ANMELDENCaroline menatap hotel itu cukup lama. Tangannya masih menggenggam kemudi, sementara pikirannya terus berusaha mencari alasan yang masuk akal.Mungkin wanita itu memang keluarganya. Mungkin mereka hanya datang untuk membicarakan sesuatu. Atau mungkin ada urusan penting yang tidak bisa dilakukan di tempat lain.Namun satu hal yang tidak bisa Caroline jelaskan adalah, alasan mengapa hatinya justru terasa begitu tidak nyaman.“Kenapa aku harus peduli?” Ia menghembuskan napas kasar. “Dia bukan kekasihku apalagi suamiku. Lalu kenapa aku harus penasaran dengan apa yang akan ia lakukan dengan wanita itu?”Kalimat itu justru membuat Caroline terdiam. ‘Benar. Faris hanyalah seorang ajudan yang selama ini bekerja untuk keluargaku. Seseorang yang bertugas menjagaku, memastikan kebutuhanku terpenuhi, melindungiku, dan membantuku dalam pekerjaan. Tidak lebih.’Caroline kembali menatap ke arah hotel. ‘Jadi kenapa aku merasa seperti perempuan bodoh yang sedang memata-matai pacarnya sendiri?’Carolin
“Kamu tidak akan bertanya tentang Faris, jika tidak ada tujuannya. Iya kan?” ucap Ayu kembali.“Ma, aku hanya tanya saja. Sedikit penasaran.”“Benarkah?” Ayu ragu dengan jawaban Caroline.“Ma… Faris ajudanku, dan aku rasa tidak ada salahnya juga aku bertanya tentangnya, kan?”“Ok ok ok.” Ayu hanya terkekeh pelan, lalu mereka melanjutkan makan malam tanpa membahas Faris lagi.Sejak pembicaraannya dengan kedua orang tuanya semalam, Caroline tak lagi ingin tahu tentang adik yang dimaksud Faris. Sebagai pemilik perusahaan furnitur keluarga, ia tak ingin memikirkan hal yang baginya bukalah hal penting. Apalagi sekarang ia mulai lebih sering turun langsung ke lapangan. Ia ingin mengetahui sendiri bagaimana perkembangan proyek-proyek yang selama ini hanya ia lihat melalui laporan.Pagi itu, Caroline bersama Faris pergi meninjau salah satu proyek produksi furnitur yang sedang dikerjakan untuk sebuah hotel baru.Begitu turun dari mobil, suara mesin pemotong kayu dan aktivitas para pekerja lang
Sudah satu minggu sejak Caroline meninggalkan pernikahan David dan Vanessa, ia merasa hidup dengan udara kebebasan.Pagi itu Caroline berdiri di depan cermin, mengenakan blazer putih yang dipadukan dengan rok hitam selutut. Rambut panjangnya ditata sederhana. Tidak ada lagi cincin pernikahan di jari manisnya. Statusnya sudah resmi berubah. Ia sempat menatap jari itu beberapa detik. Dulu, benda kecil itu membuatnya merasa memiliki seseorang. Namun sekarang…, ia justru merasa lebih ringan setelah benda itu tidak lagi ada.Ia kembali menatap ke arah cermin. “Aku tidak pernah menyangka jika pada akhirnya, wanita yang menyandang status janda itu…, adalah aku.”Caroline menghela nafas, lalu mengambil tasnya. Ia keluar dari kamar dengan senyum yang akan menemaninya melewati hari ini."Selamat pagi, Nona," sapa Faris yang sudah menunggu di ruang depan.Caroline berhenti."Sepagi ini kamu sudah datang?"Faris melirik jam tangannya. "Sudah hampir pukul tujuh."Caroline tertawa kecil. "Rasanya
Suara pertengkaran terdengar sampai ke luar. David mendekat perlahan, memastikan apa yang sedang terjadi."Mudah sekali kamu bilang akan bertanggung jawab setelah semua ini terjadi? Lihat apa yang sudah kamu lakukan? Kamu mempermalukan kami!!" bentak ayah Vanessa.David mengernyit. “Bertanggung jawab tentang apa? Dan siapa yang ayah Vanessa maksud?” lirihnya.Ia berjalan cepat menuju pintu yang terbuka. Begitu masuk, matanya langsung membelalak. Pria yang ada di video bersama Vanessa, kini sedang berdiri di ruang tamu.“Pa, Hendri siap tanggung jawab. Bisa nggak Papa jangan marah-marah terus,” ucap Vanessa berdiri di depan pria bernama Hendri, seolah menjadi tameng untuk pria itu saat ayahnya marah.“Kamu ini, sama saja! Bikin malu keluarga! Sekarang kamu sudah terikat pernikahan dengan David, dan sekarang David meninggalkanmu karena bajingan ini.”“Cukup, Pa! David pergi karena dia lebih memilih untuk mengemis pada istri lamanya itu. Bukan karena Hendri!” PLAK!!Tangan ibu Vanessa m
Di ruang tamu, Caroline duduk tenang di sofa. Gaun hitam yang ia kenakan saat menghadiri pesta itu masih melekat di tubuhnya. Bahkan riasan di wajahnya belum sempat ia hapus, seolah ia memang sudah memperkirakan seseorang akan datang malam ini.Di sampingnya, Faris berdiri dengan kedua tangan saling bertaut di depan tubuh. Tatapannya langsung terarah ke pintu begitu pintu terbuka."Aku benar, kan, Faris?" ucap Caroline tanpa sedikit pun terkejut. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. "Dia benar-benar meninggalkan pesta itu dan langsung datang ke sini. Lihatlah, dia terlihat sangat kacau. Dan sepertinya aku bisa menebak.., dia datang untuk memohon kesempatan dariku."David menatap ke arah Caroline yang duduk tenang menatap ke arahnya. Ia tak lagi peduli harga dirinya. Ia berlari menghampiri Caroline, lalu berlutut tepat di hadapan wanita itu."Caroline,” ucapnya dengan suara yang terdengar parau. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan. Ia mencoba menggapai tangan Caroline, tapi wanita
"Vanessa!” Suara David terdengar berat dan sedikit tinggi, membuat seluruh tamu di ruangan ikut menoleh.“Sayang, apa kamu akan mengejar Caroline dan memintanya untuk tetap bertahan? Kamu nggak akan meninggalkan aku, kan” tanya Vanessa yang belum menyadari jika saat ini David tengah marah padanya.David tak menjawab, tapi tatapan tajamnya membuat Vanessa tahu jika semua tidak baik-baik saja.“Jelaskan ini,” ucap David sambil memberikan ponselnya pada Vanessa, agar wanita itu melihat sendiri kesalahan apa yang sudah ia lakukan.Vanessa bingung, tapi ia tetap mengambil ponsel David dan segera melihatnya. Ia terlihat mulai panik saat video mulai di putar, lalu menatap ke arah David dengan bibir bergetar."Sa-sayang, kamu jangan percaya video ini. Ini…, ini hanya editan. Aku tidak mungkin melakukan ini."David merebut ponselnya. "Editan? Kamu bilang ini editan?"Vanessa buru-buru mengangguk. "Iya. Mereka pasti sengaja menjebakku agar kamu membenciku. Dan.., dan anak ini, anak ini adalah a







