Inicio / Urban / Kuli Gagah Spesialis / 101. Kesepakatan kotor

Compartir

101. Kesepakatan kotor

last update Fecha de publicación: 2026-08-12 22:48:27

Kesepakatan kotor kembali terjalin. Malam harinya, Hendra mulai menggunakan koneksi mafia pelabuhannya untuk menyabotase rantai pasokan bengkel Black Wolf.

Rencana mereka berjalan sangat mulus. Dua kontainer besar berisi mesin impor dan suku cadang pesanan Wildan yang baru saja bersandar di dermaga, dicegat dan disita secara ilegal di kawasan pelabuhan utara oleh oknum petugas yang sudah disuap habis-habisan oleh Hendra.

Keesokan paginya, suasana di bengkel utama Black Wolf yang biasanya hanya
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 184. Bayi Wildan dibekap

    Pukul tiga pagi. Lorong rumah sakit VVIP terasa begitu lengang, diselimuti cahaya lampu kuning temaram yang menciptakan bayangan panjang di dinding putih steril. Suasana sunyi senyap itu seolah menelan setiap suara, membuat malam terasa jauh lebih panjang dan mencekam bagi siapa saja yang terjaga di dalamnya.Dari dalam lift servis yang berdengung pelan, dua sosok pria berbadan tegap melangkah keluar dengan tenang. Mereka mengenakan seragam medis lengkap—jas lab putih bersih di atas pakaian taktis, masker penutup wajah berwarna hijau muda, serta mendorong sebuah troli besar berisi tumpukan handuk, obat-obatan, dan peralatan rumah sakit. Penampilan luar mereka tampak begitu meyakinkan, menyatu sempurna sebagai staf malam rumah sakit yang sibuk berpatroli.Dua orang pembunuh bayaran profesional suruhan Jenderal Soebroto itu bergerak dengan presisi tingkat militer. Berbekal kartu akses curian serta cetak biru ruangan digital yang dikirimkan oleh petugas medis korup dari dalam, mereka be

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 183. Diam-diam

    Suasana di dalam kamar VVIP nomor 402 itu terasa begitu kontras dengan dunia luar yang keras dan penuh darah. Ruangan steril tersebut beraroma antiseptik lembut, tenang, dan dipenuhi oleh kehangatan domestik yang sudah lama diidam-idamkan oleh keluarga kecil Wildan.Di atas ranjang pesakit, Maya bersandar nyaman dengan bantal empuk di belakang punggungnya. Wajahnya yang kemarin sempat pucat pasi akibat teror di kapal kargo kini berangsur membaik, memancarkan ketulusan serta kelegaan luar biasa di balik senyuman tipisnya. Ia tidak bisa mengalihkan pandangan dari kotak inkubator transparan yang terletak tepat di sisi tempat tidurnya.Di dalam kotak hangat bernyala lembut itu, tubuh mungil bayi laki-laki mereka sedang tidur lelap. Hidung kecil sang bayi tampak dibantu oleh alat medis ringan guna memastikan pernapasannya stabil di masa-masa awal kelahiran prematurnya.Wildan berdiri di samping inkubator tersebut. Jemari kasar tangan seorang mantan montir yang terbiasa memegang barang dan

  • Kuli Gagah Spesialis   182. Target bayinya Wildan

    Ruangan kerja di dalam rumah tua berarsitektur kolonial itu tampak sangat suram. Asap rokok kretek mengepul tebal di udara, bercampur dengan bau debu, minyak senjata, dan tumpukan dokumen militer usang yang berserakan di atas meja kayu jati yang mulai lapuk.Jenderal Soebroto duduk seorang diri di kursi kerjanya. Wajah tuanya tampak kaku dengan garis-garis kerutan yang menegaskan kepahitan hidup. Di dinding di belakangnya, tergantung sebuah foto lama yang memperingati masa kejayaannya sebagai perwira tinggi militer—sebuah masa di mana perintahnya adalah undang-undang dan namanya disegani banyak orang. Namun kejayaan itu kini telah runtuh total, menyisakan kepahitan dan keputusasaan yang mendalam akibat kejatuhan karier dan kondisi putranya, Indra, yang cacat serta buron akibat ulah musuh bebuyutannya.Ponsel yang tergeletak di atas meja tiba-tiba berdering singkat, memecah kesunyian ruangan yang mencekam itu.Soebroto langsung menyambar ponsel tersebut dengan tangan keriputnya. Sebua

  • Kuli Gagah Spesialis   181. Lahiran

    Wildan berlari menyusuri lorong lantai VVIP rumah sakit seperti orang kesetanan. Napasnya memburu, langkah kakinya bergemerincing cepat di atas lantai keramik bersih. Begitu mendobrak masuk ke ruang bersalin, pemandangan pertama yang ia tangkap adalah Maya yang sedang meringis menahan sakit luar biasa di atas ranjang, didampingi Dokter Sisca dan beberapa perawat."Wil ... sakit..." panggil Maya dengan suara parau. Tangannya langsung menggapai ke udara, mencari genggaman suaminya.Wildan langsung menerjang mendekat. Ia menyambar tangan Maya dan menggenggamnya erat-erat. "Aku di sini, Sayang. Aku di sini," bisik Wildan menenangkan, meski raut wajahnya sendiri dipenuhi kecemasan yang mendalam.Maya meremas tangan suaminya sekuat tenaga hingga buku-buku jemari pria itu memutih. Kontraksi hebat akibat syok penculikan semalam membuat tubuh istrinya bermandi keringat dingin.Proses persalinan itu terasa sangat panjang dan menegangkan. Berbeda dengan ancaman Indra sebelumnya yang ingin menga

  • Kuli Gagah Spesialis   180. Ratapan

    “Kenapa dokter Sisca selalu terlihat perhatian ya ke kamu …?” tanya Maya pelan, matanya menyipit menatap Wildan dengan sorot penuh selidik di balik keremangan kamar VVIP.Wildan menghela napas pendek, sedikit terkejut dengan arah pertanyaan istrinya di tengah situasi genting seperti ini. Ia menggeser duduknya lebih dekat ke ranjang, lalu merapikan selimut Maya."Jangan mulai mikir yang aneh-aneh, May," jawab Wildan dengan nada suara tenang dan sabar. "Dia cuma dokter yang biasa nanganin luka-luka di jaringan kita. Nggak lebih.""Tapi cara dia natap kamu ... beda," desis Maya, nada cemburu tipis terselip di balik suaranya yang parau. "Waktu kamu sekarat kemarin, dia kelihatan panik banget kayak kehilangan orang penting."Wildan tersenyum tipis, lalu mencubit hidung mancung istrinya pelan. "Dia panik karena kalau aku mati, dia tidak akan bisa menemukan seseorang yang bisa tetap hidup walau sudah babak belur parah. … Dan hubunganku dengannya hanya rasa terima kasih karena dia bisa nyemb

  • Kuli Gagah Spesialis   179. Kenapa?

    "Sakit, May? Ada yang luka?" tanya Wildan buru-buru, memperlambat langkahnya karena cemas.Maya menggeleng pelan. Tangannya meremas kemeja Wildan yang basah oleh darah. "Enggak, Wil. Aku cuma lemas ... perutku rasanya agak kencang.""Tahan sebentar ya, May. Kita keluar dari sini sekarang," bisik Wildan lembut.Angin malam pesisir terasa menusuk kulit saat Wildan menggendong Maya keluar dari lambung kapal kargo yang berantakan itu. Maya menyembunyikan wajahnya di dada Wildan, menangis sesenggukan menumpahkan seluruh rasa takut dan tekanan mental yang ia tahan sejak semalam."Bos! Ambulans bawah tanah kita udah standby di pelabuhan," lapor Beno yang berlari menghampiri. Bajunya kotor oleh debu dan noda darah, tapi raut wajahnya tampak lega melihat nyonya besarnya selamat."Bawa kita ke rumah sakit VVIP sekarang, Ben. Kosongkan satu lantai penuh. Gue nggak mau ada orang luar yang bisa masuk atau liat kondisi Maya," perintah Wildan tegas sambil terus melangkah cepat."Siap, Bos. Anggota k

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status