Partager

Bab 3

Auteur: Nine
Saat Arsa pulang malam itu, wajahnya pucat pasi hingga tampak mengkhawatirkan. Izzy yang sedang menuang air di dapur menoleh ketika mendengar suara langkah kaki. Gelas kaca di tangannya hampir terlepas.

"Kamu nggak minum obat?" tanyanya dengan suara tegang.

"Terlalu parah. Aku sampai harus ke rumah sakit untuk cuci lambung."

Arsa menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan lemas. Anak rambut di dahinya basah oleh keringat dingin. Tangan Izzy bergetar. Air panas yang baru dituangkannya terciprat ke punggung tangannya hingga langsung meninggalkan bercak merah.

Ternyata Arsa benar-benar sangat mencintai Lyra? Sampai-sampai rela berakhir di ruang cuci lambung hanya demi memakan masakan yang dibuatnya?

Izzy membawa segelas air hangat dan berjongkok di sampingnya untuk memijat perutnya. Setelah minum air, Arsa merasakan pijatan lembut dan perhatian yang begitu akrab. Kerutan di dahinya perlahan mengendur.

Dalam keadaan setengah sadar, dia menyandarkan kepala di bahu Izzy lalu tertidur. Sama seperti berkali-kali sebelumnya. Namun kali ini, Izzy tidak lagi menatap wajahnya dengan penuh kerinduan.

Dia hanya membaringkan Arsa perlahan di sofa, menyelimuti tubuhnya dengan selimut, lalu naik ke lantai atas tanpa menoleh kembali.

....

Keesokan paginya ketika bangun tidur, Arsa sudah berdiri di ruang tamu dengan setelan jas yang rapi.

"Kenapa barang-barang di rumah berkurang sebanyak ini?" Dia mengerutkan kening sambil melihat sekeliling.

Izzy membuka mulut, hendak menjelaskan. Namun, Arsa sudah mengalihkan pembicaraan. "Hari ini Lyra mengadakan pameran lukisan. Dia mengundang kita untuk datang."

"Aku ...."

"Dia baru kembali ke negara ini dan nggak punya banyak teman," potong Arsa. "Anggap saja kamu bantu dia meramaikan acara."

Izzy menggenggam jemarinya erat-erat.

Pada akhirnya, dia tetap mengangguk.

Di lokasi pameran, begitu melihat Arsa, Lyra langsung menghampirinya dan dengan akrab menggandeng lengannya. "Arsa! Yang paling ingin kutunjukkan padamu adalah lukisan ini ...." Dia menunjuk sebuah lukisan minyak bergambar pegunungan bersalju.

"Aku melukisnya waktu di Swiss. Waktu itu, aku memikirkanmu setiap hari ...."

Arsa mendengarkan dengan tenang. Pandangannya tertuju pada lukisan tersebut, dalam dan sulit ditebak. Pada akhirnya, dia membeli seluruh lukisan yang dipamerkan.

Suara bisikan langsung terdengar di sekeliling mereka.

"Aku dengar dulu Pak Arsa sangat memanjakan Bu Lyra. Ternyata memang benar ...."

"Lyra bahkan pernah meninggalkannya, tapi Arsa masih mendukungnya seperti ini. Ini pasti cinta sejati ...."

Lyra melirik Izzy dengan penuh kemenangan.

Saat Arsa pergi ke meja depan untuk melakukan pembayaran, dia berjalan menghampiri Izzy.

"Dengar itu? Meskipun aku pergi selama ini, orang yang ada di hatinya tetap hanya aku." Lyra menurunkan suaranya. Bibir merahnya hampir menyentuh telinga Izzy. "Kalau kamu masih belum mau menyerah, aku nggak keberatan membuatmu melihat semuanya dengan lebih jelas."

Baru saja kalimat itu selesai diucapkan, alarm kebakaran tiba-tiba berbunyi nyaring di seluruh gedung.

Tit ... tit ... tit ....

Suara alarm yang menusuk telinga langsung memenuhi area pameran.

"Kebakaran! Cepat lari!"

Kerumunan langsung panik.

Izzy terdorong oleh orang-orang di sekitarnya hingga terjatuh. Pergelangan kakinya terkilir dengan keras, membuat pandangannya seketika menggelap karena nyeri. Dia berusaha mati-matian untuk berdiri. Namun, kemudian dia melihat Arsa berlari menerobos arus manusia yang sedang menyelamatkan diri.

"Lyra! Lyra, di mana kamu?!"

Dalam suaranya terdengar kepanikan yang belum pernah didengar Izzy sebelumnya.

Pada detik berikutnya, Arsa menemukan Lyra yang ketakutan dan kebingungan. Dia langsung menarik wanita itu ke dalam pelukannya untuk melindunginya, lalu berlari keluar tanpa menoleh sedikit pun.

Izzy terduduk lemas di lantai. Dia hanya bisa menyaksikan punggung mereka menghilang di balik asap tebal. Dengan sekuat tenaga, dia mencoba untuk berdiri.

Tiba-tiba ....

Brak!

Suara ledakan keras mengguncang udara. Sebuah balok atap yang terbakar jatuh menghantam ke bawah.

....

Saat membuka mata lagi, yang terlihat hanyalah warna putih yang menyilaukan.

"Izzy! Akhirnya kamu sadar!"

Sahabatnya, Filla, langsung menerjang ke sisi ranjang. Matanya yang bengkak karena menangis dipenuhi rasa khawatir. "Kamu bikin aku takut setengah mati! Tahu nggak kalau kamu hampir meninggal?!"

Izzy menggerakkan lehernya dengan susah payah. Seluruh tubuhnya terasa seperti tulang-tulangnya telah dihancurkan lalu disusun kembali satu per satu. Rasa sakit menjalar ke seluruh badan.

"Di mana Arsa?" tanyanya serak.

Wajah Filla langsung berubah muram. "Dia? Dia lagi temani Lyra!"

"Kamu cuma patah satu tulang rusuk, sedangkan Lyra mengalami lecet di kulitnya. Tentu saja dia harus merawatnya dengan baik, bukan?" sindirnya dengan sinis.

Izzy menutup mata. Dadanya terasa begitu sakit hingga kesulitan bernapas.

"Arsa benar-benar keterlaluan!"

"Waktu dia lumpuh dulu, siapa yang merawatnya? Siapa yang setiap hari cuma tidur dua jam karena takut dia melakukan hal bodoh? Sekarang kamu terluka separah ini, tapi dia malah ...."

Filla menggenggam tangan Izzy dengan erat. Suaranya mulai tercekat oleh tangis. "Izzy, sekarang dia sudah sembuh total, tapi dia bahkan belum pernah membicarakan hubungan kalian. Sampai kapan kamu mau terus menyiksa dirimu sendiri seperti ini?"

Ruangan perawatan menjadi sunyi. Yang terdengar hanya bunyi monitor jantung.

Bip ... bip ... bip ....

Setelah lama terdiam, Izzy akhirnya berbicara pelan, "Aku sedang mengurus visa."

Filla membeku sesaat.

"Saat visanya sudah keluar ...." Izzy menatap langit-langit kamar. Suaranya begitu pelan hingga hampir tak terdengar, "Aku akan pergi."

Baru saja kata-kata itu selesai diucapkan, pintu ruang perawatan tiba-tiba didorong terbuka dengan keras. "Pergi?"

Arsa berdiri di ambang pintu dengan wajah suram. "Siapa yang mau pergi?"

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Kuberi Cinta Malah Dianggap Saudara   Bab 23

    Izzy tetap pergi, dengan tanpa keraguan sedikit pun. Kepergiannya juga sesuai dengan apa yang telah diduga semua orang. Bahkan Tano dan yang lainnya tanpa sadar menghela napas lega saat melihatnya pergi.Mereka semua tahu bahwa jika Izzy benar-benar dipaksa untuk tetap tinggal, maka hari-hari berikutnya mungkin akan terus seperti hari ini. Dia akan terus dipaksa menerima cinta Arsa. Namun, tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.Mungkin inilah yang disebut memiliki takdir untuk bertemu, tetapi tidak memiliki takdir untuk bersama.Mereka pernah saling mencintai. Sayangnya, hati mereka tidak pernah berada pada waktu yang sama.Saat Izzy paling mencintainya, Arsa hanya memikirkan harga dirinya sendiri. Bahkan dia lebih memilih memberikan seluruh perhatian kepada seseorang yang pernah meninggalkannya. Daripada melihat orang yang benar-benar layak dihargai dan selama ini berada di sisinya.Lalu ketika Izzy pergi ... dia baru menyesal. Baru ingin memperbaiki semuanya.Na

  • Kuberi Cinta Malah Dianggap Saudara   Bab 22

    "Izzy, selamat ulang tahun." Suara Arsa menariknya kembali dari lamunannya.Izzy menarik sudut bibirnya tipis. Dia menundukkan pandangan, menyembunyikan semua emosi di matanya, lalu menjawab pelan, "Terima kasih."Saat pikirannya masih melayang ke mana-mana, sepotong kue tiba-tiba disodorkan ke hadapannya. Ketika mengangkat kepala, dia melihat wajah Arsa yang dipenuhi senyum."Izzy, nggak perlu terima kasih sama aku. Kali ini semuanya memang terlalu mendadak, jadi persiapannya masih kurang. Tahun depan aku pasti akan mengadakan pesta ulang tahun yang lebih cocok dan lebih megah untukmu.""Gimana?"Izzy tidak menjawab. Dia mengambil sesuap kue. Krim mahal itu terasa lembut di mulut, manis tanpa membuat enek. Namun entah mengapa, rasanya tetap hambar baginya.Tanpa sadar, dia menggenggam gelang batu kecubung di tangannya sedikit lebih erat. Butiran kristal saling beradu dan mengeluarkan bunyi pelan. Sebenarnya, dia tidak menyukai satu pun hadiah itu.Yang benar-benar dia inginkan hanyala

  • Kuberi Cinta Malah Dianggap Saudara   Bab 21

    Dua hari kemudian, tibalah hari ulang tahun Izzy. Arsa sengaja membatalkan semua jadwal pekerjaannya. Namun baru saat hendak menyiapkan kue ulang tahun, dia menyadari betapa sedikitnya dia mengenal Izzy. Dia bahkan tidak tahu rasa kue apa yang disukai Izzy.Karena tidak punya pilihan lain, dia akhirnya membeli semua jenis dan semua rasa yang tersedia. Kalau dipikir-pikir, ini mungkin pertama kalinya dia benar-benar merayakan ulang tahun Izzy dengan serius.Sebelum kecelakaannya, sebagai putra kebanggaan Keluarga Radhika, Arsa bahkan tidak pernah memperhatikan ulang tahun seorang siswi miskin yang dibiayai keluarganya. Kemudian setelah Izzy datang ke sisinya, Arsa malah sedang berada dalam masa paling kelam setelah lumpuh.Saat itu, pikirannya hanya dipenuhi rasa malu karena kondisinya dilihat orang lain dan hampir setiap hari dia melampiaskan emosinya kepada Izzy. Belakangan, berkat perhatian dan dorongan yang terus diberikan Izzy, kondisinya perlahan membaik.Arsa akhirnya belajar men

  • Kuberi Cinta Malah Dianggap Saudara   Bab 20

    Izzy benar-benar tidak mengerti.Untuk apa semua ini? Arsa tidak mungkin bisa menahannya di sini seumur hidup. Cepat atau lambat, dia tetap akan pergi. Kalau begitu, untuk apa terus melakukan hal-hal yang sia-sia seperti ini?Namun, Arsa tidak pernah peduli berapa lama waktu akan berlalu. Yang dia takutkan hanyalah satu hal. Bahwa suatu hari nanti Izzy akan pergi lagi. Sama seperti terakhir kali, menghilang begitu saja dari hidupnya.Karena itulah, selama masih ada kesempatan untuk berada di sisinya, baik kesempatan itu sekecil apa pun, Arsa tidak ingin melepaskannya.Ketika Izzy menghitung matahari terbenam untuk ketiga kalinya sejak berada di vila itu, Arsa kembali pulang. Kali ini, dia membawa sesuatu bersamanya. Sekelompok besar anggrek kupu-kupu.Bunga itu adalah permintaan Izzy beberapa hari sebelumnya. Saat Arsa bertanya apakah ada sesuatu yang dia sukai dan ingin dibawakan lain kali, itulah yang dia minta.Sebenarnya, cuaca di ibu kota tidak terlalu cocok untuk menanam anggrek

  • Kuberi Cinta Malah Dianggap Saudara   Bab 19

    Sama seperti dulu saat dia menyukai Arsa.Ketika mendengar Arsa terpuruk setelah lumpuh akibat kecelakaan, Izzy langsung datang ke sisinya tanpa ragu. Meskipun saat itu Arsa mudah marah, sulit ditebak, bahkan sering memaki dan melampiaskan emosinya kepadanya, Izzy tidak pernah berpikir untuk mundur.Begitu pula dengan Marco.Meski Izzy berkali-kali menolak dan menjaga jarak, Marco tetap sama seperti sebelumnya. Dia tidak pernah menyerah. Dia terus bertahan dengan ketulusan dan kesabarannya hingga akhirnya berhasil menyentuh hati Izzy.Namun selama bersama Arsa, Izzy tidak pernah merasakan hal seperti itu. Bahkan pada masa-masa menjelang kesembuhannya, ketika sikap Arsa perlahan berubah dari kasar menjadi lebih tenang, perubahan itu hanya sebatas tidak lagi seburuk dulu.Tidak lebih dari itu."Kalau begitu, Lyra gimana?"Izzy menundukkan pandangan, menyembunyikan emosi di matanya. Suaranya tetap tenang.Arsa sama sekali tidak merasa kecewa dengan sikapnya. Sebaliknya setelah mendengar p

  • Kuberi Cinta Malah Dianggap Saudara   Bab 18

    Di sisi lain, Izzy sama sekali tidak mengetahui semua itu. Sebenarnya, ide untuk mengadakan pernikahan di tanah air datang dari ayah Marco.Meskipun sekarang ayah Marco telah menetap di luar negeri, para sesepuh keluarga besar mereka masih tinggal di dalam negeri. Selain itu, kakek dan nenek Marco juga sudah lama tidak bertemu dengan cucu mereka. Ditambah lagi, sebagian besar teman dan kerabat keluarga juga berada di sini.Karena itulah, pada akhirnya lokasi pernikahan tetap diputuskan di tanah air.Mempersiapkan pernikahan adalah pekerjaan yang rumit dan sangat menyita waktu. Karena tanggal pernikahan ditetapkan cukup mendadak, ada begitu banyak hal yang harus mereka urus.Setiap hari mereka sibuk ke sana kemari hingga Izzy kewalahan. Dia bahkan tidak punya waktu untuk memikirkan hal-hal lain. Nama Arsa pun sudah lama terlempar dari pikirannya.Namun yang tidak dia sangka adalah, meskipun dia telah melupakan Arsa, Arsa tidak melupakannya. Bahkan pria itu langsung muncul di hadapannya.

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status