Share

Kutukan Desa Gunung Kembar
Kutukan Desa Gunung Kembar
Author: Tears

Bab 1

Author: Tears
"Cantika, kita sudah pacaran selama ini. Beneran nggak boleh?"

Pacarku, Satya, memelukku sambil terus merengek. Kepalanya bersandar di dadaku, membuat payudaraku teremas-remas dengan setiap gerakannya.

Dengan wajah memerah karena malu, aku mendorongnya. "Nggak boleh. Ibuku bilang aku nggak boleh hubungan intim dengan laki-laki sebelum umurku 25 tahun."

"Kenapa?" tanya Satya bingung. "Sekarang sudah zaman modern, kenapa pemikiran ibumu masih kuno? Cantika, jangan khawatir, aku pasti akan bertanggung jawab padamu."

Dia memajukan pinggangnya ke depan dengan penuh isyarat. "Kamu nggak kasihan?"

Mataku menatap ke antara kakinya, melihat tonjolan besar itu, dan wajahku seketika memerah seperti tomat.

Payudaraku yang baru mendapat sentuhan dari Satya mulai terasa panas. Ombak gairah membuncah dari dalam hatiku.

Aku menggigit bibir dan bergumam, "Kalau begitu ... kamu nggak boleh lihat payudaraku, apalagi menyentuhnya ...."

Mata Satya berbinar, dan dia menindihku di atas tempat tidur dengan girang.

"Sayang, kamu terbaik!"

Dia melepas semua pakaiannya dengan antusias, lalu mulai bergerak membuka kancing kemejaku.

Saat kemejaku perlahan terlepas, payudara montok yang terbungkus bra itu terpampang di hadapan orang lain untuk pertama kalinya.

Satya menelan ludah dengan keras, jari-jarinya secara naluriah meraba ke atas.

Aku cepat-cepat melindungi payudaraku dan mundur, menatapnya dengan marah. "Mau apa kamu? Tadi kamu sudah janji nggak akan menyentuhku."

"Maaf, Sayang." Mulut Satya meminta maaf, tapi matanya seperti ditarik magnet, menempel erat pada dadaku dan enggan berpaling sedikit pun.

Hatiku mau tak mau merasa bangga.

Namun, saat memikirkan bahwa payudara yang begitu sempurna ini hanya bisa tersembunyi di balik pakaian dan tidak bisa dilihat oleh siapa pun, aku pun merasa agak sayang.

"Kamu masih mau melakukan sesuatu denganku nggak?" Aku mengingatkan Satya dengan malu-malu.

Baru saat itu Satya mengalihkan pandangannya dengan berat hati. Sambil melepas rok pendekku, dia bertanya tanpa menyerah, "Sayang, beneran nggak boleh lihat payudaramu? Nggak akan kusentuh, jangan khawatir, cuma lihat sebentar saja."

Aku tampak khawatir dan menjawab, "Nggak, aku sudah janji dengan ibuku."

Namun, semakin aku menolak, semakin besar keinginan Satya.

"Cuma lihat sebentar. Atau begini saja, kamu balik badan menghadap cermin, nanti aku lihat bayanganmu di cermin. Kalau begitu kan kamu nggak melanggar perintah ibumu."

Aku benar-benar tidak bisa menolak rayuan Satya.

Ditambah lagi, aku juga sangat penasaran mengapa ibuku tidak mengizinkan orang lain melihat payudaraku? Apa yang akan terjadi jika dilihat?

Akhirnya, dengan ragu-ragu, aku pun setuju.

Satya segera membawa sebuah cermin besar setinggi badan.

Aku berdiri menghadap cermin, melirik dengan malu-malu pada Satya yang sangat bersemangat sampai napasnya menjadi berat. Perlahan-lahan, aku melepas lapisan kain terakhir yang menutupi dadaku.

Saat payudaraku terbuka sepenuhnya, Satya seperti kesurupan. Mata merah menyala. Dia menerjang padaku dan kedua tangannya meraih payudaraku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kutukan Desa Gunung Kembar   Bab 9

    Aku mengambil ponsel Linda.Setelah membuka-buka isinya sebentar, darahku seketika mendidih.Pantas saja Linda tidak perlu bekerja di luar, tapi tetap bisa hidup dengan sangat nyaman.Ternyata akulah sumber penghasilannya!Dia bahkan mengirimkan foto-fotoku kepada "klien", termasuk beberapa foto sembunyi-sembunyi yang sangat terbuka.Aku membuka pesan teratas, dan baru saat itulah aku mengerti mengapa Linda melarang keras aku berhubungan intim dengan pria.Dia melelang keperawananku. Seorang klien kaya raya sudah memesannya sejak hari ulang tahunku yang ke-18.Itulah sebabnya Linda selama ini sangat ketat mengawasiku, tidak mengizinkanku melakukan hal-hal yang melampaui batas dengan Satya.Melihat foto-foto itu, aku tidak bisa berhenti menangis.Keyakinan yang telah kubangun selama bertahun-tahun tiba-tiba hancur berkeping-keping. Adakah hal yang lebih menakutkan daripada menyadari bahwa orang terdekat di sisiku ternyata adalah seorang iblis?Saat aku merasa ketakutan dan tak berdaya,

  • Kutukan Desa Gunung Kembar   Bab 8

    Aku menatap Satya dengan marah dan berkata dengan susah payah, "Aku nggak akan tes DNA. Jangan coba-coba menipuku."Satya mengambil botol di tanganku dengan lembut."Kebenaran macam apa yang dikarang Linda untukmu? Dia bilang Desa Gunung Kembar dikutuk, dan kutukan itu berasal dari leluhurku, begitu?""Haha, pengkhianat yang mengkhianati Desa Gunung Kembar ini sangat licik.""Pengkhianat?" Kata itu seketika memicu saraf sensitifku. "Siapa yang kamu sebut pengkhianat?"Satya menggelengkan kepala dan menceritakan kisah yang sama sekali berbeda.Dalam ceritanya, Linda adalah pengkhianat yang tidak tahu berterima kasih dan mengkhianati Desa Gunung Kembar. Dia ingin memanfaatkan ciri khas para wanita desa, yaitu payudara sempurna, untuk dijadikan bisnis ilegal prostitusi. Sehingga seluruh wanita di desa menjadi objeknya.Penduduk desa sangat marah dan langsung mengusirnya dari desa.Siapa sangka, sebelum meninggalkan desa, Linda menculik seorang bayi yang baru lahir dari desa itu.Bayi itu

  • Kutukan Desa Gunung Kembar   Bab 7

    Wajahku langsung muram. "Mau apa kamu? Mengancamku?"Satya tampak sedikit cemas, menatap botol porselen itu dengan rasa berat hati. "Oke, apa pun keputusanmu, aku akan mendukungmu."Aku pun terharu dan memeluknya. "Aku semalaman nggak tidur. Ayo tidur dulu, aku ngantuk. Kita bicarakan lagi besok, ya?"Aku memberikan botol air minum kepada Satya. Setelah meminumnya, dia segera tertidur lelap.Setelah memastikan napas Satya sudah teratur dan panjang, aku diam-diam bangkit dan menusuk ujung jarinya dengan sebatang jarum.Darah berwarna merah gelap mengalir dari ujung jarum ke dalam botol yang sudah kusiapkan sebelumnya.Baru saja aku memasang tutup botolnya, tiba-tiba ada beban berat di atas kepalaku.Satya mengelus kepalaku dan bertanya dengan datar, "Cantika, kamu perlu apa dengan darahku?"Punggungku seketika merinding.Dengan canggung, aku menoleh ke belakang. Satya yang seharusnya sedang tidur nyenyak ternyata sudah bangun entah sejak kapan."K-kamu belum tidur?"Satya melirik sebent

  • Kutukan Desa Gunung Kembar   Bab 6

    Ibu menceritakan sebuah kisah kepadaku.Dia mengatakan bahwa kami berasal dari sebuah desa misterius bernama Desa Gunung Kembar.Semua wanita di desa itu memiliki sepasang payudara yang sempurna tanpa cela.Awalnya, hal ini merupakan sumber kebanggaan bagi para wanita di desa tersebut. Namun, karena payudara itu jugalah, desa tersebut menjadi incaran orang-orang yang berniat jahat.Suatu hari, seorang dukun misterius datang ke desa itu. Dia mengutuk Desa Gunung Kembar, agar payudara para wanita di desa itu memproduksi hormon aneh setelah menstruasi pertama mereka.Di bawah pengaruh hormon tersebut, gairah seksual para wanita itu akan meningkat drastis. Jika keperawanan mereka direnggut sebelum usia 25 tahun, mereka akan menjadi budak nafsu mereka.Mereka akan tunduk sepenuhnya pada pria yang merenggut keperawanan mereka, menjadi budak dan pelayan, tanpa akal sehat, menuruti segala perintah.Untuk melawan hormon tersebut, Desa Gunung Kembar menghabiskan waktu bertahun-tahun hingga akhir

  • Kutukan Desa Gunung Kembar   Bab 5

    Jantungku berdebar kencang.Aku berusaha memaksakan senyuman seolah tidak terjadi apa-apa. "Bu, aku cuma kaget saja, kamu tiba-tiba muncul di belakangku.""Aku bosan malam-malam sendirian di rumah, jadi mau jalan-jalan ke taman. Ibu mau ikut?"Ibu membuka kunci pintu rumah dan masuk ke dalam."Ibu baru pulang dari luar kota, capek, mau apa pergi ke taman? Ambilkan minum, Ibu haus."Sambil menahan tatapan ibuku, aku meletakkan tasku dengan santai di lemari di serambi.Setelah menuangkan segelas air hangat untuk ibuku, aku mengenakan ranselku kembali. "Kalau begitu, aku pergi sendirian dulu. Ibu istirahat saja di rumah."Saat membungkuk untuk memakai sepatu dan bersiap pergi, ibuku tiba-tiba mengingatkanku, "Kamu kelupaan sesuatu.""Apa?" Aku mendongak dengan bingung, dan seketika melihat botol porselen itu.Mataku sontak melebar.Tanganku spontan memeriksa isi tas. Botol porselen yang tadi kumasukkan ke dalamnya sudah tidak ada lagi.Ibu tertawa dingin. "Mau apa kamu bawa salepku malam-

  • Kutukan Desa Gunung Kembar   Bab 4

    Di saat-saat genting, aku tiba-tiba melonjak dan mendorong Satya dengan keras ke dalam bak mandi.Air dingin membasahi seluruh tubuhnya, membangunkan dirinya dari kegilaan.Aku berbalik dan buru-buru mengancingkan bra-ku. Saat aku hendak mengulurkan tangan untuk mengambil botol porselen itu, aku mendengar Satya berteriak, "Jangan! Salep itu nggak baik!"Aku langsung terdiam kaget."Aku sudah lebih dari sepuluh tahun pakai salep ini. Efeknya cuma untuk memperbesar dan mempercantik payudara saja. Apalagi, ini kan dari ibuku. Kenapa nggak baik?"Mendengar salep itu diberikan oleh ibuku, Satya mendekatkan hidungnya ke botol porselen itu dengan hati-hati untuk mengendus baunya.Setelah beberapa saat, dia mendongak menatapku, ekspresinya sangat serius."Cantika, kamu tahu aku kuliah kedokteran. Dari baunya saja, aku langsung tahu di dalam salep ini ada banyak bahan terlarang. Kalau kamu percaya padaku, biarkan aku bawa salep ini untuk diuji."Mataku membelalak."Mana mungkin? Ini kan dari ib

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status