Share

1596

last update Huling Na-update: 2026-01-16 05:51:38

Langit dimensi yang tadinya sudah terang benderang mendadak kembali gelap gulita. Alam semesta bereaksi terhadap kelahiran dewa baru yang terlalu kuat.

Gumpalan awan hitam pekat berkumpul dengan kecepatan yang tidak wajar, berputar membentuk mata badai raksasa, membawa ancaman hukuman Bencana Ilahi bagi siapa pun yang berani menantang tatanan alam dengan terobosan yang terlalu menyimpang. Guntur menggelegar di kejauhan, suaranya berat dan mengancam, mempersiapkan serangan yang sanggup menghanc
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (50)
goodnovel comment avatar
sugengwa
sudah ketemu bapak sama ibunya, pasti lancar ilmunya dan TAMAT..
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
sudah lupa ceritanya
goodnovel comment avatar
Tumpal Batara
saran saya buang aja apl1kas1 1n1 agar tdk kecanduan kaya jud1 onl1ne....uang pun ga keluar untuk baca yg kaya g1n1an
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Kultivator Inti Semesta   1723

    Leluhur Istana Laut Utara membentuk segel tangan, kemudian dia duduk bersila di angkasa tepat di depan kepala wujud darma itu. Posisinya sekarang seperti pusat dari seluruh kekuatan yang sedang berkumpul. Ribuan tangan di belakangnya terus bergerak, memperkuat teknik yang sedang ia bangkitkan. “Xiao Tian, serangan ini dinamakan, teknik Seribu Bintang. Yang harus kamu ketahui, seribu bintang itu bukan hanya ungkapan belaka, atau pun bintang yang terbuat dari energi ilahi. Tapi ini adalah seribu bintang asli!” ucap Leluhur Istana Laut Utara. Shen Jingyu yang menonton dari bawah mengerutkan kening. Dia tidak habis pikir kenapa ayahnya menggunakan teknik terkuatnya untuk sekedar menguji kekuatan Xiao Tian. Dia merasa tidak enek terhadap Xiao Tian, tapi dia juga tidak bisa menghentikan Ayahnya. Karena lelaki tua itu begitu keras kepala tidak akan mendengarkan ucapan siapa pun ketika sudah memutuskan sesuatu. “Senior, lakukan apa yang senior inginkan,” ucap Xiao Tian. Pemuda itu tet

  • Kultivator Inti Semesta   1722

    Kehampaan kembali tenang, tapi suhu panas yang ditinggalkan belum sepenuhnya menghilang. Udara di sekitar wilayah itu masih terasa bergetar oleh sisa panas yang tertinggal. Beberapa awan yang berada jauh di kejauhan bahkan telah menguap sepenuhnya, meninggalkan langit yang tampak jauh lebih kosong dari sebelumnya. “Senior bisa mengajukan serangan ketiga,” ucap Xiao Tian. Leluhur Istana Laut Utara sedikit terdiam. Dia masih tidak percaya serangan jutaan tombaknya hancur begitu saja. Harus dipahami, serangan keduanya ini sudah berhasil memusnahkan begitu banyak tokoh kuat di era kuno, apalagi era sekarang yang memiliki jumlah Penguasa Dewa Sejati yang terbatas. Untuk beberapa saat, lelaki tua itu tidak segera bergerak. Langit yang baru saja dilanda benturan besar masih menyisakan gelombang tekanan yang perlahan memudar. Namun tatapannya tidak pernah meninggalkan sosok pemuda yang berdiri di hadapannya. Tatapannya tetap tertuju pada pemuda yang berdiri di hadapannya. Dalam ingatann

  • Kultivator Inti Semesta   1721

    Saat jutaan tombak itu datang ke arahnya, Xiao Tian melambaikan tangannya. “Dunia Api!” BUZZ!! Dalam sekejap mata lautan api mengurung jutaan tombak itu di kehampaan. Api itu tidak muncul seperti kobaran biasa. Ia meledak dari satu titik kecil di depan telapak tangan Xiao Tian, lalu meluas dengan sangat cepat hingga berubah menjadi samudra api yang memenuhi kehampaan. Perluasan itu tidak berhenti hanya pada wilayah tempat tombak-tombak itu melesat. Api terus membentang ke segala arah, menelan lapisan demi lapisan ruang hingga membentuk bentangan luas yang benar-benar layak disebut dunia. Di dalam bentangan itu, batas antara langit, ruang, dan kehampaan menjadi kabur. Yang tersisa hanya gelombang api tanpa ujung yang menyala dengan kehendak mutlak milik Xiao Tian. Lidah-lidah api memancarkan warna yang berlapis-lapis. Ada nyala merah yang menyala keras seperti bara hidup, emas yang berkilau tajam, ungu yang berpendar dalam, biru yang bergetar dingin, putih yang menyilaukan, hingga

  • Kultivator Inti Semesta   1720

    Saat auranya semakin meningkat, Xiao Tian melambaikan tangannya. Dia langsung membuat pelindung yang bisa mencakup wilayah Alam Hundun dan sekitarnya. Jika tidak melakukan itu, aura Leluhur Istana Laut Utara sudah cukup untuk membuat semua orang yang menonton mati tidak bisa bernapas akibat tekanannya. Gelombang kekuatan yang ia lepaskan tidak meledak dengan keras. Sebaliknya, ia menyebar dengan sangat halus, seperti permukaan air yang mengembang tanpa suara. Dari satu titik di depan telapak tangannya, lapisan pelindung transparan segera melebar ke segala arah. Lapisan itu membentang melintasi langit Alam Hundun, menutupi wilayah yang dihuni oleh para pengamat dari berbagai kekuatan. Bagi mereka yang berada di bawahnya, pelindung itu hampir tidak terlihat. Namun begitu lapisan tersebut terbentuk sempurna, tekanan dari langit yang sebelumnya menyesakkan dada langsung berkurang secara drastis. Beberapa kultivator yang sebelumnya hampir kehilangan kesadaran akhirnya dapat menarik napa

  • Kultivator Inti Semesta   1719

    Cakar naga itu langsung turun dari langit dengan kekuatan penghancur yang begitu besar. Walaupun cakar itu memiliki jarak yang sangat jauh. Seluruh orang di Alam Hundun dan di luar Alam Hundun kesulitan bernapas. Tekanan yang ditimbulkan sangat menyesakkan dada mereka. Di sepanjang lintasannya, badai angin yang tadi berputar di langit ikut tertekan ke bawah. Lapisan-lapisan awan yang bergulung langsung pecah menjadi arus yang kacau, lalu terseret mengikuti jatuhnya cakar naga itu. Gunung-gunung di kejauhan bergetar, lautan awan di bawah langit gelap berguncang hebat, dan seluruh atmosfer Alam Hundun seolah dipaku oleh satu kehendak penghancur yang turun dari angkasa. Udara di seluruh wilayah menjadi berat. Beberapa kultivator yang memiliki ranah lebih rendah bahkan terpaksa menahan napas mereka karena tekanan yang turun dari langit terasa seperti gunung yang jatuh dari atas. Bahkan mereka yang telah lama hidup dan berdiri di ranah tinggi pun tetap merasa hati mereka ditekan oleh

  • Kultivator Inti Semesta   1718

    Beberapa jenderal Istana Laut Utara langsung saling memandang setelah mendengar ucapan itu. Mereka tidak meragukan bahwa Xiao Tian memiliki kekuatan luar biasa. Namun tetap saja, yang akan dia hadapi adalah Leluhur Istana Laut Utara. “Apakah kamu yakin?” tanya Leluhur Istana Laut Utara. Dia seperti sedang diremehkan oleh seorang generasi muda. Tatapan lelaki tua itu menjadi lebih tajam. Bukan karena marah, tetapi karena ia ingin memastikan bahwa pemuda di depannya benar-benar memahami apa yang sedang ia katakan. “Tentu saja. Aku tidak pernah mengatakan yang tidak aku yakini,” balas Xiao Tian. Jawaban itu membuat beberapa orang di bawah kembali terdiam. Xiao Tian tidak berbicara panjang. Ia juga tidak mencoba menjelaskan kemampuannya. Baginya, penjelasan apa pun tidak akan ada artinya dibandingkan dengan hasil yang akan terlihat setelah tiga serangan itu benar-benar dilepaskan. Obrolan keduanya walaupun tidak keras, suara mereka terdengar jelas oleh semua orang. Pasukan Alam Hun

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status