ログインHanya karena pulang kampung tidak bawa mobil, gosip tentang Sutiati dan rumah tangganya jadi berkembang tidak karuan. Terlebih karena Sutiati tidak diantar suami. Awalnya, Sutiati memilih menutup kedua telinga daripada berusaha menutup mulut orang sekampung. Namun, semakin dibiarkan kok hati semakin terbakar, ya...? Tampaknya, Sutiati harus melakukan sesuatu!
もっと見るMas Joni tetap bersikukuh tidak memperbolehkan aku pergi pulang kampung. Apapun alasannya terutama untuk cek barang yang siap kirim. "Bahaya, Dek. Jaraknya jauh, nanti kamu kecapekan." "Kan bisa pakai pesawat. Turun Jogja," sahutku sambil menghempaskan bokong ke sofa. Aku menerima segelas susu hamil yang disodorkan suamiku. "Dek. Dari Jogja ke kampung itu membutuhkan waktu empat jam. Jalannya juga belak-belok. Trus kamu nanti naik apa? Tidak mungkin pakai travel, kan?" "Ya gak papa. Dulu aku santai aja. Kenapa dipersulit, sih," seruku setelah meneguk susu sampai tandas. Mas Joni menghela napas, menerima gelas kosong dan meletakkan di meja dapur. Dia kembali dan duduk mensejajariku. Mengalungkan tangan dan menarikku untuk bersandar kepadanya. "Dek Tia, Sayang. Mas melarang itu demi kalian. Dedek dan Mamanya." Suamiku mengecup dan membelai perutku yang mulai membuncit sedikit. "Tapi aku bosan." "Mengerti. Gimana kalau kita jalan-jalan di dekat sini?" "Gak minat," j
Keseharianku semakin membosankan. Biasanya blusukan mengecek barang ini dan itu adalah tugasku, sekarang diambil alih oleh Mas Joni. Dia bahkan menggaet pihak lain untuk quality control pesanan barang yang akan dikirim.“Tapi, tugas Mas Joni untuk marketing bagaimana? Bukankah sebentar lagi akan pameran di Singapure?” Biasanya saat mendekati hari H, dia pasti sibuk setengah mati. Ini malah tenang-tenang saja di rumah.“Tenang saja, Dek. Semua aku titipkan ke teman-teman,” ucapnya dengan santai. Suamiku sekarang sedang berkutat dengan lap top nya. Itu pun tidak di ruang kantor, tapi di dalam kamar menemaniku yang rebahan.“Loh, Mas. Kita mau punya anak kok malah kerjanya kendor. Sebentar lagi kita mendapat tanggung jawab yang membutuhkan biaya tidak sedikit.”“Iya, Mas mengerti banget,” ucapnya kemudian beralih ke ranjang sambil membawa laptop. “Ini aku tunjukkin, ya.”Layar lap top dihadapkan ke arahku. Aku pun beringsut duduk di sebelahnya. Mengikuti arah kursor yang mulai menjelaja
Katanya kalau wanita seperti aku sekarang ini pasti dimanja suami. Namun, yang aku rasakan justru omelan dan anjuran yang bikin kepala semakin pusing. Alih-alih merasa dimanja, aku justru seperti dipenjara.“Jangan loncat!”“Awas kesandung. Tunggu sebentar batunya Mas sisihkan.”“Hati-hati!”Dan, peringatan-peringatan yang lain. Rumah biasanya tenang, sekarang berisik.Kemerdekaanku terasa dirampas tuntas. Kebiasaanku yang suka berkelana dengan motor kesayanganku pun tidak diizinkan lagi. “Jangan naik motor. Berbahaya! Mas antar pakai mobil.”Tidak hanya itu, kesukaanku jajan rasa micin pun tidak diperbolehkan lagi. Aku hanya bisa menelan ludah menatap pedagang cilok yang mengguyur saus kacang dan sambal super pedas.“Tahan, Dek. Mulai sekarang harus makan makanan sehat. Karena makananmu itu lah yang nantinya untuk bayi kita. Hindari yang banyak mengandung micin apalagi bahan pengawet dan bahan sintetis,” ucapnya sambil memalingkan wajah ini dari jendela mobil.Ingin rasanya menyelina
Walaupun di Bali itu everyday is holiday, tapi bagi kami tetap hari minggu lah hari kemerdekaan. Gimana, wong kami di sini untuk bekerja dan malah sampai lembur-lembur.Seperti minggu-minggu kemarin, selain mengurus pekerjaan juga disibukkan menyiapkan kebutuhan si Eliana nya Jonathan. Sekarang semua sudah aman. Tempat tinggal sudah lumayan nyaman, dengan pembantu dan Jonathan menyewakan mobil bulanan.“Pokoknya Mas Joni, ya. Kita hanya bantu Jonathan sebatas itu saja. Aku tidak mau lagi urusan dengan pasangan selingkuh!” ucapku sambil menyelusup di ketiaknya, tempat ternyaman bagiku. Usai subuhan tadi, kami pun bergelung kembali sampai sinar matahari menyelusup dari sela-sela tirai. “Iya, Dek Tia. Aku mengerti. Tapi kita juga menyelesaikan kewajiban yang sudah dibayarkan Jonathan.”“Tapi, Mas. Pekerjaan ini bertentangan dengan hati nurani. Terkesan kita mendukung orang kumpul kebo. Ogah aku.”“Ya, anggap saja kita handle tamu bule. Kita kan juga tidak tahu yang dibawa itu istrinya
Ada apa lagi ... ini!?Aku dan Widya memang berteman dari sekolah, bahkan pernah bersahabat. Kemana-mana selalu bersama. Bahkan di sekolah pun juga duduk di satu meja. Tidak hanya di sekolah, di rumah kami sering bergantian tidur di rumahku atau di rumah Widya. Kebetulan rumah kami tidak jauh.Kami
"Suti! Kamu pacaran sama Mas Mantri?" teriak Emak tiba-tiba menyibak tirai pembatas ruangan. Diikuti Pakde Jangin, mereka duduk di depanku menuntut jawaban.'Ya Allah, apa lagi ini?'Puyeng ... puyeng!"Suti, kamu ini ditanya orang tua kok malah gedeg-gedeg! Kamu pusing? Makanya jangan aneh-aneh j
Nafas emak memburu dan bibir bergetar menahan amarah."Pokoknya aku tidak terima! Anakku diperlakukan seperti ini. Aku tidak terima!"Tubuh emak bergetar, langsung limbung dan luruh jatuh ke lantai.Emak pingsan."Emak .... !" teriakku secepatnya meraih tubuh emak yang lunglai.Pakde Jangin langsun
Brak .... !Suara pintu dapur mengagetkanku.Pintu dibuka dengan keras, silau sinar matahari dari luar menyeruak masuk. Terlihat sosok bayangan berdiri di sana.Aku picingkan mata, mencoba memastikan siapa yang masuk. Yang datang seperti kehilangan rasa sabar.Masih silau.Siapa, ya?*Aku lekatkan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビュー