Share

Bab 8

Penulis: Ray Ghafari
Jakun Rakael bergerak sedikit. "Bawa."

"Di sana ada hotel." Tatapan Ranti mengandung sedikit provokasi. Melihat Rakael ragu, dia bertanya, "Kenapa? Kamu takut?"

Rakael menatap Ranti dua kali, lalu menarik tangannya dan melangkah cepat menuju hotel.

Untuk urusan seperti ini, kalau perempuan saja sudah berinisiatif, mana mungkin seorang pria bersikap pengecut? Lagi pula, sekarang dia sudah tidak punya pacar. Masih perlu khawatir apa?

Ketika memasuki hotel, Rakael tanpa sengaja melirik dan melihat dua sosok yang terasa familier masuk ke lift.

Rakael mengernyit. Itu ....

Ranti mengait lengan Rakael, ikut menoleh ke arah lift dengan penasaran. "Kamu lihat apa?"

"Nggak ada." Rakael menarik kembali pandangannya. Dia merasa tidak mungkin ada kebetulan seperti itu. Bisa jadi hanya salah lihat.

Begitu mereka masuk ke lift, bahkan sebelum pintu lift tertutup, keduanya sudah berciuman. Mungkin karena terpicu oleh Kirani, kali ini Ranti terlihat jauh lebih aktif. Mereka berciuman dari dalam lift hi
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 50

    "Nak, kamu yang namanya Rakael?" Harun menggaruk rambut putih di kepalanya, lalu pandangannya tertuju ke tubuh Chelsea. "Wah, kamu lumayan beruntung juga. Segede itu, pasti enak banget."Chelsea ketakutan sampai wajahnya pucat. Setengah badannya bersembunyi di belakang Rakael dan dia tidak berani mengangkat kepala.Rakael mengerutkan keningnya sedikit. Orang-orang ini sepertinya bukan anak buah Arlan. Arlan sudah pernah dirugikan sekali. Kalau benar-benar ingin berurusan dengannya, tidak mungkin hanya mengirim beberapa orang seperti ini.Kalau bukan Arlan, berarti tinggal satu orang lagi."Marten yang suruh kalian ke sini?" Kilatan dingin melintas di mata Rakael. Dia tiba-tiba menyesal. Menyesal karena waktu itu menghukumnya terlalu ringan.Harun mengorek telinganya dan berlagak pura-pura bodoh. "Marten siapa? Nggak pernah dengar."Rakael makin yakin dengan dugaannya. Dia melindungi Chelsea di belakangnya. "Mau apa kalian sebenarnya?"Harun menatap Chelsea di belakang Rakael, lalu ters

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 49

    "Kak Rakael." Melihat Rakael sudah selesai bekerja, Chelsea berlari kecil mendekat dengan wajah agak malu. Chelsea adalah rekan kerja wanita yang mengantarkan sarapan untuk Rakael tadi pagi.Rakael memang sudah beberapa kali berinteraksi dengannya, tetapi semuanya hanya urusan pekerjaan. Mereka punya kontak satu sama lain, tetapi isi percakapan yang ada juga sebatas hal-hal terkait kerja.Rakael sedang merapikan barang-barangnya dan bersiap meninggalkan kantor. Melihat Chelsea berdiri di depannya, dia meletakkan berkas di tangannya lalu bertanya, "Ada apa, Chelsea?""Kak Rakael, aku ... hari ini ulang tahunku. Bolehkah aku mengajakmu makan bersama?" Setelah berkata demikian, Chelsea tampak tidak berani menatap Rakael.Kedua tangannya terus mengusap-usap ujung kemejanya karena gugup. Sebenarnya, selain tubuhnya yang agak berisi, fitur wajah Chelsea tergolong cantik.Seperti yang pernah dikatakan Jevin, kalau Chelsea bisa turun belasan kilo lagi, dia pasti akan menjadi gadis cantik yang

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 48

    "Baik." Loreta tersenyum tipis dan mengangguk setuju.Namun, sepasang matanya terus tertuju pada wajah Rakael, tidak bergeser sedikit pun. Bahkan Sarah juga merasa ada yang aneh.Rakael bukanlah perawat pertama Loreta, tetapi ini pertama kalinya dia melihat Loreta menatap seseorang begitu lama dan sedemikian serius."Bekerjalah dengan baik. Kalau kamu merasa nggak sanggup, kamu bisa langsung datang mencariku," kata Sarah. Setelah memberi beberapa pesan tambahan, dia pun berbalik dan pergi.Rakael tiba-tiba jadi sedikit memahami Jevin.Demi mendapat sebuah transaksi, perjuangan orang-orang di industri mereka ini mungkin tidak kalah berat dibanding kurir makanan. Untuk tenaga penjual pria, kondisinya masih lebih baik. Sementara tenaga penjual wanita yang cantik, benar-benar harus mengerahkan segala cara demi menarik klien. Menemani makan dan minum sudah jadi hal biasa.Kalau bertemu klien besar yang sesungguhnya, sesama pria pasti paham maksudnya."Anak muda, duduklah," Loreta akhirnya m

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 47

    Sambil berjalan, Sarah menjelaskan, "Panti Jompo Beria dibagi menjadi halaman depan, halaman tengah, dan halaman belakang.""Halaman depan adalah area utama untuk aktivitas harian para lansia, ada taman, gazebo, ruang catur, dan pusat kebugaran. Halaman tengah adalah area hunian, setiap lansia memiliki satu unit suite pribadi dengan fasilitas lengkap. Sedangkan halaman belakang adalah area kantor dan logistik kami, termasuk ruang medis, kantin, dan gudang."Rakael berjalan di belakangnya sambil mendengarkan dengan serius, meski matanya tidak bisa menahan diri untuk mengamati sekeliling.Panti jompo ini ternyata jauh lebih besar daripada yang terlihat dari luar. Di setiap sudutnya terasa sangat terawat dan elegan. Selain aroma cendana dan wangi pepohonan, seolah juga samar-samar tercium bau obat di udara."Tugas utamamu adalah membantu perawat utama dalam merawat para lansia di area yang ditugaskan. Termasuk mengantarkan makanan untuk lansia yang kesulitan bergerak, membantu mereka berj

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 46

    "Langsung ke halaman belakang, cari Bu Sarah. Dia yang bertanggung jawab merekrut orang."Rakael menghela napas lega dan segera mengucapkan terima kasih. "Terima kasih, Pak."Saat mendorong pintu kayu yang tebal itu, aroma dupa cendana bercampur wangi rumput dan pepohonan langsung menyambutnya. Di dalamnya terdapat taman yang tertata rapi, dengan jalan setapak dari batu yang berkelok-kelok.Di kedua sisi jalan tumbuh berbagai bunga dan pepohonan bernilai tinggi. Beberapa lansia berpakaian rapi dan bersih sedang duduk di gazebo, bermain catur sambil mengobrol. Wajah mereka tampak santai dan menikmati hidup.Rakael berjalan menuju halaman belakang sesuai petunjuk. Saat melewati sebuah taman kecil, dia melihat seorang nenek mengenakan gaun bermotif bunga sedang berusaha dengan susah payah mengambil layang-layang yang jatuh ke tanah. Rakael refleks hendak melangkah maju untuk membantu, tetapi kakinya tiba-tiba berhenti.Mengingat pengalaman Jevin, dia pun diam-diam menarik kembali langkahn

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 45

    Dulu, setiap melihat ada lansia menyeberang jalan, dia pasti akan maju membantu menopang mereka. Namun, sekarang ... hehe. Tidak menendang mereka saja sudah termasuk bermurah hati."Itu memang menyedihkan."Rakael menepuk bahu Jevin dengan penuh simpati. Serangan mendadak memang paling fatal. Setelah dikeroyok, dia bahkan tidak tahu alasannya mengapa dia dipukuli. Namun bagaimanapun juga, dengan adanya Jevin sebagai contoh nyata, Rakael jelas tidak bisa menempuh jalan yang sama.Rakael lalu menanyakan nama para lansia itu serta gambaran fisik mereka. Setelah memiliki sedikit pemahaman, barulah dia berdiri dan bersiap pergi melihatnya sendiri."Tunggu, aku sudah cerita sebanyak itu, tapi kamu masih mau pergi juga?" Jevin menatap Rakael seolah sedang melihat orang bodoh. Orang-orang di panti jompo itu bukan sekadar sulit ditangani, melainkan benar-benar tidak bisa didekati sama sekali.Rakael menyeringai. "Aku cuma mau lihat-lihat. Punya target jelas lebih baik daripada keliling kota car

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status