LOGIN
Lampu-lampu jalanan ibu kota yang terang perlahan meleleh menjadi kegelapan malam yang pekat saat bus interkota yang ditumpangi Amel melaju semakin jauh menyusuri jalur lintas selatan. Suara derung mesin tua bergetar konstan di bawah pijakan kakinya, bercampur dengan dengkur halus beberapa penumpang yang tertidur lelap.
Amel menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang dingin, menatap bayangan wajahnya sendiri yang pucat terpantul di antara kegelapan malam. Di genggaman tangannya, layar telepon genggam berkerlip redup menunjukkan pukul dua belas malam lewat sepuluh menit. Sudah lima tahun sejak Amel meninggalkan Kampung Lebakwangi demi mengadu nasib sebagai buruh pabrik di Jakarta. Lima tahun yang relatif tenang, tanpa bayang-bayang masa kecilnya yang aneh. Namun, pesan singkat dari ibunya—Mak Inah—dua hari lalu mengubah segalanya. “Mel, kalau kamu sayang sama Mak, jangan sekali-kali kamu pulang bulan ini. Apalagi pas mendekati Jumat Kliwon. Kampung kita lagi tidak aman.” Amel mendengus pelan, meremas ponselnya. Harusnya ia menuruti peringatan ibunya. However, kabar burung dari salah satu kerabat yang mengatakan bahwa kesehatan Mak Inah memburuk membuat rasa khawatirnya mengalahkan akal sehat. Ia nekat mengambil cuti mendadak dan membeli tiket bus malam paling akhir. "Neng... mau turun di mana?" Suara parau tiba-tiba memecah lamunan Amel. Ia menoleh ke samping. Pria paruh baya yang duduk di seberang lorong bus menatapnya dengan mata sayu yang terlihat cekung. Pria itu mengenakan jaket lusuh bercak tanah kering, membawa aroma aneh yang samar-samar menyerupai bau tanah basah seusai hujan. "Di gapura batas Dusun Lebakwangi, Pak," jawab Amel ramah namun sopan, berusaha tidak terlalu terbuka pada orang asing. Raut wajah pria itu mendadak berubah drastis. Matanya melebar, dan genggaman tangannya pada tas kain di pangkuannya mengencang. "Lebakwangi? Neng... Neng orang sana asli?" Amel mengangguk pelan. "Iya, Pak. Ibu saya tinggal di sana." Pria itu menarik napas panjang yang terdengar berat dan gemetar. Ia memperbaiki posisi duduknya, mendongak menatap langit-langit bus seolah sedang meratapi sesuatu yang sangat kelam. "Jangan turun di sana malam ini, Neng. Putar balik... mumpung bus ini belum sampai di perbatasan." "Maksud Bapak apa?" tanya Amel, alisnya berkerut bingung sekaligus mulai disergap rasa cemas. "Malam ini adalah malam Jumat Kliwon," bisik pria itu dengan suara serak yang bergetar hebat. "Tiga puluh tahun lalu, orang-orang tua di kampung itu membuat janji iblis demi mengembalikan kesuburan tanah mereka yang tandus. Tapi darah tidak bisa dibayar dengan hasil panen, Neng. Setiap Jumat Kliwon tiba, penjaga punden akan menagih nyawa keturunan dari mereka yang berutang." Darah Amel rasanya mendadak membeku. "Bapak bicara apa? Itu cuma mitos lama..." "Mitos?" Pria itu terkekeh sinis, sebuah tawa pahit tanpa rasa humor sama sekali. Ia perlahan menyingsingkan lengan jaket lusuhnya, memperlihatkan kulit tangannya yang tampak keriput parah, kering, dan berwarna kehitaman seolah tak lagi dialiri darah segar. "Keluarga saya tewas semua dalam satu malam di dusun itu sepuluh tahun lalu, Neng. Tubuh mereka ditemukan kering kerontang tanpa setetes darah pun tersisa. Saya selamat karena saya melarikan diri ke kota... tapi aroma darah keturunan Lebakwangi tidak pernah benar-benar hilang dari tubuh kita." Amel terdiam kaku. Lidahnya terasa kelu untuk membalas. Aura dingin mendadak menusuk kulit lengannya meskipun pendingin udara di dalam bus sedang tidak menyala tajam. Pria itu terus menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Sebelum Amel sempat bertanya lebih lanjut, kenek bus mendadak berteriak nyaring dari arah depan, memecah ketegangan di dalam armada tua tersebut. "Perbatasan Lebakwangi! Yang mau turun Lebakwangi, siap-siap!" Amel menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berdebar kencang melebihi irama mesin bus. With gemetar, ia merogoh tas punggungnya, berdiri pelan dari kursi. Ketika ia melirik kembali ke arah kursi di seberang lorong untuk berpamitan pada pria misterius tadi, matanya membelalak kaget. Kursi itu kosong. Tas kain lusuh dan pria bercak tanah tadi lenyap tanpa jejak, menyisakan tempat duduk berdebu yang tampak sudah lama tidak ditempati siapapun. Amel berdiri mematung di lorong bus, merasakan bulu kuduknya berdiri tegak serentak. "Neng! Mau turun tidak? Jangan berdiri di situ, pintu sudah dibuka!" tegur kenek bus dari arah tangga depan. Dengan napas terengah-engah dan ketakutan yang mulai merayapi benak, Amel melangkah ragu menuruni tangga bus. Pintu lipat berderit kencang sebelum akhirnya tertutup rapat, meninggalkan Amel sendirian di tepi jalan lintas desa yang sepi senyap, tepat di bawah papan kayu lapuk bertuliskan: Selamat Datang di Kampung Lebakwangi. Di hadapannya, kegelapan malam Jumat Kliwon tampak menyelimuti jalan setapak menuju desanya, siap menyambut kepulangannya dengan teror yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.Suasana di pusat Kampung Lebakwangi mendadak berubah menjadi neraka fajar yang amat mengerikan. Warga berlarian panik tanpa arah dengan wajah pucat pasi dan sepasang mata membelalak penuh ketakutan yang mencekam jiwa. Jeritan histeris membahana bersahut-sahutan dari arah rumah-rumah tua milik para keluarga sesepuh dusun yang pernah terlibat dalam perjanjian gaib pesugihan tiga puluh tahun yang lalu. Amel dan Mak Inah mempercepat langkah kaki mereka yang sudah amat lelah, menembus kerumunan warga yang saling berdesakan dan menangis ketakutan. Udara di tengah kampung terasa sangat panas, pekat, dan membakar tenggorokan, menyebarkan aroma amis darah segar bercampur bau kemenyan terbakar serta minyak serimpi yang amat menyengat paru-paru. Dari sela-sela lantai ubin rumah Pak RT—salah satu keturunan langsung dari sesepuh dusun—cairan merah pekat merembes keluar dengan sangat deras bagaikan mata air iblis yang meletup-letup tanpa henti.
Sinar fajar keemasan memang telah menyinari pelataran punden yang runtuh, namun keheningan pagi di Hutan Bambu Hitam Kembar tidak membawa kedamaian. Bau hanyir darah busuk dan belerang terbakar justru makin pekat mengendap di udara lembap, menegaskan bahwa akar gaib kutukan Jumat Kliwon tidak sirna begitu saja dalam hitungan semalam.Amel perlahan menarik Kujang Pasupati dari himpitan tanah keramat yang merapat kembali dengan sendirinya. Saat mata bilah pusaka itu terangkat ke udara, serpihan abu hitam pekat menempel erat di permukaannya, memancarkan getaran panas yang membuat seluruh lengan kanan Amel membiru kaku."Kutukan ini terlalu dalam meresap ke dalam bumi Lebakwangi, Mel..." bisik Mak Inah dengan raut wajah keriput yang diliputi ketakutan mendalam.Wanita tua itu memandangi ratusan batang bambu hitam di sekeliling mereka yang tidak lagi tegak, melainkan melengkung patah secara tak alami bagaikan jemari raksasa yang siap mencengkeram.Amel membungkus kem
Pelataran punden keramat di tengah Hutan Bambu Hitam Kembar menyajikan suasana yang begitu hening, dingin, dan pekat. Hawa mistis yang mengendap di tempat sakral ini terasa jauh lebih menekan dada dibandingkan titik-titik lain yang telah Amel lalui sejak memasuki hutan larangan. Di pusat pelataran tanah melingkar tersebut, berdiri dua batang pohon bambu hitam berukuran raksasa. Lingkaran batang bambu itu sedemikian besar hingga membutuhkan tiga dekapan orang dewasa untuk bisa mengelilinginya secara utuh. Di antara sela-sela kedua batang bambu hitam kembar itu, terletak sebuah batu punden berlumut tebal yang kehitaman. Permukaan batu keramat tersebut dipenuhi oleh bercak-bercak cairan kering yang memancarkan bau hanyir darah sangat menusuk hidung. Batu itu menjadi saksi bisu atas perjanjian haram yang diikat oleh para sesepuh dusun demi kemakmuran semu tiga puluh tahun yang lalu. Amel melangkah pelan sembari memap
Guncangan hebat mendadak menjalar dari dalam perut bumi tepat saat bilah besi Kujang Pasupati tertancap telak hingga ke hulu gagang kayunya. Tanah di antara dua batang bambu hitam kembar itu membelah lebar, memancarkan pendar cahaya keemasan yang menerobos keluar bagaikan kilatan petir dari bawah tanah.Seketika itu juga, raungan histeris melengking tinggi bergema dari celah udara di atas batu punden keramat. Entitas penguasa punden menggeliat liar di udara, wujud asap hitamnya yang pekat mulai terbakar dan terurai akibat luapan aura sakral dari pusaka tua tersebut.Aaaaghh! Darah perjanjianku... pusaka itu membakar jiwaku sampai ke dasar!Jeritan gaib itu begitu dahsyat hingga membuat batang-batang bambu hitam di sekeliling pelataran bergetar hebat dan saling beradu kencang. Dedaunan hitam berguguran bagaikan hujan angin, sementara retakan-retakan tanah baru kian meluas menyebar ke segala arah membelah pelataran.Amel berlutut di tanah basah dengan kedua tangan masih menggenggam erat
Aura kejahatan murni memancar amat pekat dari sosok raksasa yang menghadang kaku di ujung lorong bambu. Tubuhnya yang tinggi menjulang tegap dibentuk oleh susunan akar-akar hitam beracun dan serat bambu membusuk yang saling melilit erat.Di bagian dada sosok raksasa tersebut, tampak puluhan tengkorak manusia berukuran kecil tertanam kusam. Tengkorak-tengkorak itu memancarkan aroma hanyir darah yang membuat kepala Amel mendadak pening luar biasa.Dua mata merah membara milik penjaga gerbang punden itu menatap lurus penuh kebencian ke arah Amel dan Mak Inah. Dari celah rahangnya yang terbelah dua, keluar kepulan asap hitam pekat berbau belerang terbakar yang merusak indra penciuman.Rrrrgh... Jiwa keturunan yang ingkar janji tidak akan pernah diizinkan menyentuh tanah punden ini...Suara raksasa itu menggelegar dahsyat memekakkan telinga, menggoncangkan dedaunan bambu hitam di atas kepala mereka hingga berjatuhan bagaikan hujan abu hitam yang tak henti-henti.Amel terdorong dua langkah
Kabut hitam yang tebal dan pekat langsung menyergap Amel dan Mak Inah saat kaki mereka resmi melangkahi ambang pintu Hutan Bambu Hitam Kembar. Udara di dalam hutan larangan ini terasa jauh lebih berat, pekat, dan mencekam dibandingkan jalan setapak terbuka di luar tadi.Setiap helai napas yang ditarik Amel membawa sensasi dingin yang seolah membekukan rongga dada dan tenggorokan. Keadaan ini diiringi aroma busuk tanah lembap yang mengendap dan membusuk selama puluhan tahun di bawah naungan pohon-pohon punden.Di sekeliling mereka, jajaran rumpun bambu betung berdaun hitam tumbuh merapat secara tidak wajar. Batang-batang bambu tebal berdiameter lebar itu menjulang tinggi memagari sisi jalan, melengkung saling bertautan di atas kepala hingga membentuk sebuah lorong kegelapan abadi yang amat rapat.Tidak ada seberkas pun pendar cahaya dari langit yang sanggup menembus atap bambu alami tersebut. Hal itu menciptakan ruang gelap gulita yang bagaikan rongga perut binatang raksasa."Mel... ja







