Share

Bab 4

Penulis: Ray Ghafari
Pintu terbuka. Almira membuka pintu sambil menenteng setengah botol anggur merah. Tubuhnya terhuyung-huyung karena mabuk.

Saat melihat orang yang datang adalah Rakael, dia menoleh tanpa mengucapkan sepatah kata pun, lalu berbalik masuk ke kamar.

Ketika Rakael masih ragu apakah sebaiknya datang lagi lain kali, dari dalam sudah terdengar suara Almira yang agak mabuk. "Ngapain bengong? Masuk saja."

Begitu Rakael mendorong pintu kamar, aroma alkohol langsung menerpa wajahnya. Di lantai kamar, botol-botol anggur merah dan tisu berserakan di mana-mana. Orang yang tidak tahu bisa saja mengira telah terjadi pertempuran besar di sini.

"Kak Almira, aku datang untuk mengembalikan ...."

"Kalian para pria sama-sama busuk!" Almira tiba-tiba membanting botol anggur di tangannya hingga pecah berkeping-keping. Pecahan kaca yang beterbangan melukai kulitnya. Darah langsung mengalir dari betis dan jari-jari kakinya hingga membasahi lantai. Rasa kaget membuat kesadarannya sedikit kembali. "Darah, aku berdarah!"

"Kak Almira, jangan bergerak!" Rakael segera mencari sapu dan pengki, membereskan semua pecahan kaca di lantai. Setelah itu, barulah dia membantu Almira duduk di sofa. Melihat darah di kakinya masih mengalir, dia berkata, "Lebih baik aku antar kamu ke rumah sakit."

Almira menggigit bibir bawahnya dan menggeleng dengan keras kepala. Dia tidak ingin keluar, apalagi memperlihatkan dirinya yang begitu kacau pada orang lain.

Melihat Almira tidak mau setuju, Rakael berbalik membuka laci di samping dan mengobrak-abrik isinya sambil bertanya tanpa menoleh, "Di rumahmu ada antiseptik dan kain kasa?"

Tatapan Almira kosong. Dia menggeleng dan bertanya balik, "Nggak ada, plester luka bisa?"

Rakael kembali berdiri di hadapan Almira, menatap lukanya beberapa detik, lalu terdiam. "Sepertinya nggak bisa."

"Aku nggak mau ke rumah sakit."

"Boleh aku lihat lukamu?"

"Hmm, lihat saja."

Setelah mendapat izin, Rakael menggenggam kaki kecil seukuran telapak tangan itu. Harus diakui, kaki Almira sangat indah. Mungkin karena terawat dengan baik, kakinya tampak seperti karya seni yang halus.

Wajah Almira sedikit memanas. Dia menarik kakinya. Sorot matanya menjadi dingin. "Sudah puas lihatnya?"

Rakael merasa canggung. Dia merasa dirinya tidak punya fetish kaki, tetapi entah kenapa dia sempat terpana karena sepasang kaki itu. "Aku bisa mencoba mengobatimu, tapi aku harap kamu bisa merahasiakannya."

Dalam warisan yang dia peroleh, terdapat banyak kemampuan dan teknik gaib. Sayangnya, dia baru saja memasuki jalur latihan dan belum mampu menggunakan teknik tingkat tinggi. Jika luka Almira sedikit lebih dalam, dia pasti tidak akan sanggup mengobatinya.

Namun, untuk luka luar seperti ini, Rakael merasa bisa mencobanya. Meskipun tidak berani menjamin sembuh total, setidaknya menghentikan pendarahan sudah sangat baik.

"Mengobatiku? Kamu 'kan bukan dokter." Almira tidak mengerti apa yang dibicarakan Rakael. Yang jelas, dia tidak ingin ke rumah sakit. Bahkan sempat terlintas di benaknya untuk mati. Namun, kalau dia mati, yang untung justru bajingan itu!

Melihat Almira sedang murung, Rakael bercanda, "Aku memang bukan dokter, tapi aku bisa sulap."

Wajah Almira mungil. Meskipun sudah 30-an tahun, orang bisa saja mengira usianya baru 20-an. Dia menatap Rakael dengan curiga, melihat tangan pria itu masih memegang kakinya. "Kamu nggak berniat menungguku memejamkan mata, lalu menjilat ... kakiku, 'kan?"

"Eh? Ehem!" Rakael berdeham keras untuk menutupi rasa canggung. Dia sengaja mengalihkan topik. "Kak Almira, kalau darahnya nggak berhenti, aku terpaksa telepon ambulans."

"Kalau begitu, lakukan saja. Kalau kamu berani menipuku, aku akan menyuruh orang memotong tanganmu!" Setelah berkata demikian, Almira memejamkan mata. Amarahnya sudah mereda. Sulap apanya? Dia bukan anak kecil.

Rakael tidak banyak bicara lagi. Dia menekan kaki kecil yang terasa agak dingin itu, mencoba memusatkan kekuatan spiritual di antara dua jarinya. Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya dia berhasil.

Teknik tingkat dasar, teknik penyembuhan!

Almira hanya merasakan bagian luka itu gatal, seolah-olah ada tak terhitung semut kecil merayap di sana. Tangan besar yang menggenggam kakinya juga terasa semakin panas.

Kemudian, rasa sakit menghilang, digantikan sensasi kesemutan dan mati rasa. Dua sensasi itu bertabrakan, membuatnya refleks merapatkan kedua kakinya dan tanpa sadar mengeluarkan suara lirih.

Dia pun menahan keinginan untuk membuka mata, merasa malu pada dirinya sendiri karena bisa mengeluarkan suara seperti itu.

Di dalam hanya ada Rakael dan Almira. Pria dan wanita berduaan, dengan suasana yang begitu ambigu. Jika bukan karena keteguhan hati Rakael, mungkin dia sudah tidak sanggup menahan diri.

Melihat kembali luka di betis, Rakael melakukan hal yang sama untuk menyembuhkannya. Mungkin karena pertama kalinya menggunakan teknik kecil secara berturut-turut, wajahnya tampak agak pucat.

Sepertinya dia masih terlalu lemah. Baru saja masuk ke tahap awal, dia sudah memaksakan diri menggunakan teknik. Memang masih terlalu berat baginya.

Melihat luka itu perlahan pulih, Rakael akhirnya menghela napas lega. "Kamu bisa buka mata sekarang."

Bulu mata panjang Almira bergetar dua kali sebelum dia membuka mata. Saat melihat luka di betis dan punggung kakinya telah menghilang, matanya langsung membelalak, penuh ketidakpercayaan.

Dia berdiri dan berjalan dua langkah. "Benar-benar sembuh? Gimana caranya? Ya ampun, ini luar biasa!"

Rakael merasa tenggorokannya kering dan tubuhnya sedikit lemas. Dia tersenyum pahit dalam hati. Ternyata dia memang terlalu ceroboh. Sedikit kekuatan spiritual yang baru dia masukkan ke tubuhnya pagi ini kini sudah terkuras habis.

"Hanya sulap kecil ...." Rakael tidak peduli apakah Almira percaya atau tidak. Jika bukan karena Almira pernah membantunya sekali, dia tidak akan memperlihatkan bahwa dirinya bisa menggunakan teknik seperti ini.

Tiba-tiba, Almira duduk di samping Rakael. Sepasang mata besarnya penuh rasa penasaran dan kegembiraan. "Kamu alien?"

"Eh, tentu saja bukan!" Rakael mengusap pangkal hidungnya. Dengan wajah setampan ini, mana mungkin dia alien?

Saat dia berpikir mencari alasan untuk segera pergi, kata-kata Almira berikutnya langsung membuatnya terdiam. "Kalau begitu, kamu bisa teleportasi?"

"Nggak bisa."

"Penglihatan tembus pandang?"

"Yang itu ... bisa dibilang bisa."

Kilatan licik melintas di mata Almira. Dia menarik tangan Rakael, menggigit bibir bawahnya, lalu memberi isyarat dengan mata. "Warnanya apa?"

Wajah Rakael langsung memerah. Dia buru-buru menarik kembali tangannya dan berdeham dengan canggung. "Kak Almira ... bisa nggak kita bahas hal lain? Penglihatan tembus pandang nggak boleh digunakan sembarangan."

Namun, Almira tidak mau melepaskannya. Dia memiringkan kepala. Wajahnya tampak manis dan nakal. "Katakan saja, puaskan rasa penasaranku."

Rakael menghela napas tak berdaya. "Benar-benar nggak bisa digunakan seperti itu. Teknik ini juga ada aturannya, mana bisa sembarangan melihat privasi orang."

Bibir Almira mengerucut, tampak sedikit tidak senang. "Aku sendiri yang memintamu lihat. Aku saja nggak takut, kenapa kamu takut?"

"Kalau begitu ... yang kamu pakai itu warna putih model ...."

Belum sempat Rakael menyelesaikan kalimatnya, Almira sudah menyiramkan segelas minuman ke wajahnya. Mata besarnya menatap tajam penuh amarah. "Berani sekali kamu mengintipku!"

Rakael mengusap wajahnya, hendak membuka mulut untuk menjelaskan.

"Keluar!" Almira mendorong Rakael dengan keras. Matanya penuh kekecewaan. "Kalian para pria memang busuk! Pergi! Pergi sekarang!"
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 50

    "Nak, kamu yang namanya Rakael?" Harun menggaruk rambut putih di kepalanya, lalu pandangannya tertuju ke tubuh Chelsea. "Wah, kamu lumayan beruntung juga. Segede itu, pasti enak banget."Chelsea ketakutan sampai wajahnya pucat. Setengah badannya bersembunyi di belakang Rakael dan dia tidak berani mengangkat kepala.Rakael mengerutkan keningnya sedikit. Orang-orang ini sepertinya bukan anak buah Arlan. Arlan sudah pernah dirugikan sekali. Kalau benar-benar ingin berurusan dengannya, tidak mungkin hanya mengirim beberapa orang seperti ini.Kalau bukan Arlan, berarti tinggal satu orang lagi."Marten yang suruh kalian ke sini?" Kilatan dingin melintas di mata Rakael. Dia tiba-tiba menyesal. Menyesal karena waktu itu menghukumnya terlalu ringan.Harun mengorek telinganya dan berlagak pura-pura bodoh. "Marten siapa? Nggak pernah dengar."Rakael makin yakin dengan dugaannya. Dia melindungi Chelsea di belakangnya. "Mau apa kalian sebenarnya?"Harun menatap Chelsea di belakang Rakael, lalu ters

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 49

    "Kak Rakael." Melihat Rakael sudah selesai bekerja, Chelsea berlari kecil mendekat dengan wajah agak malu. Chelsea adalah rekan kerja wanita yang mengantarkan sarapan untuk Rakael tadi pagi.Rakael memang sudah beberapa kali berinteraksi dengannya, tetapi semuanya hanya urusan pekerjaan. Mereka punya kontak satu sama lain, tetapi isi percakapan yang ada juga sebatas hal-hal terkait kerja.Rakael sedang merapikan barang-barangnya dan bersiap meninggalkan kantor. Melihat Chelsea berdiri di depannya, dia meletakkan berkas di tangannya lalu bertanya, "Ada apa, Chelsea?""Kak Rakael, aku ... hari ini ulang tahunku. Bolehkah aku mengajakmu makan bersama?" Setelah berkata demikian, Chelsea tampak tidak berani menatap Rakael.Kedua tangannya terus mengusap-usap ujung kemejanya karena gugup. Sebenarnya, selain tubuhnya yang agak berisi, fitur wajah Chelsea tergolong cantik.Seperti yang pernah dikatakan Jevin, kalau Chelsea bisa turun belasan kilo lagi, dia pasti akan menjadi gadis cantik yang

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 48

    "Baik." Loreta tersenyum tipis dan mengangguk setuju.Namun, sepasang matanya terus tertuju pada wajah Rakael, tidak bergeser sedikit pun. Bahkan Sarah juga merasa ada yang aneh.Rakael bukanlah perawat pertama Loreta, tetapi ini pertama kalinya dia melihat Loreta menatap seseorang begitu lama dan sedemikian serius."Bekerjalah dengan baik. Kalau kamu merasa nggak sanggup, kamu bisa langsung datang mencariku," kata Sarah. Setelah memberi beberapa pesan tambahan, dia pun berbalik dan pergi.Rakael tiba-tiba jadi sedikit memahami Jevin.Demi mendapat sebuah transaksi, perjuangan orang-orang di industri mereka ini mungkin tidak kalah berat dibanding kurir makanan. Untuk tenaga penjual pria, kondisinya masih lebih baik. Sementara tenaga penjual wanita yang cantik, benar-benar harus mengerahkan segala cara demi menarik klien. Menemani makan dan minum sudah jadi hal biasa.Kalau bertemu klien besar yang sesungguhnya, sesama pria pasti paham maksudnya."Anak muda, duduklah," Loreta akhirnya m

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 47

    Sambil berjalan, Sarah menjelaskan, "Panti Jompo Beria dibagi menjadi halaman depan, halaman tengah, dan halaman belakang.""Halaman depan adalah area utama untuk aktivitas harian para lansia, ada taman, gazebo, ruang catur, dan pusat kebugaran. Halaman tengah adalah area hunian, setiap lansia memiliki satu unit suite pribadi dengan fasilitas lengkap. Sedangkan halaman belakang adalah area kantor dan logistik kami, termasuk ruang medis, kantin, dan gudang."Rakael berjalan di belakangnya sambil mendengarkan dengan serius, meski matanya tidak bisa menahan diri untuk mengamati sekeliling.Panti jompo ini ternyata jauh lebih besar daripada yang terlihat dari luar. Di setiap sudutnya terasa sangat terawat dan elegan. Selain aroma cendana dan wangi pepohonan, seolah juga samar-samar tercium bau obat di udara."Tugas utamamu adalah membantu perawat utama dalam merawat para lansia di area yang ditugaskan. Termasuk mengantarkan makanan untuk lansia yang kesulitan bergerak, membantu mereka berj

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 46

    "Langsung ke halaman belakang, cari Bu Sarah. Dia yang bertanggung jawab merekrut orang."Rakael menghela napas lega dan segera mengucapkan terima kasih. "Terima kasih, Pak."Saat mendorong pintu kayu yang tebal itu, aroma dupa cendana bercampur wangi rumput dan pepohonan langsung menyambutnya. Di dalamnya terdapat taman yang tertata rapi, dengan jalan setapak dari batu yang berkelok-kelok.Di kedua sisi jalan tumbuh berbagai bunga dan pepohonan bernilai tinggi. Beberapa lansia berpakaian rapi dan bersih sedang duduk di gazebo, bermain catur sambil mengobrol. Wajah mereka tampak santai dan menikmati hidup.Rakael berjalan menuju halaman belakang sesuai petunjuk. Saat melewati sebuah taman kecil, dia melihat seorang nenek mengenakan gaun bermotif bunga sedang berusaha dengan susah payah mengambil layang-layang yang jatuh ke tanah. Rakael refleks hendak melangkah maju untuk membantu, tetapi kakinya tiba-tiba berhenti.Mengingat pengalaman Jevin, dia pun diam-diam menarik kembali langkahn

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 45

    Dulu, setiap melihat ada lansia menyeberang jalan, dia pasti akan maju membantu menopang mereka. Namun, sekarang ... hehe. Tidak menendang mereka saja sudah termasuk bermurah hati."Itu memang menyedihkan."Rakael menepuk bahu Jevin dengan penuh simpati. Serangan mendadak memang paling fatal. Setelah dikeroyok, dia bahkan tidak tahu alasannya mengapa dia dipukuli. Namun bagaimanapun juga, dengan adanya Jevin sebagai contoh nyata, Rakael jelas tidak bisa menempuh jalan yang sama.Rakael lalu menanyakan nama para lansia itu serta gambaran fisik mereka. Setelah memiliki sedikit pemahaman, barulah dia berdiri dan bersiap pergi melihatnya sendiri."Tunggu, aku sudah cerita sebanyak itu, tapi kamu masih mau pergi juga?" Jevin menatap Rakael seolah sedang melihat orang bodoh. Orang-orang di panti jompo itu bukan sekadar sulit ditangani, melainkan benar-benar tidak bisa didekati sama sekali.Rakael menyeringai. "Aku cuma mau lihat-lihat. Punya target jelas lebih baik daripada keliling kota car

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status