INICIAR SESIÓNKesepakatan kotor kembali terjalin. Malam harinya, Hendra mulai menggunakan koneksi mafia pelabuhannya untuk menyabotase rantai pasokan bengkel Black Wolf. Rencana mereka berjalan sangat mulus. Dua kontainer besar berisi mesin impor dan suku cadang pesanan Wildan yang baru saja bersandar di dermaga, dicegat dan disita secara ilegal di kawasan pelabuhan utara oleh oknum petugas yang sudah disuap habis-habisan oleh Hendra.Keesokan paginya, suasana di bengkel utama Black Wolf yang biasanya hanya dipenuhi deru mesin mobil mewah, mendadak diliputi ketegangan yang sangat pekat. Beno melangkah tergesa-gesa menyusuri lorong dan langsung masuk ke dalam ruang kerja Wildan dengan wajah tegang yang dibasahi keringat."Bos, kita punya masalah besar," lapor Beno tanpa basa-basi sambil meletakkan beberapa dokumen manifest pengiriman ke atas meja kerja. "Kontainer suku cadang VVIP kita ditahan paksa di pelabuhan."Wildan yang sedang memeriksa laporan keuangan bengkel menaikkan sebelah alisnya. Pria
Setelah berhasil meyakinkan sang Jenderal dengan kebohongan tentang hilangnya Bisma secara tiba-tiba, Indra kembali mendapatkan ruang bernapas yang sangat ia butuhkan. Keraguan yang berhasil ia tanamkan di kepala ayahnya membuat eksekusi hukuman keluarga tertunda. Sang Jenderal yang selalu mengandalkan fakta lapangan akhirnya memilih untuk diam-diam menyelidiki kebenaran dokumen itu terlebih dahulu melalui jalur intelijen militernya sendiri sebelum mengambil keputusan fatal.Karena ayahnya menunda hukuman, Indra langsung memanfaatkan celah emas tersebut untuk merancang serangan balik. Ia tahu bahwa konfrontasi fisik langsung di wilayah kekuasaan musuhnya sudah tidak lagi efektif. Wildan bukan lagi sekadar mantan kuli serabutan atau montir jalanan biasa.Pria itu kini adalah bos besar yang memiliki reputasi tinggi, dukungan penuh dari publik, dan puluhan pasukan yang sangat loyal.Malam harinya, Indra menyelinap keluar dari rumahnya yang dikawal ketat oleh pengawal yang diutus oleh ay
Bab 99Di tengah pusaran badai media yang diciptakan oleh Jaksa Bisma, faksi bawah tanah Wildan tidak membiarkan momentum itu berlalu begitu saja. Untuk mematahkan fitnah penculikan secara permanen tanpa perlu memicu benturan secara langsung dengan keluarga Jenderal Soebroto, Sonia mengeksekusi langkah pamungkasnya.Dari balik meja kerjanya, pengacara licin itu menyebarkan sebuah video klarifikasi yang direkam oleh Maya secara anonim ke seluruh platform media sosial dan stasiun berita nasional.Dalam video berdurasi tiga menit tersebut, Maya tampil dengan wajah tenang dan tatapan tegas. Ia menyatakan dengan gamblang bahwa ia melarikan diri atas kemauannya sendiri demi menghindari Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dilakukan oleh suaminya. Maya menegaskan bahwa tidak pernah ada penculikan, dan Wildan hanyalah sosok penolong yang menyelamatkan nyawanya.Dampak dari penyebaran video itu luar biasa masif. Bukti visual tersebut menyempurnakan nyanyian Bisma di KPK. Hari itu juga, sta
'Indra pasti akan mengerahkan pembunuh bayaran untuk memburuku setelah siaran ini, dan Wildan si bajingan itu juga tak lagi membutuhkanku. Kalau aku tetap di sini, aku cuma bakal jadi mayat atau narapidana miskin,' batin Bisma panik.Bisma segera menyetop sebuah taksi yang lewat di jalan raya seberang gedung."Cepat, Pak! Ke perumahan elit Menteng sekarang!" perintah Bisma dengan napas memburu, membanting pintu taksi. Ia menuju rumah keduanya yang memang sengaja digunakan untuk menyimpan aset uang haramnya.Sesampainya di rumah mewahnya, Bisma tidak membuang waktu satu detik pun. Ia berlari ke ruang kerjanya yang sepi, membuka lukisan besar di dinding, dan memutar kombinasi brankas rahasianya.Ia mengambil sebuah pasp
Hanya berselang satu jam setelah konferensi pers palsu Mario disiarkan di seluruh stasiun televisi nasional, sebuah siaran langsung tandingan mendadak meledak di berbagai kanal berita. Kali ini, siaran tersebut tidak berasal dari pelataran bengkel yang sepi, melainkan langsung dari pusat penegakan hukum paling krusial di negara ini: lobi utama gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).Lampu blitz kamera menyala bertubi-tubi menyilaukan mata. Puluhan jurnalis dan pembaca berita berdesakan, berebut menyodorkan mikrofon berlogo berbagai media besar. Di tengah lautan wartawan yang haus akan berita itu, berdirilah Jaksa Bisma.Wajah pria paruh baya itu sangat pucat pasi, keringat dingin membanjiri dahi dan lehernya. Namun, rasa takutnya pada laras pistol dan ancaman eksekusi jalanan sang bos Black Wolf jauh melebihi kesetiaannya yang sudah dibeli mahal oleh Indra Wiguna dengan uang miliaran rupiah. Bisma menelan ludah dengan susah payah, lalu menatap lurus ke arah kamera. Mulutnya akhirn
Denting keras sendok perak yang membentur lantai marmer memecah keheningan ruang makan siang itu. Suara logam yang beradu dengan batu pualam tersebut seolah menjadi penanda hancurnya kedamaian yang baru saja disesap oleh Maya.Tubuh Maya bergetar hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Wajahnya yang tadinya merona hangat seketika memucat pasi, bagaikan mayat hidup yang seluruh darahnya terkuras habis. Mata bulatnya terbelalak ngeri, menatap lurus ke arah layar televisi layar datar yang sedang menyiarkan konferensi pers berskala nasional. Di sana wajah adiknya sendiri, Mario terpampang jelas, menuduh Wildan sebagai bos mafia yang telah menculiknya secara paksa.Melihat Maya mendadak gemetar ketakutan dengan napas yang tercekat, Wulan langsung mendekat dan menghampiri Maya dengan panik. Ia langsung memeluk bahu Maya erat-erat."Astaghfirullahaladzim! Maya, istighfar! Jangan didengarkan berita gila itu!" jerit Wulan dengan suara bergetar, berusaha menutupi telinga Maya.Namun tatapan







