LOGINSeorang ibu muda yang berusia 33 tahun,akan melanjutkan sekolahnya di salah satu universitas yang sama dengan anaknya. Anak laki-laki satu-satunya bernama Brian yang kini berusia 18 tahun. Ayah Brian kembali kepada Sang Illahi ketika Brian masih SD. Brian yang memutuskan agar ibunya melanjutkan kuliah bersama dengannya. Di kampus Ibunya bertemu dengan temannya yang terpaksa mengajak nikah. Laki-laki itu menganggap Ibu Brian hanya bahagia dengan banyak harta.
View MoreArc 1. Hidup Dan Mati (Bab 1 -20)
Tahun ke-15 Jing, Kekaisaran Bìxiāo, di Lán Guāng Lǐtáng, Lán Tiān Gōng Jian Huànyǐng, pemuda berusia dua puluh dua tahun itu, berdiri di tengah-tengah aula yang megah dan tertawa getir, suaranya bergema di antara dinding marmer yang berkilauan. Dia menyeka darah di sudut mulutnya, merasa asin dan hangat bercampur dengan udara dingin yang menusuk. "Apakah kalian ingin membunuhku?" desisnya penuh kemarahan. Meski tubuhnya telah terluka, tidak satu pun dari orang-orang yang mengelilinginya berani menyerang seorang diri. Jian Huànyǐng, Tuan Muda Kelima dari Klan Jian, Sekte Aliran Pemecah Langit. Kultivator muda terkuat di klan setelah kakaknya, Jian Wei sang Tiānyù Jiànzhàn. Dia tahu bahwa jika harus berhadapan satu lawan satu, mereka tidak akan mampu membunuhnya. "Jian Huànyǐng, menyerahlah! Yang Mulia pasti akan mengampunimu!" Seorang pria muda membujuknya dengan ucapan yang terdengar sangat bijaksana. Namun, Jian Yi tahu itu hanya tipuan belaka. "Serahkan Heibing Hùfú! Yang Mulia pasti akan mengampunimu, Jian Huànyǐng!" Suara lain membujuknya lagi, entah dari mana asalnya, tapi Jian Huanying tidak peduli. Jian Huànyǐng tersenyum getir. Menahan rasa amarah, sedih, kecewa, dan putus asa yang berkecamuk di dalam dadanya. Dia datang ke Istana Langit Biru untuk meminta keadilan, tetapi justru dihadapkan pada maut. Ironi yang menyakitkan hatinya yang selalu murni dan tulus. "Kalian ingin aku mati, bukan? Seperti kalian membantai seluruh keluargaku," desisnya dalam kemarahan dan kepedihan yang tak tertahankan. Kedua tangannya mengepal erat, darah menetes di sela-sela jarinya. Tak ada lagi sakit yang dirasakannya, karena luka di tubuhnya tak seberapa dibandingkan luka di hatinya. Jian Huànyǐng memejamkan mata, rahangnya mengeras. Perlahan dia merapal mantra, angin kencang tiba-tiba bertiup. Terdengar gemeretak laksana ribuan pedang menyerbu aula megah itu. Namun, hanya sekejap karena tiba-tiba tubuh Jian Huànyǐng limbung dan jatuh ke lantai. Pada saat yang sama, sepasang tangan kokoh menggapai dan menahan tubuhnya. Jubah putih dengan bordiran pola kupu-kupu biru, aroma harum cendana hitam yang memikat, dan sentuhan hangat nan lembut yang sangat dikenalnya membuat Jian Huànyǐng berusaha membuka matanya untuk terakhir kali. "Jian Yi," gumam pemilik sepasang tangan kokoh yang kini menahan tubuhnya. "Chénxī, aku tidak menyesal meski harus mati hari ini. Maaf dan terima kasih," bisik Jian Huànyǐng di sela-sela napasnya yang terputus-putus. "Aku adalah angin yang bebas kemana pun aku ingin pergi. Raga dan rohku kuserahkan pada angin beserta niat pedangku," ucapan Jian Huànyǐng berlalu seiring tubuhnya yang berbaur dengan angin yang bertiup sepoi-sepoi. "Jian Yi!" teriakan Yuè Tiānyin tak mampu merayu angin untuk tidak membawa tubuh dan roh sahabatnya pergi meninggalkan dunia. Hari itu, sepasang sahabat sejati, Jian Huànyǐng dan Yuè Tiānyin, sang Penyihir Iblis dan Dàoyì Zhenjun, penguasa kebenaran sejati, terpisahkan oleh kematian. Sebuah kisah yang kelak akan selalu dikenang dan diceritakan turun temurun kepada generasi berikutnya. Tahun ke-30 Jing, Kekaisaran Bìxiāo. Lima belas tahun kemudian, di sudut terpencil halaman belakang Kediaman Bangsawan Murong, Kota Shanyue. "Jian Huànyǐng, kuserahkan jiwa dan ragaku untukmu dengan mantra pengikat roh. Kau bisa hidup lagi dan aku bisa membalas dendam. Bukankah itu sama-sama menguntungkan?" gumaman pelan lebih mirip racauan seseorang terdengar dari sebuah kamar terlantar. Angin yang bertiup kencang di luar terdengar bergemeretak, memekakkan telinga. Pada saat seperti ini, tidak ada satu pun rumah yang terbuka pintunya. Menurut mitos, angin ini membawa roh Jian Huanying terbang mengelilingi kota, menunggu untuk dibangkitkan kembali. "Untuk apa aku hidup lagi? Aku tidak menginginkan apapun lagi," suara bergema di telinga si peracau yang meringkuk di sudut kamar. Tubuh kurus penuh luka, terbaring di tengah genangan darah dan kekacauan di sudut kamar. Seakan-akan dia hanyalah seonggok daging tak berarti. Murong Yi, tuan muda pertama keluarga Murong, sore itu berada di ambang kematian. Setelah berhari-hari menerima siksaan bertubi-tubi, protesnya atas tindakan Selir Ying, selir kesayangan ayahnya, berakhir dengan dirinya yang harus meregang nyawa tanpa ada yang peduli. "Apa kau tidak ingin tahu siapa yang telah menjebak Jian Wei lima belas tahun lalu? Kau benar-benar tidak ingin mengetahui siapa yang berada di balik pembantaian Keluarga Jian?" Murong Yi bergumam di sela-sela giginya yang bergemeletuk. "Murong Yi, apa yang kau ketahui tentang itu? Lima belas tahun lalu, kau bahkan masih seorang bocah. Apa yang bisa kau ceritakan padaku?" Suara itu berdengung kembali di telinga pemuda malang itu. Suara Jian Huànyǐng, kultivator terkutuk dari Klan Pemecah Langit yang telah mati lima belas tahun lalu. Kultivator muda yang kuat dan ditakuti, yang dijuluki Penyihir Iblis dan telah membunuh banyak nyawa tak berdosa saat menuntut keadilan di Istana Langit Biru. Sayangnya, dia berakhir dalam kematian. "Aku tahu! Aku tahu semuanya! Karena mereka orang yang sama yang membuatku seperti ini!" Murong Yi berteriak kencang. Di luar, angin terus bertiup kencang, membawa aroma anyir darah ke penjuru kota. "Baiklah! Aku terima tawaranmu, dan aku harap kau tak menyesal," suara itu melemah, iba terhadap sosok yang putus asa dan tidak memiliki harapan selain dirinya. "Jian Huànyǐng! Balaskan dendamku dan aku tidak akan menyesal!" Dengan teriakan yang menggema di seluruh ruangan, Murong Yi terkulai lemah dan tidak sadarkan diri. "Aku adalah angin yang bebas kemana pun aku ingin pergi. Raga dan rohku kuserahkan pada angin beserta niat pedangku," suara bak mantra itu terdengar begitu merdu di seluruh ruangan gelap yang sepi. Seiring angin yang perlahan-lahan semilir tak menderu lagi, suasana tiba-tiba kembali tenang seakan tidak terjadi apa-apa. Tidak ada yang menyadari, telah terjadi pertukaran maut. Yang hidup telah mati dan yang telah mati hidup kembali. Noted : Lán Guāng Lǐtáng : Aula Cahaya Biru Lán Tiān Gōng : Istana Langit Biru Heibing Hùfú : Amulet Es Hitam *Ada beberapa karakter yang memiliki lebih dari satu nama, nama lahir, kehormatan dan julukan. *Jian Yi dan Yue Chenxi adalah nama lahir. Jian Huanying dan Yue Tianyin adalah nama kehormatan. *Tiānyù Jiànzhàn bermakna Pejuang Pedang Alam Surga, julukan Jian Wei, kakak Jian Huanying. *Dianggap tidak sopan jika memanggil dengan nama lahir, kecuali bagi yang memiliki hubungan akrab, meski bukan saudara. *Selain itu ada juga nama julukan yang akan muncul di bab-bab selanjutnya.Brian povAlhamdulillah Sindy mau menerima lamaranku. Aku bahagia sekali,penantianku selama ini tidak sia-sia. Aku memang sudah ikhlas kalo Sindy memilih laki-laki lain. Tapi, ternyata dia masih menerima aku.Beberapa hari lagi pernikahan akan di langsungkan di kediaman rumah Sindy. Pestanya hanya sederhana,tidak terlalu mewah. Di rumahku juga, sedang mempersiapkan membuat seserahan dan lain-lainnya.Semua persiapan di rumahku, ibu yang mengatur. Sesekali beliau bertanya kepadaku tapi, aku percayakan semua pada ibu.Satu-satunya keluargaku adalah ibu. Aku tidak mempunyai keluarga besar. Jadi,aku hanya mengundang teman-temanku dan karyawan yang ada di kantor. Oh iya, mungkin ibu akan mengundang keluarga besar suaminya.***Setiap hari aku selalu mencoba latihan ijab qobul. Agar pada saat hari H aku tidak salah ucap. Aku berlatih di dalam kamar agar tidak ada yang melihat dan mendengar. Tapi suatu hari tiba-tiba aku melihat ibu berdiri di
Author POVSetelah beberapa tahun, akhirnya mereka wisuda. Luna teringat dengan Brian yang ingin menikahi Sindy setelah lulus kuliah.Luna mengajak Rasya untuk ke rumah Brian karena memang sudah lama sekali mereka tidak ke sana."Rasya! Kita ke rumah Brian yuk! Aku kangen sama dia," kata Luna mengajak Brian."Sama aku kangen enggak?" Rasya bergelayut manja di lengan Luna."Setiap hari kita ketemu,masa kangen," ucap Luna yang bikin Rasya cemberut."Ya sudah. Ayo kita ke rumah Brian."Merekapun jalan ke rumah Brian. Di perjalanan Luna bicara sama Rasya tentang rencana Brian akan akan menikah dengan Sindy. Rasya kaget,karena dulu dia sempat tertarik sama Sindy juga. Tapi,Rasya tidak memberitahu Luna tentang Sindy.Setelah mereka sampai di depan pintu rumah Brian,mereka mengetuk pintu berkali-kali. Namun tidak ada jawaban sama sekali. Mereka berpikir Brian sedang tidak ada di rumah. Luna mencoba menelepon Brian, tapi tidak aktif.
Akhir-akhir ini papah selalu mengajak aku berbicara. Papah mencoba membuat aku menjadi pemimpin yang baik,entah itu di dalam keluarga ataupun di perusahaan. Papah juga menceritakan pengalam-pengalaman pahit yang sudah pernah beliau lewati,agar menjadi pelajaran buat aku.Setelah makan malam, Luna biasanya langsung masuk kamar. Tapi, malam ini dia menemani aku mengobrol sama papah."Sini Lun! Kita ngobrol bareng," ajak papah."Iya,Pah. Hehe." Luna mengangguk tersenyum dan duduk di sebelahku."Luna! Rasya! Kalau bisa kalian harus cepat-cepat punya anak ya. Papah ingin sekali melihat cucu dari kalian.""Iya,Pah. Doakan semoga Luna cepat hamil," ucapku sambil melihat ke arah Luna.Banyak sekali yang papah ceritakan kepada aku dan Luna. Di mulai dari masa kecil sampai tua sekarang. Dulu juga papah bukan orang yang sukses seperti sekarang. Papah memulai bisnisnya dari 0 dan bersungguh-sungguh hingga aku dan keluargaku bisa menikmati hasilnya.Luna
Saat kami sedang berjalan menuju kelas, ada Arif menghampiri kami."Luna! Kamu baik-baik saja kan? Akhir-akhir ini kamu jarang ke kampus." Tanya Arif."Alhamdulillah aku baik." Jawabku."Nanti siang kita makan bareng yuk. Kamu mau enggak?" Tanya Arif. Aku melihat ke arah wajah Rasya yang bingung dengan Arif."Maaf, aku enggak bisa. Aku duluan ke kelas ya!" Tolakku yanb langsung jalan dan melambaikan tangan ke Arif.Rasya tak bisa menutupi rasa penasarannya kepada Arif."Siapa tadi?" Tanyanya."Dia Arif namanya." Jawabku."Siapanya kamu?" Tanyanya lagi."Teman.""Tapi kok perhatian banget ya sama kamu." Tanya Rasya terus penasaran."Kayaknya sih Dia suka sama aku." Jawabku jujur agar Rasya penasaran lagi."Terus, kamu juga suka sama Dia?" Tanya Rasya terlihat tidak suka wajahnya."Ya enggak lah! Aku kan sudah punya suami." Jawabku agar Rasya tidak salah paham.Rasya lega mendengar jawaban
Saat bangun tidur Luna merasa perutnya sangat mual sekali. Hingga dia tak tahan untuk mengeluarkan cairan yang bikin mual dari perutnya. Badan Luna sedikit lemas karena mual yang tak kunjung hilang."Huek! Huek!" Luna muntah di lantai karena sudah tidak keburu ke kamar mandi."Kamu ke
Saat hampir semua orang terlelap, Dodi mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya. Ternyata benar itulah mereka yang telah di tunggu-tunggu. Dodi bergegas menghampiri mereka."Luna di mana?" Tanya Dodi dengan tergesa-gesa melihat ke arah dalam mobil.Mereka hanya terdiam tidak m
Saat sedang bersantai di teras rumah. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berbadan besar memasuki pekarangan rumah Dodi.“Siapa itu mas?” tanya Luna penasaran sambil terus mengamati orang yang sedang berjalan menuju mereka.“Oh itu Bagas, anak pengusaha yang kaya-raya di kampung kita
Author POVSetelah aku dan Luna menikah, aku tidak mengizinkan Pak Ahmad berkerja di pabrik lagi,melainkan untuk menikmati masa tuanya dan ikut tinggal bersama di rumahku. Meskipun awlanya Pak Ahmad menolak, tapi setelah di bujuk beberapa kali akhirnya mau.Saat sarapan terjadi
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews