Home / Horor / Kutukan Jumat Kliwon / Bab 2 : Bayangan di Jalan Setapak Bambu

Share

Bab 2 : Bayangan di Jalan Setapak Bambu

Author: Nurulamelia
last update publish date: 2026-10-03 23:18:10

Kepulan asap hitam dari knalpot bus tua yang membawa Amel perlahan-lahan menghilang ditelan kegelapan malam. Peristiwa itu meninggalkan gadis itu berdiri sendirian di bawah plang kayu lapuk bertuliskan Selamat Datang di Kampung Lebakwangi.

Angin malam berhembus cukup kencang dari arah lembah, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang rusuknya.

Suasana di sekitar perbatasan desa itu begitu sunyi—jenis kesunyian yang tebal, mencekam, dan membuat kedua telinga berdenging oleh rasa asing. Tidak ada suara jangkrik yang biasanya meramaikan malam pedesaan, tidak ada riak air sungai dari kejauhan, hanya ada kehampaan yang seolah sengaja menunggu kedatangan langkah kakinya.

Amel mengeratkan pegangannya pada tali tas punggung yang menggantung berat di bahunya, mencoba menetralkan degup jantung yang masih berpacu kencang. Rasa bingung dan cemas bertumpuk menjadi satu di dalam kepalanya akibat hilangnya pria misterius berwajah pucat di dalam bus tadi secara mendadak.

Di hadapannya, sebuah jalan setapak berbatu membentang masuk menembus kegelapan, diapit oleh rumpun bambu betung yang tinggi menjulang di sisi kiri dan kanan jalan.

Daun-daun bambu yang lebat itu saling bergesekan saat ditiup angin, menimbulkan suara gemerisik konstan yang menyerupai bisikan banyak orang secara bersamaan.

"Tenang, Mel... itu cuma bayangan dan perasaan takut kamu saja. Jangan biarkan ucapan pria di bus tadi memengaruhi pikiranmu," bisik Amel pada dirinya sendiri.

Ia mencoba membesarkan hati walau rasa gemetar di lututnya sangat sulit disembunyikan.

Ia merogoh saku celana jinsnya, mengambil ponsel pintar untuk menyalakan fitur lampu kilat sebagai satu-satunya penerang jalan. Cahaya putih dari layar ponselnya memotong kegelapan malam yang pekat, menyingkap permukaan jalanan licin yang tertutup embun dan dedaunan membusuk.

Amel mulai melangkah perlahan, melintasi gerbang masuk desa. Setiap pijakan kakinya di atas kerikil tajam terdengar sangat nyaring dan menggema di tengah keheningan malam yang gulita.

Makin jauh ia melangkah masuk ke dalam lorong rumpun bambu, hawa udara di sekitarnya terasa semakin tebal, berat, dan menusuk dada.

Bau tanah lembap yang semula biasa saja mendadak berganti menjadi aroma wangi bunga kamboja yang menyeruak lembut dari arah semak-semak. Namun, keharuman itu tidak bertahan lama.

Hanya dalam hitungan detik, wangi kamboja tersebut berubah drastis menjadi bau hapuk dan hanyir yang sangat menyengat, mirip aroma tanah galian kuburan tua yang baru disiram air hujan.

Amel menghentikan langkahnya sejenak, menutup hidungnya dengan lengan jaket tebal yang ia kenakan, menahan rasa mual yang tiba-tiba menekan dada dan perutnya.

Sret... sret... sret...

Suara gesekan lembut mendadak terdengar dari arah belakangnya, seolah ada seseorang yang sedang menyeret langkah kaki di atas tumpukan daun bambu kering.

Amel membeku seketika di tempatnya berdiri. Bulu kuduk di sekujur tubuhnya berdiri tegak serentak, merinding hebat. Napasnya tertahan di tenggorokan, dan hawa dingin menjalar dari telapak kakinya menuju kepala.

Dengan perlahan dan hati-hati, ia mengarahkan sorot lampu ponselnya balik ke arah jalan setapak yang baru saja ia lewati.

Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya jajaran rumpun bambu tua yang berdiri kaku dalam kegelapan pekat.

Napas Amel berhembus lega sejenak, mengira itu hanya cakar binatang malam. Namun, ketika ia membalikkan badan untuk kembali melanjutkan langkah menuju rumah sang ibu, matanya membelalak kaget hingga hampir menjatuhkan ponsel di tangannya.

Di ujung jangkauan cahaya lampu ponselnya, sekitar sepuluh meter di depan jalan setapak, tampak sesosok tubuh manusia berdiri kaku membelakanginya.

Sosok itu mengenakan kain sarung kusam berpola garis-garis yang sudah compang-camping di bagian bawahnya, berdiri dengan posisi kepala merunduk dalam-dalam hingga lehernya terlihat seperti patah.

"Per... permisi, Pak? Bapak warga sini?" panggil Amel dengan suara bergetar parah, melangkah mundur satu cangkul sambil mengarahkan cahaya ponselnya tepat ke tubuh sosok tersebut.

Sosok itu sama sekali tidak menjawab. Tidak ada gerakan sedikit pun dari tubuhnya yang kurus dan tegak bagaikan patung.

Namun perlahan-lahan, kepalanya mulai terangkat naik. Bukannya membalikkan badan secara wajar seperti manusia pada umumnya, leher sosok tersebut mendadak berputar secara tidak alami—melintir seratus delapan puluh derajat ke belakang.

Wajahnya hancur, keriput kehitaman tanpa darah, serta dua rongga mata kosong yang dalam dan kelam tanpa bagian putih sama sekali.

Senyum menyeringai lebar terukir di bibirnya yang serba hitam, memperlihatkan deretan gigi yang hampir tanggal seluruhnya dan gusi yang membusuk. Dari celah bibirnya, menetes cairan kental berwarna kehitaman yang berbau menyengat.

Sosok itu mengangkat satu tangannya yang kurus kering dengan kuku-kuku panjang berkerak tanah, mengayunkan jemarinya seolah memberi isyarat memanggil Amel untuk mendekat.

Amel menjerit histeris tanpa suara, tenggorokannya mendadak terunci rapat oleh rasa horor yang belum pernah ia bayangkan sepanjang hidupnya. Rasa takut yang sangat dahsyat melumpuhkan seluruh persendian kakinya hingga ia hampir tersungkur di atas tanah basah.

Bayangan ucapan pria di dalam bus malam tadi mendadak berputar-putar liar di kepalanya: mereka menagih nyawa keturunan yang berutang!

Tanpa berpikir panjang lagi, Amel memutar arah dan berlari sekencang-kencangnya kembali menembus kegelapan jalan setapak bambu. Ia tidak lagi peduli pada kerikil tajam yang merobek bagian bawah alas sepatunya atau dahan-dahan beracun yang menyabet lengannya.

Ia hanya tahu satu hal: ia harus selamat dan sampai ke rumah ibunya sebelum sosok itu berhasil menyentuhnya.

Di belakangnya, suara tawa melengking yang parau, dingin, dan memekakkan telinga memantul berulang kali di antara batang-batang bambu yang bergoyang keras, mengiringi pelariannya yang panik menuju pemukiman desa.

Teror malam Jumat Kliwon di Kampung Lebakwangi baru saja secara resmi dimulai.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kutukan Jumat Kliwon    Bab 13 : Di Bawah Bayangan Bambu Kembar

    Pelataran punden keramat di tengah Hutan Bambu Hitam Kembar menyajikan suasana yang begitu hening, dingin, dan pekat. Hawa mistis yang mengendap di tempat sakral ini terasa jauh lebih menekan dada dibandingkan titik-titik lain yang telah Amel lalui sejak memasuki hutan larangan. Di pusat pelataran tanah melingkar tersebut, berdiri dua batang pohon bambu hitam berukuran raksasa. Lingkaran batang bambu itu sedemikian besar hingga membutuhkan tiga dekapan orang dewasa untuk bisa mengelilinginya secara utuh. Di antara sela-sela kedua batang bambu hitam kembar itu, terletak sebuah batu punden berlumut tebal yang kehitaman. Permukaan batu keramat tersebut dipenuhi oleh bercak-bercak cairan kering yang memancarkan bau hanyir darah sangat menusuk hidung. Batu itu menjadi saksi bisu atas perjanjian haram yang diikat oleh para sesepuh dusun demi kemakmuran semu tiga puluh tahun yang lalu. Amel melangkah pelan sembari memap

  • Kutukan Jumat Kliwon    Bab 14 : Jeritan Punden yang Runtuh

    Guncangan hebat mendadak menjalar dari dalam perut bumi tepat saat bilah besi Kujang Pasupati tertancap telak hingga ke hulu gagang kayunya. Tanah di antara dua batang bambu hitam kembar itu membelah lebar, memancarkan pendar cahaya keemasan yang menerobos keluar bagaikan kilatan petir dari bawah tanah.Seketika itu juga, raungan histeris melengking tinggi bergema dari celah udara di atas batu punden keramat. Entitas penguasa punden menggeliat liar di udara, wujud asap hitamnya yang pekat mulai terbakar dan terurai akibat luapan aura sakral dari pusaka tua tersebut.Aaaaghh! Darah perjanjianku... pusaka itu membakar jiwaku sampai ke dasar!Jeritan gaib itu begitu dahsyat hingga membuat batang-batang bambu hitam di sekeliling pelataran bergetar hebat dan saling beradu kencang. Dedaunan hitam berguguran bagaikan hujan angin, sementara retakan-retakan tanah baru kian meluas menyebar ke segala arah membelah pelataran.Amel berlutut di tanah basah dengan kedua tangan masih menggenggam erat

  • Kutukan Jumat Kliwon    Bab 12 : Penjaga Gerbang Punden Keramat

    Aura kejahatan murni memancar amat pekat dari sosok raksasa yang menghadang kaku di ujung lorong bambu. Tubuhnya yang tinggi menjulang tegap dibentuk oleh susunan akar-akar hitam beracun dan serat bambu membusuk yang saling melilit erat.Di bagian dada sosok raksasa tersebut, tampak puluhan tengkorak manusia berukuran kecil tertanam kusam. Tengkorak-tengkorak itu memancarkan aroma hanyir darah yang membuat kepala Amel mendadak pening luar biasa.Dua mata merah membara milik penjaga gerbang punden itu menatap lurus penuh kebencian ke arah Amel dan Mak Inah. Dari celah rahangnya yang terbelah dua, keluar kepulan asap hitam pekat berbau belerang terbakar yang merusak indra penciuman.Rrrrgh... Jiwa keturunan yang ingkar janji tidak akan pernah diizinkan menyentuh tanah punden ini...Suara raksasa itu menggelegar dahsyat memekakkan telinga, menggoncangkan dedaunan bambu hitam di atas kepala mereka hingga berjatuhan bagaikan hujan abu hitam yang tak henti-henti.Amel terdorong dua langkah

  • Kutukan Jumat Kliwon    Bab 11 : Menembus Lorong Bambu Hitam

    Kabut hitam yang tebal dan pekat langsung menyergap Amel dan Mak Inah saat kaki mereka resmi melangkahi ambang pintu Hutan Bambu Hitam Kembar. Udara di dalam hutan larangan ini terasa jauh lebih berat, pekat, dan mencekam dibandingkan jalan setapak terbuka di luar tadi.Setiap helai napas yang ditarik Amel membawa sensasi dingin yang seolah membekukan rongga dada dan tenggorokan. Keadaan ini diiringi aroma busuk tanah lembap yang mengendap dan membusuk selama puluhan tahun di bawah naungan pohon-pohon punden.Di sekeliling mereka, jajaran rumpun bambu betung berdaun hitam tumbuh merapat secara tidak wajar. Batang-batang bambu tebal berdiameter lebar itu menjulang tinggi memagari sisi jalan, melengkung saling bertautan di atas kepala hingga membentuk sebuah lorong kegelapan abadi yang amat rapat.Tidak ada seberkas pun pendar cahaya dari langit yang sanggup menembus atap bambu alami tersebut. Hal itu menciptakan ruang gelap gulita yang bagaikan rongga perut binatang raksasa."Mel... ja

  • Kutukan Jumat Kliwon    Bab 10 : Penghadang di Mulut Hutan Larangan

    Hawa dingin yang mencekam seketika mengunci seluruh persendian Amel saat api obor di tangan ibunya padam total. Kegelapan di mulut Hutan Bambu Hitam Kembar seolah memadat bagaikan dinding tipis tak terlihat, menyerap sisa-sisa pendar malam yang menyelimuti pedesaan.Di depan jalan setapak berbatu yang menanjak curam, dua pasang mata berwarna merah darah itu menyala semakin terang di antara gulungan kabut tebal yang merayap rendah dari bawah tanah.Grrr... ssshh...Geraman parau bernada rendah menggetarkan permukaan tanah basah tepat di bawah telapak kaki Amel. Dari balik bayang-bayang rumpun bambu tua yang meliuk kaku, dua sosok makhluk berbadan bungkuk merangkak keluar secara perlahan.Wujud mereka menyerupai tubuh manusia yang sangat kurus dengan kulit kehitaman mengelupas seperti kayu terbakar. Jemari tangan dan kaki mereka memanjang secara tak alami dengan kuku-kuku hitam tajam yang berkerak tanah kuburan.Amel mendapati napasnya tertahan rapat di tenggorokan, lidahnya terasa kelu

  • Kutukan Jumat Kliwon    Bab 9 : Langkah Pertama Menuju Hutan Larangan

    Malam yang ditakutkan itu akhirnya tiba membalut Kampung Lebakwangi dalam pekatnya takdir. Langit di atas dusun tua itu tertutup rapat oleh gulungan awan hitam yang tebal, tanpa disinari seberkas pun cahaya bulan ataupun pendar bintang.Udara malam Jumat Kliwon terasa luar biasa dingin, lembap, dan sangat pekat. Keadaan ini membawa hawa magis yang menusuk hingga ke dalam tulang rusuk dan membuat dada terasa sesak sejak helaian napas pertama.Di dalam surau tua yang lengang, Kiai Haji Anwar berdiri tegak tepat di dekat pintu kayu yang sedikit terbuka. Di hadapannya, Amel telah bersiap penuh dengan mengenakan pakaian hitam longgar dan kain sarung tua yang terikat rapi di bagian pinggangnya.Di dalam selipan kain sarungnya, Kujang Pasupati tersimpan dengan sangat aman. Pusaka itu terbungkus rapi oleh kain beludru hitam yang telah diruwat khusus dengan doa-doa keselamatan dan penolak bala.Mak Inah berdiri rapat di samping Amel sambil menggenggam sebuah obor bambu kecil

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status