Share

Bab 5

Penulis: Ray Ghafari
Rakael terhuyung beberapa langkah. Setelah menstabilkan tubuhnya, dia berkata dengan wajah penuh kepahitan, "Kak Almira, dengarkan penjelasanku dulu. Aku belum selesai bicara. Lagi pula, kamu yang memintaku mengatakannya."

Namun, Almira sama sekali tidak mau mendengar. Dia kembali meraih botol anggur kosong di atas meja dan berpura-pura hendak melemparkannya, sambil berteriak marah, "Penjelasan apaan! Kamu ini cuma pria mesum, enyah dari sini!"

Melihat itu, Rakael tahu apa pun yang dia katakan sekarang tidak akan ada gunanya. Dia hanya bisa berbalik dan berjalan ke arah pintu, sambil terus menoleh dan menjelaskan, "Aku benar-benar nggak sengaja. Tenangkan dirimu dulu, Kak."

Namun, yang menjawabnya hanyalah suara botol anggur yang dibanting dengan keras ke lantai.

Dengan lesu, Rakael kembali ke rumah kontrakannya. Pantatnya bahkan belum sempat duduk dengan stabil, ponselnya sudah bergetar dua kali. Dia mengambil ponsel dan melirik layarnya.

Pesan itu dari Arumi, mengatakan bahwa sebentar lagi dia akan kembali ke rumah kontrakan untuk mengambil barang-barangnya. Dia meminta Rakael menunggunya di sana.

Sorot dingin melintas di mata Rakael, tetapi segera menghilang. Urusan dengan Marten pasti akan dia selesaikan cepat atau lambat!

Sedangkan Arumi ... perempuan yang benar-benar pernah dia cintai itu, sejak dia sadar di rumah sakit, semuanya sudah dia pikirkan dengan jelas.

Takdir mereka telah berakhir. Jalan itu dipilih Arumi sendiri. Bagaimana hidupnya ke depan, sudah tidak ada lagi sedikit pun hubungan dengannya.

Setelah melempar ponsel ke samping, perut Rakael berbunyi keroncongan dua kali. Meskipun dia sudah berhasil menarik energi ke dalam tubuh, kemampuannya masih jauh dari tingkat bisa berpuasa tanpa makan.

Rakael mengobrak-abrik kulkas beberapa saat. Yang dia temukan hanya sebungkus mi instan yang hampir kedaluwarsa serta setengah kotak ham sisa hot pot sebelumnya.

Setelah menyeduh mi, Rakael bersandar pada dinding dapur. Pandangannya kosong, pikirannya dipenuhi berbagai kejadian menyebalkan yang terjadi belakangan ini.

Tak lama kemudian, mi instan siap. Dia mengambil mangkuk dan makan dengan lahap. Meskipun rasanya biasa saja, setidaknya bisa mengisi perut.

Selesai makan, dia merapikan sedikit kamarnya, memasukkan semua barang Arumi ke tas, lalu berbaring di tempat tidur. Ketika menatap langit-langit, pikirannya melayang jauh.

Ketika memikirkan langkah demi langkah yang harus dia ambil untuk menuntaskan urusan dengan Marten, tanpa sadar dia pun tertidur.

Entah sudah berapa lama Rakael tidur, dia terbangun oleh suara pintu yang dibuka oleh Arumi.

Sejak berhasil menarik energi ke dalam tubuh, indra penciuman dan pendengarannya menjadi berkali-kali lebih tajam dibanding sebelumnya. Bahkan suara sekecil apa pun tak bisa lolos dari telinganya.

Sebelum masuk ke rumah kontrakan, Arumi sudah berdiri lama di luar pintu. Dia memikirkan banyak kemungkinan.

Rakael begitu mencintainya, mungkin saja akan berlutut sambil menangis dan memohon agar dirinya tetap tinggal. Dia bahkan sudah menyiapkan puluhan alasan untuk menolak Rakael.

Namun, saat pintu dibuka, yang dia lihat justru Rakael terbaring di tempat tidur, tidur dengan tenang. Segalanya di kamar kontrakan tampak biasa saja, tidak ada reaksi berlebihan seperti yang dia bayangkan akan dilakukan Rakael.

Arumi menutup pintu dengan pelan dan berdiri di dekat pintu. Untuk sesaat, dia justru tidak tahu harus berbuat apa.

Semua kata-kata yang telah dia siapkan kini tertahan di tenggorokan, tak tahu apakah masih perlu diucapkan atau tidak.

Mendengar suara pintu tertutup, Rakael perlahan membuka mata. Ketika melihat Arumi berdiri di sana, sorot matanya tidak beriak sedikit pun. Dia hanya menyapa dengan nada datar, "Sudah sampai ya."

Arumi mengangguk dan berjalan ke sisi tempat tidur. Dia menatap Rakael, mencoba menemukan kembali tatapan penuh cinta dan keterikatan yang dulu pernah ada. Namun, dia tidak menemukan apa-apa.

"Rakael, kamu membenciku?"

"Nggak."

Jawaban Rakael justru membuat Arumi merasa kesal tanpa alasan. Dia merasa Rakael hanya keras kepala dan berpura-pura tegar.

Bagaimana dulu dia tidak menyadari bahwa pria ini ternyata begitu lemah? Dia lebih rela melihat Rakael marah besar, memakinya, atau bahkan menamparnya sekali. Setidaknya itu masih terlihat seperti lelaki sejati.

Namun sekarang ....

"Rakael, kamu benar-benar nggak ingin mengatakan sesuatu padaku?"

Rakael bangkit, melempar tas berisi barang-barang itu ke depan Arumi, lalu berkata dengan tidak sabar, "Ambil barangmu dan keluar. Mulai sekarang, kita jalan di jalan masing-masing."

"Dasar nggak berguna, sampah!" Emosi Arumi tiba-tiba meledak. Dia meraih kerah baju Rakael. "Dia sudah meniduri pacarmu dan kamu sama sekali nggak marah?"

Rakael menangkap pergelangan tangan Arumi. Dengan sedikit tenaga saja, dia melemparkan wanita itu ke samping. Dia lalu berdiri dan merapikan kerah bajunya, berkata dengan dingin, "Jangan sentuh aku. Aku jijik."

Baru saat itu Arumi menyadari bahwa Rakael sepertinya menjadi lebih tampan, bahkan tampak lebih tinggi. Padahal mereka baru sehari tidak bertemu. Bagaimana mungkin perubahan seseorang bisa sebesar ini?

Ponsel di atas sofa tiba-tiba berdering. Baru saat itu Rakael teringat bahwa sore ini dia masih punya janji dengan Ranti.

Dia melangkah cepat ke sofa, meraih ponsel, melirik nama penelepon, lalu menyesuaikan emosinya sebelum menekan tombol jawab. "Kak Ranti, maaf ya. Aku langsung berangkat sekarang. Kita ketemu di tempat biasa."

Melihat Rakael hendak pergi, Arumi merasa marah dan malu. Dia menghancurkan semua barang di rumah kontrakan. "Rakael! Kembali ke sini! Dasar sampah, sampah!"

Tanpa menoleh sedikit pun pada Arumi yang mengamuk di belakangnya, Rakael meninggalkan kamar kontrakan. Dia menaiki motor listrik kecilnya dan melaju menuju tempat yang telah disepakati.

Dia memang pernah membenci Arumi, tetapi setelah dipikirkan lagi, dia sendiri juga pernah melakukan hal yang menyakitinya. Mereka sama saja. Membicarakan soal benci atau tidak benci sekarang terasa kekanak-kanakan.

Rakael tiba di tempat yang disepakati dengan Ranti. Itu adalah sebuah bar yang cukup tersembunyi. Di tempat inilah Rakael dan Ranti pertama kali bertemu.

Begitu masuk ke ruang privat, dia melihat Ranti melambaikan tangan padanya. "Kenapa lama sekali?"

Melihat Ranti lagi, Rakael merasa sedikit sungkan dan menggaruk kepalanya. "Ada beberapa urusan, jadi terlambat."

Ranti tidak bertanya lebih jauh. Mereka pun mulai mengobrol dengan santai, seolah-olah semua ketidaknyamanan sebelumnya telah menghilang bersama suasana yang santai ini.

Di bawah meja, sebuah kaki kecil menggesek pelan paha Rakael. Ranti menuangkan segelas minuman untuknya dan berkata, "Klien yang akan kuperkenalkan padamu adalah dua wanita kaya yang cantik. Kamu harus memanfaatkan kesempatan dengan baik."

Awalnya, menghadapi kedekatan Ranti, Rakael masih tampak agak kaku. Namun, saat teringat penghinaan Marten, serta hubungan antara Ranti dan Marten, sisa keraguannya pun lenyap sepenuhnya.

Dua gelas minuman keras masuk ke perut. Tiba-tiba, Rakael membalikkan tubuh dan menindih Ranti di bawahnya, lalu mencium bibir kecil itu dengan dominan.

Ranti sempat tertegun sejenak, lalu melingkarkan lengannya di leher Rakael dan membalas ciuman itu dengan penuh gairah.

Saat keduanya hampir kehilangan kendali, Ranti justru menghentikannya. Dia melirik Rakael dengan manja sambil berkata, "Sekarang belum bisa. Mereka sebentar lagi akan sampai."

Rakael merasa tenggorokannya kering. Saat dia hendak meraih gelas untuk meredam panas di tubuhnya, Ranti tiba-tiba menahan tangannya, menggigit bibir bawahnya, dan berkata pelan, "Pakai itu nggak bisa memadamkan hasrat. Aku bantu kamu ...."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 50

    "Nak, kamu yang namanya Rakael?" Harun menggaruk rambut putih di kepalanya, lalu pandangannya tertuju ke tubuh Chelsea. "Wah, kamu lumayan beruntung juga. Segede itu, pasti enak banget."Chelsea ketakutan sampai wajahnya pucat. Setengah badannya bersembunyi di belakang Rakael dan dia tidak berani mengangkat kepala.Rakael mengerutkan keningnya sedikit. Orang-orang ini sepertinya bukan anak buah Arlan. Arlan sudah pernah dirugikan sekali. Kalau benar-benar ingin berurusan dengannya, tidak mungkin hanya mengirim beberapa orang seperti ini.Kalau bukan Arlan, berarti tinggal satu orang lagi."Marten yang suruh kalian ke sini?" Kilatan dingin melintas di mata Rakael. Dia tiba-tiba menyesal. Menyesal karena waktu itu menghukumnya terlalu ringan.Harun mengorek telinganya dan berlagak pura-pura bodoh. "Marten siapa? Nggak pernah dengar."Rakael makin yakin dengan dugaannya. Dia melindungi Chelsea di belakangnya. "Mau apa kalian sebenarnya?"Harun menatap Chelsea di belakang Rakael, lalu ters

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 49

    "Kak Rakael." Melihat Rakael sudah selesai bekerja, Chelsea berlari kecil mendekat dengan wajah agak malu. Chelsea adalah rekan kerja wanita yang mengantarkan sarapan untuk Rakael tadi pagi.Rakael memang sudah beberapa kali berinteraksi dengannya, tetapi semuanya hanya urusan pekerjaan. Mereka punya kontak satu sama lain, tetapi isi percakapan yang ada juga sebatas hal-hal terkait kerja.Rakael sedang merapikan barang-barangnya dan bersiap meninggalkan kantor. Melihat Chelsea berdiri di depannya, dia meletakkan berkas di tangannya lalu bertanya, "Ada apa, Chelsea?""Kak Rakael, aku ... hari ini ulang tahunku. Bolehkah aku mengajakmu makan bersama?" Setelah berkata demikian, Chelsea tampak tidak berani menatap Rakael.Kedua tangannya terus mengusap-usap ujung kemejanya karena gugup. Sebenarnya, selain tubuhnya yang agak berisi, fitur wajah Chelsea tergolong cantik.Seperti yang pernah dikatakan Jevin, kalau Chelsea bisa turun belasan kilo lagi, dia pasti akan menjadi gadis cantik yang

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 48

    "Baik." Loreta tersenyum tipis dan mengangguk setuju.Namun, sepasang matanya terus tertuju pada wajah Rakael, tidak bergeser sedikit pun. Bahkan Sarah juga merasa ada yang aneh.Rakael bukanlah perawat pertama Loreta, tetapi ini pertama kalinya dia melihat Loreta menatap seseorang begitu lama dan sedemikian serius."Bekerjalah dengan baik. Kalau kamu merasa nggak sanggup, kamu bisa langsung datang mencariku," kata Sarah. Setelah memberi beberapa pesan tambahan, dia pun berbalik dan pergi.Rakael tiba-tiba jadi sedikit memahami Jevin.Demi mendapat sebuah transaksi, perjuangan orang-orang di industri mereka ini mungkin tidak kalah berat dibanding kurir makanan. Untuk tenaga penjual pria, kondisinya masih lebih baik. Sementara tenaga penjual wanita yang cantik, benar-benar harus mengerahkan segala cara demi menarik klien. Menemani makan dan minum sudah jadi hal biasa.Kalau bertemu klien besar yang sesungguhnya, sesama pria pasti paham maksudnya."Anak muda, duduklah," Loreta akhirnya m

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 47

    Sambil berjalan, Sarah menjelaskan, "Panti Jompo Beria dibagi menjadi halaman depan, halaman tengah, dan halaman belakang.""Halaman depan adalah area utama untuk aktivitas harian para lansia, ada taman, gazebo, ruang catur, dan pusat kebugaran. Halaman tengah adalah area hunian, setiap lansia memiliki satu unit suite pribadi dengan fasilitas lengkap. Sedangkan halaman belakang adalah area kantor dan logistik kami, termasuk ruang medis, kantin, dan gudang."Rakael berjalan di belakangnya sambil mendengarkan dengan serius, meski matanya tidak bisa menahan diri untuk mengamati sekeliling.Panti jompo ini ternyata jauh lebih besar daripada yang terlihat dari luar. Di setiap sudutnya terasa sangat terawat dan elegan. Selain aroma cendana dan wangi pepohonan, seolah juga samar-samar tercium bau obat di udara."Tugas utamamu adalah membantu perawat utama dalam merawat para lansia di area yang ditugaskan. Termasuk mengantarkan makanan untuk lansia yang kesulitan bergerak, membantu mereka berj

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 46

    "Langsung ke halaman belakang, cari Bu Sarah. Dia yang bertanggung jawab merekrut orang."Rakael menghela napas lega dan segera mengucapkan terima kasih. "Terima kasih, Pak."Saat mendorong pintu kayu yang tebal itu, aroma dupa cendana bercampur wangi rumput dan pepohonan langsung menyambutnya. Di dalamnya terdapat taman yang tertata rapi, dengan jalan setapak dari batu yang berkelok-kelok.Di kedua sisi jalan tumbuh berbagai bunga dan pepohonan bernilai tinggi. Beberapa lansia berpakaian rapi dan bersih sedang duduk di gazebo, bermain catur sambil mengobrol. Wajah mereka tampak santai dan menikmati hidup.Rakael berjalan menuju halaman belakang sesuai petunjuk. Saat melewati sebuah taman kecil, dia melihat seorang nenek mengenakan gaun bermotif bunga sedang berusaha dengan susah payah mengambil layang-layang yang jatuh ke tanah. Rakael refleks hendak melangkah maju untuk membantu, tetapi kakinya tiba-tiba berhenti.Mengingat pengalaman Jevin, dia pun diam-diam menarik kembali langkahn

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 45

    Dulu, setiap melihat ada lansia menyeberang jalan, dia pasti akan maju membantu menopang mereka. Namun, sekarang ... hehe. Tidak menendang mereka saja sudah termasuk bermurah hati."Itu memang menyedihkan."Rakael menepuk bahu Jevin dengan penuh simpati. Serangan mendadak memang paling fatal. Setelah dikeroyok, dia bahkan tidak tahu alasannya mengapa dia dipukuli. Namun bagaimanapun juga, dengan adanya Jevin sebagai contoh nyata, Rakael jelas tidak bisa menempuh jalan yang sama.Rakael lalu menanyakan nama para lansia itu serta gambaran fisik mereka. Setelah memiliki sedikit pemahaman, barulah dia berdiri dan bersiap pergi melihatnya sendiri."Tunggu, aku sudah cerita sebanyak itu, tapi kamu masih mau pergi juga?" Jevin menatap Rakael seolah sedang melihat orang bodoh. Orang-orang di panti jompo itu bukan sekadar sulit ditangani, melainkan benar-benar tidak bisa didekati sama sekali.Rakael menyeringai. "Aku cuma mau lihat-lihat. Punya target jelas lebih baik daripada keliling kota car

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status