wajahnya damai. Setidaknya malam ini dia tidak bermimpi buruk.Aku keluar kamar dengan pelan, menuju dapur. Arjuna sudah di sana—membuat kopi dengan mesin tua yang berbunyi keras."Pagi," sapanya tanpa menoleh. Seperti dia sudah tahu aku yang datang."Pagi," jawabku sambil duduk di meja kecil. "Kamu tidak tidur?""Tidur. Tapi tidak nyenyak." Dia menuangkan kopi ke dua cangkir, menyodorkan satu padaku. "Kamu juga?""Mimpi buruk. Tentang angka-angka."Arjuna tertawa kecil—tawa yang tidak ada sukanya. "Aku juga. 47 triliun itu... terlalu besar untuk dibayangkan. Tapi terlalu nyata untuk diabaikan."Kami duduk dalam diam sebentar, menye
Malam itu aku tidak langsung pulang ke safe house. Setelah sidang selesai, Bu Ratna meminta kami semua berkumpul di kantornya—ruang meeting kecil di gedung KPK dengan jendela menghadap lampu-lampu kota Jakarta yang mulai menyala. "Besok adalah hari yang sangat penting," katanya sambil membuka laptop. Di layar proyektor, muncul diagram rumit—alur transaksi keuangan dengan panah-panah mengarah ke berbagai rekening. "Kita akan presentasikan bukti keuangan. Ini adalah jantung dari kasus korupsi Lukman." Aku menatap diagram itu dengan kepala pusing. Angka-angka, nama perusahaan asing, istilah-istilah perbankan yang tidak kufahami—semuanya terlihat seperti jaring laba-laba yang sangat rumit. "Apa hakim akan mengerti semua ini?" tanyaku ragu. "Itulah tantangannya," jawab Bu Ratna. "Hotman akan coba buat ini semakin rumit—membingungkan hakim dengan istilah teknis, mempertanyakan metodologi ahli kami, membuat seolah-olah semua transaksi ini adalah praktik bisnis normal." "Lalu bagaima
Hari ketiga persidangan dimulai dengan suasana yang sedikit berbeda. Setelah kesaksian yang intens kemarin—Bayu yang mengungkapkan semua kejahatan, aku yang nyaris roboh di podium saksi—hari ini giliran saksi-saksi pendukung yang akan memperkuat kesaksian kami.Bu Ratna mengatakan ini adalah strategi penting: "Hotman sudah coba diskreditkan kalian dengan menyerang motif pribadi. Sekarang kita tunjukkan bahwa bukan hanya kalian yang melihat kejahatan Lukman. Ada banyak orang lain—orang yang tidak punya hubungan pribadi dengannya—yang juga jadi korban atau saksi."Saksi pertama yang dipanggil adalah Nyonya Surya.Dia berjalan ke podium dengan tongkat kayunya—langkah yang lebih pelan dari biasanya. Usianya tujuh puluh tahun lebih, tapi matanya masih tajam. Setiap ketukan tongkatnya di lantai kayu terdengar seperti palu hakim—tegas, tidak bisa dibantah.Dia bersumpah dengan suara yang jelas meski bergetar karena emosi yang tertahan."Saksi, tolong sebutkan nama lengkap dan hubungan Anda de
Setelah istirahat lima belas menit, sidang dilanjutkan. Kali ini, giliran aku yang dipanggil ke podium saksi.Jantungku berdebar sangat keras saat aku berjalan ke depan. Ratusan pasang mata menatapku—wartawan, penonton, hakim, Lukman. Tapi yang paling membuatku gugup adalah kamera—kamera yang menyiarkan langsung ke seluruh Indonesia. Jutaan orang sedang menontonku sekarang.Aku bersumpah dengan tangan gemetar, lalu duduk di kursi saksi. Bu Ratna berdiri dengan senyum menenangkan—seperti dia tahu betapa gugupnya aku."Saksi, tolong sebutkan nama lengkap dan hubungan Anda dengan kasus ini.""Nama saya Rani Kartika. Saya istri dari Bayu Sasmita. Dan saya... korban dari percobaan pembunuhan yang diperintahkan oleh Lukman Hadiwijaya."Suaraku bergetar di awal, tapi perlahan menjadi lebih stabil."Saksi, kapan Anda pertama kali tahu tentang kejahatan yang dilakukan oleh terdakwa?""Tahun lalu. Setelah surat wasiat almarhum Hartono Sasmita tiba di rumah saya. Di surat itu, saya ditunjuk seba







