Share

Bab 11 - Nia

Author: Elodri
last update Huling Na-update: 2025-12-12 20:55:54

Di sore hari, Nia datang ketika Tamara tengah melamun di balkon kamar. Pintu kamarnya terbuka lebar dan bersebrangan langsung dengan pintu balkon. Angin sepoi-sepoi menerobos masuk ke kamar.

Tirai berdansa pelan mengikuti terpaan semilir angin. Siluet Tamara dapat terlihat dari balik tirai. Ia sedang duduk di kursi santai, menampakkan belakang punggungnya saja.

Hendra memanggil pelan agar tidak mengejutkan Tamara, "Nona."

Meski begitu, Tamara tetap terlonjak kecil. Tamara otomatis memutar tubuh dan memicingkan mata. Lamunannya buyar, digantikan realita saat tatapannya terjatuh pada Hendra dan seorang wanita muda di sebelahnya. Wanita muda itu tersenyum ramah saat bertukar pandang dengan Tamara.

Hendra mengajak Nia menghampiri Tamara. Hendra memulai pembicaraan dengan perkenalan pendek, "Nona, ini Nia. Mulai sekarang, dia akan tinggal di lantai satu. Nona bisa memanggilnya sewaktu-waktu Nona butuh ditemani."

Tamara mengangguk samar. Ia memerhatikan Nia dengan saksama selagi mendenga
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Kupu-Kupu Malam Tuan Muda Cahya   Bab 22 - Menerobos Masuk (H)

    "Uuuu...."Kepala batang itu menggosok permukaan gia Tamara dan terkadang menyenggol buah kecil manis itu."Euhh ah...."Gesekan itu membuat gua Tamara gatal dan berair lagi. Ia menggeliat tidak nyaman di bawah Dmitri, berusaha mendapatkan penyelesaian.Dmitri terus menggesekkannya ke atas-bawah dan beberapa kali menekan nekan mutiara Tamara.Tubuh Tamara bergetar.Dmitri bertanya pelan, "Ada yang salah, Tamara?""Uhh.. hufft...! M-M-Ma..u.. Ah....""Hm?""Sial...! Mau! Aku mau...." Air mata Tamara berlinang saking dirinya tidak bisa menahan api yang meledak-ledak. Ia butuh! Ia ingin!Butuh... sesuatu masuk...Dmitri berpura-pura tuli dan tidak menanggapi. Ia mengendus leher Tamara dan meninggalkan kecupan-kecupan ringan. Tak lupa sesekali ia menjilat daerah sensitif Tamara di dekat telinga, mengakibatkan banjir yang terjadi di bawah sana kian deras."Masukin apa, huh?"Tamara menggigit bibirnya. Ragu-ragu untuk menjawab.Kali ini Dmitri menghentikan aktivitasnya di bawah sana dan ber

  • Kupu-Kupu Malam Tuan Muda Cahya   Bab 21 - Finally (H)

    Matanya sudah berair dan mulutnya kerap melontarkan desahan-desahan yang menggetarkan hati Dmitri.Ketika jarinya tidak bisa bergerak lebih dalam lagi, insting Tamara bermain. Tamara dengan resah mulai mengejar titik-titik g-spotnya lebih keras. Ia menghantamnya tanpa ampun dengan gencar.Dinding-dinding gua Tamara menyambut gembira, berkedut dan kian menyempit. Mengelilingi seluruh jari, hingga Tamara harus menaikkan lagi tenaga yang ia kerahkan.Lubang itu mengeluarkan banyak air seakan ingin membuat jalur Tamara makin lancar.Di tengah mabuk kenikmatan, Tamara mendapati Dmitri menatapnya seperti seekor serigala yang mengincar santapannya. Mata hitam itu menggelap dan jejak-jejak kebengisan mulai berenang ke permukaan, membuat sekujur tubuh Tamara menjadi lebih panas—membara.Napas Dmitri menjadi berat dan untuk keberapa kalinya ia menjilat bibir yang kering akibat 'haus'.Entah setan darimana, hati Tamara terusik ingin menggoyahkan pertahanan Dmitri lebih hebat lagi.Mata Tamara be

  • Kupu-Kupu Malam Tuan Muda Cahya   Bab 20 - Melayang (H)

    Setelah menunggu selama beberapa menit tanpa menerima instruksi jelas, dahi Tamara mengeryit. Berpikir bahwa ia yang harus memulainya.Tapi siapa sangka Dmitri mengayunkan tangan dan menunjuk bagian kasur di depannya.Jantung Tamara sekejap melompat tinggi. Dengan pernuh prasangka buruk, ia bertanya, "... Apa?"Kedua bola mata hitam Dmitri menggelap dan mulai berkabut. Ia memberikan isyarat untuk mendekat dan dengan kesabaran yang langka menjelaskan, "Merangkak kemari."Dmitri menatap wanita yang langsung merah padam itu, dengan tenang.Hendra dan seluruh pelayan lainnya telah undur diri semenjak Dmitri masuk ke kamar, jadi rumah itu terasa sunyi ketika tidak ada yang berbicara diantara mereka berdua.Tamara merapatkannya bibirnya dengan marah. Alisnya bertaut kencang. Tamara menarik napas, memantapkan hatinya, lalu beranjak mendekati posisi Dmitri.Tamara berhenti di depan Dmitri yang berdiri elegan, sementara ia duduk berlutut dan harus mendongak jika ingin melihat Dmitri.Mata Dmit

  • Kupu-Kupu Malam Tuan Muda Cahya   Bab 19 - Pembukaan Malam Pertama

    Tatapan Tamara menyala-nyala terang. Tanpa membuang-buang waktu, ia bergegas mandi dan luluran. Tamara membersihkan tubuhnya dan memakai wangi-wangian. Ia berdandan, memoleh riasan tipis. Tetapi, Tamara memberikan sentuhan ekstra pada kelopak mata dan bibirnya. Eyeshadow Tamara gelap dan berbentuk seperti sayap. Warna bibirnya merah gelap, segelap minuman anggur. Ia ingin menonjolkan gaya sensual dan penuh misteri untuk malam pertama mereka. Buat Dmitri merasa di atas angin ketika 'membuka' Tamara. Seolah-olah pria itu akan mengetahui semua rahasia Tamara, walaupun kenyatannya hanya tipu muslihat. Tamara memakai lingerie yang tersedia di ruang ganti bajunya. Pilihannya jatuh pada tipe lingerie yang tak sepenuhnya menerawang, cukup memunjukkan siluet nakal bagian tubuhnya. Namun pastinya cukup merangsang pria sekelas Dmitri sekalipun. Tamara yang sedang siap-siap belum mengetahui kalau Dmitri sudah pulang. Dmitri langsung memanggil Hendra melalui tatapan dinginnya yang sepintas le

  • Kupu-Kupu Malam Tuan Muda Cahya   Bab 18 - Menguji Kesabaran Tamara

    Tamara mengelap darah segar yang bercucuran dari hidungnya dengan buru-buru. Ia turun dari kasur dan berlari mengambil tisu demi mencegah darah itu menetes ke sprei, sebab ia tidak akan bisa menjelaskan kenapa ada darah di sprei bila Hendra bertanya. Tamara sangat sadar diri. Ia membawa kotak tisu itu, lalu menaruhnya di nakas meja sebelah tempat tidur. Tamara membulatkan tekad untuk terus menonton video yang masih berlangsung itu sampai habis, meski harus berdarah-darah!Mata Tamara melotot—menancap tepat pada layar ponsel tanpa beralih sedetikpun. Waktu berjalan cepat. Pagi berganti siang. Memasuki jam makan siang, pikiran Tamara baru muncul ke permukaan dunia nyata. Ekspresinya kosong melompong. Bibirnya terbuka sedikit. Tak ada cahaya di sepasang mata itu. Tamara cuma bisa bengong untuk sementara ini. Terlalu banyak adegan kotor yang berputar-putar di benaknya. Adegan itu acap kali terulang bagai kaset rusak. Tamara merasa dia harus menghirup udara segar sebelum pikirannya ru

  • Kupu-Kupu Malam Tuan Muda Cahya   Bab 17 - Nyaris Gila

    Bangun-bangun, Tamara berada di kamarnya. Tamara terbangun begitu merasakan panas menyengat sinar matahari di kulit putihnya. Sinar itu masuk melalui celah-celah tirai jendela balkon, menerobos dan menusuk tidur lelap Tamara. Kelopak matanya bergetar sejenak sebelum perlahan-lahan terbuka. Tamara mengerjap pelan. Matanya masih berkunang-kunang, menatap langit-langit kamar. Saat kesadarannya mulai terkumpul, hal pertama yang paling mengganggunya ialah rasa sakit di mulut dan tenggorokan. Tamara memegang lemah lehernya, lalu mencoba berbicara. "Uggh ...."Suara yang keluar terdengar sangat serak dan lirih. la seperti habis menelan seribu jarum pentul. Rasa sakitnya menikam seluruh bagian mulut dan tenggorokan Tamara. Ia pun merasa haus dan kering. Otaknya berpikir keras untuk mencari tahu penyebab tenggorokannya tidak enak. Di detik berikutnya, Tamara membatu. Telapak tangannya di leher gemetar samar. Kontan, Tamara bangun terduduk dengan gerakan mendadak. Ia menjambak dan mengacak-

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status