LOGIN"Cinta tidak pernah menjadi bagian dari kontrak itu, tapi mengapa hatiku justru tertawan?" Ketika Haikal Alvaro Mahendra, seorang CEO dingin dan ambisius, membutuhkan istri palsu demi warisan perusahaan, dia tak menyangka akan memilih Sania Maheswari gadis sederhana dengan beban hidup berat. Sebuah kontrak pernikahan dibuat. Tiga belas bulan, tanpa cinta, tanpa ikatan, hanya kesepakatan. Namun batasan mulai kabur saat kedekatan berubah menjadi rasa, dan drama masa lalu menghantui masa depan mereka. Mampukah perjanjian di atas kertas berubah menjadi cinta yang nyata?
View MoreMatahari perlahan mulai condong, sinarnya menembus dedaunan rindang di taman belakang rumah mewah keluarga Mahendra. Taman yang luas itu telah di ubah menjadi lokasi pemotretan selanjutnya untuk Haikal dan Sania. Lampu sorot dipasang tersembunyi di antara pepohonan, rangkaian bunga dan dedaunan kering menjadi dekorasi yang cantik dan aesthetic, serta kursi rotan ditempatkan di sudut yang terdapat pantulan cahaya senja. Sania kembali keluar dengan mengenakan gaun cokelat muda yang sudah dipilihkan untuknya. Rambutnya ditata sederhana dengan dihiasi mahkota dari bunga kering berwarna cream. Make up lembut di wajahnya semakin mempertegas sisi alami, membuatnya tampak bukan lagi mahasiswa sederhana, melainkan seorang calon pengantin. Haikal sudah menunggunya di sisi kursi rotan, mengenakan stelan jas cokelat yang senada dengan gaun Sania. Cahaya senja yang memantul di wajahnya, menajamkan garis rahang dan tatapannya yang selalu terlihat dingin. Namun, Sania merasa tatapannya kali ini t
Pagi itu, rumah besar milik Haikal Mahendra ramai dengan lalu-lalang orang-orang berpakaian rapi. Beberapa membawa koper besar, hanger berisi gaun, dan peralatan make-up profesional. Sania berdiri mematung di depan cermin, mengenakan kemeja putih longgar dan celana kain sederhana. Wajahnya terlihat segar, tapi matanya sembab sebab dia susah tidur semalaman. Tok ... Tok ... Tok ... Evana masuk ke kamar Sania setelah mengetuk pintu. “Pagi, Nona Sania. Tim dari bridal sudah datang. Kita akan mulai dengan fitting gaun pernikahan, lalu lanjut sesi foto di lantai dua dan outdoor setelah makan siang,” jelas Evana mengenai rangkaian kegiatan hari ini. Sania mengangguk pelan. “Baik, terima kasih, Bu,” sahut Sania. “Maaf, kamu bisa memanggilku Evana saja, Nona Sania,” ucap Evana dengan lembut. Sania mengangguk mengerti. Sania berjalan mengikuti Evana dan saat melewati lorong dekat kamar, Evana sempat berkata santai. “Jam tua di ruang kerja Tuan Haikal memang suka berdentang tengah ma
Sania berdiri di depan cermin tinggi di kamarnya. Gaun santai berwarna biru tua yang dia temukan tergantung di lemari, tampak terlalu elegan untuk sekadar menghadiri makan malam. Tapi, setelah ragu beberapa saat, dia tetap memakainya. Mungkin pakaian itu memang sudah disiapkan untuknya. Wajahnya tanpa riasan berlebihan, hanya bedak tipis dan pelembap bibir yang dia oleskan terburu-buru. Dia terlihat anggun dalam balutan gaun dengan warna hijab yang senada. Pukul tujuh tepat, suara ketukan terdengar di pintu kamarnya. “Masuk,” ucap Sania. Evana masuk dengan ekspresi profesional seperti biasa. “Ruang makan ada di lantai bawah, Tuan Haikal sudah menunggu. Mari saya antar," ucap Evana datar. Sania mengangguk dan mengikuti wanita itu menuruni tangga yang lebar. Langkahnya terasa berat, seperti hendak menghadiri wawancara kerja, bukan hanya sekadar makan malam. Tapi, memang begitulah segala hal di rumah ini, terasa seperti ujian bahkan untuk sekedar bernapas. Ruang makan berada d
Sania kembali ke rumah sakit, membawa satu keputusan besar yang terasa lebih berat dari pada koper kecil di tangannya. Lorong rumah sakit itu tampak lebih sepi dibanding kemarin, tapi rasa sesak di dadanya tak kunjung hilang justru semakin bertambah. Dia melangkah perlahan ke ruang rawat ayahnya, berusaha menyusun kalimat demi kalimat yang terpikirkan di kepalanya mengenai kabar besar yang akan dia sampaikan. Dengan ragu dia menggenggam handle pintu lalu membukanya. Ibunya terlihat tengah duduk di samping tempat tidur sang ayah, mengusap tangan kurus yang terbaring lemah di sana. Ayah Sania tampak lebih tenang hari ini, meskipun wajahnya masih pucat. “Ibu... Ayah,” panggil Sania pelan. Ibunya menoleh dan tersenyum tipis. “Kamu dari mana? Apa kamu sudah makan, Nak? Dan untuk apa membawa koper kemari?” tanya Bu Salma memperhatikan putrinya dengan bingung. Sania mengangguk, meski kenyataannya perutnya masih kosong. Dia mendekat lalu duduk di sisi tempat tidur yang kosong, menggengg






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.