Share

Bab 2

Penulis: Nine
Setelah menutup telepon, Izzy langsung pergi ke rumah sakit. Luka di dahinya memerlukan tiga jahitan. Dokter berulang kali mengingatkannya agar tidak terkena air. Izzy mengangguk tanpa ekspresi.

Namun saat keluar dari ruang pemeriksaan, dia melihat Maybach milik Arsa terparkir tidak jauh dari pintu masuk rumah sakit. Jendela mobil terbuka sedikit. Lyra sedang bersandar di bahunya sambil menangis tersedu-sedu.

"Arsa, dulu memang aku yang salah sama kamu ...." Suaranya bergetar karena tangis. "Aku nggak berharap kamu memaafkanku, tapi waktu itu aku pergi karena ada alasan. Orang tuaku nggak setuju hubungan kita, lalu memaksaku pergi ke luar negeri. Bahkan ponselku disita. Bukan karena aku nggak ingin mencarimu ...."

Arsa duduk diam. Garis rahangnya terlihat tegas dan dingin.

Izzy berdiri tidak jauh dari sana. Kakinya seolah terpaku di tempat.

"Lalu kenapa sekarang kamu kembali?" tanya Arsa akhirnya dengan suara rendah.

Lyra mengangkat wajahnya. Air mata mengalir di pipinya.

"Karena aku nggak bisa melupakanmu .... Aku tahu sekarang ada Izzy di sisimu. Aku nggak minta apa-apa. Aku hanya berharap kamu nggak mengusirku .... Biarkan aku melihatmu dari jauh saja, itu sudah cukup ...."

Berdiri di balik bayangan, Izzy melihat Arsa terdiam cukup lama.

Pada akhirnya, pria itu mengangkat tangan dan mengusap air mata Lyra. "Aku nggak menyalahkanmu," katanya. "Soal Izzy ... aku hanya menganggapnya sebagai adik. Nggak seperti yang kamu pikirkan."

Mata Lyra langsung berbinar. "Benarkah?"

Arsa mengangguk. Karena terlalu bahagia, Lyra kembali menangis lalu memeluknya erat. Izzy tertawa kecil mengejek dirinya sendiri, lalu dia berbalik dan pergi. Tujuannya langsung menuju kantor imigrasi.

....

Di kantor imigrasi, seorang petugas menyerahkan formulir kepadanya. "Visa Anda akan selesai dalam dua minggu."

Izzy mengucapkan terima kasih.

Saat keluar dari gedung, langit sudah mulai gelap. Dia kembali ke vila Arsa. Selama tiga tahun terakhir, demi memudahkan dirinya merawat Arsa, dia tinggal di sana.

Dulu, Izzy begitu naif hingga menganggap tempat itu sebagai rumahnya. Di dekat pintu masuk masih ada sandal yang dipilihnya dengan cermat. Di ruang tamu terdapat pot-pot sukulen yang dia rawat sendiri.

Di dapur masih tertempel catatan "menu untuk menjaga kesehatan lambung" yang dia tulis dengan tangannya sendiri. Sekarang, dia harus menghapus semua jejak itu dengan tangannya sendiri.

Saat membereskan barang-barangnya, Izzy menemukan sebuah foto di dasar laci. Foto itu diambil pada hari Arsa berhasil menyelesaikan rehabilitasinya.

Hari itu, pria yang jarang tersenyum tersebut menunjukkan senyum tulus ke arah kamera. Sedangkan Izzy berdiri di sampingnya, tersenyum hingga matanya melengkung indah.

Tepi foto itu sudah mulai menguning. Terlalu sering dia usap dan dia pandangi selama bertahun-tahun. Izzy menatap foto itu untuk waktu yang sangat lama. Pada akhirnya, dia memasukkannya ke tempat sampah dengan pelan.

Sudah saatnya bangun dari mimpinya.

Keesokan paginya, Arsa menelepon. "Aku lupa bawa obat lambungku. Tolong antarkan ke kantor."

Suaranya masih serak khas orang yang baru bangun tidur dan nadanya terdengar begitu alami, seolah tidak ada apa pun yang terjadi semalam.

Izzy terdiam selama dua detik. "Baik."

Saat tiba di kantor, pintu lift baru saja terbuka ketika dia berpapasan dengan Lyra yang keluar sambil membawa kotak makan siang mewah.

"Kebetulan sekali?" Lyra tersenyum cerah. "Aku bawain makan siang untuk Arsa. Mau ikut masuk bersama?"

Izzy tidak menjawab dan hanya mengikutinya masuk ke kantor. Arsa sedang membaca dokumen. Ketika melihat mereka masuk bersama, alisnya sedikit terangkat. "Kenapa kalian datang sama-sama?"

"Kami ketemu di jalan."

Lyra tersenyum sambil membuka kotak makan siangnya. Aroma pedas yang kuat langsung memenuhi ruangan. "Aku buat mie pedas favoritmu!"

Ekspresi Izzy langsung berubah. "Lambungnya kurang sehat. Dia nggak bisa makan makanan pedas."

Arsa meliriknya sekilas, lalu mengambil garpu. "Sesekali nggak apa-apa." Dia mengambil sepotong daging sapi yang berlumuran minyak cabai merah dan memakannya tanpa mengubah ekspresi sedikit pun.

Izzy menggenggam obat lambung di dalam tasnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Tak lama kemudian, lapisan tipis keringat mulai muncul di dahi Arsa. Jari-jari yang memegang pena juga tampak sedikit gemetar.

"Arsa? Kamu nggak enak badan?" tanya Lyra dengan khawatir.

"Nggak apa-apa." Arsa memaksakan senyum. "Aku masih ada kerjaan. Kalian pulang saja dulu."

Izzy menatapnya dalam-dalam. Kemudian, dia meletakkan obat di atas meja tanpa berkata apa-apa dan berbalik pergi. Saat sudah sampai di lantai bawah, akhirnya dia tidak bisa menahan diri. "Penyakit lambungnya cukup parah. Lain kali kalau bawakan makanan, sebaiknya lebih diperhatikan."

Tiba-tiba Lyra tersenyum. "Izzy, sepertinya kamu masih belum mengerti posisi dirimu."

"Bagi Arsa, kamu hanyalah seorang perawat yang sedikit lebih istimewa. Karena itu kamu harus mengingat hal-hal seperti ini. Tapi aku berbeda."

Dia melangkah mendekat, bibir merahnya terangkat membentuk senyum tipis. "Dia mencintaiku. Jadi aku nggak perlu memperhatikan hal-hal itu."

Lyra mendekat satu langkah lagi. "Bahkan kalau yang kuberikan ke dia itu racun, dia tetap akan meminumnya. Mengerti?"

Ujung jari Izzy bergetar. Jantungnya terasa seperti dicabik hidup-hidup. Dia tahu bahwa ucapan Lyra tidak salah.

Dirinya telah menghabiskan tiga tahun penuh hanya untuk membuat Arsa memandangnya sedikit lebih lama. Sedangkan Lyra tidak perlu melakukan apa pun. Arsa tetap rela menelan racun demi dirinya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kuberi Cinta Malah Dianggap Saudara   Bab 23

    Izzy tetap pergi, dengan tanpa keraguan sedikit pun. Kepergiannya juga sesuai dengan apa yang telah diduga semua orang. Bahkan Tano dan yang lainnya tanpa sadar menghela napas lega saat melihatnya pergi.Mereka semua tahu bahwa jika Izzy benar-benar dipaksa untuk tetap tinggal, maka hari-hari berikutnya mungkin akan terus seperti hari ini. Dia akan terus dipaksa menerima cinta Arsa. Namun, tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.Mungkin inilah yang disebut memiliki takdir untuk bertemu, tetapi tidak memiliki takdir untuk bersama.Mereka pernah saling mencintai. Sayangnya, hati mereka tidak pernah berada pada waktu yang sama.Saat Izzy paling mencintainya, Arsa hanya memikirkan harga dirinya sendiri. Bahkan dia lebih memilih memberikan seluruh perhatian kepada seseorang yang pernah meninggalkannya. Daripada melihat orang yang benar-benar layak dihargai dan selama ini berada di sisinya.Lalu ketika Izzy pergi ... dia baru menyesal. Baru ingin memperbaiki semuanya.Na

  • Kuberi Cinta Malah Dianggap Saudara   Bab 22

    "Izzy, selamat ulang tahun." Suara Arsa menariknya kembali dari lamunannya.Izzy menarik sudut bibirnya tipis. Dia menundukkan pandangan, menyembunyikan semua emosi di matanya, lalu menjawab pelan, "Terima kasih."Saat pikirannya masih melayang ke mana-mana, sepotong kue tiba-tiba disodorkan ke hadapannya. Ketika mengangkat kepala, dia melihat wajah Arsa yang dipenuhi senyum."Izzy, nggak perlu terima kasih sama aku. Kali ini semuanya memang terlalu mendadak, jadi persiapannya masih kurang. Tahun depan aku pasti akan mengadakan pesta ulang tahun yang lebih cocok dan lebih megah untukmu.""Gimana?"Izzy tidak menjawab. Dia mengambil sesuap kue. Krim mahal itu terasa lembut di mulut, manis tanpa membuat enek. Namun entah mengapa, rasanya tetap hambar baginya.Tanpa sadar, dia menggenggam gelang batu kecubung di tangannya sedikit lebih erat. Butiran kristal saling beradu dan mengeluarkan bunyi pelan. Sebenarnya, dia tidak menyukai satu pun hadiah itu.Yang benar-benar dia inginkan hanyala

  • Kuberi Cinta Malah Dianggap Saudara   Bab 21

    Dua hari kemudian, tibalah hari ulang tahun Izzy. Arsa sengaja membatalkan semua jadwal pekerjaannya. Namun baru saat hendak menyiapkan kue ulang tahun, dia menyadari betapa sedikitnya dia mengenal Izzy. Dia bahkan tidak tahu rasa kue apa yang disukai Izzy.Karena tidak punya pilihan lain, dia akhirnya membeli semua jenis dan semua rasa yang tersedia. Kalau dipikir-pikir, ini mungkin pertama kalinya dia benar-benar merayakan ulang tahun Izzy dengan serius.Sebelum kecelakaannya, sebagai putra kebanggaan Keluarga Radhika, Arsa bahkan tidak pernah memperhatikan ulang tahun seorang siswi miskin yang dibiayai keluarganya. Kemudian setelah Izzy datang ke sisinya, Arsa malah sedang berada dalam masa paling kelam setelah lumpuh.Saat itu, pikirannya hanya dipenuhi rasa malu karena kondisinya dilihat orang lain dan hampir setiap hari dia melampiaskan emosinya kepada Izzy. Belakangan, berkat perhatian dan dorongan yang terus diberikan Izzy, kondisinya perlahan membaik.Arsa akhirnya belajar men

  • Kuberi Cinta Malah Dianggap Saudara   Bab 20

    Izzy benar-benar tidak mengerti.Untuk apa semua ini? Arsa tidak mungkin bisa menahannya di sini seumur hidup. Cepat atau lambat, dia tetap akan pergi. Kalau begitu, untuk apa terus melakukan hal-hal yang sia-sia seperti ini?Namun, Arsa tidak pernah peduli berapa lama waktu akan berlalu. Yang dia takutkan hanyalah satu hal. Bahwa suatu hari nanti Izzy akan pergi lagi. Sama seperti terakhir kali, menghilang begitu saja dari hidupnya.Karena itulah, selama masih ada kesempatan untuk berada di sisinya, baik kesempatan itu sekecil apa pun, Arsa tidak ingin melepaskannya.Ketika Izzy menghitung matahari terbenam untuk ketiga kalinya sejak berada di vila itu, Arsa kembali pulang. Kali ini, dia membawa sesuatu bersamanya. Sekelompok besar anggrek kupu-kupu.Bunga itu adalah permintaan Izzy beberapa hari sebelumnya. Saat Arsa bertanya apakah ada sesuatu yang dia sukai dan ingin dibawakan lain kali, itulah yang dia minta.Sebenarnya, cuaca di ibu kota tidak terlalu cocok untuk menanam anggrek

  • Kuberi Cinta Malah Dianggap Saudara   Bab 19

    Sama seperti dulu saat dia menyukai Arsa.Ketika mendengar Arsa terpuruk setelah lumpuh akibat kecelakaan, Izzy langsung datang ke sisinya tanpa ragu. Meskipun saat itu Arsa mudah marah, sulit ditebak, bahkan sering memaki dan melampiaskan emosinya kepadanya, Izzy tidak pernah berpikir untuk mundur.Begitu pula dengan Marco.Meski Izzy berkali-kali menolak dan menjaga jarak, Marco tetap sama seperti sebelumnya. Dia tidak pernah menyerah. Dia terus bertahan dengan ketulusan dan kesabarannya hingga akhirnya berhasil menyentuh hati Izzy.Namun selama bersama Arsa, Izzy tidak pernah merasakan hal seperti itu. Bahkan pada masa-masa menjelang kesembuhannya, ketika sikap Arsa perlahan berubah dari kasar menjadi lebih tenang, perubahan itu hanya sebatas tidak lagi seburuk dulu.Tidak lebih dari itu."Kalau begitu, Lyra gimana?"Izzy menundukkan pandangan, menyembunyikan emosi di matanya. Suaranya tetap tenang.Arsa sama sekali tidak merasa kecewa dengan sikapnya. Sebaliknya setelah mendengar p

  • Kuberi Cinta Malah Dianggap Saudara   Bab 18

    Di sisi lain, Izzy sama sekali tidak mengetahui semua itu. Sebenarnya, ide untuk mengadakan pernikahan di tanah air datang dari ayah Marco.Meskipun sekarang ayah Marco telah menetap di luar negeri, para sesepuh keluarga besar mereka masih tinggal di dalam negeri. Selain itu, kakek dan nenek Marco juga sudah lama tidak bertemu dengan cucu mereka. Ditambah lagi, sebagian besar teman dan kerabat keluarga juga berada di sini.Karena itulah, pada akhirnya lokasi pernikahan tetap diputuskan di tanah air.Mempersiapkan pernikahan adalah pekerjaan yang rumit dan sangat menyita waktu. Karena tanggal pernikahan ditetapkan cukup mendadak, ada begitu banyak hal yang harus mereka urus.Setiap hari mereka sibuk ke sana kemari hingga Izzy kewalahan. Dia bahkan tidak punya waktu untuk memikirkan hal-hal lain. Nama Arsa pun sudah lama terlempar dari pikirannya.Namun yang tidak dia sangka adalah, meskipun dia telah melupakan Arsa, Arsa tidak melupakannya. Bahkan pria itu langsung muncul di hadapannya.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status