Masuk"Aku masih nggak habis pikir. Kok bisa-bisanya
Pak Kyai bisa menikahkan kamu dengan Fatih," ujar Arafah masih tidak rela seorang Gus Fatih incaran santri Nikah mendadak. "Apa? Nggak rela?" ejek Alesha. "Iya dong. Aku gini-gini juga suka sama Gus Fatih. Siapa sih yang nggak mau nikah sama Gus Fatih." "Betul, aku juga mau. Lumayan bisa terjamin makan seumur hidup," nimbrung Zainab membuat kedua sejoli yang sedang berdebat diam. Kenapa topiknya jadi berubah. "Apa?" "Kamu kira keluarga Pak Kyai warung makanan?" ujar Arafah menjitak jidat Zainab dengan pelan. "Kan Pak Kyai memang orang kaya. Banyak duit. Artinya bisa beli banyak makanan kan?" sahutnya mengelus bekas jitakan Arafah. "Dah lah Alesha, abaikan saja dia. Sekarang jawab pertanyaan aku dengan serius. Kenapa Pak Kyai milih kamu. Kamu kan banyak kekurangan," ujar Arafah serius sambil memegang kedua bahu Alesha. "Nah itulah kelebihanku, banyak kekurangan." Arafah menepuk jidat. Percuma tanya ke Alesha. Alesha pasti akan menyembunyikan fakta bisa menikah dengan Gus Fatih agar orang lain tidak bisa mendapatkannya. *** "Bagaimana saksi? Sah?" tanya penghulu. Di luar kamar Alesha proses ijab kabul dilakukan dengan hikmat. Di sana tidak terlalu ramai. Hanya ada kedua orang tua pihak pengantin dan juga beberapa kerabat terdekat serta orang penting saja. "Sah!" ucap saksi. "Alhamdulillah." Akhirnya Alesha sah menjadi istri Fatih. Di dalam kamar Alesha tersenyum lebar. Sekarang dialah pemilik satu-satunya Bang Fatih idaman semua santriwati. "Hehehe, kalian jangan iri ya." "Kamu jangan lupa sama kami setelah nikah dan jadi menantu Pak Kyai." "Tentu dong. Kalian berdua kan dayang-dayang kesayanganku," ujar Alesha songong. "Dayang dengkulmu," dengus Zainab dan Arafah. *** "Fatih kamu ikut aku sebentar," panggil Muzammil ketika hanya tinggal pihak keluarga saja. Alesha juga sudah keluar menemui suaminya dan disuruh masuk ke kamar kembali. Muzammil sudah terbiasa memanggil Fatih hanya dengan nama saja jika saat berdua. Tidak ada kata Gus ataupun Ustadz di antara mereka berdua. "Aku mau ngomong sesuatu sama kamu." Fatih mengangguk pelan tanpa perlawanan. Malahan bersyukur teman baik di Pesantren itu memanggilnya. Dia sudah lelah menghadapi tamu yang sedari tadi mengucapkan selamat. "Muzammil, apa yang kamu bicarakan dengan Fatih?" tegur Ustadz Ahmad. "Hanya sebentar Pak. Kami sudah lama nggak jumpa," sahut Muzammil tersenyum kecil. "Fatih, walaupun kalian berteman, sekarang Muzammil adalah Abang ipar kamu. Kamu harus lebih hormat sama dia," kata Kyai sebelum mereka pergi. "Iya, Abi. Fatih tahu," balas Fatih dengan lemah lembut. Kemudian mengikuti langkah Muzammil keluar rumah. *** "Apa yang ingin kamu bicarakan, Muzammil?" "Sebelum itu, aku ucapkan selamat untuk kamu. Kamu sudah menikah dengan adikku," sahut Muzammil melenceng. "Terima kasih," jawab Fatih datar. "Apa kamu senang dengan pernikahan ini?" tanya Muzammil melihat reaksi datar Fatih Fatih mengangkat bahu. "Ini kan perjodohan," jawab Fatih seadanya. "Jadi kamu tidak senang? Kalau kamu tidak suka, kenapa kamu menerimanya?" tanya Muzammil tidak puas dengan respon sahabatnya. "Kamu tahu sendiri bagaimana aku. Kapan aku pernah bisa menolak keinginan kedua orang tuaku. Mereka yang mengendalikan atas hidupku. Semua pilihanku sudah diatur sejak kecil." Tentu Muzammil tahu betul kehidupan Fatih tidak semulus yang orang pikirkan. Sejak kecil Fatih dituntut agar menjadi pedoman bagi santri lainnya. Dia dipaksa melakukan apa yang disuruh Kyai dan Nyai. Sehingga waktunya untuk bermain sangat jarang. Fatih lebih banyak menghabiskan waktu untuk menghafal Quran dan memperdalam ilmu agama. Bahkan untuk bermain dan menikmati hidup sangat jarang. Hanya dia satu-satunya yang dekat di pesantren ini dan berani mendekat. Karena kedua orang tua mereka memang sudah dekat sejak lama. "Aku tahu ini berat untuk kamu. Tapi aku harap kamu bisa menjaga adikku dengan baik." "Aku akan melakukan semampuku. Aku ini juga manusia biasa." Muzammil menghela nafas. Apa yang harus diharapkan dari orang yang selalu pasrah. "Oh ya, ada hal lain yang ingin aku tanya sama kamu?" Kini ekspresi Muzammil jadi serius. Berbeda beberapa detik yang lalu yang terlihat biasa. Fatih yang bisa merasa aura sangat sahabat berbeda, dua menegakkan tubuh secara reflek. Sangat jarang Muzammil serius begini satu berdua. "Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Fatih dibikin penasaran dan dag dig dug. "Gini Fatih, apa kamu menyembunyikan sesuatu. Atau melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan anak pesantren?" "Apa yang maksud kamu?" tanya Fatih balik. Sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan Muzammil. "Berapa bulan lalu, aku sempat pergi ke ibu kota. Saat itu aku seperti melihat sosok kamu masuk ke dalam diskotik merangkul perempuan. Sosok itu sangat mirip dengan kamu. Itu bukan kamu kan?" tanya Muzammil hati-hati. "Sudah pasti bukan aku. Kamu pasti salah lihat. Mana mungkin itu aku," ujar Fatih bersikap biasa. Dia sempat panas dingin ditanya oleh Muzammil dengan pertanyaan yang tidak diduga. Memang benar yang dilihat oleh Muzammil adalah dirinya. Tidak ada yang tahu jika sifatnya di luar pesantren bagaimana. "Syukurlah kalau itu bukan kamu. Sekarang aku lega. Nah, sekarang aku titip Alesha sama kamu. Aku harap kamu sabar dengan dia. Kurang lebih kamu tahu bagaimana Alesha. Dia cewek tomboy dan barbar. Kalau ngomong suka blak-blakan. Jika dia salah tolong ajari dia. Jangan sampai kalian berdua bertengkar," pinta Muzammil untuk menjaga adik kesayangannya. "Kamu tenang saja. Aku tidak mungkin memukul Alesha," kekeh Fatih. "Bukan itu yang aku takutnya. Sekali kamu hajar dia, kamu bakal dihajar habis sama dia. Alesha bukan tipe perempuan yang suka ditindas. Dia pandai ilmu beladiri. Aku aja kalah sama dia.” Fatih kembali diam. Senyumnya hilang. Apakah dia telah menikahi cewek samson. Sifat Alesha yang ini adalah hal yang tidak diketahui olehnya. Setahunya Aisyah cuma cewek tomboy yang menyukai kebebasan. Bukan kekerasan. "Jika ada sesuatu sama kalian, jangan sungkan menghubungi aku. Sekarang aku Abang ipar kamu," ujar Muzammil yang kini terkekeh geli. "Aku tidak menyangka kalau kamu yang bakal jadi adik ipar aku." Fatih menghela nafas. Apa keputusan ini tepat. Dia menerima pernikahan ini karena menganggap Alesha bukan perempuan yang repot. Perempuan yang mengejar-ngejarnya. Alias orang yang memandangnya karena anak Kyai. Soal Alesha yang menyukainya hanya dianggap angin berlalu. Alesha hanya menyukai orang tampan. Jika mereka ke kota, Alesha bisa melirik lelaki lain. Banyak yang lebih tampan darinya. Sehingga dia bisa bebas. "Aku dengar minggu depan kamu langsung pindah ke ibukota bersama Alesha?" "Iya, aku harus segera kembali. Tugasku masih banyak. Sebentar lagi aku akan lulus. Jadi ya gitu." "Aku paham. Aku juga sudah tahu kalau kamu akan membawa Alesha ke ibukota. Aku percaya kan adikku sama kamu. Semoga Alesha kerasan hidup di ibukota. Karena hidup di sana sangat keras." "Aku pasti akan menjaganya dengan baik." 'Semoga saja.' Bersambung ….*** Alesha dibawa ke gudang kosong yang jauh dari pemukiman. Gudang yang terbengkalai. Tidak pernah ada lagi orang ke sana. Hanya mereka yang sering datang. Menjadikan tempat itu sebagai salah satu tempat markas. "Bawa dia masuk." "Oke bos." "Jangan lupa ikat dia. Nanti dia bisa kabur. Awas saja kalau dia kabur. Uang kita bisa melayang." "Bos tenang saja. Kami akan mengikatnya dengan baik. Ayo bawa dia." Mereka bertiga membawa Alesha ke ruangan di sebelahnya. Alesha diletakkan di atas kursi. Kemudian tubuhnya diikat menggunakan tali. Dari tangan hingga kaki. Setelah itu mereka kembali ke tempat tadi. Dimana bos berada. *** "Gimana? Sudah beres?" "Sudah bos." "Bos, apa bos yakin akan menerima pekerjaan ini?" tanya salah satu anak buah yang mengangkat tubuh Alesha. "Iya bos. Aku takut melakukan ini," sambung anak buah yang mengangkat tubuh Alesha satu lagi. "Udah, kalian jangan banyak tanya. Yang penting kita dapat banyak uang. Urusan itu serahkan sama aku. Aku tahu apa ya
"Alesha …." Alesha dan Furqan kompak melihat ke arah Fatih yang tiba muncul dan hampir memanggil nama Alesha. Fatih berhenti memanggil Alesha ketika menyadari yang dicari sedang bersama Furqan. Lantaran saat ini penampilannya seperti di kampus. Karena berjaga-jaga jika bertemu dengan teman-temannya. Tempat yang sering dikunjungi oleh mahasiswa. Bukan teman-teman malamnya. Furqan melirik secara bergantian antara Fatih dan Alesha. Sontak dia teringat kembali jika Alesha sudah menikah. Terutama dengan suami Alesha yang sedikit tidak asing. "Apa dia pacar kamu?" tanya Fatih menutupi kecurigaan Furqan dengan pura-pura tidak kenal dengan Alesha. Alesha memiringkan kepala. Kebingungan dengan pertanyaan Fatih. Dia adalah istrinya. Kenapa malah dia pacaran dengan orang di sampingnya. 'Kenapa Mas Fatih malah bilang aku pacarnya orang ini. Apa jangan-jangan orang ini kenal sama Mas Fatih ya,' tebak Alesha yang cepat peka dengan keadaan. "Bukan. Dia bukan pacar saya. Saya hanya bantu dia
"Jadi, hanya karena itu kamu marah lagi. Kamu jangan panik. Nanti kita kerjain balik.""Bukan hanya itu, tau.""Apalagi? Kok hidup kamu ribet amat.""Kamu tahu ibunya Fatih?""Nggak tuh," sahut Cindy cuek. Mana dia kenal kedua orang tua Fatih. Sama Fatih saja tidak akrab. Tau Fatih karena pacar Bella doang."Kamu yang serius dong," kata Bella naik pitam diabaikan."Aku beneran nggak kenal. Silahkan kamu lanjutkan omongan kamu," ucap Cindy duduk dengan tegak. Bella menatapnya dengan tajam. Tidak bercanda lagi."Jadi, dia ingin Alesha segera hamil. Jika sampai gadis tengik itu hamil, maka posisiku bisa terancam.""Iya sih. Kemungkinan besar kamu bisa ditinggal sama Fatih.""Oleh karena itu, aku sudah ada acara biar dia tidak mengandung anak Fatih," ujar Bella tersebut licik."Apa?" tanya Cindy penasaran."Akan aku buat dia mengandung anak orang lain.""Maksudnya kamu?""Aku akan menyewa orang agar gadis tengik itu hamil.""Apa kamu gila! Nggak! Kali ini aku nggak setuju sama kamu dan ak
Pada pagi hari Alesha dan Fatih sudah berada di meja makan. Hubungan Fatih dan Alesha kembali seperti semula. Alesha sudah tidak marah lagi kepada Fatih. Tidak baik marah terlalu lama. Fatih pun tidak menyinggung sama sekali tentang masalah kemarin. Itu sama saja dengan mencari gara-gara. Mereka berdamai tanpa ucapan kata maaf. Baik begitu saja. Seperti masalah kemarin tidak terjadi."Aaa!"Ketika mereka sedang sarapan, mereka mendengar suara teriakan dari Bella yang menggema. Keduanya tersentak kaget."Kenapa dengan Bella?" tanya Fatih melirik ke arah pintu ruang makan."Nggak tahu tuh. Mungkin dia dapat jackpot," sahut Alesha cuek mengangkat kedua bahu.Beda terlihat dari luar, dalam hati Alesha tertawa girang. Puas dengan reaksi dari Bella. Walaupun sedikit sayang tidak bisa melihat wajah Bella secara langsung."Alesha!" teriak Bella yang sudah berdiri di depan pintu ruang makan.Alesha dan Fatih sontak melihat ke arah Bella. Kedua mata itu melirik tubuh Bella dari atas sampai baw
*** "Bang Fatih mau ke mana?" tanya Alesha saat Fatih naik ke lantai dua. Alesha mengikuti Fatih dari belakang ketika masuk ke dalam rumah. Langkah Fatih sudah menuju ke lantai dua. Lantai yang jarang ditempati. "Aku mau istirahat di lantai atas," sahut Fatih yang berdiri di anak tangga pertama. "Kenapa Bang Fatih istirahat di atas. Apa ada sesuatu yang Bang Fatih sembunyiin?" tanya Alesha curiga. "Bukannya semalam kamu melarang aku tidur di kamar?" "Ah itu …." Alesha baru ingat jika semalam tidak membiarkan Fatih masuk ke dalam kamar. "Itu kan semalam," balas Alesha dengan suara kecil. "Jadi sekarang aku sudah boleh masuk ke kamar?" Alesha mengangguk kecil. Seandainya Fatih tidur sendiri, yang ada malah di goda Bella. Sekarang pun dia sudah tidak semarah semalam dan tadi pagi. Fatih menghela nafas. Tanpa ucapan sepatah kata lagi dia segera ke kamar. Sebelum Alesha berubah pikiran. Alesha melirik dan memastikan Fatih masuk ke dalam kamar. Kepalanya sedikit menjulur berusa
"Assalamualaikum Fatih." "Waalaikumsalam Umi." "Bagaimana kabar kalian. Kalian sudah jarang menelepon Umi." "Kami baik-baik saja, Umi. Umi dan Abi apa kabar?" "Alhamdulillah, kabar kami juga baik. Dimana Alesha? Umi mau dengar suara menantu Umi?' "Maaf Umi,sekarang Fatih lagi di di luar," sahut Fatih. "Kamu pergi sendiri. Alesha nggak ikut sama kamu?" "Alesha ada di rumah Umi. Fatih cuma pergi sebentar." "Oh gitu. Umi pikir kamu nggak ngajak Alesha. Oh ya, bagaimana hubunganmu dengan Alesha, baik-baik saja kan?" tanya Nyai Aisyah. Nyai masih was-was Alesha akan meninggalkan anaknya. Setelah mengetahui bagaimana perubahan Fatih. Namun setelah sebulan berlalu, tidak ada isu hubungan mereka renggang. Sehingga membuat Nyai sedikit berharap lebih kepada Alesha. "Kami baik-baik saja Umi. Ada apa Umi tanya seperti itu?" "Ah, nggak ada. Umi senang mendengarnya," sahut Nyai sedikit gugup ditanya balik. "Jadi, kapan Umi bisa mendapatkan cucu," lanjut Nyai. Jika mereka baik saja, kem







