Beranda / Romansa / Kukira Suami Masyaallah Ternyata Astagfirullah / Bab 4. Pamer Suami Dulu Sebelum Pergi

Share

Bab 4. Pamer Suami Dulu Sebelum Pergi

last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-18 00:40:02

"Abang, yakin kita pergi dengan motor ini," tunjuk Alesha ke arah motor yang berdiri gagah di depannya.

"Iya. Apa kamu keberatan naik motor ini. Atau kita pergi dengan mobil saja," usul Fatih.

"Jangan! Jangan! Jangan. Kita naik ini saja. Biar lebih romantis dan so good."

Tentu Alesha dengan senang hati naik motor yang ada di depan matanya. Motor yang ada di depannya adalah salah satu jenis kesukaannya, Harley Davidson. Meskipun keluaran lama masih terlihat gagah.

Motor ini adalah milik Pak Kyai yang sering digunakan oleh Fatih. Motor yang sudah digunakan sejak beliau muda. Lalu diwariskan untuk Fatih. Sudah tidak kuat lagi mengendarai motor gede. Lebih nyaman menggunakan mobil.

Selain main sepak bola Alesha sangat menyukai berbagai jenis motor moge. Merek Harley Davidson adalah merek yang paling disukai. Cita-citanya ingin membeli salah satu merek motor tersebut. Namun harganya yang sangat mahal, dia mengurungkan niat. Tidak mungkin kedua orang tua dan Abangnya akan membeli motor tersebut. Palingan hanya dibelikan sepeda.

Mereka pernah jantungan jamaah ketika Alesha masuk ke rumah sakit. Dia dengan nekat meminjam motor moge milik temannya untuk balapan liar. Masih untung motor dan dia masuk ke dalam sawah, bukan ke jurang. Sehingga Alesha tidak terluka parah. Sejak saat itu larangan membawa motor diberlakukan karena sikap ugal-ugalan. Mana hanya dia anak perempuan yang ikutan balap motor.

"Ayo naik," ajak Fatih.

Alesha dengan cepat duduk di bagian depan motor. Bukan di bagian belakang.

"Kamu mau bawa motornya?" tanya Fatih menaikkan sebelah alis. Dimana dia harus duduk jika Alesha duduk di depan.

Alesha ingin menjawab ya. Karena memang ingin mengendarainya. Tapi mengingat ulang yang akan membawa motor tersebut adalah suaminya, maka dengan segera bergeser ke belakang.

"Nggak Abang Fatih kusayang. Alesha hanya ingin merasakan duduk di sini saja. Ayo kita jalan," sahut Alesha menepuk motor bagian depan.

Fatih tidak memperpanjang masalah. Mereka harus segera berangkat mengurus berkas dan lainnya sebelum berangkat ke ibukota.

Alesha segera mengalungkan kedua tangan di pinggang Fatih tanpa malu. Dengan kepala yang bersandar di punggung sang suami begitu mesra. Persis seperti orang pacaran. Bedanya mereka sudah halal.

Fatih hanya melirik sekilas tangan Alesha yang melingkar di perut. Lalu menoleh ke arah belakang tanpa suara. Tanpa berkata lagi langsung menyalakan motor.

Selama menikah mereka jarang berinteraksi atau bersentuhan. Hanya sebatas memeluk dan pegang tangan. Itupun Alesha yang melakukan duluan. Tanpa tersipu sedikitpun. Lebih kepada mangsa yang melihat korban.

Hanya sebatas itu saja. Karena sayangnya, setelah akad Alesha malah kedatangan tamu sehingga membuat malam pertama mereka gagal. Harus menunggu seminggu lagi baru dia kembali dengan keadaan suci.

Padahal Alesha sudah tidak sabar ingin menyentuh tubuh Fatih di manapun. Bukan hanya tangan dan pinggang saja. Membayangkan hal itu membuat dirinya terkekeh sendiri. Apakah dia terlalu mesum? Tapi nggak masalah kan mesum sama suami sendiri.

***

"Kamu tunggu di sini. Aku mau bertemu Abi dan lainnya sebelum kita berangkat," ujar Fatih setelah turun dari motor.

Alesha menganggukkan kepala dengan pelan. Hilang sudah kehangatan dari tubuh Fatih.

"Aku juga mau menemui temanku."

Alesha dengan tidak ikhlas berpisah dengan Bang Fatih. Sudah beberapa hari menikah, hubungan mereka masih biasa saja. Fatih juga lebih sering pergi dibandingkan bersama dengannya. Mau bagaimana lagi. Mereka terlalu sibuk mengurus pindahan.

"Hei!" seru tiga orang santri setelah Fatih menghilang. Mereka sengaja menunggu Fatih pergi sebelum memanggil Alesha.

Alesha balik badan dengan malas. Mendengar suara itu saja sudah jelas siapa yang memanggilnya. Panggilan yang tidak ada sopan santun.

"Kenapa diam. Sini kamu!"

"Siapa yang perlu. Kalau mau sini lah," sahut Alesha dengan kedua tangan di pinggang. Menghadapi mereka tidak perlu sopan. Mereka duluan yang cari masalah.

"Sudah besar kepala ya kamu setelah kamu nikah dengan Gus Fatih."

Mereka bertiga terpaksa mendekat. Alesha sama sekali tidak beranjak dari parkiran motor.

"Apa mata kamu udah rabun? Kepalaku masih sama tuh kayak dulu."

"Kamu!"

"Salma, sabar, kamu jangan marah. Dia sudah sah menjadi istri Gus Fatih," tegur Laila menarik tangan Salma yang terarah ke wajah Alesha.

Alesha melirik mereka bertiga sekilas dengan ekor mata. Mulai dari rambut sampai ujung kaki. Mereka bertiga lah yang menyatakan dia kandidat terakhir sebagai istri Bang Fatih alias Gus di Pesantren ini.

Sekarang Alesha bisa menaikan dagu dengan tinggi. Dialah yang akhirnya berhasil mendapatkan Bang Fatih.

"Aku masih tidak terima kamu nikah dengan Gus Fatih," desis Salma ditahan Laila dan Salwa. Santri satu lagi.

"Omo, ada yang cemburu. Adududu, kacian. Aku loh yang dipilih langsung sama Pak Kyai," ejek Alesha puas. Sekarang dia bisa membalas kesombongan mereka.

"Kamu jangan sombong dulu Alesha!"

"Siapa yang sombong. Itu kan memang kenyataannya. Masih mau protes? Protes lah sama Pak Kyai.”

"Pak Kyai milih kamu pasti karena Safa masih kuliah di luar negeri. Jika dia ada di sini, kamu ngak akan dipilih."

Luntur sudah kesombongan Alesha. Jika dibandingkan dengan Safa, dia hanya butiran amoeba, lebih kecil dari debu yang masih kasat mata. Tidak ada satu keunggulan sama sekali dibandingkan Safa. Safa lebih pintar, cantik, sopan, lemah lembut. Calon istri impian cowok dan menantu ibu-ibu. Sama seperti Fatih.

Saat Safa dan Fatih masih berada di pesantren mereka disandang-sandangkan akan menjadi pasangan yang paling sempurna. Tidak ada cacatnya. Alesha yang menyadari semua itu hanya bisa pasrah dan mengagumi dari belakang.

Sejak kepergian Safa keluar negeri lah dia berani curi-curi pandang ke Fatih saat bersama Bang Muzammil. Cari kesempatan mumpung saingan besar tidak ada. Sayangnya Fatih juga pergi ke ibukota sebelum rencananya dilaksanakan.

Jadi ketika dilamar Pak Kyai tentu saja itu merupakan keajaiban baginya. Dia sudah menggunakan kupon voucher keberuntungan seumur hidup dan mati. Sudah termasuk diskon dan juga sales besar-besaran.

"Kenapa diam? Sekarang kamu sudah nggak bisa sombong kan?" tanya Salma tersenyum menang.

"Aku hanya mikir," ujar Alesha ala-ala detektif. Sok misterius.

"Mikir apa? Mikir Gus Fatih lebih cocok dengan Safa dibandingkan kamu kan?"

"Hemm, aku pikir kalian iri sampai segitunya. Makanya kalian ingin memancing aku kan. Ngaku deh," kata Alesha berusaha tidak terpengaruh.

Sekarang dialah pemenang. Apalagi yang perlu diributkan. Mereka sudah menikah. Safa sudah tidak memiliki kesempatan lagi. Salah sendiri dia pergi keluar negeri.

"Kalian sok bawa-bawa nama Safa untuk memancing aku. Sori ya, aku tidak akan kemakan omongan kalian. Bang Fatih itu sudah sah jadi suami aku."

"Kamu masih belum sadar diri juga?"

"Dah ya, aku mau menemui teman baik ku dulu. Aku tidak ada waktu mengurus kalian. Bye bye," ucap Alesha melengos pergi. Waktunya tidak banyak.

"Awas saja kamu Alesha. Saat Safa kembali, hubungan kalian akan berakhir," desis Salma dendam. Jika dia tidak bisa memiliki Gus Hanif, maka Alesha lebih tidak berhak.

"Kamu ingin rumah tangga mereka hancur Salma? Ingat, menghancurkan rumah tangga orang sama saja kamu telah merusak hidup kamu sendiri. Allah melaknat bagi siapapun yang berniat merusak rumah tangga orang lain. Kita bisa dimasukkan ke neraka penuh penderitaan," tegur Salwa. Sesukanya dia sama Gus Fatih dan sebencinya dia kepada Alesha, dia lebih takut kena karma dan dilaknat Allah.

"Astagfirullah," nyebut Salma. Dia juga takut kalau sudah berhadapan dengan sang pencipta.

"Aku nggak gitu juga."

"Terus?"

"Tau ah. Pokoknya aku nggak suka mereka menikah titik. Gus Fatih lebih pantas sama Safa."

Bersambung …

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kukira Suami Masyaallah Ternyata Astagfirullah   Bab 80. Tidak Mampu

    “Bella, dengerin aku. Sejak awal aku membiarkan kamu tinggal di sini karena kamu sudah menyelamatkan aku. Sekarang aku tidak bisa menerima kamu di sini lagi.”“Kamu yang bilang aku bisa tinggal di sini sampai kamu selesai kuliah.”“Iya, saat itu aku memang bilang seperti itu. Namun sekarang kondisinya sudah berubah. Aku sudah menikah.”“Jadi karena perempuan itu kamu ngusir aku. Dia pasti menjelek-jelekan aku selama aku nggak bersama kamu.”“Siapa yang jelek-jelekin kamu. Dasarnya aja kamu sudah jelek.”“Kamu sudah berani sama aku.”“Bella, cukup!” tegur Fatih sebelum mereka memulai masalah baru.“Kamu lebih membela dia dari aku?”“Sudah sewajarnya. Alesha adalah istriku. Apa aku salah membela dia?’“Fatih, kenapa kamu berubah seperti ini. Ini bukan Fatih yang kukenal.”Bella melembutkan suara. Bukan saatnya dia menaikkan ego. Fatih tidak bisa dipaksa dengan kekerasan.“Bukan aku yang berubah Bella, tapi aku sudah kembali kepada aku yang dulu. Fatih sebelum kita bertemu.”“Terus aku b

  • Kukira Suami Masyaallah Ternyata Astagfirullah   Bab 79. Diusir

    “Assalamualaikum Gus Fatih, Alesha,” sapa Arafah dan Zainab.Arafah dan Zainab sontak melihat ke arah yang memanggil nama mereka. Mereka masih bisa melihat gerak gerik Alesha di dalam mobil. Tanpa dipanggil dua kali mereka mendekat.“Waalaikumsalam,” sahut Alesha dan Fatih berbarengan. “Bang Fatih, aku mau ngomong sama mereka sebentar ya. Sebelum kita pergi. Kumohon. Nanti kami jarang ketemu,” mohon Alesha.“Iya, jangan lama-lama.”Fatih tidak mungkin setega itu. Apa salahnya jika hanya sebentar. Asal nanti mereka tidak bertemu dengan yang lain saja. Kapan bisa sampai jika setiap ketemu orang berhenti.Alesha melepas kembali sabuk pengaman. Lalu keluar dari mobil menghampiri kedua temannya. Biar lebih enak ngomong daripada dia duduk d mobil dan kedua temannya berdiri diluar.“Kamu mau ke mana sama Gus Fatih?” tanya Arafah melirik sekilas ke arah dalam mobil.“Kami mau berangkat ke kota.”“Ke kota lagi? Baru kamu kemarin kamu tiba,” ujar Zainab. “Iya, soalnya kemarin ada sedikit mas

  • Kukira Suami Masyaallah Ternyata Astagfirullah   Bab 78. Kembali Ke Kota

    *** Mereka semua duduk di ruang tamu. Posisinya seperti kemarin. Bedanya, kali ini ada Alesha yang duduk antara kedua orang tuanya yang berhadapan dengan Nyai dan Kyai. Sedangkan Fatih dan Muzammil duduk berhadapan. “Kita langsung saja. Tidak perlu basa basi,” ujar Ustadz Ahmad buka suara. “Kami juga setuju,” sahut Nyai. “Fatih, ayo katakan keputusan kalian,” suruh Ustadz Ahmad. “Sebelumnya saya benar-benar minta maaf kepada semuanya. Terutama kepada Alesha.” Semua mengangguk memaafkan kesalahan Fatih. Terutama Alesha yang mengangguk paling semangat. Sampai ditepuk paha oleh sang ibu. Peringatan jika mereka sedang serius. Bukan bercanda. “Saya sudah berpikir ulang dan juga berkompromi dengan Alesha. Pernikahan kami adalah pernikahan perjodohan, sehingga kami belum mengenal satu sama lain dengan baik. Oleh karena itu, selama saya kuliah di kota selama satu lagi, kami berdua berencana untuk memulai kehidupan baru. Memulai semua dari awal.” “Syukurlah jika itu keputusan kalian.

  • Kukira Suami Masyaallah Ternyata Astagfirullah   Bab 77. Usaha, Tidak Janji

    “Bagaimana Nak Fatih?” “Sudah mendingan Bu.” Fatih menggerakkan kaki yang sudah diurut Ibu mertua. Sekarang kondisi kaki tidak sesakit tadi. Sudah berkurang meski belum bisa digunakan untuk jalan normal. “Pinggangnya bagaimana? Apa mau Ibu urut juga nggak?” tarar Yasmin. “Nggak usah Bu. Pinggang nggak seberapa sakit,” bohong Fatih. Urut kaki masih bisa dimaklumi. Tapi jika urut pinggang sedikit kurang sopan, agak privasi. Mana ada Alesha yang masih ngintip yang nempel di tembok. “Lebih baik Fatih malam ini tidur di kamar aku aja,” ujat Muzammil kasihan melihat sahabat. Baru malam pertama menginap di sini Fatih sudah sakit pinggang. Kaki dibikin terkilir. Seperti firasat Fatih sangat kuat. Dia sudah memohon untuk tidur di kamarnya. “Lah, nggak bisa gitu. Fatih kan suami aku. Bukan suami Abang,” protes Alesha melepaskan tembok dan menghadap sang abang. “Kamu mau apain suami kamu lagi. Tahu kini, tadi Abang biarkan Fatih tidur di kamar Abang sejak kamu nyanyi nggak jelas di dal

  • Kukira Suami Masyaallah Ternyata Astagfirullah   Bab 76. Urut Maut

    *** Kembali beberapa menit yang lalu Fatih masuk ke dalam kamar dengan pasrah. Dilihatnya sang istri yang sudah mengeringkan rambut. Di dalam kamar tidak ada kursi selain kursi yang diduduki oleh Alesha untuk berhias. Oleh karena itu dia langsung duduk di atas kasur. Tidak mungkin kan dia lesehan di lantai yang dingin. Fatih menghela nafas berat. Semoga saja malam ini dia bisa tidur dengan aman. Tanpa gangguan dari …. “Bang Fatih kenapa?” tanya Alesha berjalan ke arah Fatih. “Nggak apa-apa. Aku cuma capek aja.” “Bagaimana kalau aku pijit,” tawar Alesha mempraktekkan pijat dengan kedua tangan. “Nggak, nggak usah. Aku mau tidur aja,” tolak Fatih langsung berbaring di atas kasur. Alesha segera berputar ke arah sisi kasur satu lagi. Lalu naik ke atas tempat tidur. Duduk di atas dua kaki menghadap Fatih yang berbaring. “Aku pandai pijit loh. Pijit plus plus juga bisa,” bujuk Alesha. “Nggak mau. Kamu jangan pikir macam-macam. Aku capek. Aku mau istirahat,” tolak Fatih menarik se

  • Kukira Suami Masyaallah Ternyata Astagfirullah   Bab 75. Numpang Tidur

    Di dalam kamar mandi seorang perempuan membersihkan tubuh sambil bersenandung. Suara air keran tidak bisa mendengar suara jelas dari luar. Seolah suaranya juga tidak bisa terdengar orang lain. “Malam ini ~. Malam yang kutunggu ~. Tidur bersama ~. Bersama Bang Fatih ~. Yeahhh ~. Malam ini ~. Bang Fatih nginap ~. Nginap bersama ~. Bersama akuuuhhh ~. Malam ini ~. Mandi yang bersih ~. Sebersih cinta ~. Cintaku ke Bang Fatih ~. Malam ini ~. Aku ingin ~. Ingin begini begitu dengan Bang Fatih ~~. Yeahhhhhhh.” “Kamu sudah selesai mandi,” ejek Muzammil duduk di meja makan melihat sang adik yang baru keluar dari kamar mandi. Sudah berganti pakaian dengan handuk di atas kepala. Alesha di rumah sesekali tidak menggunakan kerudung. Tidak ada yang bukan mahram. Jati tidak ada masalah. “Apaan sih. Orang lagi enak-enak mandi juga,” sewot Alesha mengusap rambut dengan handuk. “Sambil nyanyi tidak ndak jelas. Kayak suaranya bagus aja,” ujar Muzammil mengambil segelas air. “Suka-suka aku dong. Mu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status