MasukTubuh Xi Feng terus meluncur ke arah bawah menerobos awan-awan gelap hingga menerobos kabut yang menyelimuti jurang tanpa dasar ini.
Hingga suatu saat dia merasakan tubuhnya mendarat di dedaunan dan ranting pohon yang sangat besar yang tumbuh di tebing. Hal ini yang menghentikan laju jatuhnya. Tapi kemudian tubuhnya menerobos dedaunan itu dan kembali turun ke bawah. Dia Kembali jatuh di beberapa dedaunan yang semakin menghambat laju jatuhnya hingga akhirnya dia terhenti di dedaunan yang berjarak sekitar 2 meter dari atas permukaan tanah. Xi Feng yang hampir saja pingsan dengan pengalaman yang baru saja dia alami, kini membuka matanya kemudian berusaha meraih cabang pohon besar di samping kirinya. Kemudian dia mengintip dari balik daun Saat itulah dia baru sadar kalau dia sudah berada 2 meter dari permukaan tanah. Melihat permukaan tanah itu, tanpa terasa dia berkata, "ternyata jurang tanpa dasar ini ternyata memiliki dasar juga." Xi Feng mulai mencari jalan turun ke bawah hingga dia memeluk pohon besar tempat dia jatuh ini untuk mulai melorot ke arah bawah. Xi Feng celingukan tapi dia tidak menemukan satu orang pun. Akhirnya dia mulai bersuara, "apakah ada orang yang berada di sini? Apakah ada tetua yang berada di sini? Terimalah salam hormat saya. Namaku Xi Feng. Saya dijatuhkan orang dari atas sana." Xi Feng terus berkata-kata, berharap ada suara yang menyahut kata-katanya ini tapi sampir 3 jam dia terus bersuara tapi dia tidak menemukan satu orang pun di tempat ini. Akhirnya dia memutuskan untuk beristirahat di depan sebuah gua yang dia temukan Dia memutuskan untuk masuk ke dalam gua. Awalnya dia berpikir kalau ini adalah gua yang liar yang tidak pernah ditempati oleh manusia Tetapi ketika dia masuk sekitar 10 meter ke dalam, dia menemukan sebuah kendi buatan manusia. Melihat Kendi itu, dia mulai bersuara memanggil-manggil. Tapi tetap saja tidak ada suara yang menyahuti panggilan panggilannya ini. "Nampaknya siapapun yang pernah tinggal di sini sudah pergi sejak jauh hari atau mungkin sudah meninggal di sini. Hmmm. Nampaknya aku berada sendirian di Jurang Tanpa Dasar ini." Xi Feng terus maju, masuk ke dalam gua hingga 200 meter kemudian, dia menemukan sebuah ruangan yang cukup besar. Ada sebuah patung berukuran manusia yang terdapat di tengah-tengah ruangan. Sebagai seseorang yang diajar sopan santun pada orang tua sejak dari masa kecilnya, maka Xi Feng segera mendekati patung itu kemudian dia berlutut dengan hormat memberi hormat dengan melakukan tiga kali kongtow atau membenturkan dahinya ke tanah sebanyak tiga kali. "Tetua, aku kebetulan masuk ke tempatmu ini. Maafkan aku yang lancang ini!"' Terus aja kata maaf disebutkan. Entah berapa kali dia melakukan kongtow hingga tiba-tiba dia mendengar sesuatu suara yang membuat dia langsung mengangkat kepalanya. Ternyata entah bagaimana caranya, di tangan patung ini yang sebelumnya kosong kini sudah ada sebuah tungku berwarna kuning keemasan. Bahkan dengan ajaibnya, tungku itu ternyata sedang memasak sesuatu, karena ada air yang mendidih yang beruap di dalamnya. Dari air mendidih itu, secara ajaib, tercetak huruf-huruf kuno yang kebetulan dipahami oleh Xi Feng, karena dulunya dia pernah mempelajari huruf-huruf Kuno dari pamannya yang seorang sastrawan. Xi Feng mulai membaca huruf-huruf itu. "Karena kamu telah menunjukkan sikap sopan dengan menghormati aku, maka aku akan menurunkan Tungku Awan Surga kepadamu." Xi Feng mengerutkan keningnya. "Tungku Awan Surga? Apa itu?" Uap-uap itu tiba-tiba menulis huruf yang lain dan Xi Feng kembali membaca tulisan-tulisan di uap itu. "Tungku Awan Surga adalah sebuah teknik dasar untuk membentuk kultivasi. Dengan Tungku Awan Surga itu, kamu tidak akan mudah untuk dilukai. Dan kalaupun kamu dilukai, masa penyembuhan akan cepat." "Benarkah?" Xi Feng bertanya sambil menatap ke arah Wajah pria di patung itu. Untuk sesaat dia merasa patung itu hidup bukan benda mati seperti yang dia pikir sebelumnya Tapi patung pria berumur tujuh puluh tahunan itu, tidak menunjukkan tanda-tanda perubahan di wajahnya. Kemudian uap itu kembali berubah dengan kata-kata lain yang langsung dibaca lagi oleh Xi Feng lagi. "Dengan terus memperdalam Tungku Awan Surga, kamu akan mendapatkan kejeniusan untuk mempelajari teknik pertempuran apapun. Tungku Awan Surga akan membantumu mempelajari semuanya." Setelah membaca hal ini, Xi Feng mulai menatap ke arah tungku itu. Uap itu kembali berubah dengan kata-kata lainnya. Xi Feng kembali membaca kata-kata itu. "Tungku Awan Surga akan membawamu naik lebih tinggi dan lebih tinggi. Suatu saat kamu bisa menjagoi dunia kultivator dengan Tungku Awan Surga itu." Xi Feng mulai tertarik. Dia mendekati tungku itu dan mulai memperhatikan air berwarna kehijauan yang mendidih di dalam tungku itu. Uap kembali terbentuk untuk kemudian dibaca oleh Xi Feng. "Minumlah uap air ini sebanyak mungkin. Teguklah sebanyak-banyaknya. Dan setelah itu, mandilah dengan sisa airnya." Mendengar itu, Xi Feng menjadi sangat ketakutan. Dia takut dia akan mati kalau minum air yang mendidih itu. Mulutnya bisa terbakar kalau meninum air itu. "Bolehkah aku meminumnya saat air ini sudah dingin?" "Tidak. Kamu harus minum saat air ini masih mendidih!" jawab uap air itu. Xi Feng tidak bisa membayangkan Bagaimana panasnya air mendidih itu. Selain akan membakar lidahnya, saat dia harus meminumnya, saat aif panas ini disiramkan kepadanya, dia yakin kulitnya akan melepuh. Tapi awan kembali terbentuk. "Yakinlah kalau kamu meminum dan mandi dengan air ini, maka air ini tidak akan membunuhmu tapi kamu akan merasakan suatu perubahan yang radikal dalam dirimu." Sekarang ini, ada perang batin dalam diri Xi Feng. Dia ingin untuk mempercayai kata-kata dalam yang dibentuk oleh uap air ini karena dia takut akan akibatnya kepada dirinya Tapi setelah dia memikirkan jerih payahnya sekian lama, selama 3 tahun menunggu dalam keadaan tidak pasti dan belakangan terus disiksa oleh murid-murid Sekte Alam Agung, itu semua karena dia ingin bisa berkulitasi, tetapi dia tidak bisa juga berkultivasi. Sekarang ini, ada satu jalan yang ditawarkan kepadanya untuk dia bisa berkutivasi. Dia akan merasa sangat menyesal kalau tidak mengambil kesempatan ini. Karena itu, dengan mengeraskan hatinya, dia berusaha menyentuh kedua ujung dari tungku ini di kanan dan di kiri dengan kedua tangannya. Dia langsung berteriak kepanasan. Ternyata tungku itu sangat panas. "Huft. Tungkunya sangat panas! Bagaimana dengan air yang berada di dalamnya?" Dia berteriak dengan mata mendelik ke arah patung itu. Uap air kembali berubah. "Kalau kamu tidak mau mencoba meminumnya, bagaimana kamu akan tahu airnya panas atau tidak! Jangan khawatir. Aku tidak akan membinasakan kamu." Xi Feng masih menatap takut-takut ke arah tungku itu. Tapi saat dia mengingat penderitaan-penderitaan yang harus dia alami, dan juga keinginannya untuk mencari tahu akan keberadaan orang tuanya, maka dia putuskan untuk merobek bajunya dan mengambil kedua bajunya untuk melapisi tangannya dengan kain. Setelah itu dia berjongkok memegang tungku dan kemudian dengan beraninya dia mengangkat tungku itu sama rata dengan mulutnya. Dia putuskan untuk meminum air mendidih dalam tungku itu.Di sisi lain, Sun Hong dan Meng Jieling berhenti, wajah mereka dipenuhi kebingungan. "Apa yang terjadi?" tanya Sun Hong, bingung. "Mengapa Du Xiao lari seperti itu? Semakin kita mengejar, semakin cepat dia berlari..." Bukankah dia berencana mencari tempat persembunyian terlebih dahulu? Mengapa sekarang dia berlarian seperti orang gila? "Ini tidak baik, dia mungkin telah melihat sesuatu," kekhawatiran Meng Jieling semakin bertambah setiap detiknya, ekspresinya semakin gelap. "Pasti ada bahaya di dekatnya sehingga dia lari seperti itu. Kita harus keluar dari sini, sekarang!" Kegelisahan Sun Hong meningkat saat dia merenungkan situasi tersebut. Saat mereka hendak bergerak, sebuah suara dingin memecah keheningan. "Kalian berdua mau pergi ke mana?" Mereka berbalik dan melihat Lee Yang. "Kau... Bagaimana kau bisa sampai di sini?" Sun Hong dan Meng Jieling tersentak bersamaan. "Aku hanya akan bertanya sekali, apakah kalian bersedia bersekutu denganku?" Nada suara Xi Feng tenang dan
"Pertama, kita perlu menemukan tempat persembunyian yang bagus," usul Du Xiao. "Kalau tidak, mereka berdua bukan orang bodoh—mereka pasti akan memburu kultivator lain. Jika kita bersembunyi cukup baik, mereka akan bertemu satu sama lain sebelum menemukan kita." Sun Hong dan Meng Jieling setuju tanpa keberatan. Saat ketiganya hendak berangkat, sebuah suara dingin memecah keheningan. "Kalian bertiga akan pergi ke mana? Apakah kalian keberatan jika aku bergabung dengan kalian di perjalanan selanjutnya?" Terkejut, mereka menoleh ke arah suara itu. "Lee Yang? Apa yang kau lakukan di sini?" Mereka semua mengungkapkan keterkejutan mereka secara bersamaan. Sungguh sial mereka bertemu dengan salah satu orang terakhir yang ingin mereka temui, dan begitu cepat dalam rencana mereka. Sudah berapa lama Lee Yang berada di sana? Seberapa banyak strategi mereka yang telah ia dengar? "Mengapa bukan aku?" tanya Xi Feng dengan sedikit senyum. "Di mana kau berencana bersembunyi? Kau tidak benar-be
Itu adalah seni Penyembunyian Kayu. Saat kultivator itu menyembunyikan dirinya secara efektif, Xi Feng menyadari bahwa dia tidak dapat mendeteksi jejak kehadiran orang lain. Secercah kekhawatiran melintas di wajah Xi Feng. Tanpa kemampuan pemindaian dan indra ilahinya untuk mengamati area tersebut, dia mungkin dengan mudah masuk ke dalam perangkap kultivator itu. Jika itu terjadi, bahkan jika dia berhasil lolos karena keberuntungan semata, dia kemungkinan akan mengalami cedera serius. Memang, para pesaing yang mencapai final tidak boleh diremehkan. Untungnya, dengan pemindai di tangan, Xi Feng memiliki keunggulan yang mirip dengan penglihatan sinar-X, membuat upaya mereka untuk menyembunyikan aura mereka menjadi sia-sia. Xi Feng terus berjalan maju, berpura-pura tidak menyadari kehadiran kultivator itu dengan setiap langkah terukur. Seratus meter. Pada jarak itu, Xi Feng diam-diam mengaktifkan Energi Naganya, memungkinkan Yuan Qi di dalam dirinya perlahan menyala dan menghasil
Tak terpengaruh oleh keterkejutan kolektif kerumunan, kultivator bertubuh kekar itu terus mengumumkan nama-nama, "Berikut daftar grup. Silakan berdiri di grup yang telah ditentukan saat nama Anda dipanggil." "Grup satu, Jin Zeming, Wu Di..." "Grup dua, Huang Yuming, Gao You..." "Grup tiga..." "..." Semua orang berhasil menyingkirkan keterkejutan mereka dan membentuk barisan yang tertib. Posisi tersebut tidak ditentukan secara pasti, karena hanya satu orang yang selamat dari setiap grup yang akan maju. Namun, cara grup-grup tersebut diatur menunjukkan bahwa Sekte Angin Perak memiliki metode di balik kegilaan mereka. Tokoh-tokoh seperti Zhang Xiangfei, wanita di Puncak Roh Primordial, dan pria di puncak yang sama semuanya ditempatkan secara strategis di grup-grup terpisah. Pria di Puncak Roh Primordial menghela napas, "Mengingat pengelompokan ini, sepertinya Chang Baimei dan Lee Yang tidak akan saling berhadapan... Sekte Angin Perak mungkin ingin menghindari kehilangan lebih bany
Penghalang pelindung di sekitar arena ketujuh tidak diperkuat, sehingga retak saat terkena benturan. Satu benturan lagi, dan sebuah lubang terbentuk. Tubuh Zhong Minghai terus melayang melewati celah tersebut, akhirnya berhenti di arena kesepuluh. Saat para penonton berspekulasi tentang kelangsungan hidupnya, ia tiba-tiba meledak dengan suara keras. Wajah-wajah terkejut dan bingung memenuhi kerumunan. Mereka telah mengantisipasi kematian dalam duel tersebut, tetapi tidak pernah membayangkan itu adalah Zhong Minghai. Namun, kenyataan itu merupakan pukulan telak bagi harapan mereka. Xi Feng, seorang Yuan Shen Tingkat Lima, tidak hanya mengalahkan tetapi juga membunuh Zhong Minghai, seorang Yuan Shen Tingkat Sepuluh yang tangguh. "Ah..." Ding Liang dan yang lainnya tersentak kaget, segera membungkam diri mereka sendiri saat menyadari implikasinya. Dengan kepergian Zhong Minghai, siapa di antara enam belas kelompok yang mungkin dapat meminta pertanggungjawaban Xi Feng? Tetap tingg
"Apakah hanya itu kemampuanmu, Zhong Minghai?" tanya Xi Feng dengan nada santai. "Jika kau tidak menunjukkan sesuatu yang lebih mengesankan, aku khawatir hari ini mungkin akan menjadi hari terakhirmu." Dengan itu, Xi Feng melipatgandakan usahanya, menyalurkan lebih banyak Yuan Qi ke Energi Nagaisasinya, memperkuat daya hancurnya. Dia tidak khawatir kehabisan energi. Dengan Pagoda Uji Coba yang dimilikinya dan batu-batu spiritual super yang siap mengisi kembali Yuan Qi-nya, daya tahan bukanlah kekhawatiran terbesarnya. Zhong Minghai, di sisi lain, tampaknya sudah berada di ambang kekalahan... Dia sudah dikalahkan dalam pertarungan sebelumnya dan kemungkinan terluka. Tidak akan lama lagi dia akan mencapai batas kemampuannya. "Sialan..." Wajah Zhong Minghai berkerut karena frustrasi. Jauh di lubuk hatinya, dia tahu dia berada di ambang kekalahan. Tapi bagaimana dia bisa menerima nasib seperti itu? "Kegelapan!" Ia dengan cepat bergerak ke samping, menjauhkan diri dari Xi Feng, da







