MasukPagi di Mansion Fortman tidak pernah benar-benar hangat. Langit Westalis hari ini tampak muram, diselimuti mendung abu-abu yang menggantung rendah, seolah-olah awan itu sendiri merasa berat harus menyaksikan kepalsuan di dalam gedung megah tersebut.
Di ruang makan yang luas, aroma kopi murni dan roti panggang mentega memenuhi udara, bersaing dengan bau parfum mahal yang menyesakkan. Dave berdiri tegak di balik meja marmer panjang yang dingin. Tangannya yang kasar namun cekatan sedang menata piring-piring porselen putih berisi hidangan klasik Eropa: croissant yang renyah, sosis bratwurst yang berkilau, hingga ham asap yang aromanya menggoda selera. Setiap piring ia letakkan dengan presisi militer, sebuah keahlian yang tak pernah disadari oleh siapa pun di rumah ini. Suara ketukan sepatu hak tinggi bergema di lantai granit. Nyonya Theresia Fortman berjalan masuk dengan keanggunan yang dibuat-buat. Sebuah kipas bulu berada di tangannya, sesekali ia gerakkan untuk menghalau hawa dapur yang menurutnya rendah. Matanya yang tajam mengamati deretan hidangan, lalu berhenti pada satu titik kosong. "Dave," suaranya datar, namun penuh tuntutan. "Mana salad sayuran kesukaan Arthur? Kau tahu para menantuku butuh asupan nutrisi untuk bekerja keras." Dave menoleh perlahan, memasang raut wajah patuh yang biasa. "Maaf, Nyonya. Hari ini saya tidak membuat salad karena stok sayuran organik yang Anda inginkan belum tiba dari pemasok." Plak! Theresia menutup kipasnya dengan keras. "Tidak membuat salad?! Kau tahu Arthur sedang berjuang menjalin kerjasama besar dengan Miracle Group di Italia? Dia butuh konsentrasi, dan kau malah memberinya sarapan berlemak seperti ini?! Kau memang tidak berguna, Dave. Kau hanya bisa membandingkan dirimu dengan debu di sepatu Arthur Desmond!" Dave menunduk dalam, menyembunyikan kilatan dingin di manik birunya. "Saya minta maaf, Nyonya. Besok saya akan memastikannya tersedia." Tak lama kemudian, Jolie dan Edward muncul. Mereka duduk tanpa menyapa Dave, seolah-olah pria itu hanyalah bagian dari furnitur rumah. Dave melayani mereka dengan telaten, menuangkan air jeruk ke gelas kristal dan memberikan senyuman ramah yang dibalas dengan pengabaian total. "Mana Jesica dan Celina?" tanya Jolie sembari mencungkil sedikit selai stroberi. Theresia duduk di kursi utama. "Celina mungkin masih di kamarnya. Dia masih sedikit kesal padaku karena acara makan malam dengan Wiliam kemarin. Dia benar-benar dingin, seperti bukan putriku sendiri." Jolie mendengus. "Mommy tak usah cemas. Biarkan aku yang membujuknya nanti. Celina hanya perlu diingatkan bahwa kencan dengan putra mahkota Dakosta Group adalah tiket keluar dari kemiskinan yang dibawa suaminya ini." Ia melirik tajam ke arah Dave yang sedang membungkus sendok dan garpu dengan tisu. Dave menyimak dalam diam. Sebagai menantu yang tak dianggap, ia sudah terbiasa menjadi topik hinaan, namun mendengar mereka merencanakan masa depan istrinya dengan pria lain selalu membuat darahnya mendidih dengan cara yang berbeda. "Benar," Theresia menimpali dengan nada muak. "Kita harus menyadarkan Celina dari kebodohannya. Wasiat ayahnya adalah masa lalu. Mempertahankan 'suami miskin' ini di istana Fortman hanya akan menghancurkan nama besar kita." Edward, yang sedang mengunyah sosisnya, tersenyum meremehkan. "Dave, buatkan aku kopi. Hitam, tanpa gula. Dan pastikan panasnya pas, jangan suam-suam kuku seperti hidupmu yang suram." Dave hanya mengangguk patuh, melangkah menuju mesin kopi tanpa sepatah kata pun. Pintu ruang makan terbuka lagi. Kali ini Jesica masuk bersama Arthur. Namun, wajah Arthur yang biasanya sombong kini tampak layu. Bahunya merosot, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya. "Ada apa, Arthur? Kenapa wajahmu seperti habis tertimpa reruntuhan?" tanya Theresia khawatir. Jesica menghempaskan diri ke kursi dengan gusar. "Perusahaan Arthur sedang merugi besar, Mom. Investor menarik diri karena fluktuasi pasar di Roma. Kami butuh suntikan saham segera." Arthur menghela napas berat. "Aku sudah mengirim surat pengajuan kerjasama pada raksasa yang saat ini sedang menguasai Eropa, Miracle Group. Jika mereka menolak, aku tamat." Uhuk! Edward tersedak kopinya. "Miracle Group? Kau juga mengincar mereka? Perusahaanku pun sedang berusaha mati-matian hanya untuk membuat janji temu dengan pimpinannya, Tuan Alen Parker. Tapi sekretarisnya selalu bilang dia sedang sibuk." Dave, yang datang membawakan kopi untuk Edward, tersenyum remeh di dalam hati. Tuan Alen Parker? Orang yang kalian cari sedang berdiri di depan hidung kalian, membawakan kopi murah untuk kalian, batinnya sinis. Tentu saja ia tak sudi bekerjasama dengan cecunguk macam Edward dan Arthur yang hanya tahu cara menghina orang lain. "Siapa sebenarnya Tuan Muda Alen Parker itu?" tanya Theresia penasaran. "Kenapa dia begitu sombong sampai sulit ditemui?" "Dia sangat kaya, Mom," jawab Edward dengan nada iri. "Dia peringkat satu sebagai pria termuda dan terkaya di seluruh Eropa. Kekayaannya tak berseri." Theresia tercengang. Jolie dan Jesica pun ikut terbelalak. Bagi mereka, uang adalah Tuhan, dan Alen Parker adalah nabi tertingginya. "Tidak semua perusahaan bisa bermitra dengan Miracle Group," tambah Arthur. "Dia hanya memilih yang terbaik, yang memiliki integritas. Sesuatu yang sulit kita tunjukkan saat ini." Theresia terdiam sejenak, matanya berkilat penuh rencana. "Apakah Tuan Muda Alen Parker itu sudah menikah?" Edward menggeleng. "Tidak ada yang tahu. Bahkan tidak ada yang pernah melihat wajahnya secara langsung, kecuali segelintir kolega elit di ruang rapat tertutup." "Kurasa dia pria muda yang aneh," celetuk Jesica sombong. "Mungkin dia punya kelainan atau cacat fisik, makanya dia takut pada dunia dan menyembunyikan identitasnya." "Aku tidak setuju!" Jolie memotong cepat. "Teman sosialita ku pernah melihatnya dari jauh di sebuah acara resmi elit di Paris. Katanya, Tuan Muda Alen Parker sangat tampan dan macho. Wajahnya campuran Turki-Italia, berkharisma, dan memiliki aura milyuner yang sangat kental. Dia adalah definisi kesempurnaan seorang pria." Mendengar itu, Theresia langsung melirik ke arah Dave dengan tatapan yang sangat menghina, lalu kembali menatap anak-anaknya. "Kalau saja aku bisa membuat janji temu dengannya... aku ingin memperkenalkan Celina pada pria seperti itu. Itulah standar yang pantas untuk keluarga Fortman." "Bicara soal janji temu," Edward berkata sembari menyeka mulutnya, "Bulan depan Group Foster di Ostia akan mengadakan pesta topeng. Mereka mengundang seluruh elit Eropa. Kabarnya, Alen Parker akan hadir di sana. Aku punya kenalan yang bisa memberikan kita undangan." "Pesta topeng?!" Jolie dan Jesica memekik senang bersamaan. "Kita harus pergi! Kita harus mendapatkan undangan itu!" Dave, yang sedang mengelap piring di sudut ruangan, hanya tersenyum samar. Sebuah rencana mulai terbentuk di benaknya. Ia ingin bertemu Celina di pesta itu, berdansa dengannya tanpa beban identitas "menantu sampah". Ia ingin menunjukkan pada istrinya bahwa pria yang selama ini dihina dunia sebenarnya adalah pemilik dunia itu sendiri. Tiba-tiba, Celina muncul. Ia mengenakan setelan kantor yang rapi namun wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa kelelahan. Ia menyapa semua orang dengan sopan, lalu memberikan senyum manis—senyum paling tulus di rumah itu—hanya ke arah Dave. "Pagi, Dave," bisiknya lembut. Dave segera bergegas. "Pagi, Celina. Ini sarapan untukmu. Aku sudah menyiapkannya khusus." Namun, sebelum piring itu sampai ke depan Celina, Theresia memukul lengan Dave dengan kipasnya. Tak! "Tak usah sok perhatian, Dave!" bentak Theresia. "Celina, dengar. Sebentar lagi kau akan bertemu dengan pria yang benar-benar tepat untukmu. Tuan Muda Alen Parker dari Miracle Group. Hanya dia yang pantas bersanding dengannya, bukan pelayan ini." Dave terdiam, menahan tawa yang hampir meledak di dadanya. Ironi ini sungguh luar biasa. Celina mengerutkan kening, menatap ibunya dengan bingung sekaligus kesal. "Perjodohan apalagi ini, Mom? Aku tidak mau bertemu dengan pria asing itu. Aku sudah punya suami!" Dave tersenyum kecil, kekagumannya pada kesetiaan Celina semakin memuncak. Di tengah gempuran iming-iming harta paling mewah di dunia, istrinya tetap berdiri di sampingnya. Theresia, Jolie, dan Jesica segera mengerubungi Celina, membujuknya dengan berbagai cara tentang betapa hebatnya Alen Parker dan betapa pentingnya menghadiri pesta topeng di Ostia. Mereka bicara seolah-olah Celina adalah barang dagangan yang akan dipamerkan di etalase paling mahal. "Aku tidak mau!" Celina berteriak kecil, suaranya bergetar karena emosi. Selera makannya hilang seketika. "Berhenti memutuskan hidupku seolah-olah aku tidak punya suara!" Celina berbalik dan melangkah lebar meninggalkan ruang makan menuju teras depan. Theresia berteriak memanggilnya dan segera menyusul dengan langkah terburu-buru. Dave berdiri terpaku di ruang makan yang kini kosong, hanya tersisa Edward dan Arthur yang masih sibuk membicarakan bisnis. Ia menatap ke arah teras, melihat Celina yang sedang beradu argumen dengan ibunya di bawah langit yang mendung. Dave tersenyum bangga. Ia tak pernah salah menilai orang. Di tengah tumpukan debu keserakahan, ego, dan kepalsuan keluarga Fortman, Celina adalah permata langka yang tetap bersinar dengan cahayanya sendiri. Tunggu aku di Ostia, Celina, batin Dave sembari meremas tisu di tangannya. Malam itu, kau tidak akan berdansa dengan 'si Kecoa Busuk atau Suami miskin', tapi dengan Raja yang memuja setiap inci dari jiwamu yang murni.Satu bulan telah berlalu sejak badai berdarah di Roma mereda. Langit sore di atas San Alexandria Barat memancarkan kilau keemasan yang megah, memantulkan sinarnya pada permukaan fasad kaca sebuah mahakarya arsitektur modern yang berdiri angkuh di atas tebing pantai. Bangunan megah tiga lantai itu adalah Miracle Plaza, proyek raksasa yang dulunya dirintis oleh Maximilian Botticelli, namun kini telah jatuh dan rampung sepenuhnya di bawah kendali mutlak klan Parker. Di puncak gedung, logo besar Group Miracle berkilau diterpa cahaya senja, menjadi simbol dominasi baru yang tak tergoyahkan.Dave Alen Parker berjalan santai di koridor lantai utama yang luas, menggandeng jemari istrinya, Celina Fortman. Langkah kaki mereka menggema di antara pilar-pilar marmer yang masih berbau cat baru. Rencananya, tepat pada malam pergantian tahun baru, plaza ini akan mulai beroperasi secara resmi sebagai pusat perbelanjaan terbesar dan paling mewah di wilayah tersebut.Celina menghentikan langkahnya,
Malam itu juga, tanpa membuang waktu sepeser pun, Dave memerintahkan penyiapan jet pribadinya. Ditemani oleh Luca Cassano dan lima orang bodyguard elit VEGA yang bersenjata lengkap, pesawat jet itu membelah langit malam dari Roma menuju Westalis dalam penerbangan darurat selama dua jam.Tengah malam buta, kesunyian di kediaman Fortman terusik oleh ketukan pintu yang tegas dan beritme khusus. Silvester, yang malam itu berjaga dengan kantuk yang berat, berjalan tergesa-gesa menuju pintu utama. Begitu daun pintu jati itu terbuka, langkah Silvester seketika terkunci.Di ambang pintu, berdiri Dave Alen Parker dengan aura dingin yang pekat laksana kabut hitam, mengenakan kemeja hitam terikat longgar tanpa dasi dengan jas hitam yang disampirkan di bahunya. Silvester dengan gemetar segera membungkuk hormat, memberikan jalan bagi sang Tuan Muda dan Luca untuk melangkah masuk ke dalam rumah."Selamat datang kembali, Tuan Muda Alen," bisik Silvester dengan suara bergetar.Saat Dave dan Luca m
Sinar matahari meliuk rendah, menyentuh permukaan air laut yang berkilau laksana hamparan permata cair, menandai senja yang mulai merambat di pelataran belakang Hotel Victoria. Angin pesisir Roma berembus membawa sisa-sisa aroma mesiu dari pertempuran di Jembatan Garibaldi, namun di taman ini, dekorasi bunga mawar putih yang sempat porak-poranda telah ditata kembali dengan presisi yang menakjubkan. Para tamu undangan, setelah melewati ketegangan dari insiden penculikan dan penyamaran Bianca Casio, kini kembali duduk dengan anggun, menanti kelanjutan dari prosesi sakral yang sempat tertunda.Di atas altar, Dave Alen Parker berdiri tegak menantang angin senja. Setelah pembersihan taktis yang melelahkan dan konfrontasi berdarah melawan Georgio Botticelli, ia telah mengganti tuksedonya dengan setelan baru yang luar biasa rapi. Wajahnya yang tegas tampak segar, seolah ia baru saja kembali dari istirahat alih-alih dari medan pertempuran yang mempertaruhkan nyawa. Guratan senyum tipis t
Matahari pagi Roma menyinari halaman belakang Hotel Victoria dengan kemegahan yang menakutkan. Kelopak-kelopak bunga mawar putih bertebaran di sepanjang red carpet yang membentang menuju altar. Ratusan tamu undangan dari kalangan elit, mulai dari bangsawan berdarah biru hingga para penguasa industri Eropa, duduk dengan tertib di atas kursi-kursi berbalut kain satin. Di sekeliling perimeter, deretan bodyguard bersetelan hitam dari klan Parker dan tim elit VEGA berdiri dengan posisi siaga, menciptakan barikade yang tak tertembus.Di depan altar, Dave Alen Parker berdiri tegak dengan setelan tuksedo hitam rancangan desainer ternama Italia. Wajahnya yang rupawan tampak tenang, namun matanya yang tajam tak sedetik pun lepas dari pintu kaca besar hotel. Di sampingnya, seorang pendeta agung Roma memegang kitab suci, siap memimpin prosesi pemberkatan yang sakral ini."Di mana mempelai wanitanya?" tanya pendeta. Para tamu saling pandang. Dave menoleh jam tangannya. Kenapa Celina belum mun
Matahari pagi Westalis bersinar terang, namun atmosfer di dalam kediaman Fortman terasa seperti badai yang siap meledak. Seisi rumah bergerak dalam ritme yang tergesa-gesa. Koper-koper kulit besar berjejer di pelataran, siap dimasukkan ke dalam bagasi kendaraan. Lusa adalah hari paling bersejarah—pernikahan antara Celina Fortman dan Dave Alen Parker di Roma.Theresia Fortman berjalan dengan langkah tegas di koridor lantai dua, suaranya melengking memberikan instruksi kepada Jolie dan Jesica. "Pastikan gaun satin sutra dan kotak perhiasan dari Nona Wilson diletakkan di kompartemen khusus! Jangan sampai ada satu permata pun yang tertinggal!"Di balkon luar, Edward dan Arthur tampak sibuk dengan ponsel mereka, berulang kali membungkuk dan meminta maaf kepada para klien bisnis. "Ya, batalkan semua janji temu untuk dua hari ke depan. Keluarga Fortman akan bertolak ke Roma beberapa jam lagi," ujar Edward dengan nada bangga yang sulit disembunyikan.Namun, di balik semua kemegahan dan kes
Westalis tenggelam dalam kesunyian tengah malam yang mencekam saat lampu sorot dari Rolls-Royce Phantom hitam membelah kegelapan gerbang kediaman Fortman. Kendaraan mewah itu berhenti dengan presisi di pelataran, namun deru mesinnya seolah membawa aura kematian yang belum tuntas. Silvester, yang berjaga di ambang pintu, tersentak saat melihat Tuan Muda Alen keluar dari kemudi dengan wajah yang lebih gelap dari malam itu sendiri. Dave melangkah memutar, membuka pintu penumpang, dan memapah Celina. Wanita itu tampak seperti raga tanpa jiwa; bahunya merosot, tatapannya kosong, dan tubuhnya gemetar hebat dalam balutan jas besar milik Dave yang menutupi gaunnya yang terkoyak di balik sana. "Nyonya! Nona Celina sudah pulang bersama Tuan Muda Alen!" Theresia Fortman, yang tertidur gelisah di sofa ruang tengah, langsung terjaga saat Silvester melaporkan kedatangan mereka dengan suara tertahan. Disusul oleh Edward dan Jolie yang muncul dari kamar dengan wajah bantal, mereka semua berh







