Share

Chapter 5

Author: Dewa Amour
last update Last Updated: 2026-02-20 20:13:08

Pagi di Mansion Fortman tidak pernah benar-benar hangat. Langit Westalis hari ini tampak muram, diselimuti mendung abu-abu yang menggantung rendah, seolah-olah awan itu sendiri merasa berat harus menyaksikan kepalsuan di dalam gedung megah tersebut.

Di ruang makan yang luas, aroma kopi murni dan roti panggang mentega memenuhi udara, bersaing dengan bau parfum mahal yang menyesakkan.

Dave berdiri tegak di balik meja marmer panjang yang dingin. Tangannya yang kasar namun cekatan sedang menata piring-piring porselen putih berisi hidangan klasik Eropa: croissant yang renyah, sosis bratwurst yang berkilau, hingga ham asap yang aromanya menggoda selera.

Setiap piring ia letakkan dengan presisi militer, sebuah keahlian yang tak pernah disadari oleh siapa pun di rumah ini.

Suara ketukan sepatu hak tinggi bergema di lantai granit. Nyonya Theresia Fortman berjalan masuk dengan keanggunan yang dibuat-buat.

Sebuah kipas bulu berada di tangannya, sesekali ia gerakkan untuk menghalau hawa dapur yang menurutnya rendah. Matanya yang tajam mengamati deretan hidangan, lalu berhenti pada satu titik kosong.

"Dave," suaranya datar, namun penuh tuntutan. "Mana salad sayuran kesukaan Arthur? Kau tahu para menantuku butuh asupan nutrisi untuk bekerja keras."

Dave menoleh perlahan, memasang raut wajah patuh yang biasa. "Maaf, Nyonya. Hari ini saya tidak membuat salad karena stok sayuran organik yang Anda inginkan belum tiba dari pemasok."

Plak!

Theresia menutup kipasnya dengan keras. "Tidak membuat salad?! Kau tahu Arthur sedang berjuang menjalin kerjasama besar dengan Miracle Group di Italia? Dia butuh konsentrasi, dan kau malah memberinya sarapan berlemak seperti ini?! Kau memang tidak berguna, Dave. Kau hanya bisa membandingkan dirimu dengan debu di sepatu Arthur Desmond!"

Dave menunduk dalam, menyembunyikan kilatan dingin di manik birunya. "Saya minta maaf, Nyonya. Besok saya akan memastikannya tersedia."

Tak lama kemudian, Jolie dan Edward muncul. Mereka duduk tanpa menyapa Dave, seolah-olah pria itu hanyalah bagian dari furnitur rumah.

Dave melayani mereka dengan telaten, menuangkan air jeruk ke gelas kristal dan memberikan senyuman ramah yang dibalas dengan pengabaian total.

"Mana Jesica dan Celina?" tanya Jolie sembari mencungkil sedikit selai stroberi.

Theresia duduk di kursi utama. "Celina mungkin masih di kamarnya. Dia masih sedikit kesal padaku karena acara makan malam dengan Wiliam kemarin. Dia benar-benar dingin, seperti bukan putriku sendiri."

Jolie mendengus. "Mommy tak usah cemas. Biarkan aku yang membujuknya nanti. Celina hanya perlu diingatkan bahwa kencan dengan putra mahkota Dakosta Group adalah tiket keluar dari kemiskinan yang dibawa suaminya ini." Ia melirik tajam ke arah Dave yang sedang membungkus sendok dan garpu dengan tisu.

Dave menyimak dalam diam. Sebagai menantu yang tak dianggap, ia sudah terbiasa menjadi topik hinaan, namun mendengar mereka merencanakan masa depan istrinya dengan pria lain selalu membuat darahnya mendidih dengan cara yang berbeda.

"Benar," Theresia menimpali dengan nada muak. "Kita harus menyadarkan Celina dari kebodohannya. Wasiat ayahnya adalah masa lalu. Mempertahankan 'suami miskin' ini di istana Fortman hanya akan menghancurkan nama besar kita."

Edward, yang sedang mengunyah sosisnya, tersenyum meremehkan. "Dave, buatkan aku kopi. Hitam, tanpa gula. Dan pastikan panasnya pas, jangan suam-suam kuku seperti hidupmu yang suram."

Dave hanya mengangguk patuh, melangkah menuju mesin kopi tanpa sepatah kata pun.

Pintu ruang makan terbuka lagi. Kali ini Jesica masuk bersama Arthur.

Namun, wajah Arthur yang biasanya sombong kini tampak layu. Bahunya merosot, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya.

"Ada apa, Arthur? Kenapa wajahmu seperti habis tertimpa reruntuhan?" tanya Theresia khawatir.

Jesica menghempaskan diri ke kursi dengan gusar. "Perusahaan Arthur sedang merugi besar, Mom. Investor menarik diri karena fluktuasi pasar di Roma. Kami butuh suntikan saham segera."

Arthur menghela napas berat. "Aku sudah mengirim surat pengajuan kerjasama pada raksasa yang saat ini sedang menguasai Eropa, Miracle Group. Jika mereka menolak, aku tamat."

Uhuk! Edward tersedak kopinya. "Miracle Group? Kau juga mengincar mereka? Perusahaanku pun sedang berusaha mati-matian hanya untuk membuat janji temu dengan pimpinannya, Tuan Alen Parker. Tapi sekretarisnya selalu bilang dia sedang sibuk."

Dave, yang datang membawakan kopi untuk Edward, tersenyum remeh di dalam hati. Tuan Alen Parker? Orang yang kalian cari sedang berdiri di depan hidung kalian, membawakan kopi murah untuk kalian, batinnya sinis.

Tentu saja ia tak sudi bekerjasama dengan cecunguk macam Edward dan Arthur yang hanya tahu cara menghina orang lain.

"Siapa sebenarnya Tuan Muda Alen Parker itu?" tanya Theresia penasaran. "Kenapa dia begitu sombong sampai sulit ditemui?"

"Dia sangat kaya, Mom," jawab Edward dengan nada iri. "Dia peringkat satu sebagai pria termuda dan terkaya di seluruh Eropa. Kekayaannya tak berseri."

Theresia tercengang. Jolie dan Jesica pun ikut terbelalak. Bagi mereka, uang adalah Tuhan, dan Alen Parker adalah nabi tertingginya.

"Tidak semua perusahaan bisa bermitra dengan Miracle Group," tambah Arthur. "Dia hanya memilih yang terbaik, yang memiliki integritas. Sesuatu yang sulit kita tunjukkan saat ini."

Theresia terdiam sejenak, matanya berkilat penuh rencana. "Apakah Tuan Muda Alen Parker itu sudah menikah?"

Edward menggeleng. "Tidak ada yang tahu. Bahkan tidak ada yang pernah melihat wajahnya secara langsung, kecuali segelintir kolega elit di ruang rapat tertutup."

"Kurasa dia pria muda yang aneh," celetuk Jesica sombong. "Mungkin dia punya kelainan atau cacat fisik, makanya dia takut pada dunia dan menyembunyikan identitasnya."

"Aku tidak setuju!" Jolie memotong cepat. "Teman sosialita ku pernah melihatnya dari jauh di sebuah acara resmi elit di Paris. Katanya, Tuan Muda Alen Parker sangat tampan dan macho. Wajahnya campuran Turki-Italia, berkharisma, dan memiliki aura milyuner yang sangat kental. Dia adalah definisi kesempurnaan seorang pria."

Mendengar itu, Theresia langsung melirik ke arah Dave dengan tatapan yang sangat menghina, lalu kembali menatap anak-anaknya. "Kalau saja aku bisa membuat janji temu dengannya... aku ingin memperkenalkan Celina pada pria seperti itu. Itulah standar yang pantas untuk keluarga Fortman."

"Bicara soal janji temu," Edward berkata sembari menyeka mulutnya, "Bulan depan Group Foster di Ostia akan mengadakan pesta topeng. Mereka mengundang seluruh elit Eropa. Kabarnya, Alen Parker akan hadir di sana. Aku punya kenalan yang bisa memberikan kita undangan."

"Pesta topeng?!" Jolie dan Jesica memekik senang bersamaan. "Kita harus pergi! Kita harus mendapatkan undangan itu!"

Dave, yang sedang mengelap piring di sudut ruangan, hanya tersenyum samar. Sebuah rencana mulai terbentuk di benaknya.

Ia ingin bertemu Celina di pesta itu, berdansa dengannya tanpa beban identitas "menantu sampah". Ia ingin menunjukkan pada istrinya bahwa pria yang selama ini dihina dunia sebenarnya adalah pemilik dunia itu sendiri.

Tiba-tiba, Celina muncul. Ia mengenakan setelan kantor yang rapi namun wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa kelelahan. Ia menyapa semua orang dengan sopan, lalu memberikan senyum manis—senyum paling tulus di rumah itu—hanya ke arah Dave.

"Pagi, Dave," bisiknya lembut.

Dave segera bergegas. "Pagi, Celina. Ini sarapan untukmu. Aku sudah menyiapkannya khusus."

Namun, sebelum piring itu sampai ke depan Celina, Theresia memukul lengan Dave dengan kipasnya. Tak!

"Tak usah sok perhatian, Dave!" bentak Theresia. "Celina, dengar. Sebentar lagi kau akan bertemu dengan pria yang benar-benar tepat untukmu. Tuan Muda Alen Parker dari Miracle Group. Hanya dia yang pantas bersanding dengannya, bukan pelayan ini."

Dave terdiam, menahan tawa yang hampir meledak di dadanya. Ironi ini sungguh luar biasa.

Celina mengerutkan kening, menatap ibunya dengan bingung sekaligus kesal. "Perjodohan apalagi ini, Mom? Aku tidak mau bertemu dengan pria asing itu. Aku sudah punya suami!"

Dave tersenyum kecil, kekagumannya pada kesetiaan Celina semakin memuncak. Di tengah gempuran iming-iming harta paling mewah di dunia, istrinya tetap berdiri di sampingnya.

Theresia, Jolie, dan Jesica segera mengerubungi Celina, membujuknya dengan berbagai cara tentang betapa hebatnya Alen Parker dan betapa pentingnya menghadiri pesta topeng di Ostia.

Mereka bicara seolah-olah Celina adalah barang dagangan yang akan dipamerkan di etalase paling mahal.

"Aku tidak mau!" Celina berteriak kecil, suaranya bergetar karena emosi. Selera makannya hilang seketika. "Berhenti memutuskan hidupku seolah-olah aku tidak punya suara!"

Celina berbalik dan melangkah lebar meninggalkan ruang makan menuju teras depan. Theresia berteriak memanggilnya dan segera menyusul dengan langkah terburu-buru.

Dave berdiri terpaku di ruang makan yang kini kosong, hanya tersisa Edward dan Arthur yang masih sibuk membicarakan bisnis. Ia menatap ke arah teras, melihat Celina yang sedang beradu argumen dengan ibunya di bawah langit yang mendung.

Dave tersenyum bangga. Ia tak pernah salah menilai orang. Di tengah tumpukan debu keserakahan, ego, dan kepalsuan keluarga Fortman, Celina adalah permata langka yang tetap bersinar dengan cahayanya sendiri.

Tunggu aku di Ostia, Celina, batin Dave sembari meremas tisu di tangannya. Malam itu, kau tidak akan berdansa dengan 'si Kecoa Busuk atau Suami miskin', tapi dengan Raja yang memuja setiap inci dari jiwamu yang murni.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 11

    Suasana Ballroom Hotel Cleopatra kian memanas, namun bagi Celina, udara di sekitarnya terasa tipis dan menyesakkan. Dari sudut ruangan yang remang, ia diam-diam memperhatikan sosok pria yang menjadi pusat semesta malam itu. Tuan Muda Alen Parker sedang berdiri di antara Tuan Nigel Foster dan para diplomat tinggi Eropa. Gerak-geriknya tenang, setiap kata yang keluar dari balik topengnya tampak seperti titah yang diperebutkan. Pria itu seperti magnet, dan semua orang di sana adalah serbuk besi yang rela melakukan apa saja demi mendekat. Namun, bukan tumpukan uang atau kekuasaan absolut yang membuat jantung Celina berpacu tidak karuan. Ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang bersifat naluriah. Cara pria itu memiringkan kepala, cara ia menumpukan berat badan pada satu kaki, hingga tatapan tajam yang sesekali menyapu ruangan—semuanya memicu memori sensorik di otak Celina. Kenapa kehadirannya terasa begitu mirip dengan Dave? "Celina! Lihat dia!" Jolie tiba-tiba menghampiri, mem

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 10

    Tiga hari telah berlalu seperti hembusan angin yang membawa aroma badai. Pesta topeng yang digelar oleh raksasa Westalis, Group Foster, kini hanya tinggal hitungan jam. Seantero kota—bahkan seluruh daratan Eropa—seolah menahan napas. Headline surat kabar dan media sosial tak henti-hentinya menggaungkan satu nama: Alen Parker. Sang penguasa Miracle Group yang mistis akhirnya akan muncul dari balik tirai emasnya. Para wanita lajang dari klan bangsawan dan putri-putri konglomerat telah menghabiskan ribuan dolar hanya untuk memastikan helai rambut mereka jatuh dengan sempurna malam ini. Di kediaman Fortman, sore itu suasana lebih mirip medan perang estetika daripada sebuah rumah. Jolie dan Jesica sudah sibuk berhias sejak matahari masih tinggi. Gaun-gaun sutra dan brokat berserakan di lantai marmer tanpa dipedulikan, sementara tiga orang perias profesional dan penata rambut bergerak lincah di sekitar mereka. Celina muncul di ambang pintu dengan wajah murung. Matanya redup, tak ada

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 9

    Mobil sedan perak milik Celina meluncur mulus memasuki area parkir sebuah mall kelas atas di pusat Westalis. Begitu mesin mati, Dave menunjukkan inisiatif yang lahir dari insting perlindungannya yang tajam; ia keluar lebih dulu, memutari mobil, dan membukakan pintu untuk Celina dengan gerakan yang sangat sopan. Celina menatap suaminya, hatinya menghangat melihat perlakuan manis itu, meski di mata dunia, tindakan Dave hanyalah standar operasional seorang pelayan. Mereka melangkah masuk ke dalam mall yang megah. Dave berjalan di samping Celina dengan dagu tegak dan langkah yang tenang. Ia tidak terlihat norak atau kagok meski berada di tengah kemewahan—sesuatu yang membuat Celina tersenyum lega. Namun, ketenangan itu terusik saat tiga orang wanita dengan pakaian bermerek dan aroma parfum yang menusuk hidung muncul dari arah gerai perhiasan. Mereka adalah teman-teman sosialita Celina. "Celina! Oh, Tuhan, sudah lama tidak bertemu!" salah satu dari mereka berseru, menghampiri dengan

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 8

    Makan malam telah usai, meninggalkan keheningan yang canggung di antara dinding-dinding Mansion Fortman yang dingin. Dave berdiri di depan wastafel dapur, punggungnya yang tegap dan bahunya yang luar biasa lebar tampak mendominasi ruangan yang remang-remang itu. Ia sedang mencuci piring, tangannya yang terbiasa memegang senjata kini bergerak ritmis di antara busa sabun.Celina berjalan pelan mendekat. Langkah kakinya tertahan beberapa meter di belakang suaminya. Ia tertegun sesaat, matanya terpaku pada postur tubuh Dave yang amat maskulin. Ada kekuatan tersembunyi yang terpancar dari punggung itu, sebuah ketegaran yang entah mengapa membuat Celina merasa aman. Andaikan hubungan kami tidak sepahit ini, batin Celina lirih, aku ingin sekali bersandar di bahu itu, melepaskan semua penat yang menghimpitku.Suara air dari keran yang mengucur deras mengejutkan Celina, membuyarkan lamunan liarnya. Ia buru-buru berdehem, mencoba menyingkirkan getaran di dadanya."Dave," sapanya lembut, berja

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 7

    Jam makan siang di kantin Micro Pusat terasa lebih riuh dari biasanya. Aroma pasta al dente dan saus marinara menguar di udara, namun pikiran Celina tidak berada di atas piringnya. Ia duduk berhadapan dengan Tracy, mencoba menikmati makan siangnya di tengah kepenatan audit pemasaran yang menggunung. Cuaca Westalis yang lembap membuat peluh tipis muncul di dahi Celina. Secara refleks, ia merogoh tasnya, mengeluarkan sapu tangan putih bersulam benang emas—hadiah ulang tahun dari Dave—dan menyeka dahinya. Deg! Tracy tiba-tiba berhenti mengunyah. Matanya membulat, garpunya berdenting jatuh ke atas piring porselen. "Celina! Dari mana kau mendapatkan itu?!" Tracy memekik, suaranya naik dua oktav hingga beberapa karyawan di meja sebelah menoleh. Celina tersentak, jantungnya berdegup kencang karena kaget. "Ada apa denganmu, Tracy? Ini hanya sapu tangan." "Hanya sapu tangan katanya?!" Tracy menyambar kain sutra itu dari tangan Celina. Ia membolak-baliknya dengan tangan gemetar, jarinya m

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 6

    Kota Ostia, pelabuhan satelit Westalis yang menjadi pusat ekonomi baru, pagi itu didera hiruk-pikuk yang tak biasa. Di depan markas besar Miracle Group—sebuah menara kaca hitam yang menjulang seolah hendak menusuk langit—sekumpulan wartawan telah berkumpul seperti kawanan serigala yang mencium bau darah. Kamera-kamera dengan lensa panjang membidik pintu utama saat sebuah SUV mewah berwarna hitam legam berhenti di sana. Luca keluar dari kursi penumpang dengan setelan jas yang licin dan wajah sedingin es. "Tuan Luca! Benarkah Tuan Muda Alen Parker akan menghadiri pesta di Westalis pekan depan?" "Apakah benar pimpinan tertinggi Miracle Group sudah berada di daratan ini?" Pertanyaan-pertanyaan itu menghujani Luca layaknya peluru, namun ia tak sedikit pun melambatkan langkah. Di balik kacamata hitamnya, Luca hanya bisa mendengus geli. Para wartawan ini mengejar bayangan yang bahkan tak mereka kenali wajahnya. Luca tahu benar di mana "bos" mereka saat ini: mungkin sedang sibuk me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status