Share

Bab 255

Penulis: Kamari
Susan menunggu di ruang tunggu, tetapi tetap bisa mendengar sorak sorai yang tiba-tiba meledak dari arah penonton begitu Yunda naik ke panggung. Tepuk tangan dan teriakan itu menembus dinding ruang tunggu, terdengar jelas di telinga setiap peserta.

Semua orang tampak tercengang. Ada yang berseru, "Sebanyak itu penggemarnya? Kok suaranya sekeras ini?"

"Ya jelas. Penggemar Yunda banyak sampai dia bisa masuk dunia hiburan jadi artis. Itu bukan omong kosong. Akun Twitter-nya saja sudah puluhan juta
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kulepaskan Suami Berengsekku   Bab 416

    "Susan, aku ada urusan selama dua hari ke depan, jadi aku nggak bisa menunggumu di sini. Aku juga nggak bisa mengantarmu ke ruang ujian besok."Susan balas menatap Daniel dengan sorot tidak peduli. "Ya urus saja urusanmu."Dia juga tidak menyuruh Daniel untuk menunggu atau mengantarnya.Daniel sepertinya menyadari makna di balik tatapan Susan, seulas senyuman pun tersungging di bibirnya. "Susan, sekalipun aku nggak di sini, kamu tetap harus berusaha sebaik mungkin dalam ujian. Kamu pasti akan kembali sebagai peraih nilai tertinggi dalam ujian masuk perguruan tinggi."Kata-kata ini menarik perhatian banyak siswa dan orang tua, mereka semua berusaha mencari tahu siapa yang membuat pernyataan keterlaluan tersebut bahkan sebelum mengikuti ujian masuk perguruan tinggi.Untuk pertama kalinya, Susan tidak berusaha menyembunyikan apa pun dan justru tersenyum lebar."Tunggu saja, aku pasti akan mendapatkannya."Ujian masuk perguruan tinggi adalah acara nasional besar. ada banyak ruang ujian yan

  • Kulepaskan Suami Berengsekku   Bab 415

    Susan berdecak malas dengan tatapan penuh celaan. Daniel berjalan mendekat, sementara wajahnya tampak sedikit masam. "Tatapan macam apa itu? Aku berniat mengantarmu ke lokasi ujian, tapi kamu malah nggak senang?"Susan mengangkat jari telunjuknya, lalu menggoyangkannya ke kiri dan kanan. "Nggak, kamu salah lihat."Daniel mengikuti di sampingnya dengan lekat, lalu sesekali melirik ekspresi wajahnya. Setelah beberapa saat, Daniel bergumam pelan, "Lupakan saja. Karena hari ini kamu akan mengikuti ujian kelulusan, aku nggak akan mempermasalahkannya dulu."Susan sudah pergi melihat tempat lokasi ujian sehari sebelumnya, jadi dia sangat tidak asing dengan rutenya. Dia membawa Daniel naik kereta, lalu tiba di tempat tujuan dalam waktu setengah jam.Meskipun mereka pergi cukup pagi, banyak siswa lainnya yang sudah bangun jauh lebih awal untuk menghadiri ujian kelulusan. Gerbong kereta pagi itu cukup padat. Susan baru menemukan kursi kosong setelah mencari beberapa saat.Susan duduk di bangku p

  • Kulepaskan Suami Berengsekku   Bab 414

    Mata Susan perlahan membelalak. Gelombang rasa malu yang luar biasa menjalar dari telapak kakinya, menyebar ke tulang belakangnya, hingga berkumpul di kulit kepalanya. Seketika itu juga, Susan merasa sekujur tubuhnya merinding karena malu.Susan merasa ingin bersujud di lantai sekarang juga, lalu menggali lubang untuk bersembunyi di dalamnya.Daniel menatapnya dengan ekspresi geli. Dia perlahan merunduk, menatap dalam ke arah mata Susan dengan binar kegembiraan yang terpancar jelas dari sudut matanya. "Susan, apa kamu memang sangat menyukaiku? Kamu sampai merayuku masuk ke rumah dengan sepiring ronde, lalu berniat mengajakku mengobrol semalaman?"Susan menarik napas dalam-dalam. Ketika menghadapi tatapan sedekat itu, Susan bisa merasakan suhu di pipinya mulai meningkat tajam.Susan mengucapkan kata-katanya sambil menggertakkan gigi, "Semua itu nggak benar. Kamu salah dengar."Daniel tertawa renyah, tawa yang terdengar sangat bebas dan penuh kemenangan. "Susan, apa kamu malu?"Susan men

  • Kulepaskan Suami Berengsekku   Bab 413

    Susan menjelaskan, "Dia tetangga sebelah, Bu. Aku melihat rondenya masih banyak, jadi aku menyuruh dia mencicipinya sedikit. Sebentar lagi dia akan pulang.""Oh, begitu ...." Mata Wirda menyapu menatap mereka berdua, lalu tatapannya langsung berubah penuh arti. "Nggak apa-apa, nggak perlu terburu-buru pulang. Kalian bisa mengobrol lebih lama. Ibu akan kembali ke kamar dulu, aku nggak akan mengganggu percakapan kalian. Uh .... Nak, anggap saja ini seperti rumahmu sendiri, ya. Jangan sungkan."Daniel langsung mengangguk tanpa ragu.Susan tampak bingung.Sebelum masuk ke kamar, Wirda sempat berputar arah untuk menarik Susan sambil berbisik, "Hebat juga kamu, bisa merayu pemuda setampan ini masuk ke rumah. Kamu harus memanfaatkan kesempatan ini dengan baik, ya!""Kesempatan apa ...."Baru saja Susan membuka mulut, ibunya langsung memotong, "Tapi ingat pesan Ibu, kamu masih seorang siswi SMA, kamu harus menjaga batasan. Kamu boleh saja berpacaran, tapi jangan sampai berakhir di atas tempat

  • Kulepaskan Suami Berengsekku   Bab 412

    Pelayan Keluarga Sutedja hanya membutuhkan waktu kurang dari sepuluh detik untuk menangkap Susan. Mereka mencengkeram kedua lengannya, lalu melemparnya ke dalam kamar seperti membuang sehelai kain bekas, membuat tubuh Susan terempas dengan keras ke lantai.Rasa sakit yang luar biasa mendadak muncul dari perut Susan. Kegelapan dan rasa tidak berdaya menyelimuti seluruh tubuhnya. Susan meringkuk di lantai sambil menahan rasa sakit, hingga keringat dingin membanjiri tubuhnya. Susan kejang-kejang karena rasa sakit, tetapi dia memaksakan diri untuk merangkak ke arah pintu, lalu menggedornya dengan sekuat tenaga."Tolong aku ...."Suara Susan sangat pelan, hampir tidak terdengar, "Perutku sakit sekali, tolong selamatkan aku ...."Tidak ada jawaban.Selain mengantarkan makanan tiga kali sehari yang dilakukan tepat waktu, tidak ada seorang pun yang memedulikan wajah pucat atau rasa sakit Susan. Jangankan lagi membawanya ke rumah sakit.Pada saat itu, Susan memikirkan Ryan.Dia sedang mengandun

  • Kulepaskan Suami Berengsekku   Bab 411

    Susan dengan cepat mengangkat tangan, lalu memercikkan sisa air di ujung jarinya tepat ke wajah Daniel. Susan mengernyitkan kening sambil berkata, "Jangan terlalu dekat."Daniel mencoba menghindar, tetapi percikan air itu tetap mendarat di wajahnya.Pria itu menyeka bekas air di pipinya, masih tetap menjulurkan kepalanya di samping wajah Susan. "Sepertinya suasana hatimu memang sedang nggak baik. Aku baru berbicara beberapa patah kata saja, tapi kamu sudah mulai main tangan."Susan meletakkan piring ke dalam wastafel, lalu meliriknya dengan tatapan tajam. "Kalau kamu begitu luang, kenapa kamu nggak membantuku mencuci piring?"Tanpa disangka, Daniel langsung menyingsingkan lengan bajunya. "Tentu saja. Anggap saja ini sebagai balas budi karena aku sudah makan ronde di rumahmu."Susan segera mencuci tangannya hingga bersih, lalu bergeser ke samping untuk memberikan ruang di depan wastafel kepada pria itu. Daniel melangkah maju, lalu mulai mencuci piring dengan gerakan yang cukup mahir.Su

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status