Malam itu David masih belum pulang ke Bandung. Dia akan ke tempat Mila berada. Sang pria bertanya kepada Aldo bagaimana perkembangan Mila dan seperti yang sudah diketahui oleh mereka sendiri, wanita itu hampir mogok makan. Tetapi akhirnya hidangan itu habis tanpa sisa. David tersenyum sinis. Dia bertumpang kaki di kursi kebesarannya sembari mengusap dagu, memikirkan bagaimana cara selanjutnya. "Aldo, aku tugaskan kamu untuk di sini saja." "Apakah Tuan akan kembali ke Bandung?" "Inginnya seperti itu. Aku merindukan seseorang," ucap David dan Aldo tahu siapa orang yang dimaksud tuannya, pasti Lusi. "Tapi aku akan ada di sini sampai besok, aku akan menunggu keputusan dari Raka." "Apa maksud, Tuan?"David tidak menceritakan apa yang terjadi di butik Mila saat bertemu dengan Raka, yang pasti pria itu meminta untuk tetap menjaga Mila dan jangan sampai wanita hamil itu keluar. "Tapi, Tuan. Apakah kita akan terus menyekapnya? Apa rencana Tuan kepada wanita ini?" "Benar. Sepertinya kal
"Mau ngapain kamu meneleponnya?" tanya Adiba tiba-tiba, Lusi kontan menoleh."Iya ...."Kata-kata Lusi menggantung. Wanita itu baru sadar untuk apa dia menelepon orang yang baru dikenal? Meskipun dia tahu kalau lowongan kerja itu dari David, kalau tiba-tiba menelepon dan bertanya di mana keberadaannya itu rasanya terlalu memalukan. Dikira Lusi mencari orang itu dan mungkin akan menjadi kesalahpahaman. "Iya juga, sih. Ngapain aku nanya kabar dia dan di mana keberadaannya," ungkap Lusi. Padahal kalau saja tahu Lusi khawatir seperti ini, mungkin David akan merasa senang. Tetapi dia sengaja mengubah namanya menjadi Damian. Dia melakukan itu agar rencananya berhasil.Kalau David menggunakan nama asli, mungkin anak buahnya tahu siapa dia sebenarnya. Mungkin 50% dari karyawannya tahu siapa David saat ini, tetapi sebagian lainnya tidak tahu. Jadi, dia harus berusaha untuk mendekati Lusi sebaik mungkin tanpa ada celah. Sekarang Lusi jadi bingung, kenapa dia tiba-tiba saja menanyakan pria as
Sementara itu di tempat lain, saat ini Lusi, Alia, Adiba dan juga Bu Melati sedang makan malam. Mereka membicarakan tentang kagiatan hari ini. Sementara Lusi hanya menimpali dengan senyuman dan sesekali melamun. Reaksi temannya itu membuat Adiba keheranan. Apa yang terjadi sampai Lusi malah diam saja? Tidak seperti biasanya. Selesai makan Lusi memilih untuk berdiam diri di teras rumah. Adiba benar-benar sudah memikirkan sesuatu yang terasa janggal. "Kenapa diam aja?" tanya Adiba tiba-tiba muncul, membuat Lusi terkejut. "Eh, Diba. Bikin kaget aja, sih," ujar Lusi dengan sedikit terkekang. "Syukur kalau kaget, berarti kamu masih normal.""Maksudnya?" "Habis dari tadi makan kamu diem aja. Ada apa? Apa ada yang usil di tempat kerja atau apa?" Sebenarnya Lusi tidak mau menceritakan ini, tapi dia juga bingung harus mencari jalan keluarnya. Apa lagi ada sesuatu yang membuat hatinya terasa janggal. "Begini, sebenarnya aku tuh kepikiran dengan kontrakanku dan percetakan buku di Jakarta
Maura berusaha untuk membuka kunci kamar kecil itu, tetapi sayangnya tidak bisa. Dia heran, pasti ada sesuatu di dalamnya. Tak habis akal, wanita itu pun mencoba untuk melihatnya melewati jendela yang ada di luar. Jendela itu memang kecil dan harus menaiki tangga atau barang apa saja yang bisa digunakan, ingin melihat apa isi dari kamar kecil itu."Sial banget, sih! Ngapain juga Kak Mila harus menyediakan tempat sekecil ini? Aku penasaran. Apa isinya, sih?" gumamnya, terus berjalan untuk sampai di jendela.Untungnya dia bisa menemukan tangga yang ada di gudang, jadi Maura bisa melihat dengan jelas apa isi ruangan itu. Hanya terdapat lemari kayu dan meja, serta kursinya. Tidak ada apa-apa lagi di sana. Semakin penasaran, diaberusaha untuk mencari cara lain. Mungkin mengakali pintu itu dengan jepit rambut memang cara dulu dan klasik, tapi ternyata berhasil juga. Maura menghela nafas lega, karena akhirnya bisa membuka kamar tersebut. Terlihat sekali ada beberapa debu yang menempel di m
Raka mengusap kasar wajahnya. Dia benar-benar sangat lelah dan tidak mau lagi berpikir apa-apa untuk memberi jawaban yang tepat kepada Maura. "Mila, nggak ada. Dibawa sama orang," ucap Raka dengan santai."Apa?!" Maura pura-pura kaget.Dia menggulung bibir dan senyum. Ternyata mempermainkan orang itu seseru ini. Tak masalah, yang penting balas dendamnya kepada Mila itu bisa terlaksana. Apakah dia bisa memiliki butik itu atau tidak, yang pasti hilangnya Mila dari kehidupan Raka dan kehidupan dirinya adalah sebuah kemenangan awal yang perlu dirayakan. "Apa kalian sedang bertengkar?" tanya Maura, pura-pura polos. Ingin tahu agar Raka bisa jujur tentang apa yang dialaminya sekarang. "Tidak ada pertengkaran. Sudahlah, Maura. Aku tidak mau banyak bicara, saat ini aku sedang ingin sendiri. Tolong jangan ganggu aku dulu. Kalau bisa kamu tolong bersih-bersih di rumah, nanti akan ada Imel ke sana. Aku akan memutus dia untuk bantuin kamu di sana. Pokoknya aku sedang tidak mau diganggu, apalag
Sepeninggalnya David, Raka hanya terduduk di lantai yang dingin, di ruang VIP. Pikirannya berkecamuk, dia bingung harus memilih yang mana. Satu sisi pria itu ingin sekali bertemu dengan Alia, bahkan sampai sekarang belum mendapat informasi apa pun. Mengandalkan Winda saja sampai berani menikahi wanita itu, tetap belum menghasilkan apa-apa.Sekarang pria asing itu tiba-tiba saja menyatakan kalau dirinya tahu di mana keberadaan anak dan mantan istri, ini seperti buah simalakama. Bagaimana dengan nasib bayi yang ada di dalam kandungan Mila? Dia tidak mau mendapatkan karma di masa depan jika menelantarkan anaknya. Sudah cukup kesalahannya di masa lalu yang sudah menyelingkuhi Lusi, itu menjadi bumerang untuk dirinya sendiri saat ini. Sementara dirinya hanya dikasih waktu satu kali 24 jam, itu artinya besok di jam yang sama dia harus memberikan keputusan kepada David. Karena kalau tidak, dia akan kehilangan kedua anaknya, Alia dan bayi yang ada di dalam kandungan Mila. Pemikiran itu m