Share

Bab 411

Author: Kamari
Susan dengan cepat mengangkat tangan, lalu memercikkan sisa air di ujung jarinya tepat ke wajah Daniel. Susan mengernyitkan kening sambil berkata, "Jangan terlalu dekat."

Daniel mencoba menghindar, tetapi percikan air itu tetap mendarat di wajahnya.

Pria itu menyeka bekas air di pipinya, masih tetap menjulurkan kepalanya di samping wajah Susan. "Sepertinya suasana hatimu memang sedang nggak baik. Aku baru berbicara beberapa patah kata saja, tapi kamu sudah mulai main tangan."

Susan meletakkan pi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kulepaskan Suami Berengsekku   Bab 412

    Pelayan Keluarga Sutedja hanya membutuhkan waktu kurang dari sepuluh detik untuk menangkap Susan. Mereka mencengkeram kedua lengannya, lalu melemparnya ke dalam kamar seperti membuang sehelai kain bekas, membuat tubuh Susan terempas dengan keras ke lantai.Rasa sakit yang luar biasa mendadak muncul dari perut Susan. Kegelapan dan rasa tidak berdaya menyelimuti seluruh tubuhnya. Susan meringkuk di lantai sambil menahan rasa sakit, hingga keringat dingin membanjiri tubuhnya. Susan kejang-kejang karena rasa sakit, tetapi dia memaksakan diri untuk merangkak ke arah pintu, lalu menggedornya dengan sekuat tenaga."Tolong aku ...."Suara Susan sangat pelan, hampir tidak terdengar, "Perutku sakit sekali, tolong selamatkan aku ...."Tidak ada jawaban.Selain mengantarkan makanan tiga kali sehari yang dilakukan tepat waktu, tidak ada seorang pun yang memedulikan wajah pucat atau rasa sakit Susan. Jangankan lagi membawanya ke rumah sakit.Pada saat itu, Susan memikirkan Ryan.Dia sedang mengandun

  • Kulepaskan Suami Berengsekku   Bab 411

    Susan dengan cepat mengangkat tangan, lalu memercikkan sisa air di ujung jarinya tepat ke wajah Daniel. Susan mengernyitkan kening sambil berkata, "Jangan terlalu dekat."Daniel mencoba menghindar, tetapi percikan air itu tetap mendarat di wajahnya.Pria itu menyeka bekas air di pipinya, masih tetap menjulurkan kepalanya di samping wajah Susan. "Sepertinya suasana hatimu memang sedang nggak baik. Aku baru berbicara beberapa patah kata saja, tapi kamu sudah mulai main tangan."Susan meletakkan piring ke dalam wastafel, lalu meliriknya dengan tatapan tajam. "Kalau kamu begitu luang, kenapa kamu nggak membantuku mencuci piring?"Tanpa disangka, Daniel langsung menyingsingkan lengan bajunya. "Tentu saja. Anggap saja ini sebagai balas budi karena aku sudah makan ronde di rumahmu."Susan segera mencuci tangannya hingga bersih, lalu bergeser ke samping untuk memberikan ruang di depan wastafel kepada pria itu. Daniel melangkah maju, lalu mulai mencuci piring dengan gerakan yang cukup mahir.Su

  • Kulepaskan Suami Berengsekku   Bab 410

    Simulasi ujian terakhir sebelum ujian kelulusan pun tiba. Susan kembali ke sekolah untuk mengikutinya, sementara hasilnya tetap sama. Dia menduduki peringkat pertama di sekolah.Ketika hendak meninggalkan sekolah, Jack menahannya di kantor untuk membujuknya sekali lagi, "Susan, lihat, ujian kelulusan hanya tinggal setengah bulan lagi. Bagaimana kalau kamu kembali belajar di sekolah saja? Aku tahu kalau nilaimu sangat bagus, tapi bukankah lebih baik berhati-hati ...."Susan menolak dengan sikap tegas.Dia bukan peserta ujian biasa. Dia adalah orang yang terlahir kembali, seseorang yang masih mengingat dengan jelas soal-soal ujian kelulusan tahun ini.Hal itu saja sudah lebih dari cukup untuk membawanya masuk ke universitas terbaik di negara ini.Ketika melihat tekadnya yang bulat, Jack tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, hanya bisa membiarkannya pergi.Menjelang ujian kelulusan, Daniel menghilang untuk waktu yang cukup lama. Susan sempat meneleponnya beberapa kali, tetapi pria itu tidak

  • Kulepaskan Suami Berengsekku   Bab 409

    Susan tersenyum dingin. "Meski kamu diam, nggak akan ada yang menganggapmu bisu.""Baiklah," balas Daniel.Daniel melipat tangan di dada, bersandar pada bantal kursi, lalu menaikkan alisnya. "Kalian lanjutkan saja. Aku ingin melihat tingkat kemampuan kalian."Vandi tampak sangat bersemangat. Dia segera mengambil buku itu, meletakkannya di tengah meja, lalu mengeluarkan laptop dari tasnya. Dia menunjukkan barisan kode yang telah dia siapkan sebelumnya, lalu mulai memberikan penjelasan kepada Susan dan Sherra.Daniel mendengarkan dalam diam. Namun, saat mendengar beberapa poin yang dijelaskan Vandi, keningnya berkerut tanda tidak puas.Susan menyimak penjelasan Vandi dengan sangat fokus. Ketika sampai pada bagian tertentu, dia mengajukan sebuah pertanyaan karena merasa ragu.Kening Daniel berkerut makin dalam. Dia langsung memotong jawaban Vandi, "Susan, pertanyaan semacam itu sudah berhenti aku tanyakan sejak aku berumur 12 tahun. Kenapa kalian baru belajar sampai tahap ini?"Vandi dan

  • Kulepaskan Suami Berengsekku   Bab 408

    Susan memperhatikan kedua pria itu menjauh, lalu menepuk punggung tangan Daniel dengan keras. "Bangun, mereka sudah pergi."Daniel segera menegakkan tubuhnya, lalu menatap Susan dengan wajah masam. "Kamu kecanduan memukulku, ya?"Susan melirik ujung telinga Daniel yang makin memerah, lalu mengingatkannya, "Apa kamu masih ingat apa yang baru saja kamu janjikan padaku?"Daniel meliriknya sekilas, lalu mendengus pelan. "Aku ingat. Ingatanku sangat tajam."Susan merasa puas. "Baiklah, nanti aku akan mengabarimu lagi. Saat itu kamu harus menuruti permintaanku. Tapi kamu harus memastikan kalau kamu memang memiliki kemampuan untuk mengajariku."Daniel menaikkan alisnya dengan angkuh. "Pelajaran pertama dariku untukmu adalah jangan pernah meragukan kemampuan gurumu. Apa kamu mengerti?""Terserah kamu saja," sahut Susan dengan santai.Sherra memiringkan kepalanya, menatap keduanya dengan bingung. "Apa yang sedang kalian lakukan? Apa kalian sedang bersembunyi dari seseorang? Aku benar-benar ngga

  • Kulepaskan Suami Berengsekku   Bab 407

    Suasana di ruangan itu seolah membeku seketika. Daniel terdiam seperti patung yang bernyawa. Setelah mendengar ucapan Sherra, dia menoleh, lalu menatap Susan dengan cermat untuk waktu yang lama."Siswi kelas tiga SMA?" tanya Daniel.Sherra mengangguk dengan mantap.Daniel beralih menatap Vandi, yang juga mengangguk dengan tulus.Daniel mengerutkan kening, lalu menatap Susan dengan tidak percaya. "Kamu baru kelas tiga SMA?"Susan mengangkat alisnya. "Nggak boleh?"Tiba-tiba, Daniel mengangkat ponselnya untuk melihat jam, sementara keningnya berkerut makin dalam."Sekarang hari Rabu, juga masih jam sekolah. Kenapa kamu bukannya belajar di sekolah, tapi malah berkeliaran di sini?" ujar Daniel.Susan mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. "Bukan urusanmu. Aku akan berada di mana pun aku mau."Sherra segera menyahut sebagai juru bicara, "Nilai-nilainya sangat bagus, jadi sekolah sudah memberinya izin khusus untuk nggak perlu masuk kelas setiap hari."Tatapan Daniel menjadi makin rumit. "Lalu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status